MAJU MENUJU LEVEL BERIKUTNYA
Pengalaman Dan Pertumbuhan
(Translater : Zerard)

“Bagaimana menurutmu?” Sang rhea buruk rupa bertanya. “Kalau kamu sudah menjadi seorang bocah yang sempurna?” Es gua yang redup sangatlah dingin. “Oh, tapi kamu salah. Aku tahu: Kamu pasti berpikir bahwa kamu bisa melakukan apapun dan di manapun dengan apa yang telah kamu miliki.”
Makhluk tua itu, berlapis dengan baji mithril, mengayunkan belati berkilaunya dengan mengejek dan melebarkan tangannya. “Aku benci kegagalan! Aku nggak ingin kalah! Dan aku nggak butuh latihan khusus!”
Ejekannya bergema, memantul pada dinding es gua.
Sebuah stalaktit es yang bergantung di langit-langit bergetar dan kemudian patah, terjatuh ke bawah.
Pria tua itu menghindarinya dengan acuh ketika es itu mendarat di dekat kakinya, kemudian dia mengambilnya.
“Mungkin kamu punya ide luar biasa di sini yang belum pernah ada orang yang memikirkannya sebelumnya?”
Sang rhea mengangkatnya ke situ dan mengayunkannya, menghantamkannya pada dahi  dia. Darah menggumpal, udara dingin ruangan menyebabkannya menguap putih.
“Jangan sok sombong dan kuat, ketika membicarakan orang lain. Preman jalanan paling rendahpun lebih pintar darimu.”
Snag rhea tua melempar e situ ke samping seolah sudah tidak tertarik lagi pada bocah itu, kemudian dia berjongkok dengan cara yang cukup tidak pantas.

“Dengar. Aku akan mengajarimu kalau semua yang kamu pikirkan itu salah.”
Bocah itu, sekarang terbaring di lantai, tidak dapat menjawab. Dia bahkan dia dapat duduk.
Alasannya adalah tangannya telah terikat, dan dinginnya udara telah menyebabkan kulitnya menempel pada es.
Akan tetapi, pria tua itu, sama sekali tidak mempedulikan ini. Rhea tua itu menggenggam kepala sang bocah dan mengangkatnya dari lantai.
“Lebih baik kamu bersiap. Mengerti?”
“Ya,” sang bocah berkata, akhirnya dapat berbicara. “Master.”
“Sempurna!” Sang rhea tua meyengir begitu lebar dan menyeretnya.
Mereka telah tiba pada kanal bawah tanah—atau lebih tepatnya sebuah sungai—tidak, mungkin lebih seperti gletser. Lelehan salju dari pegunungan yang membeku di atas turun menetes kemari dalam bentuk cairan.
Tanpa berkata apapun, sang rhea menarik bocah itu menuju aliran air beku dan menendangnya ke dalamnya.
“—?!”
Teriakannya tidak terdengar. Rasa sakit tersebar di keseluruhan tubuhnya seolah tubuhnya seperti sedang di tusuk oleh banyak paku. Paru-parunga membeku di karenakan dingin, jantungnya terasa seperti di pukul dan di cungkil.
Dia menendang dan menggeliat namun hanya membuatnya semakin tenggelam. Itulah di mana ketika pria tua itu memberikan sebuah tendangan pada kepalanya.
“Tenggelam yang dalam! Terus tendang!” kemudian rhea itu meraung, memberikan gerakan marah dengan belatinya.
“Lakukan itu, dan kamu bisa mengambang! Terus lakukan lagi dan lagi! Kalau tidak, yang menunggumu hanyalah kematian!”
Bocah itu menghirup udara dengan susah payah, kemudian tenggelam. Kakinya menyentuh es pada dasar sungai. Dia menendang.
Masternya ternyata benar.
*****
Dengan demikian, kegagalan telah menjadi mesin yang membimbingnya dalam perubahan secara bertahap.
Dia telah menukar perisai bundarnya dengan sesuatu yang lebih kecil, melepaskan gagangnya, dan memastikan perisai itu memiliki lingkaran metal.
Dia sudah tidak menggunakan pedang panjang. Sekarang dia menggunakan sebuah senjata dengan panjang yang tidak biasa, beberapa kali lebih pendek dari senjata biasa.
Tas perlengkapannya telah berpindah, dari punggungnya berpindah menuju pinggulnya.
Armor yang sebelumnya bersih tidak bernoda kini telah berlumur dengan lumpur dan cipratan darah, menjadi sangat kotor.
Satu dari tanduk helmnya telah patah, yang membuatnya semakin menyedihkan.
Tidak ada lagi seorangpun yang ingin mengundang dirinya untuk berpetualang.
Goblin, goblin, goblin, goblin, goblin, goblin.
Hanya itu yang sepertinya dia ucapkan, dan kebanyakan dari petualang lainnya memperhatikan dirinya dari kejauhan dan bergumam pelan di antara kumpulan mereka sendiri.
Terkadang, bahkan, terdapat sedikit pertaruhan untuk mengetahui siapa atau apa yang ada di balik armor itu, dan para pemula yang melihat dirinya cenderung tertawa.
Tidak seorangpun yang berusaha untuk berasosiasi denganya lagi. Ataupun dia yang berusaha berasosasi dengan seseorang.
Akan tetapi, selama seseorang merupakan bagian dari dunia kehidupan, beberapa hubungan, tidak peduli seberapapun jeleknya, akan terbentuk, tidak peduli apakah seseorang itu mau atau tidak mau.
*****
Hal pertama yang pemilik kebun itu katakan kepadanya ketika sang pemilik membuka mulutnya adalah: “kamu nggak melakukan apapun pada gadis itu kan?”
Adalah hampir subuh, matahari masih memberikan goresan sinar ungu di langit. Sang pemilik kebun berdiri di depan gudang di dalam dinginnya udara pagi, membawa sebuah garpu rumput.
Dia kemungkinan sedang dalam perjalanannya menuju Guild Petualang. Dia keluar dari gudang dan menutup pintu di belakangnya. Kemudian dia berhadapan dengan sang pemilik dan berkata dengan kaku, “Apa maksudmu dengan…’apapun’?”
“Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu apa maksudku.”
Beberapa hari telah berlalu sejak kejadian itu.
Sang petani sedang sibuk dengan pekerjaannya, namun dia juga sangat mempedulikan keluarganya. Sang pemilik dapat mengetahui bahwa keponakannya sedang penuh dengan kegundahan semenjak gadis itu mengunjungi pria muda ini di gudang pada pagi hari itu.
 Gadis itu merupakan keluarga terakhir sang pemilik, peninggalan yang tidak ternilai dari adik perempuannya yang telah tiada, dan sang pemilik memperlakukannya layaknya anaknya sendiri.
Tentu saja, sang pemilik mengetahui, bahwa suatu hari nanti gadis itu akan jatuh cinta, menikah, dan pergi meninggalkan rumahnya.
Tapi biarpun begitu.
“Kalau kamu sudah melakukannya, yah—Aku rasa kamu sudah siap dan bersedia bertanggung jawab.” Snag petani berbicara dengan suara yang rendah, hampir seperti sebuah erangan, dan menatap seksama pada pria muda itu.
Adalah mustahil bagi dirinya untuk dapat mengetahui apa yang di pikirkan pria muda itu di balik helm bajanya.
Jika pria muda itu berusaha untuk mengambil keuntungan dari gadis itu, sang petani tidak akan ragu untuk memberikannya pelajaran dengan garpu rumput yang ada di tangannya. Sang petani merasa bahwa itu adalah haknya sebagai penjaga dan orang tua asuh gadis itu.
“Nggak.” Helm itu bergeleng ke kiri dan kanan. “Aku nggak melakukan apapun.”
Suara itu pelan dan acuh, dan begitu blak-blakan. Jika ucapannya adalah sebuah kebohongan, maka pria muda ini merupakan seorang bajingan yang sudah terbiasa melakukan hal seperti itu.
Sang petani menatap helm baja itu, kemudian pada akhirnya mengalihkan pandangannya seolah tidak mengetahui harus kemana dia memandang. “Begitukah?”
“Ya.”
Ayam jantan berkokok di kejauhan. Matahari akan segera terbit tidak lama lagi, dan hari yang baru akan di mulai. Sang petani menyipitkan matanya pada terangnya cahaya dan menghela.
“Kamu nggak berniat mengambil pekerjaan yang lebih baik?”
Sang petani mengartikan bahwa dia tidak akan pernah menyerahkan keponakannya kepada seorang petualang.
Akan tetapi juga, jika gadis itu dapat hidup bersama dengan seseorang yang selamat dari desanya, mungkin itu akan sangat ideal.
Namun kemudian pria muda itu berkata, “Nggak,” dan menggeleng kepalanya, “Karena ada goblin.”
“…”
Dan kemudian ini. Sang petani tidak berbicara. Dengan cepat dia mulai menyesali khayalannya. Sang petani mengira bahwa keponakannya sudah mulai sembuh semenjak lima tahun terakhir ini; tidak mengherankan mengapa gadis itu sedang marah sekarang.
“Yah, kalau begitu lekas kamu pergi bekerja.”
Pria ini sudah benar-benar gila…
Merupakan hal yang sudah sangat jelas, bukan hanya karena dia muncul merayap keluar dari genangan lumpur.
Seraya pemilik kebun mulai berjalan menjauh, garpu rumput pada tangannya dan pikiran pahit mengiang di kepalanya, dia mendengar pria muda itu berkata, “Baik.” Dari belakangnya.
Kemudian timbullah pertanyaan: “…Di mana gadis itu?”
Hal ini menyebabkan sang petani berhenti dan mengangkat alisnya.
Di sini sang pemilik kebun mengira bahwa pria ini sama sekali tidak tertarik dengan gadis itu.
Sang pemilik kebun berputar dan melihat pria muda itu berdiri seperti sedang bosan.\
“Dia sedang pergi keluar. aku rasa dia akan pulang telat hari ini.”
“Begitu,” gumam sang pria muda, dan kemudian dia melangkah pergi menuju kota. Terdapat sesuatu yang janggal dalam langkahnya; bagi sang pemilik kebun, pria itu tampak seperti anak kecil yang telah di tinggalkan sendirian.
*****
“Ah…!”
Pada akhirnya Gadis Guild mendengak ke atas dari meja yang sekian lama di tatapnya, kesibukan pagi hari telah di mulai.
Dia mendengar suara pintu terbuka, dan kemudian sebuah langkah berani, hampir berbahaya, namun santai mulai mendekati dirinya.
“Goblin.”
Tidak ada lagi seseorang yang menoleh ketika suara itu terdengar dari meja resepsionis. Ketika seorang petualang dengan perlengkapannya yang kotor muncul, semua orang berpura-pura menyibukkan diri mereka dengan hal yang lain.
Dan siapa yang dapat menyalahkan mereka? Semua orang mengetahui bahwa dia sangat mencurigakan.
Apakah takdir atau nasib yang mengatur jalannya dunia, para petualang merupakan kumpulan orang-orang yang percaya dengan takhyul. Menghindari untuk terlibat dengan “tipe aneh” adalah bagian dari menjaga diri mereka.
Namun semua itu tidak berpengaruh pada Gadis Guild. Terdapat senyum cerah pada wajahnya dan dia mengeluarkan beberapa kertas yang telah dia siapkan sebelumnya.
Kertas itu, tentu saja, merupakan quest membasmi goblin.
Aku merasa tidak enak dengan menyerahkan semua quest ini kepadanya, tapi…
Gadis Guild menghiraukan rasa gundah di hatinya. Seseorang harus melakukan pekerjaan ini. Petualang tingkat menengah menolaknya mentah-mentah, dan bahkan para pemula tidak selalu mau mengambil pekerjaan ini. Siapa lagi yang dapat membantu orang-orang yang membutuhkan ini?
Bukan berarti pekerjaan yang di lakukan orang lain itu tidak penting juga.
Oleh karena itu, Gadis Guild memberikan quest sisa kepadanya. Petualang yang datang pada pagi hari telah mengambil quest yang di tempel pada papan, dan ini adalah quest yang tersisa.
Dengan cara ini, Gadis Guild dapat menugaskan pembasmian gobblin tanpa merepotkan orang lain (merepotkan?)
“Ahem, hari ini kita mempunyai lima quest. Semua orang saat ini sedang menghadapi kejadiaan yang sedang terjadi pada tambang…”
Gadis Guild membalik halaman demi halaman, tetap bersikap sopan seraya dia menjelaskan. Dulu dirinya sering terbata-bata dan ragu, tapi sekarang tidak lagi—paling tidak, tidak begitu sering. Dan itu juga, berkat pria ini.
Bukanlah karena Gadis Guild mengangap interaksi dengannya sebagai latihan atau menganggap pria itu sebagai bahan latihan, namun…
“…?”
Gadis Guild terdiam, melihat pria itu dengan kebingungan. Pria itu tidak merespon ataupun bertanya kepadanya.
Di sana, di depan Gadis adalah helm yang terlihat murahan yang sudah biasa di lihat oleh Gadis Guild. Helm itu sedikit miring ke samping—mungkin di karenakan tanduk di sebelahnya telah patah—namun itu adalah salah satu bagian menawan dari pria itu menurut Gadis Guild.
Gadis Guild mengira, mungkin, dia melihat helm itu goyah ke samping.
“Er… Apa kamu baik-baik saja?”
“…” Dia terdiam beberapa saat, kemudian dia berkata, “Nggak,” dengan gelengan canggung kepalanya. “Aku baik-baik saja,” dia menambahkan.
Hmm, Gadis Guild bergumam pada dirinya sendiri.  Baginya “baik-baik saja” terdengar rancu.
Aku harap paling tidak aku bisa melihat wajahnya.
Seraya pikiran itu melintas, Gadis Guild menyadari bahwa pertama kalinya dia dapat melihat dengan jelas wajah pria ini adalah ketika pertama kali pria ini mendaftar. Kali ini Gadis Guild berharap supaya dia dapat melihat kembali dengan lebih seksama, namun sudah sangata terlambat untuk itu.
“…”
Hening.
Gadis Guild berpura-pura batuk.
“Maafkan saya,” dia berkata, mengetuk jarinya pada meja. Sebuah senyum masih menempel di wajahnya. Melihat pada helm baja yang tidak dapat di baca, dia mendapati dirinya merasa marah. “Apa anda pikir saya dapat mempercayakan pekerjaan seperti ini kepada seseorang yang tidak enak badan sampai-sampai susah untuk berdiri?”
“Aku baik-baik saja.”
Jawaban yang di ulang mengundang sebuah benturan kepal tangan Gadis Guild pada meja. Rekannya memberikan tatapan melotot kepada Gadis Guild, namun dia menghiraukannya.  Kalimat itu sudah keluar dari mulutnya sekarang, dan dia sedang menjalani perangnya sendiri.
“Apa anda benar-benar merasa seperti itu?” Masih tersenyum, Gadis Guild mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya beberapa inci dari wajah pria itu.
Gadis Guild mengira dia mendengar sebuah gumaman dari dalam helmnya, dan akhirnya sebuah kata nggak keluar dengan jelas.
“Istirahat yang cukup itu sangat penting dalam berpetualang!” Tidak ada istirahat, tidak ada quest, Gadis Guild memberitahunya, dan merasa senang melihat pria itu mengangguk sebagai jawaban.
“Baiklah.”
Ha! Tuh kan? Gadis Guild duduk dengan sedikit lebih tegak, merasa sedikit bangga.
Mungkin aku akan membiarkannya kali ini,  dia berpikir dan melembutkan suaranya seraya dia berkata, “Oke. Untuk kali ini saja… saya berikan anda ini.”
Gadis Guild menggapai belakang mejanya dan mengambil salah satu barang yang di simpan Guild di sana. Adalah sebuah cairan di dalam botol yang berwarna samar. Sebuah stamina potion.
Tentu saja, Gadis Guild di larang untuk memberikan benda seperti ini kepada petualang secara cuma-cuma. Hal itu akan mengurangi pemasukan dana yang penting untuk Guild. Namun solusinya sangat sederhana: Gadis Guild akan membayarnya nanti dengan gajinya sendiri. Dengan begitu semua akan baik-baik saja, pikir Gadis Guild.
“Rahasia kecil kita, oke?” Gadis Guild berkedip kepadanya.
Dari dalam helmnya, terdengar suara erk, dan kemudian dia berkata, “…Maaf.”
“Harusnya adalah terima kasih,” Gadis Guild menjawab. “Kalau anda benar-benar ingin mendapatkan penilaian baik.” Dia tertawa kecil. “Dan juga, terdapat lima quest di sini, tapi…semua petualang lain sedang keluar…”
“keluar?” pria itu bertanya, suaranya terdengar rendah.
“Hmm?” Gadis Guild berkata, memiringkan kepalanya sebelum menjawab. “Ya.”
Tadi sedikit aneh juga…
Jika Gadis Guild tidak salah dalam mendengarnya, suara pria itu terdengar…marah.
“Ya. Mereka pergi menuju tambang. Terdapat kejadian yang cukup serius di sana. Apakah anda ingin bergabung dengan mereka?”
“Nggak.” Dia menggeleng kepalanya, kemudian mengambil salah satu kertas quest. “Aku akan membasmi goblin.”
“Yang itu adalah—“
Gadis Guild membaca cepat kertas quest itu. Adalah sebuah lembaran quest dari seorang pionir desa di perbatasan. Permasalahan goblin. Tolong singkirkan mereka. Sebuah quest yang benar-benar biasa.
Tapi jumlah mereka lebih banyak dari biasanya…
Jumlah dari para goblin yang telah di klaim telah di lihat para penduduk desa tampak mengusik Gadis Guild.
“Apa…anda yakin akan baik-baik saja?”
Gadis Guild mencoba banyak bertanya. Kesehatan pria itu. Kenyataan bahwa dia bekerja sendiri.
Sebuah firasat buruk bahwa ini akan menjadi saat di mana pria itu tidak akan kembali terngiang di benaknya. Gadis Guild tiba-tiba merasa sakit pada hatinya, dan tanpa di sadarinya, Gadis Guild sedikit mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada pria itu.
“Saya… Saya yakin jika anda menunggu sebentar, beberapa petualang lain akan muncul…”
“Goblin-goblin ini,” dia berkata datar. “Aku akan menghadapinya sendiri.”
*****
“Kamu lagi huh?” Sang bos workshop mendengak dan mengernyit, kakinya berhenti mengayuh batu asahnya.
Hal seperti ini harus selalu di lakukan secara bertahap untuk menjaga sebuah pedang tetap tajam. Mata pedang itu di letakkan pada batu asah yang berputar, mengirimkan percikan terbang. Mengasah sebuah pedang secara harfiah mengikis beberapa bagian mata pedang. Hingga akhirnya akn mencapai batasnya.
Beberapa pedang yang telah di perkuat dan benda sihir mungkin akan menjadi pengecualian, namun untuk benda lainnya, kehancuran benda itu tidak dapat di hindarkan. Bahkan para elf, yang bisa di bilang tidak berumur, tidak dapat lepas dari aliran waktu.
Tapi biarpun begitu…
Mata bos melongo ketika dia mengambil pedang yang telah di beli oleh pria yang terlihat aneh ini. Pria itu meletakkan pedangnya di atas meja sang bos, dan pedang itu tidak dalam kondisi yang baik.
Kondisi pedang itu begitu buruk hingga pedang itu telah menjadi pendek. Dan terdapat permasalahan penting lainnya.
Pedang itu telah tercuil dengan begitu parah, berlumur dengan lemak dan darah. Pedang ini bisa saja di anggap sebagai sebuah gergaji sekarang, dan sang bos pernah melihat pisau daging yang jauh lebih bersih dari ini.
Seolah itu semua belum cukup, hulu pedang itu telah bengkok seakan di gunakan untuk memuluk sesuatu.
“Feh. Mereka yang nggak pernah merawat perlengkapannya nggak akan bisa hidup lama di dunia ini.”
“Aku yakin, aku merawat baik perlengkapanku.”
Suara pelan itu mengundang jawaban lelah “Apa kamu benar-benar berpikir seperti itu?” dari sang bos.
Pengetahuan umum mengatakan bahwa sebuah pedang dapat memotong lima musuh. Seorang amatiran yang bersemangat untuk menunjukkan betapa cerdasnya dia, mungkin saja akan mendebat bahwa hal ini adalah salah, hanya sedikit takhyul dari rakyat. Namun tidak perlu di katakan, adalah rakyat itu yang benar dan sang amatiran yang salah.
Mungkin ini bisa sedikit masuk akal bagimu: seorang master swordman dapat menilai kondisi mata pedangnya, menjaganya agar tidak rusak dan mencegah darah untuk menempel pada pedangnya.
Akan tetapi, ketika pedang itu di gunakan di tengah-tengah panasnya pertarungan? Terdapat armor dan kulit. Terkadang sebuah senjata akan menyerang tulang atau di gunakan secara sembarangan. Jika salah satu dari serangan itu mengenai armor musuh, sebuah pedang dapat menjadi rusak. Seraya pedang itu menebas pembuluh darah, pedang itu akan berlumur dengan darah.
Terlebih lagi, hulu dan gagang pedang akan menjadi senjata palu perang yang sempurna.
Sebuah pedang dapat memotong lima musuh.
Untuk kebanyakan orang. Tapi kalau dia…?
Sang bos menjulurkan jarinya di sekitaran mata pedang, memberikan sebuah gelengan kepala kecewa.
“Benda ini sudah nggak bisa di perbaiki lagi. Aku akan mengambilnya darimu. Beli saja yang baru.”
“Aku mengerti.”
Sang bos melempar pedang itu masuk ke dalam keranjang besi, kemudian memberitahi pria muda itu berapa banyak yang bisa di tukarnya dengan pedang ini.
Tanpa ragu, sang petualang mengeluarkan dompet dan dalam tas peralatannya dan meletakkan koin di atas meja. Jika di lihat dari penampilannya, dompet itu terlihat cukup berat.
“Wah, wah, sepertinya hidupmu mewah juga. Apa yang kamu lakukan?”
“Membasmi goblin.”
“Hrm?” sang bos menyipitkan sebelah matanya dan memberikan tatapan curiga. “Jadi kamu dan partymu mempunyai satu tabungan untuk membeli perlengkapan?”
“Aku sendirian.”
Ini mengundang sebuah dengusan dari bos workshop.
Dengan kata lain, pria ini telah memotong lebih dari lima musuh dengan sebilah pedang. Tidak ada salahnya jika dia menggunakan sesuatu dengan kualitas yang lebih tinggi…
“Apa kamu sudah menyelesaikan apa yang aku minta?”
“Tentu saja.”
Tidak. Sang bos akan meyimpan pikiran itu untuk dirinya sendiri.
Sang bos memberikan pria muda itu sebuah pedang baru, lengkap dengan sarung pedang dan lain-lain, dan sang petualang mengikatnya pada pinggulnya. Sang bos menggelengkan kepalnya. Sang bos menggapai ke belakang meja dan mengambil sebuah  bungkusan berlapis kertas minyak, membukanya dengan jari tebalnya.
Terdengar sebuah suara berdenting halus dari sebuah baju besi yang di letakkan di atas meja. Baju besi itu telah di minyaki secara hati-hati; di bandingkan dengan suara berisik plat metal, baju besi ini hampir tidak bersuara. Baju besi ini dapat gunakan di bawah armor kulit pria muda ini dan memberikannya perlidungan menegah dengan kemampuan menyelinap yang cukup baik.
Akan tetapi celah pada sambungan baju besinya cukup besar dan tipis yang akan cukup bagi sebuah pedang untuk dapat menembusnya. Baju ini bukanlah baju mithril, hanya kawat yang di sambung sedemikian rupa.
Akan tetapi, adalah lebih baik di banding tidak memilikinya sama sekali. Adalah sangat cukup untuk dapat menyelamatkan nyawa.
“Ini bukan barang terbaik yang ada di sini,” sang bos berkata.
Tapi seharusnya cukup untuk memenuhi permintaannya. Sang bos memberikan tatapan pada helm baja itu.
Suara yang menjawabnya, seperti biasa, datar dan pelan. “Aku tahu,” dia berkata. “Nggak masalah.”
“Apa yang nggak masalah?”
“Nggak akan masalah kalau goblin menggunakannya.”
Dengan kata lain, kalau goblin mencurinya ya?
Petualang menggunakan peda tipis. Cukup tipis sehingga mereka dapat menusuk seekor goblin yang menggunakan baju ini.
Sang bos melihat ini sebagai dasar untuk para petualang dalam memilih perlengkapannya : yang mungkin akan dapat di curi para goblin dan bukanlah menjadi kerugian bagi petualang itu.
*****
“Aku butuh persediaan.”
“Baik! Untuk berapa hari?”
“Satu minggu.”
“Segera datang!”
Pelayan Padfoot beranjak pergi. Dia menghiraukan pelayan gadis itu dan melihat sekitarannya.
Dia berada pada rumah makan Guild Petualang. Dia jarang sekali datang kemari, terkecuali di saat dia akan membeli persediaan. Dia merupakan pengunjung yang langka, bahkan, dia baru-baru saja menemukan tempat yang mempunyai padfoot sebagai pelayan ini.
Satu hal yang dia sadari di tengah hari ini,  adalah rumah makan ini memiliki hawa lesu. Para petualang yang duduk di sini dan di sana di sekitar ruangan sedang dalam hari liburnya atau baru kembali dari tamasya. Beberapa memesan minuman, sementara lainnya sedang mengunyah camilan, namun tidak satupun dari mereka yang tampak bersemangat.
Salah satu dari mereka terlihat menonjol bagi pria itu.
“…Sialan… Apa-apaan…? Argh…!”
Dia mengenali petualang itu yang sedang bersandar di meja, bergumam pada dirinya sendiri. Adalah seorang pria muda yang bertemu dengannya pada quest membasmi goblin, seorang petualang yang mendaftar pada hari yang sama dengannya.
Tidak tampak kehadiran partynya di sekitarnya, dan petualang itu sendiri terlihat sedang mabuk. Tidak ada orang lain di bar itu yang melihat dirinya; semua orang tampaknya sengaja menghindari kontak dengannya.
Dia berpikir sejenak, kemudian tetap diam dan menunggu persediaannya datang. Bahkan dia menyadari akan ada waktu di mana seseorang ingin di biarkan sendiri.
Namun mengetahui merupakan satu hal…
“Hei. Ada apa? Sedang bersiap untuk berpetualang?”
…dan di biarkan sendiri merupakan hal lainnya. Seseorang duduk dengan kasar di depan dirinya seraya dia menunggu.
Dia mendengak dan melihat pria tinggi, tampan, dan berotot. Dia mengenakan armor kulit dan membawa sebuah tombak pada punggungnya. Seringai yang di tunjukkan pria ini kepadanya terlihat bersahabat.
“Apa yang akan kamu lakukan? Kelabang raksasa? Ghoul?” (TL Note : ghoul = semacam hantu.)
Menjelajah dungeon kecil nggak jelek juga.
Akan tetapi, dia, hanya menatap pembawa tombak yang terus mengoceh, sebelum akhirnya menjawab, “Goblin.”
“Guh! Goblin?!” Spearman berkata dengan drama berlebihan. Matanya melongo dan pundaknya terangkat, mulutnya menganga terbuka.
“Aku, aku ada di pertambangan hari kemarin membasmi blob!” (TL note : Blob = Semacam lendir, seperti slime.)
“Benarkah?”
“Benarlah! Lumayan keren kan?”
Akan tetapi, Goblin Slayer, tidak mengetahui apa itu yang di sebut Blob. Dengan pemikiran singkat telah membuatkannya sebuah jawaban bahwa itu bukanlah seekor goblin.
“Apa sekeren itu?”
“Iya dong!”
“Begitu.” Goblin Slayer mengangguk. “Aku kagum.”
“Kamu mengejek aku?!” Kali ini, Spearman mencondongkan tubuhnya ke depan  untuk meraih pria itu, wajahnya berkerut marah.
Dia diam berpikir untuk sesaat, kemudian helm bajanya berayun miring ke samping secara perlahan. “Jadi nggak keren?”
“AW, sia—! Kampret, apa-apaan sih ini orang?!”
Spearman sangatlah supel dan sangat nyaring. Dia berteriak frustrasi, kemudian duduk kembali ke kursinya seolah untuk mengatakan, aku menyerah. Punggung kursinya berdecit di bawah tekanan tubuhnya.
Spearman mengerucutkan bibirnya tidak senang, kemudian mengangkat tombak kesayangannya dan mulai memutar-mutarnya. Tiba-tiba, matanya menyipit dan dia menunjuk pada tas yang ada pada pinggul pria itu.
“Hei, apa itu?”
Ada sebuah botol yang terlihat pada mulut tas pria muda itu. Pria itu pasti lupa untuk menutupnya. Hanyalah kecerobohan yang sederhana. Pria itu menjentikan lidahnya.
“Ini stamina potion.” Dia mengeluarkan botolnya, mengatur kembali isi dari tas peralatannya, dan memasukkan botolnya kembali. Sekarang bahaya akan botol itu terjatuh telah tiada. “Aku menerimanya dari meja resepsionis.”
“Apaaaaaaa?!” Spearman melonjak ke depan kembali. Teriakannya menggetarkan bagian dalam helm bajanya. “Sialan! Aku perlu tampil lebih baik lagi di hadapan Gadis Guild… Membasmi blob!”
“Blob.”
“Yeah mereka gumpalan cairan yang hidup. Kamu nggak bakal tahu harus kemana kamu menusuk mereka! Jadi aku mengambil tombakku dan—“
“Baiklah…itu…sudah…cukup.”
Kisah maha berani Spearman telah di potong oleh seorang wanita yang sangat cantik. Yang di mana pinggulnya berayun seraya dia berjalan mendekati meja dan duduk. Pakaiannya menunjukkan lika-liku tubuhnya, dan dia mengenakan sebuah topi yang yang mencolok: tidak salah lagi wanita ini adalah seorang witch.
“Sebaiknya kamu ikut menceritakan ini. Blob-blob itu hamper membuatmu dan aku—Owwwww!”
Terlihat tidak tertarik sama sekali, wanita itu menurunkan tongkatnya menuju kepala Spearman. Wanita itu memeriksa apakah pria itu benar-benar tidak sadarkan diri, kemudian menghela kecil.
“Maafkan, dia.” Witch memberikan tatapan menggoda.
Goblin Slayer menggeleng kepalanya. “Nggak masalah.”
“Lain kali… Aku, akan, menggunakan, Spider Web, atau, seseuatu, untuk, menutup, mulutnya…”
“Aku mengerti.” Dia mengangguk. Kemudian seolah pikiran itu terlintas di benaknya, dia mengarahkan tatapannya pada petualang mabuk yang dia lihat sebelumnya. “Dia kenapa?”
“Ah…” Witch menutup rapat matanya yang beralis panjang, lidahnya berdansa di dalam bibirnya yang mempesona. “Salah, satu, dari, rekannya, di makan, yang, lainnya, sedang, mengantarkan, jenasah, rekannya, rekannya, yang, ketiga, tangannya….yah.”
Pria itu meninggalkan party mereka setelah itu. Witch tidak terdengar tertarik dengan semua ini. Dia mengeluarkan sebuah pipa dari suatu tempat misterius, menggunakan sebuah batu api untuk menyalakannya—klik—dengan tangannya yang terlatih.
Dia menarik napas panjang, asap yang beraroma wangi mengambang mengelilinginya.
“Sekarang, hanya, tersisa, satu. Cerita, yang, sudah, biasa… Benarkan?”
“…Begitu.”
“Dan, seperti, itulah, ceritanya. Sampai, jumpa…”
Witch memberikan lambaian cepat dan menarik kerah Spearman. Spearman bergumam sesuatu tentang ketidakadilan, namun dia tidak melawan seraya Witch menyeretnya menjauh.
Wanita itu cukup kuat untuk seseorang yang berdiri di baris belakang, atau mungkin dia dan Spearman memiliki suatu hubungan.
Setelah beberapa saat, Goblin Slayer memutuskan bahwa dia tidak peduli dan mengusir pikiran itu dari kepalanya.
“Maaf membuat anda menunggu!”
Pelayan Padfoot dating dari dapur dengan momen yang tepat. Dia mengeluarkan tujuh bungkus bekal yang dia dekap di dada dan menaruh semuanya di atas meja.
Goblin Slayer memeriksa semuanya dan kemudian memasukkannya ke dalam tas peralatannya, mengeluarkan beberapa koin silver dari dompetnya sebagai bayaran.
“Terima kasih! Senang berbisnis dengan anda!”
Tasnya mulai membesar. Dia mengatur beberapa barang untuk membuat ruang  untuk persediaan pangannya, dan dia melangkah pergi.
Dia sedang memegang gagang pintu ketika dia berhenti dan melihat ke belakang. Sang petualang yang dia perhatikan sebelumnya memberikan tatapan kosong kepadanya.
Goblin Slayer melihat pria itu untuk sesaat, kemudian dia mendorong pintu dan melangkah keluar.
Pintu itu terbuka dan tertutup dengan decitan yang entah mengapa terdengar cukup lama baginya.
*****
Wssh. Wssh. Wssh. Angina berhembus lembut melewati semak-semak, membuat suara seperti ombak di pesisir.
Tidak ada apapun di sana. Hanya sebuah jalan setapak, benar-benar sesuatu yang biasa, seperti jalan lainnya.
Gadis Sapi menahan rambutnya dari hembusan angina, menyipitkan matanya. Dia dapat melihat pohon yang terbakar di antara lautan jamrud.
“Ini dia. Sesuai dengan yang tertulis di quest itu, nona.” Adalah seorang petualang dengan tombak di sisinya yang berbicara, duduk pada kursi pengemudi dari sebuah kereta kuda yang mereka sewa.
“Mm. Terima kasih…”
Gadis Sapi menundukkan kepalnya dari balik gorden, mengundang sebuah senyum dari rekan Spearman, Witch. Witch tidak terlihat jauh lebih tua dari Gadis Sapi, namun wanita itu memberikan sebuah aura seperti wanita dewasa.
“Baiklah, kalau, begitu, kami, akan, di sini….menunggumu.”
“Oke.”
Gadis Sapi berterima kasih kembali dan melompat turun dari kereta kuda. Rumput di kakinya di mana dia mendarat membuatnya hampir terjatuh, namun dengan cepat dia menyeimbangkan dirinya.
“Kamu baik-baik saja?” Spearman bertanya.
“Aku baik-baik saja, terima kasih.” Gadis Sapi berkata.
Aku nggak sangka aku akan mengingat tempat ini.
Di dalam kereta kuda lainnya, di hari yang lampau, dia telah melihat tempat yang sama ini yang semakin mengecil di kejauhan.
Dia sedang berada di tempat yang sama, melihat pada arah yang sama.
Nggak apapun di sini.
Hanya angin yang menghembus rerumputan. Gadis Sapi mulai berjalan perlahan.
Dulu dia sering bermain di jalanan ini. Hingga lima tahun yang lalu, dia biasa bermain di tempat ini setiap hari.
Pemandangan tempat ini, masih segar dalam ingatannya, berbenturan dengan apa yang di depannya sekarang. Perasaan ini membuatnya merasa hampir pusing, dan dia merasakan langkahnya menjadi lunglai dan tidak pasti.
“….Hmm.”
Melewati beberapa semak-semak. Gadis Sapi pergi menuju tempat tujuannya. Jika di perhatikan dengan seksama, terdapat sebuah tempat di mana rumput-rumput tumbuh lebih sedikit di banding tempat lainnya. Adalah sesuatu yang dulunya merupakan sebuah jalan.
Pada akhirnya, dia telah tiba pada lapangan yang penuh rumput. Seperti dugaannya, tidak ada apapun di sana. Hanya beberapa tiang ynag di karbonisasi, tertimpun dengan rumput.
Gadis Sapi melangkah menuju lapangan berumput. Suara retakan di bawah kakunya, mungkin merupakan peninggalan terakhir dari batu ubin tua.
Apa yang terjadi dengan semua ini?
Ayahnya. Ibunya.
Pakaian kegemarannya. Boneka yang dia sayangi. Ranjang yang dia tiduri setiap malam. Perkakas makan khusus miliknya.
Semuanya, lenyap.
Gadis Sapi berdiri menatap pada ketiadaan di depannya sebelum pada akhirnya dia melihat sekitarannya.
Hampir tidak ada orang yang mengingat sebuah desa yang berada di tempat ini dulunya.
Hanya dia, pamannya, dan pria itu.
Semuanya hanyalah masa lalu sekarang.
Tidak di sangka bahwa semua ini terjadi hanya lama kurun waktu lima tahun, dalam sepuluh atau dua puluh—setiap sisa-sisa dari desa ini tentunya akan hilang.
Otot-otot di wajahnya tertarik, seperti meringis; dia menyandarkan punggungnya untuk mengalihkan perhatiannya. Dia merasakan rumput pada punggungnya dan lehernya terasa menggelitik.
Di kajuahan, Spearman memanggilnya, di ikuti dengan Witch yang menyuruhnya untuk diam.
Langit di atas Gadis Sapi terlihat begitu biru, dan awan putih yang mengambang mengisi matanya.
“…Selesai begini saja ya?”
Gadis Sapi tidak dapat menghabiskan setiap menitnya untuk berkabung. Dia harus makan makanannya dan melakukan pekerjaannya. Dia ingin untuk dapat tertawa dan bersenang-senang.
Adalah hal yang sangat normal—siapa yang akan memarahi atau mengejeknya karena melakukan hal itu?
Hal yang sama terjadi di seluruh dunia.
Dia mengedipkan matanya yang tersinari matahari, kemudian  mengangkat lengannya ke depan wajahnya untuk menghalangi sinar matahari.
Akan sangat sederhana, dan mudah, untuk sekedar melepaskan semuanya dan tenggelam dalam kesedihan.
Tapi aku nggak bisa melakukan itu.
Dengan cahaya matahari yang menyinarinya, bayangan akan pria itu melintas di pikirannya.
Aku benar-benar nggak bisa kan?
Jika begitu, apa yang dapat dia lakukan?
Apa yang dapat dia lakukan untuk pria itu?
Langkah apa yang harus dia ambil?
“…Oke!”
Gadis Sapi berdiri. Dia menepuk bokongnya untuk membersihkan debu dan rumput yang menempel, kemudian memberikan tepukkan pada kedua pipinya. Dia hanya perlu menggunakan segala energinya dan berfokus ke depan.
Dia pergi kembali menuju kereta kuda dengan langkah cepat. Witch melihat dirinya datang dan memegang ujung topinya.
“Sudah, se…lesai?”
“Yep!” Gadis Sapi mengangguk riang, menaiki kereta kuda. Dia menundukkan kepalanya kepada kedua petualang. “Maaf sudah meminta kalian mengantarkan aku ke sini…”
“Heh, pekerjaan ya pekerjaan,” sang petualang pemegang tombak berkata dengan tawa bersahabat. “Kita melakukan apapun yang di minta, selama kita di bayar. Jadi nggak usah di pikirkan.”
“Pekerjaan…”
Aku penasaran apa dia berpikir apa yang di lakukannya sebagai pekerjaan. Dan kalau memang iya…pertama, dia harus menyelesaikannya.
Gadis Sapi mengepal tangannya. Witch tertawa terhibur melihatnya.
“Mungkin, kamu…perlu, memotong, rambutmu.”
“Huh?”
Gadis Sapi tidak menyangka ini. Matanya melebar. Jari pucat Witch membelai poni Gadis Sapi.
“Potong, untuk, menunjukkan, matamu. Apa, kamu, tidak, berpikir, akan, terlihat, lebih, imut, seperti, itu?”
Apa iya…
Gadis Sapi memegang rambutnya sendiri, mempertimbangkan saran itu.
Spearman memberikan teriakan, dan kereta kudapun berjalan.
*****
Apa seharusnya aku memakai kereta kuda?
Pikiran yang tidak biasa dari pria itu. Dia berhenti berjalan.
Matahari telah lewat dari puncaknya dan mulai menuruni langit pada jalurnya. Cahaya terang masih menyinari jalannya, namun tidak akan lama hingga kegelapan menyelimutinya.
Jika dia akan berkemah untuk mala mini, maka dia harus segera melakukan persiapannya.
“…”
Aku terlambat berangkat.
Jika dia pergi di pagi hari ini, tentunya dia sudah akan tiba di desa saat ini.
Di jalanan biasanya terdapat beberapa penginapan dan akomodasi lainnya—tetapi itu hanya jika kamu pergi ke tempat yang di pedulikan orang-orang.
Kota hantu pada perbatasan bukanlah tempat seperti itu.
Jika dia berjalan melewati malam, tentunya dia akan tiba pada desa, namun ketika di berpikir bahwa dia harus berhadapan dengan goblin tepat setelah itu…
Akan tetapi, pikiran itu bukanlah yang menghalanginya. Dia dapat bertahan, namun matahari tidak dapat; dia harus bertindak.
Dia melihat ke kesana dan kemari di sekelilingnya, hingga akhirnya dia menemukan apa yang dia cari. Dia berjalan menuju rerumputan, menyebabkan rumput itu bergemerisik.
Dia telah menemukan sisa-sisa semacam desa atau kota. Apakah tempat ini sebuah medan pertempuran pada Jaman para Dewa? Atau hanya sekedar desa yang hancur?
Cangkang rumah yang telah membusuk mengisi lahan, hampir tampak seperti tertidur di antara rerumputan. Dia mendapatkan sebuah dinding batu yang masih menjaga bentuknya seperti baru, namun ketika dia memberikannya sebuah tendangan, dinding itu runtuh. Begitu juga dengan dinding lainnya, tetapi akhirnya, dia menemukan satu yang dapat bertahan dari tendangannya.
Ini tempat yang bagus.
Beberapa pukulan tidak menunjukkan tanda dinding itu akan runtuh, oleh karena itu dia bersandar di depannya, menebarkan kain tahan air di tanah, agar terhindar dari dinginnya embun malam yang dapat menghalangi kemampuannya untuk mendapatkan staminanya kembali.
Dia melepaskan ikatan pada pedang di pinggulnya, menggunakannya sebagai parang untuk memotong beberapa semak-semak, membuat sebuah ruang untuk api. Jika dia akan membuat api dan kemudian api itu akan menyebar pada rumput di sekitarnya, menyebabkannya mati di karenakan menghirup asap—yah, tidak ada cara mati yang lebih konyol dari itu.
Berikutnya, mendapatkan bahan bakar. Hal ini tidaklah begitu sulit. Dia hanya perlu mendapatkan beberapa rumput kering. Jika kayu yang masih bagus tersedia, maka akan sangat mudah baginya untuk mengeringkan kayu itu seraya malam berjalan.
Dia mengambil beberapa batu dari bangunan yang hancur untuk membuat sebuah penghalau kecil yang akan menghalau angin dan menjaga api, dan dia akan memasukan bahan bakarnya ke dalam.
Akhirnya, dia hanya perlu menyalakan sedikit dari rumput itu untuk memicu api dan melemparkannya ke dalam. Maka dia pun telah selesai.
“…”
Dia terdiam, dan dia masih belum menyalakan api.
Langit di atasnya masihlah biru. Belum terdapat awan hitam di horizon, dan udara masih terasa kering: kemungkinan tidak akan hujan. Tidak perlu untuk menyiapkan atap, kemudian, dia berpikir; untuk tetap duduk bersandar pada dinding.
Keadaan di sekitarnya hening layaknya sebuah kuburan. Awan berlalu di atasnya tanpa suara; satu-satunya yang terdengar hanyalah gumaman rerumputan yang tertiup angin.
Dia mengambil botol minumnya, membukanya dan meneguk satu kali dan meneguk untuk kedua kalinya. Dia terkejut akan gelombang rasa lelah yang menyerangnya ketika dia duduk. Kelopak matanya terasa sangat berat.
Akan tetapi, dia tidak dapat beristirahat sekarang. Jika dia tidak menyalakan api di malam hari, maka dia akan mendapati binatang liar yang akan mengunyah dirinya.
Dia meletakkan botol minumnya ke samping, kemudian mengambil sebuah gumpalan daging kering dari tasnya dan memasukkannya ke dalam celah helm. Setiap kali dia mengunyah daging keras itu, ledakan garam mengisi mulutnya. Dia berharap bahwa rahangnya yang terus bergerak dapat menghalau rasa kantuknya, namun dia juga merasa senang bahwa makanan yang dia bawa terasa lebih enak dari yang dia bayangkan.
“…”
Ketika dia melihat bungkusan yang mengelilingi daging, dia melihat sebuah symbol yang tidak asing. Daging itu berasal dari perkebunan.
Dia mengunyah tanpa suara, di selingi dengan beberapa tegukan air, duduk diam di bawah bayangan. Cahaya musim panas tampak mengisi keseluruhan helmnya, membuatnya merasa rasa sakit pada kepalanya. Rasa sakit itu pastilah dari hawa panas.
Semenjak dia menyadari adanya kemungkinan serangan kejutan dari seekor goblin, dia menahan rasa untuk melepaskan helmnya.
Oleh karena itu, dia hanya menunggu hingga matahari terbenam secara perlahan.
Di kejauhan, horizon tampak berubah menjadi merah tua dengan kelap-kelip bintang dan bulan kembar yang terbit menggantikan matahari di langit. Salah satu dari bulan itu berwarna merah, seolah terbakar, sedangkan bulan hijau tampak dingin. Dia menatap kedua bulan itu di langit.
Adalah kakak perempuanya, sejauh dia mengingat, yang mengajarinya untuk menghubungkan bintang-bintang itu menjadi gambaran seorang pahlawan.
Aku rasa sekarang waktu yang tepat.
Dia menggosok batu api, percikan api terjatuh ke dalam lubang api dan menghasilkan lidah api yang kecil. Asap putih tipis mengambang di udara.
“…”
Api ini kemungkinan akan cukup untuk mengusir para binatang. Namun untuk goblin? Dia tidak yakin. Apakah mereka akan datang? Mungkin.
Mereka tidak takut pada api. Bahkan mungkin mereka tidak menyadari bahwa kebanyakan dari makhluk hidup takut dengan api.
Mereka pernah menyerang dirinya sekali pada saat dia berisitirahat, dia tidak boleh melupakannya. Sebuah suara bergema di kepalanya. Suara seseorang.
Tenggorokannya terasa begitu kering. Dia berusaha menjilat bibirnya, namun itu tidak cukup untuk menghilangkan sensasi itu. Yah, dia akan tiba pada desa di keesokkan harinya. Dia mengambil botol airnya dan meminum dengan rakus, cairan itu mengalir melewati sisi samping helmnya.
Apa yang terdapat di dalam tasnya, adalah sebuah anggur yang di campur dengan air. Dan dia tidak begitu peduli dengan rasa minuman itu.
Pada akhirnya dia menutup sebelah mata, membiarkan mata sebelahnya lagi terbuka untuk mengintip ke dalam gelapnya malam. Di tangan kanannya, dia menggenggam pedangnya, lututnya di tekuk hingga dadanya agar dia dapat langsung berdiri kapanpun juga.
Dengan satu mata yang terbuka, dia mengira dia melihat sesuatu di ujung bayangan yang berdansa karena api.
“…!”
Dia mengangkat pedangnya, menebas udara. Dengan helaan napasnya, dia menyarungkannya kembali dan kemudian menariknya lagi.
Dia akan menghancurkan tengkorak goblin, dia akan menusuk tenggorokan goblin. Tusuk dan hancurkan. Hentikan napas mereka. Secara permanen.
Dengan itu, dia menunggu goblin muncul hingga fajar.
Namun tidak satupun dari mereka yang muncul.