HUTAN JIWA-JIWA YANG MEMBUSUK (2)
(Translater : Hikari; Editor : Orion)

Sore, empat hari setelah memasuki hutan. Sambil bersiap-siap untuk berkemah, aku menatap ke arah langit. Ditutupi oleh kabut seperti racun, matahari terbenam tidak dapat terlihat tapi sedikit cahayanya menembusnya.lust
Aku mengharapkan kami dapat keluar dari kabut ini besok, tapi ada kemungkinan besar zombie atau hantu akan muncul. Aku penasaran apa ini hanya imajinasiku saja kalau makhluk-makhluk itu muncul hanya demi menghambat perjalanan kami.
Ada banyak ketidakpastian seperti kesehatan Feirona dan kerangka raksasa yang belum terlihat. Aku mungkin sedikit tidak sabaran untuk keluar dari tempat ini secepat mungkin tapi akan jadi tindakan bunuh diri untuk berpergian dengan berkuda di malam hari. Bahkan dengan seorang elf yang memandu kami, kami tetap akan disergap.
Dan sekalipun aku tidak buru-buru, kami pasti akan keluar dari kabut ini esok hari. Aku masih bisa bertahan beberapa hari lagi. Yah, biasanya di saat-saat semacam itu, sesuatu yang tidak terduga biasanya terjadi. Berdasarkan pengalamanku di dunia ini, besok pasti akan jadi hari yang berat bagi kami.
Sambil berpikir demikian, aku sekali lagi menghela napas karena fakta bahwa medali di dalam sakuku masih terdiam.
[… … …]
"Apa kau masih marah?"
[Aku tidak marah. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.]
"Oh?"
Terhadap kebohongan putih itu, untuk sesaat aku merasa ragu bagaimana menjawabnya, tapi kemudian aku memutuskan untuk membiarkannya saja.
Meskipun dia tidak menerimanya, dia sudah jelas marah karena aku tidak menggunakannya sebagai senjata. Dia terkadang bisa bertingkah imut. Saat aku tersenyum tipis, Ermenhilde menghela napas kecewa.
Memutuskan untuk mengabaikan hal itu, aku memfokuskan diri untuk mengumpulkan dahan-dahan kering untuk api unggun.
"Mururu, sudah berapa banyak yang kau kumpulkan?"
"Hanya sedikit."
Saat aku melihat ke arahnya yang sedang melakukan hal yang sama denganku, dia hanya mengumpulkan dahan-dahan yang cukup banyak untuk dipegang dengan satu tangan.
Mungkin karena kabutnya yang tebal, mau tidak mau kebanyakan dahan-dahan kering di sini lembap. Kami masih sedikit kekurangan dahan. Bahkan setelah ditambahkan dahan yang telah kukumpulkan, kami masih perlu sedikit lagi. Dia sepertinya paham hal itu juga jadi dia kembali untuk mencari dahan-dahan kering setelah menjawabku. Dia mungkin tidak menjawabnya terang-terangan, tapi dia pasti juga merasa kelelahan. Di hutan yang membusuk seperti ini, bahkan indera beast woman sepertinya akan kebingungan, dan pastinya membuat dia merasa kesal. Meskipun begitu, manusia sepertiku tidak akan memahaminya.
"Aku akan mengumpulkan sisanya, jadi kau bisa pergi beristirahat kalau kau mau."
"Tidak apa-apa. Ini adalah tugasku."
"Aku mengerti."
Satu hal yang kumengerti selama perjalanan ini adalah gadis ini memiliki rasa tanggung jawab dan disiplin yang kuat. Hal itu sudah jelas dari fakta bahwa dia menerima permintaan dewa-dewa roh sendirian dan datang ke kota ini seorang diri.
Tapi karena sifat linglungnya atau lebih tepatnya sikapnya yang cukup gegabah, aku jadi mendapatkan kesan bahwa dia adalah seorang gadis yang agak bodoh.
Dia adalah tipe orang yang akan menyelesaikan apa yang telah dia mulai. Bahkan sekarang, dia bekerja keras meskipun dia lelah. Hal itu sangatlah mengagumkan untuk seorang anak-anak, aku benar-benar berpikiran begitu. Yah, walau demikian itu cukup normal untuk seorang petualang.
Tapi tepat karena itulah dia memperlakukan 'kualitas normal'nya sebagai hal yang biasa saja, itulah hal yang bernilai.
"Aku penasaran apa yang Nona Francesca buat untuk makan malam?" {Renji)
"… …Selama aku bisa memakannya, apapun boleh."
"Haha——, itu benar."
Meskipun kedengarannya tidak sopan, aku akhirnya setuju dengannya.
Selama perjalan kami sebelumnya, akulah yang bertugas untuk melakukannya. Itu karena kupikir Nona Francesca, sebagai seorang bangsawan, tidak tahu bagaimana caranya memasak.
Itu mungkin penilaianku secara sepihak tapi itu benar. Makanan kemarin disiapkan olehnya bersama Aya, tapi… …. Yah, kau bisa menebak hasilnya.
Itu adalah sebuah hidangan yang memerlukan keberanian yang sejati untuk memakannya.
Aya sepertinya telah banyak berlatih selama setahun ini. Membuat makanan biasa, dia datang padaku dengan tatapan keberhasilan, membuatku tidak bisa memutuskan bagaimana mencegahnya. Hal itu berbeda sekali dari setahun yang lalu. Meskipun aku dimarahi saat aku memujinya untuk beberapa alasan. Seperti yang kuduga, mungkin karena aku menceritakan pada yang lain betapa buruknya dia dalam hal memasak dulu.
"Yah, itu menyenangkan dalam artian lain." (Renji)
"Kejahatan terhadap bahan-bahan makanan adalah hal yang tidak termaafkan."
[… … Kau sampai sejauh itu, eh?]
Serius, aku tersenyum simpul dalam pikiranku.
Kelihatannya gadis ini tidak hanya tukang makan, dia benar-benar memiliki perasaan mendalam terhadap makanan.
Itu tidak terlalu buruk—— tapi juga bukan hal yang dapat dipuji. Melihat alasan untuk komentar semacam itu muncul dari rekan kami sendiri, aku tidak bisa memutuskan bagaimana cara menanggapinya.
Aku kalah tidak peduli pihak mana yang kupilih. Yah, kurasa aku hanya bisa berharap kemampuan masak Nona Francesca cepat berkembang seiring berjalannya waktu. Karena dia suka belajar, kurasa dia akan segera membaik dalam hal memasak.
Lagipula, kebanyakan makanan kami selama perjalanan ini hanya melibatkan daging kering dan biskuit. Aku ragu akan mudah untuk memasak hal yang berbeda dengan bahan-bahan itu. Meskipun begitu aku, Feirona atau Mururu bisa mendapatkan daging dengan menangkap hewan liar. Rasanya enak hanya dengan memanggangnya. Akan sangat bagus kalau kami bisa memasak semur menggunakan daging itu dan rumput liar.
Aku mulai merasa semakin lapar hanya dengan membayangkannya saja. Saat aku mengelus perutku, suara gemuruh kecil pun muncul.
"Renji, bisakah kau…"
"Hmm?"
Tidak lama setelah mengumpulkan dahan-dahan dalam keheningan, Mururu secara tidak terduga berbicara.
Saat aku melihat ke arahnya untuk menjawab, dia telah mengumpulkan banyak dahan di kedua tangannya. Entah itu dia ataupun Feirona, aku sama sekali bukan tandingan mereka dalam mempersiapkan kemah.
"Ada apa?" (Renji)
"Kau bisa masak?"
Aku menatapinya dengan wajah datar karena pertanyaan mendadak itu. Yah, kurasa ini tidak mendadak mengingat kami sedang membicarakan makanan.
"Aku cukup normal, kurasa. Aku bisa membuat yang layak dimakan setidaknya."
Yah, kurasa aku tidak parah dalam hal itu… …. Aku telah membuat banyak makanan dan tidak pernah mendapatkan keluhan dari Souichi atau yang lainnya.
"Benarkah?"
"Para pria biasanya selevel itu. Meskipun Feirona… … Sepertinya dia hebat dalam hal itu."
[Itu benar. Elf itu memang kelihatan hebat.]
Berdasarkan auranya, dia memberikan kesan bahwa dia benar-benar bisa melakukan apapun. Apa hanya karena dia tampan?
Bagaimanapun, adegan di mana pria itu memasak rasanya dapat menjadi sebuah lukisan atau sesuatu. Kalau begitu, bukankan Nona Francesca si cantik yang tak ada harapan?

… … Mungkin ini kedengarannya aneh mengingat akulah yang memikirkan semua ini, tapi itu benar-benar penilaian yang keras. Aku sudah jelas tidak bisa mengatakan hal itu di depan Nona Francesca. Sejak awal, dia adalah seorang gadis bangsawan yang tidak pernah memasak seumur hidupnya sebelumnya. Kurasa adalah hal yang luar biasa bahwa dia masih bisa menghasilkan sesuatu yang ternyata dapat dimakan. Masa depannya adalah sesuatu yang patut untuk dinantikan, yup.
"Bagaimana denganmu? Apa kau pernah memasak sebelumnya?" (Renji)
"Apakah memanggang daging masuk hitungan?"
Apa-apaan itu. Ini pertama kalinya aku mendengar seseorang berkata begitu… …yah, tidak juga.
Di masa lalu, Aya dan Utano-san juga sama, aku mengingatnya. Benar-benar sebuah kesalahpahaman bahwa semua perempuan bisa memasak. Itu adalah fantasi terbesar di sini. Yah, masuk akal memang. Kau tidak bisa mengharapkan seseorang yang tidak pernah memasak sebelumnya untuk tiba-tiba membuat sesuatu yang enak.
"Kali berikutnya, mungkin sebaiknya kau belajar sesuatu dari Aya atau Feirona?"
"Aku lebih suka makan saja."
Balasan langsung. Tidak dapat membalas balik, aku hanya bisa mengalihkan pandanganku dan terus mengumpulkan dahan-dahan.
Benar-benar ciri khas Mururu untuk mengatakan sesuatu seperti itu. Aku sangat cemas dengan masa depan gadis ini.
"Ngomong-ngomong, Mururu."
"Apa?"
"Apa yang kau rencanakan begitu menyelesaikan permintaanmu di ibu kota?"
"Kembali ke hutanku… …kurasa."
"Aku mengerti."
"Aku tidak yakin. Aku ingin mencoba makanan lain——"
Begitu dia berkata sejauh itu, dia melemparkan semua dahan-dahan di tangannya ke tanah dan segera merapat padaku.
Jubah putihnya menjadi kotor tapi dia tidak terlihat peduli akan hal itu dan menatap tajam ke arah tempat dia berdiri sebelumnya. Terhadap keberadaan yang aneh itu, aku juga melemparkan dahan-dahanku dan mengeluarkan pisau besiku.
"Ada apa?"
"Ada sesuatu di situ‼"
Berikutnya dalam sekejap, Mururu menebas ke udara kosong dengan cakarnya. Dengan suara berdenting yang berat, bunga-bunga api bertebaran ke segala arah.
[Musuh!?!]
"Aku tidak tahu‼"
Berdasarkan dari suara samar dari sayatan angin, aku juga melompat ke belakang. Saat aku melakukannya, tempatku berdiri sebelumnya meledak.
"Sihir!?"
Kepulan awan debu naik, senjata penyerang yang tak kasat mata itu menjadi sedikit terlihat. Dia bisa menyembunyikan dirinya dengan sihir tapi tidak dengan keberadaan dan suaranya. Sambil bersikap waspada terhadap suara sayatan angin lainnya, aku memperhatikan tempat di mana kabut beracun sedikit bergetar. Mungkin di situlah tubuh sebenarnya dari musuh berada. Jelas sangat jauh. Dia bisa saja menggunakan sesuatu seperti tentakel untuk menyerang. Ini adalah sebuah serangan yang di luar jangkauan kami. Dia cerdas… … Aku bisa menyimpulkan bahwa dia tidak berada di level yang sama dengan hantu atau zombie. Dan kalau dia bisa menggunakan sihir, dia sudah pasti monster yang sangat merepotkan. Tapi apa benar ada monser sehebat ini di hutan ini? Sebelum aku bisa menjawab pertanyaanku sendiri, sekali lagi suara sayatan angin datang. Keringat dingn mengalir membasahi punggungku.
Lokasi musuh tidaklah jelas, begitu pula dengan sasarannya. Merasa panik terhadap sesuatu yang tidak bisa kulihat, aku jadi sedikit terlambat menentukan apakah aku sebaiknya menahan atau menghindar.
"Ugh!?"
[Renji, mundur sekarang!]
Aku berhasil menerima serangan itu dengan pisau besiku tapi tangan kananku menjadi mati rasa dan aku menjatuhkannya.
Aku entah bagaimana dapat menahan diriku sendiri untuk tidak berteriak yang mana hampir kulakukan karena serangan yang luar biasa berat itu. Tidak dapat menolak saran Ermenhilde, aku melakukan seperti yang dia katakan dan mengambil jarak dan berlindung di balik sebatang pohon besar. Di sisi lain, Mururu menebas serangan musuh tak terlihat itu tanpa memberikan kesempatan sedikit pun.
Pasti karena insting liarnya, atau mungkin dia mendeteksi serangan dari guncangan racun yang tidak disukainya. Bagaimanapun, kemampuannya luar biasa.
"Aya! Feirona!"
Tanpa rasa malu sedikit pun, aku memanggil kawan-kawanku dengan suara lantang.
Aku menggigit bibirku. Mungkinkah monster ini menunggu kami terpisah? Untuk monster dengan kecerdasan tinggi itu sampai bergerak, dia pasti percaya diri bahwa dia bisa setidaknya menghadapiku dan Mururu.
Insting semacam itu mendatangi monster atau beast men dengan lebih mudah daripada manusia seperti kami. Hal itu cukup mengesalkan. Aku hampir memanggil Mururu namun ragu-ragu. Sampai yang lain datang, aku tidak punya pilihan lain selain membiarkan dia menghadapi monster ini dengan seluruh kekuatannya. Aku tidak ingin memecahkan konsentrasinya jika tidak diperlukan.
"Ermenhilde."
[Aku tahu]
Dengan kata-kata itu, sebilah pedang panjang perak muncul di tanganku.
Di antara tujuh permata hijau zamrud yang tertanam di gagangnya, dua permata bersinar. Aku tidak tahu dua syarat mana yang telah terpenuhi tapi dua saja tidak akan menciptakan senjata yang kuat. Aku mendecakkan lidah dengan kesal tapi itu tidak akan mengubah keadaan. Senjata untuk melindungiku berubah dari pisau besi menjadi pedang panjang, itu saja. Aku sekali lagi memastikan kabut yang bergoyang. Dari apa yang terlihat sebagai asal dari goyangan itu, sesuatu mirip tentakel, menyabetkan sesuatu untuk menyerang Mururu. Pergerakkannya luar biasa cepat. Mustahil bagiku untuk mengikutinya hanya dengan dua perjanjian yang terlepas. Aku hanya bisa memastikan bahwa kabutnya bergoyang.
Kalau seperti ini, dia akan berada dalam bahaya. Tidak peduli seberapa kuat dirinya, aku tidak tahu berapa lama lagi dia bisa bertarung melawan musuh tak kasat mata itu. Dia lebih cocok untuk serangan cepat. Berdiri diam di satu tempat dan menghadapi musuh bukanlah cara dia bertarung. Dia mungkin tidak bergerak karena dia bisa kehilangan pergerakan musuh. Kalau kau tidak bisa melihat musuh, lebih baik berdiri di tempat dan fokus pada pertahanan, dia pasti berpikir demikian.
Haruskah aku menunggu yang lainnya datang atau haruskah aku bertindak? Membuka tutup tangan kiriku, aku mencoba menghilangkan rasa nyerinya.
"Kita akan menyerbunya."
[Baik.]
Berkata demikian, aku melompat keluar dari balik perlindungan pohon besar itu dan bergegas menuju apa yang kupikir sebagai asal-muasal ayunan tersebut dalam jarak terpendek. Karena pergerakkanku yang datang tepat saat serangannya ditangkis Mururu, pergerakkan musuh berhenti untuk sekejap. Dia pasti merasa ragu menentukan mana yang harus diserang lebih dulu dari antara kami berdua.
Tapi keraguan itu hanya bertahan untuk sesaat. Sasarannya adalah aku. Memastikan goyangan kabut, aku memprediksi tempat dan waktu dari mana serangan itu akan datang. Pedang perak di tanganku berderak karena dampak serangan, dan tubuhku merasa nyeri sepenuhnya untuk sesaat. Sebenarnya seberapa kuat monster ini. Aku menjerit dalam benakku.
Tapi sekejap kemudian, kali ini Mururu menyerbu ke arahnya. Tidak sepertiku, dia mendekat dengan kecepatan tinggi dan menebas dengan cakar tajamnya yang indah. Suara dari sesuatu yang keras sedang pecah bergema ke seluruh hutan. Tapi——tidak ada darah.
Memastikan hal tersebut, kami berdua menjauhkan diri dari monster itu. Area itu bergoyang dan memuntir dan garis tubuh monster itu menjadi semakin dan semakin terlihat. Dia seakan terlihat karena serangan Mururu.
Hal pertama yang kulihat adalah warna putihnya. Bukan warna putih semurni dan seindah Mururu, lebih terlihat kusam dan kotor—— itu adalah tulang belulang. Ukurannya sama besar dengan gajah dewasa. Di dalam keempat kakinya, mirip dengan laba-laba tapi dengan tubuh panjang dan ramping mirip kalajengking. Kepalanya seperti Orc dengan satu tanduk. Dan di atas semuanya itu, hal yang paling kentara adalah kecepatan saat makhluk itu bergerak; begitu cepat sampai meninggalkan kelebatan bayangan——
"Mu——"
Tubuhku bergerak lebih cepat dibandingkan peringatanku.
Aku menahan serangan tersebut, yang bahkan hamper tidak bisa kuikuti, murni karena insting. Pedang yang kupegang terlontar menjauh dan tubuhku terpental tidak dapat menahan serangan.
Detik berikutnya, tubuhku menghantam tanah dan aku terguling dan kemudian menubruk batang pohon sebagai dampak serangan terakhir. Semua udara tersentak keluar dari tubuhku dan penglihatanku menjadi kabur karena kekurangan oksigen. Tubuhku lunglai ke tanah tak bertenaga tapi itu hanya berlangsung untuk sekejap. Memaksakan tubuhku untuk bergerak lagi, aku berdiri sambil bertumpu pada pohon yang kuhantam barusan. Mungkin lebih mudah kalau tertidur saja saat ini, tapi aku tahu kalau aku melakukannya, aku tidak akan pernah terbangun lagi.
[Renji! Renji!]
"Aku bisa mendengarmu. Jangan berteriak di telingaku… …"
Saat berikutnya, sebuah perasaan yang akrab memasuki tanganku. Menggenggamnya dengan kedua tangan, aku mengambil kuda-kuda Seigan yang sering terlihat dalam kendo.
Tubuhku menjadi kaku saat mendengar suara kakinya bergerak. Kali berikutnya, aku akan memotong ekor sialan itu dengan serangan balasan. Meski demikian, itu adalah hal yang sulit tapi aku tetap memegang pedang dengan penuh percaya diri.
Tapi, tidak ada serangan yang mendatangiku lagi. Hanya suara napasku yang terengah - engah bergema di telinga.
Berapa lama lagi aku bisa berdiri seperti ini. Akhirnya, sesuatu menyentuh ujung pedangku. Sesaat kemudian, aku mengayunkan pedangku ke atas kepala dan——
"Sudah tidak apa-apa sekarang."
Mendengar suara itu, keteganganku mengendur. Itu adalah suara yang sudah biasa kudengar.
"——Mururu?"
"Un."
"Haaaah… …"
Suara tenang itu sudah jelas miliknya, dan itu membuktikan bahwa pertempuran telah usai. Menyadari apa yang telah menyentuh ujung pedang barusan adalah ujung jarinya, semua ketegangan meninggalkan tubuhku.
Dan begitu saja, aku terjatuh ke tanah dan menarik napas dalam-dalam.
"Apa yang terjadi dengan monster itu?"
"Dia melarikan diri."
"… …Benarkah?"
"Un."
Padahal tadi kesempatan besar untuk menghabisiku. Mungkin dia berencana untuk membunuhku dengan mudahnya setelah aku melemah?
Pasti begitu. Aku mulai merasa sedikit tertekan. Mempertimbangkan bahwa dia tahu dengan tepat kapan harus mundur, dia pasti benar-benar terbiasa berburu. Atau kebalikan dari penampilannya, dia sebenarnya adalah pengecut. Yang mana pun yang terjadi, itu tidak mengubah fakta bahwa dia sangatlah sulit untuk dihadapi. Hampir tak terlihat, dan luar biasa kuat juga. Ini benar-benar curang! Aku mengutuknya dalam hati.
Tiba-tiba aku merasakan nyeri dari tangan kananku. Begitu dilihat, aku mendapat luka besar dan dalam dari bahu ke siku. Berdasarkan serangan semacam itu, aku sebenarnya beruntung bahwa hanya sejauh ini yang harus kutanggung. Dalam kasus terburuk, seluruh lenganku bisa saja tercabik lepas.
Aku merasa lelah sekali hanya untuk selamat melewati ini, tapi aku benar-benar harus menghentikannya sebelum pendarahannya semakin parah.
"Kau tidak apa-apa?" (Mururu)
Sambil melihat lenganku, dia bertanya dengan khawatir.
Merasa sedikit senang karenanya, pipiku mengendur begitu saja. Meskipun aku terluka, syukurlah kami berdua selamat melewati kesulitan ini. Aku merasa sedikit lebih baik berpikir begitu.
"Ya, aku akan baik-baik saja."
Tapi kami tidak bisa terus berada di sini. Melihat bahwa yang lain tidak datang kemari setelah sekian lama, itu berarti sesuatu pasti telah terjadi juga di sisi lain.
Saat aku berdiri dengan bantuan pohon lagi, aku mulai berjalan ke arah yang kurasa menuju ke perkemahan berada… …dan tidak lama kemudian berhenti lagi.
"Ke arah mana perkemahan?" (Mururu)
"… …Maaf."
Karena pertempuran ini, aku sama sekali kehilangan arah. Bahkan pohon yang telah kutandai sebagai penunjuk pun telah hancur karena pertarungan. Aku bahkan tidak dapat mengetahui yang mana barat dan yang mana timur.
Mururu sama denganku jadi dia hanya beridiri di sebelahku.
"Oi, Feirona‼"
Aku berteriak lantang tapi tidak ada jawaban.
Aku yakin sekarang bahwa sesuatu terjadi di sana juga. Kami tidak pergi terlalu jauh untuk mengumpulkan dahan bagaimanapun juga. Mereka seharusnya menyadari kalau ada pertempuran besar terjadi.
Satu-satunya kesimpulan yang bisa kudapatkan adalah mereka pasti telah diserang juga. Tapi aku ragu akan ada lebih dari satu monster sekelas itu begitu dekat satu sama lain… …atau tepatnya, aku tidak ingin berpikiran seperti itu. Ayo coba tidak membayangkan skenario terburuk secara langsung. Kalau aku tidak melakukannya, kami akan berakhir dengan berdiri di sini sepanjang hari.
Seiring berlalunya waktu, aku memikirkan apa yang harus kulakukan. Akan terlalu berbahaya juga jika mulai nekat berlarian tanpa arah untuk mencari perkemahan kami. Kami pasti akan tersesat. Tapi, hari akan segera menjadi gelap. Maka itulah waktu bagi para hantu untuk muncul. Sebelum itu, aku benar-benar ingin bertemu kembali dengan yang lainnya.
"Mururu, bisakah kau mencium bau monster atau Aya berada?"
Aku bertanya begitu tapi dia menggelengkan kepalanya. Aku merasa telinga serigalanya juga merunduk sedikit.
"Apa ada masalah?" (Renji)
"Hm?"
"Kau terlihat kurang bersemangat dibanding biasanya."
Pada saat yang sama, aku memastikan lukaku juga. Sayatannya cukup dalam tapi tidak sampai ke tulang. Pembuluh darahnya juga kelihatan baik-baik saja jadi pendarahannya tidak separah yang kukira. Sepotong kecil keberuntungan di balik kesialah, eh? Rasanya sakit sekali sampai aku bisa menangis tapi aku tidak akan mati setidaknya.
Aku menerima bantuan dari Mururu untuk merobek lengan baju kiriku dan menggunakannya untuk mengikat lengan kananku erat-erat ke samping untuk menghentikan pendarahannya. Seharusnya ini bisa menahannya sedikit. Saat rasa sakitnya berkurang, pikiranku juga menjadi lebih jelas.
"Bersemangatlah, Mururu. Kita akan segera bertemu Nona Francesca dan yang lainnya."
"Un. Tapi, apakah mereka akan baik-baik saja?"
"Ya, mereka akan baik-baik saja. Mereka tidak akan membuat kesalahan sepertiku bagaimanapun juga."
Dengan kedua orang itu di situ, mereka seharusnya dapat menghadapinya sambil melindungi Nona Francesca juga.
Aku sedikit khawatir tapi Aya ada di situ juga. Ayo percaya bahwa mereka akan baik-baik saja. Saat ini situasi kami adalah masalah yang lebih besar. Kami tersesat dan tidak punya item juga. Dan ada yang terluka juga. Tidak sekedar menjadi beban, dengan luka seperti ini, normalnya kau meninggalkanku saja. Yah, walau begitu aku ragu Mururu ternyata adalah orang yang tega melakukan hal itu.
"Dengan tempat ini sebagai pusatnya, ayo berkeliling sedikit. Kita seharusnya tidak terlalu jauh dari perkemahan."
"Un. Kita harus merawat lukamu juga."
"Itu juga termasuk, tapi aku lebih mengkhawatirkan orang-orang itu."
Kami sama-sama petarung garis depan. Mereka bertiga adalah petarung garis belakang. Ini bukan hanya sekedar sesuatu yang disebut keseimbangan yang buruk. Kami benar-benar harus secepatnya bertemu karena aku pasti akan menjadi target berikutnya. Aku telah melemah dan sama sekali tidak ada persyaratan untuk melepaskan perjanjianku, jadi aku pun tidak bisa bertarung dengan baik.
Sambil berpikir begitu, aku menyadari bahwa Ermenhilde tidak mengatakan apapun untuk beberapa lama hingga kini.
"Oi, ada apa?"
[… …Maafkan aku.]
Entah kenapa, aku dimintai maaf dengan suara yang terdengar berat,
Aku jadi memiringkan kepalaku karena bingung. Apakah sesuatu yang aneh terjadi? pikirku, tapi tidak bisa memikirkan kemungkinan alasan apapun. Apakah dia hanya khawatir dengan serangan dari monster itu? Tapi itu tidak ada hubungannya dengan Ermenhilde, 'kan?
"Hm?"
[Meskipun aku terus berkata bahwa aku ingin berguna untukmu, hasilnya malah seperti ini.]
"Tidak, ini sama sekali bukan salahmu, kau tahu?"
Akulah yang lemah.
Kenyataannya, adalah sebuah keajaiban bahwa kami selamat setelah menghadapi sesuatu semacam itu. Mururu maupun Ermenhilde sama sekali tidak melakukan apapun yang bisa disalahkan.
"Jangan khawatir soal itu, partner. Kita akan menang kali berikutnya."
[… …Ya.]
Dia masih murung. Sekarang, bagaimana seharusnya aku menyemangati partnerku ini yang sedang murung karena hal aneh? Sementara aku berpikir begitu, aku merasa mantelku ditarik-tarik sedikit.
Saat menoleh, Mururu sedang mendongak ke arahku dengan mata sayu. Sial, dia benar-benar imut.
"Ada apa?" (Renji)
"Kau sedang bicara dengan siapa?"
Ah.
"Kalau kupikir-pikir, aku belum membuatmu mendengarkannya. Ayo, Ermenhilde. Sapalah dia."
[Apa-apaan itu——tidak, yah, terserahlah, kurasa tidak masalah.]
Biasanya dia akan mengomeliku tapi kurasa dia mendapat lebih banyak luka mental daripada yang kukira.
Menurut pendapatku, padahal tidak masalah selama aku hidup. Seperti biasanya, dia itu keras kepala.
Saat melihat ke tanah, pisau besi yang kugunakan sebelumnya muncul dalam pandanganku. Benda itu rusak sama sekali. Aku memungut gagangnya tapi senjata itu sama sekali tidak bisa dipakai sekarang. Aku hanya menaruh gagang itu kembali ke sarungya. Kurasa aku akan harus bergantung pada Ermenhilde sepenuhnya mulai sekarang.
[Hm Hm, bisakah kau mendengarku, Beastwoman?]
"!?!"
Bahu kecilnya melonjak terkejut. Sepertinya dia bisa mendengar Ermenhilde.
[Namaku Ermenhilde. Pedang dari sang Pahlawan dan senjata Pembantai Dewa yang dianugerahkan pada Yamada Renji oleh Dewo Astrarea.]
"Perkenalan macam apa itu? Aku tidak cocok sebagai seorang pahlawan."
Berapa kali harus kukatakan jangan memberikan perkenalan seperti itu, dasar bodoh.
Aku pun menghela napas.
"Un, senang berkenalan denganmu." (Mururu)
Tapi, reaksi Mururu biasa saja daripada yang diduga. Dia pasti telah mendengar tentangku dari Aya atau Nona Francesca kurasa. Dia pasti telah dijelaskan soal itu saat seorang pahlawan besar seperti Aya mengambil misi ini.
[Mu…]
Tapi kelihatannya, kurasa Ermenhilde lebih suka kalau Mururu sedikit lebih terkejut karena dia sepertinya tidak menerima reaksi seperti itu.
Dia terkejut saat kau berbicara untuk pertama kalinya, jadi tidak masalah 'kan? Puaslah dengan hal itu.
"Dengan selesainya perkenalan diri ini, ayo bergabung kembali dengan Aya dan yang lainnya secepat mungkin."
Kalau terus seperti ini, jika kita diserang lagi, Mururu mungkin baik-baik saja tapi aku akan mati.
Berkata demikian, aku mulai berjalan sambil mencari pohon yang dapat digunakan sebagai penanda. Kurasa ini adalah semacam berkah kecil bahwa area ini menjadi lebih mudah dikenali karena pertarungan. Kuputuskan untuk mengelilingi daerah sekitar sini dengan tempat ini sebagai pusatnya.
Kuharap kami bisa bergabung dengan yang lainnya sebelum matahari tenggelam.
Tepat saat aku merasa optimis, berpikir bahwa kami dapat meninggalkan hutan ini esok hari, hal ini pun terjadi. Ini benar-benar mematahkan semangat tapi aku sama sekali tidak boleh menyerah.
Ada seseorang di sini yang lebih muda sepuluh tahun dariku. Aku tidak bisa menjadi orang yang menyerah sebelum dia. Ayo berjuang dan terus berjalan. Aku akan membawa gadis ini ke ibu kota dengan aman. Pasti.