MILEDI RAISEN I
(Translater : Hikari)

Dungeon Besar Raisen lebih menyusahkan daripada yang mereka duga.
Pertama, sihir tidak bisa digunakan sama sekali. Itu semua karena kekuatan pemecah sihir yang jauh lebih kuat daripada yang ada di dalam ngarai. Bagi Yue yang spesialisasinya adalah sihir, tempat ini sangat membebaninya. Dia tidak dapat menggunakan sihir tingkat tinggi dan jangkauan sihir yang dapat dia gunakan jadi diperpendek sampai ke batasnya di sini. Jarak terjauh yang dapat dia gunakan hanyalah lima meter. Entah bagaimana, level sihir saat ini yang dia gunakan cukup untuk pertarungan. Akan tetapi, saat ini dia tidak mampu untuk menggunakan sihir yang cukup kuat untuk melancarkan serangan sekali bunuh.
Sebagai tambahan, meskipun jumlah sihir yang tersimpan di dalam magic crystallization series tidak banyak berkurang, itu tidak dapat digunakan. Tingkat konsumsinya terlalu parah bagaimanapun juga. Yue hanya dapat menggunakan sihir tingkat menengah karena dia adalah seorang jenius, di mana kebanyakan orang tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Bahkan Hajime sangat terpengaruh oleh hal tersebut. Sihir khusus yang bekerja dengan memancarkan sihir ke luar tubuh, seperti "Aerodynamic" dan "Wind Claw" tidak dapat digunakan. Bahkan dampak serangan "Lightning Clad" berkurang amat sangat banyak. Kekuatan Donner-Schlag juga merosot di bawah setengah yang biasanya, sementar kekuatan maksimal Schlagen berada di level normal Donner-Schlag.
Dengan demikian, penguatan tubuh menjadi sihir paling penting di Dungeon Besar ini. Di dalam grup Hajime, Shia menjadi bintang utama di tempat ini.
Jadi, si telinga kelinci yang bisa diandalkan di grup Hajime…
"Au akan melakukannya, kau tahu… …pasti, saat aku mencapai tempat persemayaman, aku akan mengobrak-abriknya sampai-sampai seakan badai baru saja lewat."
Dengan Doryukken di bahu, dia memeriksa sekitar seakan dia sedang mencoba menemukan mangsanya. Kemarahannya terlihat jelas. Dia benar-benar amat murka. Bahkan intonasi kata-katanya terdengar aneh. Penyebabnya adalah, bisa kau bayangkan berasala dari kejahilan Miledi Raisen.
Karena mereka memahami perasaan Shia, Hajime dan Yue tidak berkata apapun mengenai hal itu. Karena jika ada seseorang yang benar-benar marah, di sisinya pasti sebaliknya ada yang bersikap tenang. Itu karena kondisi psikologis Hajime dan Yue saat ini. Sekarang, sementara Hajime dan grupnya melanjutkan perjalanan, mereka menemui berbagai jebakan dan ukiran kata-kata menyebalkan. Karena itulah, Shia yang benar-benar murka karena hal tersebut, Hajime dan Yue juga merasa jengkel.
Akhirnya, "Fuhihi", sebuah suara tawa aneh muncul dari samping Shia, dan Hajime mengingat kembali hal-hal jahat yang mereka temui untuk sampai di sini.
* * *
Setelah Shia menghancurkan litograf menyebalkan itu, Hajime dan grupnya melanjutkan perjalanan mereka ke dalam terowongan itu dan sampai di sebuah tempat yang sangat luas.
Di dalam, terdapat tangga dan lorong-lorong. Terowongan yang berlanjut dari pintu masuk adalah sebuah kekacauan total, seakan-akan tempat ini dibuat dengan menggabungkan blok-blok legi begitu saja. Tangga dari lantai pertama terhubung ke sebuah lorong di lantai tiga yang perlahan menjadi sebuah turunan yang tersambung ke lorong lantai pertama. Sementara tangga yang muncul dari lantai kedua tidak terhubung ke mana pun selain dinding. Ini benar-benar berantakan.
"Sekali lagi, dalam artian lain, ini benar-benar tempat yang mirip dungeon"
"… …Nn, ini membingungkan."
"Menyenangkan, seperti yang diduga dari dungeon yang dibuat oleh orang yang busuk. Kekacauan ini adalah ekspresi dari isi pikirannya."
"… …karena kami mengerti apa yang kau rasakan, sekarang sudah waktunya bagimu untuk tenang."
Shia merasa murka bahkan saat ini. Hajime, setengah bersimpati dan setengah terpukau, berkata, "Baiklah kalau begitu, bagaimana sebaiknya kita melanjutkannya sekarang", sambil memikirkan tentang itu.
"… …Hajime. Sekalipun kau memikirkannya, tidak ada metode lain."
"Nn~, yah, kau benar. Untuk sekarang, ayo maju sambil memberi tanda dan membuat petanya."
"Nn…"
Hajime mengangguk pada perkataan Yue. Memetakan adalah hal dasar dalam penjelajahan dungeon. Akan tetapi, Hajime secara tidak sadar mengerutkan alis saat dia memikirkan betapa merepotkannya membuat peta yang akurat dari dungeon rumit seperti ini.
Juga, yang Hajime maksudkan dengan "memberi tanda" adalah menggunakan sihir khusus yang disebut "Tracking". Ini adalah sihir khusus yang bekerja dengan meninggalkan sebuah "tanda" yang dibuat dari kekuatan magis di tempat-tempat yang dia sentuh. Saat "tanda" tersebut digunakan pada makhluk hidup, Hajime dapat mengikuti jejak ke mana mereka bergerak. Untuk tempat ini, Hajime menaruh "tanda"nya di dinding. Karena "tanda" dapat dibuat agar dapat terlihat, Yue dan Shia dapat memahaminya. Mungkin karena kekuatan sihir dipasangkan secara langsung, sepertinya pemecahan sihirnya tidak berefek.
Hajime segera menaruh sebuah "tanda" di samping lorong pada tempat yang terdekat dari pintu masuk dan terus maju.
Lorong tersebut dua meter lebarnya dan terbuat dari tak terhitung banyaknya blok-blok yang terlihat seperti batu-bata. Karena dinding-dindingnya memancarkan cahaya redup, tidak ada masalah dengan penglihatan mereka. Mungkin itu dibuat dari bahan yang berbeda dari batu berwarna hijau terang karena memancarkan cahaya kebiruan.
Saat Hajime mencoba melihatnya dengan menggunakan "Mineral Appraisal", dia menemukan bahwa batu itu disebut "phosphorus ore". Kelihatannya batu itu memancarkan cahaya saat bersentuhan dengan udara. Ruangan pertama tidak memperlihatkan cahaya mungkin karena itu adalah ruangan pertama. Bayangan yang muncul dari gua tersebut adalah lapu (TL : ora mudeng mksdnya apa. Malah yg ada kepikirannya Lapo :v) di mana batu mengapung muncul. Ada suara seorang pria tua yang muncul dari batu. Bagaimanapun, phosphorous ore akan tetap memancarkan cahaya selama bersentuhan dengan udara.
Itu adalah anime mahakarya Jepang yang Hajime tanpa sengaja terpikir sementara terus berjalan di lorong yang panjang itu. Dan tiba-tiba,
GAKONn
Suara itu muncul dari salah satu blok yang Hajime injak. Blok tersebut tenggelam ke dalam lantai karena berat badan Hajime. Hajime dan grupnya secara naluriah bersuara "Eh?" dan melihat ke kaki mereka.
Pada saat itu,
Shaaaaa‼
Suara bilah-bilah pedang yang meluncur terdengar dan di tempat di antara blok di dinding, pedang-pedang raksasa bergerigi muncul berputar dengan kecepatan tinggi sambil bergetar. Pedang tersebut mendekati mereka dengan ketinggian seleher dari sebelah kanan, sedangkan yang satu lagi dari dinding sebelah kiri dengan ketinggian sepinggang.
"Menghindar!"
Hajime langsung berteriak dan menghindarinya dengan mencondongkan tubuhnya ke belakang seperti protagonist dari film The Matr**, sementara dua yang lainnya yang ada di belakangnya juga mencoba menghindar. Yue sejak awal bertubuh kecil jadi dia hanya perlu berjongkok untuk menghindar. Shia juga sepertinya bisa menghindarinya. Dari belakang Hajime, sebuah suara bergetar "Hawawa, hawawawa" dapat terdengar. Karena tidak ada tanda-tanda rasa sakit di suara gadis itu, Hajime menduga gadis itu tidak terluka. Meskipun benar-benar nyaris bahwa ujung-ujung rambut dari telinga kelinci gadis itu yang terpotong… …itu sama sekali tidak masalah.
Kedua pedang yang dipenuhi dengan niat jahat dan hawa membunuh itu tidak dapat melakukan apapun pada Hajime dan grupnya, lalu menghilang ke dalam dinding. Bersikap waspada terhadap kemungkinan serangan kedua, untuk sementara waktu Hajime mengamati sekitarnya dengan hati-hati. Akan tetapi, sepertinya itu adalah akhirnya. Merasa lega, Hajime menghela napas kemudian melihat ke belakang hanya untuk merasa merinding.
Dia melesat menjauh secara insting, bergerak mundur dan memanfaatkan momentum untuk menyambar Yue dan Shia. Segera, tak terhitung banyaknya pedang yang berjatuhan ke tempat di mana Hajime dan grupnya barusan berada seperti bilah-bilah guillotine dan memotong tanah seakan-akan itu adalah mentega. Seperti yang diduga, benda tersebut berotasi dalam kecepatan tinggi dan bergetar sama seperti pisau yang sebelumnya.
Hajime melihat bilah-bilah pedang yang berjatuhan beberapa senti di depannya dengan keringat dingin. Yue dan Shia juga menjadi kaku karenanya.
".. …itu benar-benar jebakan fisik. Aku sama sekali tidak bisa merasakannya dengan Magic Eye-ku."
Sampai saat ini, Hajime dapat menghindari perangkap dengan sempurna karena itu semua adalah perangkap magis. Dari semua jebakan yang ada di Dungeon Besar yang pernah dia lihat, semuanya mengandung sihir. Karena itulah, kalau perangkap tersebut adalah jebakan sihir, Magic Eye Hajime dapat melihatnya. Dengan demikian, dia menduga bahwa tidak ada masalah selama Magic Eye tidak bereaksi terhadap sesuatu. pendeknya, dia terlalu menggangap tinggi kekuatannya sendiri.
"Hau~ Ku-kupikir aku sudah mati~. Ngomong-ngomong, Hajime-san! Tolong hentikan itu kalau hanya seperti itu saja!: bukannya karena itu kau punya lengan buatan?"
"Yah, bukankah menurutmu pedang-pedang itu tajam? Sekalipun tidak dapat memotong lenganku, nantinya akan ada goresan. Bagaimanapun, aku tidak bisa menggunakan Vajra saat ini."
"G-goresan… …antara perlengkapanmu dan aku, mana yang lebih penting?"
"… …yah, kau 'kan selamat. Bukannya itu bagus?"
"Wa—, apa-apaan dengan pengalihan topik seperti itu! Itu bohong 'kan? Aku yang lebih penting, 'kan? Benar 'kan?"
Shia mencoba menanyai Hajime, yang mempermainkan dia seperti orang bodoh, dan Yue menambahkan perkataan yang melecehkan pada Shia yang seperti ini..
"… …kelinci tukang ngompol. Kau sekarat karena kekurangan pengalamanmu sendiri."
"Ngo-ngompol?! Tolong tarik itu, Yue-san! Tidak peduli apa yang terjadi, itu adalah aib bagiku!"
Sebuah julukan memalukan ditambahkan pada deretan julukan Shia, sementara gadis itu menahan diri sambil memprotes. Setela memasuki dungeon ini, meskipun dia hampir mati dua kali dalam selang waktu yang pendek, Shia tidak disangka-sangka sangat bersemangat. Seperti yang diduga, kelebihan Shia adalah menerima pukulan. Walaupun orangnya sendiria tidak akan mengakuinya.
Seperti yang Shia keluhkan, ada pilihan lain untuk menghindari serangan kejutan tersebut. Bagaimanapun, Hajime seharusnya dapat menghentikan pedang-pedang itu sejak tadi dengan lengan buatannya. Mantelnya juga terbuat dari kulit demonic beast yang dibangga-banggakan kekuatan pertahanannya, dan juga ada pelindung-pelindung yang dipasang pada titik-titik vital. Benar, dia tidak akan mati karena hal-hal semacam itu.
Namun, perangkap barusan sudah jelas kematian mutlak jika melawan manusia normal. Kalau hanya pelindung biasa, itu akan dengan mudahnya terbelah menjadi dua. Bagaimanapun, kalau kau tidak memiliki perlengkapan yang Hajime buat dari bahan-bahan yang dia dapatkan dari Jurang, tidak ada cara lain untuk selamat selain menghindarinya.
"Yah, tidak ada masalah kalau hanya sejauh itu."
Sambil menyaksikan Yue dan Shia bertengkar dengan tatapan skeptic, Hajime berkata demikian pada dirinya sendiri. Tidak peduli seberapa kuatnya, kalau hanya jebakan fisik, maka itu tidak akan bisa membunuh Hajime. Yue juga memiliki "Auto Regeneration". Dia tidak akan mati karena sebuah perangkap. Di sisi lain… …Shia adalah satu-satunya yang berada dalam bahaya. Walaupun dia tidak tahu apakah Shia menyadari hal itu, mungkin saja itu dikarenakan tingkat stress Shia yang sudah mencapai puncaknya.
"Huh? Hajime-san, apa maksudnya tatapan mengasihani itu…"
"Tolong, berjuanglah untuk hidup, Shia… …"
"Eh, ee? Apa yang tiba-tiba kau katakan itu? Meskipun aku dapat merasakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan dari kata-kata itu… "
* * *
Hajime dan grupnya bergerak maju sambil bersikap waspada terhadap jebakan.
Bahkan saat ini, mereka sama sekali belum melihat satu pun demonic beast. Meskipun mereka memikirkan kemungkinan bahwa dungeon ini tidak memiliki demonic beast di dalamnya, itu hanyalah sekedar optimism. Tidak akan aneh jika makhluk-makhluk itu mendadak muncul, karena itu juga sebuah bentuk jebakan.
Hajime dan grupnya mencapai sebuah ruang terbuka setelah keluar dari lorong. Jalan-jalannya bercabang menjadi tiga di dalam ruangan tersebut. Untuk saat ini, Hajime menaruh "tanda", kemudian Hajime dan grupnya memilih jalur yang paling kiri yang menuju ke sebuah tangga menurun.
"Uu~, entah kenapa aku punya firasat buruk tentang ini. Lihat, telinga kelinciku bergerak-gerak gelisah dari kanan ke kiri."
Bergerak maju beberapa langkah di tangga, mendadak Shia keceplosan berbicara begitu. Seperti yang dia katakan, telinga kelinci Shia berdiri tegak, kemudian mulai bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Kau, jangan mengatakan pertanda yang aneh-aneh sekarang. Kalau kau mengatakan hal semacam itu, biasanya, sesuatu akan segera *GAKON" … 'tuh 'kan!"
"I-itu bukan salahku!?"
"… …Kelinci pertanda buruk!"
Sementara Hajime dan Shia bicara, sebuah suara tak menyenangkan pun terdengar lalu mendadak anak-anak tangganya menghilang. Ini adalah tangga yang cukup curam, dan dengan menghilangnya anak-anak tangga itu menjadi landai. Terlebih lagi, cairan licin mirip aspal mulai mengalir dari lubang-lubang kecil yang tak terhitung banyaknya di permukaan.
"Ugh, ini——!"
Saat anak-anak tangga itu menjadi landaian, Hajime segera mengubah mineral di bawah sepatunya menjadi paku-paku, jari jemari lengan buatannya juga dibuat paku-paku runcing supaya tidak tergelincir. Yue segera melompat ke Hajime sebelum dia mulai terpeleset. Hajime yang sudah menduganya juga menyiapkan diri. Seperti yang diduga, gerakan mereka harmonis bahkan di tempat seperti ini.
Akan tetapi, masih ada satu orang yang tidak dapat melakukan kerja sama semacam itu. Tidak perlu dikatakan lagi itu adalah Shia.
"Ukyaaa!?"
Saat menjadi landaian curam, Shia menjerit ketika bagian belakang kepalanya membentur permukaan keras, "Nuaaa!", saat dia merintih kesakitan, kemudian ikut tergelincir sambil berlumuran cairan tersebut. Dalam keadaan seperti itu, dengan kaki yang terbuka dalam bentuk M, dia menabrak wajah Hajime.
"Bu!?"
Paku-paku di lengan buatannya terlepas akibat tubrukan tersebut, membuat Hajime terjengkang ke belakang dengan lengan kiri memeluk Yue. Kemudian, paku-paku di kakinya ikut terlepas. Dia tergelincir di landaian itu dengan kepalanya terlebih dulu. Shia berada di atas Hajime dalam posisi terbalik.
"Kau! Kelinci ceroboh! Minggir sekarang!"
"Maaf, tapi untuk minggir…"
Sambil tergelincir, kecepatan mereka pun meningkat. Hajime mati-matian mencoba untuk menusukkan paku-paku di lengan buatan dan sepatunya ke tanah, tapi mereka terlalu cepat jadi tidak bisa berjalan lancar. Kemudian, dia mencoba mentransmutasi tangga itu, tapi dengan kekuatan pemecah sihir yang kuat di dalam dungeon ini, itu juga tidak berjalan dengan baik.
Shia, berjuang sebisa mungkin dan akhirnya bisa bangun. Sekarang, dia seakan-akan sedang mengendarai Hajime.
"Gunakan pasak Doryukken!"
Hajime memberi perintah kepada Shia. Sledgehammer Doryukken yang Shia bawa memiliki beberapa alat khusus yang disiapkan di dalamnya. Salah satunya adalah membentuk pasak dengan bagian kepala palu. Itu adalah mekanisme untuk meningkatkan kekuatan penetrasi dengan memfokuskannya pada satu titik. Kalau itu dihujamkan pada permukaan tanah, seharusnya mereka dapat berhenti.
"Y-ya, serahkan padaku!? Hajime-san! Jalannya—!"
Shia mencoba melepaskan Doryukken dari alat pengikatnya di punggungnya. Kemudian, Shia yang melihat ke depan segera bersuara cemas.
Hajime dapat menyadari apa yang telah terjadi. Saat Shia terpeleset sebelumnya, kemungkinan besar itu terjatuh.
"Kh! Yue!"
"Nn!"
Hajime segera memanggil nama Yue. Bahkan hanya dengan itu, Yue dapat membaca niat Hajime.
"Shia, berpegangan yang erat!"
"Y-ya!"
Masih sambil mengendarai Hajime, Shia berpelukan erat-erat padanya.
Akhirnya, mereka mencapai ujung dari landaian dan mereka terlempar di udara. Melayang untuk sejenak. Pada kesempatan itu, Yue menggunakan sihirnya.
" "Soar"!"
Itu adalah sebuah sihir angin tingkat dasar dari sistem angin. Sihir ini menciptakan hembusan angin vertikal kuat dan menambahkan kekuatan lompatan. Seorang ahli akan dapat seakan-akan terbang dengan menggunakan sihir ini. Akan tetapi, di tempat ini kekuatan sihir sulit untuk dipertahankan. Karena itulah, sihir Yue hanya berlangsung beberapa detik dan efeknya hanya membuat Hajime dan grupnya mengapung.
"Cukup."
Suara Hajime yang bercampur dengan pujian pun terdengar. Itu benar. Bagi Hajime, sudah cukup kalau dia memiliki waktu untuk memastikan sekitar mereka. Yue benar-benar dengan luar biasanya memenuhi harapan pemuda itu.
Hajime, dengan Yue di lengan kiri dan Shia yang bergelantungan di lehernya, menjulurkan lengan buatannya ke langit-langit. Kemudian, dia mengerahkan kekuatan sihirnya…
PASHU!
Sebuah suara muncul bersamaan dengan kawat tipis dengan sebuah jangkar terpasang dan melesat dari lengan buatan itu, menembus dinding langit-langit. Kemudian, karena jangkar itu, mereka tetap berada di tempatnya.
Hajime dan grupnya saat ini sedang bergelantungan dengan seutas kawat yang menancap di langit-langit. Mereka merasa lega setelah memastikan jangkar tersebut tidak terlepas.
Kemudian, mereka merasa menyesal saat mereka melihat apa yang ada di bawah mereka.
Kasakasakasa, washawashawasha, kiikii, kasakasakasa.
Suara itu muncul dari banyak kalajengking yang menggeliat-geliat. Panjangnya sekitar 10 cm. Meskipun tidak memberikan kesan yang sama dengan makhluk-mirip-kalajengking, hewan ini berdampak secara psikologis membuat mereka merasa jijik. Kalau mereka tidak menghentikan kejatuhan mereka dengan jangkar, mereka akan terjun ke dalam lautan kalajengking itu dan pikiran semacam itu membuat mereka merinding habis-habisan.
"""… …"""
Ketiga orang itu terdiam. Karena mereka tidak ingin melihat ke bawah, mereka menatap ke langit-langit. Kemudian, entah bagaimana mereka menyadari cahaya yang memancar menjadi rangkaian huruf. Sudah sangat terlambat, Hajime dan grupnya mau tidak mau membacanya.
"Mereka itu tidak memiliki racun yang mematikan."
"Tapi kalian pasti akan lumpuh."
"Silakan memuaskan diri dengan berbaring bersama anak-anak yang imut ini, pugya—‼"
Mungkin dia dengan sengaja memasang phosphorus ore di situ, huruf-hurufnya menarik perhatian di tempat yang redup. Mereka yang jatuh ke bawah sudah pasti, dengan kalajengking-kalajengking yang menggeliat di sekitar tubuh mereka, mati-matian mencoba untuk bergerak, dan mencoba untuk meraih ke surga (langit-langit). Kemudian, mereka akan menemukan itu. Kata-kata candaan itu.
"""… …"
Sekali lagi, Hajime dan grupnya terdiam, tapi karena hal lainnya. "Abaikan, abaikan", itulah yang mereka katakan pada diri mereka sendiri, dan entah bagaimana mereka dapat mengamati sekeliling mereka.
"…Hajime, di situ."
"Nn?"
Karena Yue menyadari sesuatu, dia menudingkan jarinya ke sebuah tempat di bawah. Di situ ada sebuah terowongan kosong.
"Sebuah terowongan… …apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan memanjat ke atas ke lokasi kita sebelumnya atau kita akan ke situ?"
"A-aku akan mengikuti keputusan Hajime-san. Aku cuma beban bagaimanapun juga…"
"Tidak perlu. Hukumannya akan datang dari dungeon, jadi tidak perlu dipikirkan."
"Itu hanya membuatku semakin cemas! Bukannya lebih baik kau hanya katakan "jangan dipikirkan"~"
"… …tidak sopan. Hukumannya akan jadi dua kali lipat."
"A-apa, Yue-san juga ikut-ikutan dengannya? Uu, sekalipun dungeonnya ditaklukkan, masa depan sepertinya kelihatan gelap."
Hajime dan Yue memaafkan Shia yang meratap.
"Haa, bagaimanapun juga, akan jadi hal yang berguna kalau kita bisa menggunakan kemampuan "memilih masa depan"mu~"
"Uu, itu masih sama saja. Padahal aku sudah berlatih…"
"Memilih masa depan" adalah sihir spesial Shia. Itu dapat melihat kelebatan masa depan berdasarkan asumsi tertentu. Akan tetapi, itu hanya bisa digunakan sekali sehari. Hal tersebut tidak praktis karena sihir spesial ini memerlukan sejumlah besar kekuatan sihir untuk menggunakannya. Meskipun Shia spesialisasi dalam penguatan tubuh, kalau kekuatan sihirnya terkuras, dia hanya akan menjadi kelinci yang tidak tahu malu. walaupun jumlah penggunaan sihirnya berkurang karena latihan harian… …masih sangat lama untuk menguasainya.
"Yah, mau bagaimana lagi kalau kita tidak bisa menggunakannya. Daripada kembali, sepertinya lebih baik untuk maju, jadi ayo pergi ke terowongan itu."
"… …Nn."
"Ya."
Hajime menembakkan jangkar lainnya kemudian bergerak seperti Tarzan sampai mereka dengan selamat mencapai terowongan tersebut.
Hajime dan grupnya bergerak maju di jalur tersebut yang diterangi oleh phosphorus ore sambil bersikap waspada dengan jebakan tidak menyenangkan apapun yang mungkin muncul.