TUTORIAL
Petualangan Pertama
(Translater : Zerard)

Gua itu muncul secara tiba-tiba di pertengahan hutan di luar desa.
Sudah berapa lama gua ini berada di sana? Tidak satupun penduduk desa yang mengingatnya.
Walaupun tampaknya gua itu sudah berada di sana sejak dahulu kala—akan tetapi, di waktu yang sama, gua itu tampak seperti baru saja terbentuk dalam sekejap. Kesan seperti itu merupakan hal yang sudah biasa di perbatasan seperti ini,.
Setiap bagian dari dunia selalu berubah secara berkala. Bahkan untuk para elf sekalipun tidak ada yang mengetahui secara pasti geografi akan semua tempat yang ada.
Dan sekarang, goblin telah membuat rumah di dalam sarang ini. Apakah mereka goblin yang tersesat, atau mereka goblin yang selamat dari pertempuran lima tahun yang lalu? Atau mereka hanyalah sekedar makhluk liar? Tidak ada yang mengetahuinya.
Yang hanya di ketahui orang-orang hanyalah bahwa goblin telah muncul dari dalam gua itu, menyerang desa, mencuri ternak, dan akhirnya, menculik seorang wanita.
Cerita biasa, dia berpikir.
Termasuk pada bagian di mana seseorang datang menuju Guil Petualang untuk melampirkan sebuah quest.
Sekarang, dia berada tepat di depan mulut gua, bersembunyi di balik semak-semak hutan, menunggu waktu berjalan. Matahari telah melewati puncaknya dan mulai terbenam secara perlahan di langit. Dia menghabisi waktunya untuk mengamati.
Para goblin datang dan pergi dari sarang mereka, tidak menunjukkan tanda bahwa mereka menyadari kehadiran dirinya. Para penjaga tidak melakukan pekerjaan mereka dengan serius, hanya berdiri diam, yang tampak hanya terlihat seperti kebiasaan.
Yang menarik perhatiannya adalah menara aneh yang berdiri tepat di samping tumpukan sampah di dekat pintu masuk.
Tidak terlihat seperti perangkap.
Para goblin yang telah dilihatnya datang dan pergi membawa senjata dan lain-lainnya. Dia hanya memperhatikan mereka dan mencoba untuk bernapas sepelan yang dia mampu. Dia mengingat kakak perempuannya memberi tahunya bahwa ini merupakan kemampuan yang di perlukan untuk seorang pemburu. Rusa merupakan hewan yang lincah; jika mereka tidak mengira bahwa kamu merupakan bagian dari alam, maka mereka akan melarikan diri.
Dia mendengar bahwa ayahnya, sangat ahli dalah hal seperti ini, walaupun dia sendiri tidak pernah mempunyai kesempatan untuk melihatnya sendiri.
Pada akhirnya, matahari mulai terbenam di barat, dan langit mulai berubah menjadi warna ungu yang menakutkan. Entah mengapa, para penjaga telah menghilang dari mulut gua. Mereka pasti telah kembali ke dalam.
Sudah waktunya.
Dia berdiri secara perlahan dari balik semak-semak, pertama-tama memijat pergelangannya yang kaku. Dia berharap dengan berjalan dari kota akan membuat tubuhnya terbiasa dengan berat beban armor pertamanya. Namun berat beban armor ini tidak dapat di sangkal. Terlebih lagi, dengan berbaring sepanjang hari cukup untuk membuat tubuhnya menjadi kaku.
Mungkin aku akan melonggarkan ikatan perlengkapanku selagi istirahat.
Di saat dia telah merenggakan pergelangannya, dia memerika keseluruhan perlengkapannya. Dia mengangkat dan menurunkan penutup helmnya, menarik dan memasukkan pedangnya, memastikan mata pedangnya masih tajam.
Tanduk pada helmnya terasa begitu berat. Jarak pandangnya begitu sempit, dan dia merasa sulit untuk bernapas. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk melepaskan helmnya.
Dia mengepal gagang perisai, memeriksanya. Tidak ada masalah.
Dia melangkah keluar dari semak-semak, berhati-hati untuk tidak membuat suara, dan kemudian secara perlahan mendekati pintu masuk gua. Dia tidak berjalan dengan langkah sigapnya, melainkan, bergerak secara lembut.
Dia melewati menara aneh yang memiliki tengkorak hewan pada puncaknya, kemudian berhenti di samping tumpukan sampah.
Apakah dia harus menyalakan obor atau tidak? Dan apakah ada hal lainnya yang dia lupakan?
Sebuah sumber cahaya akan membeberkan posisi dirinya kepada siapapun yang berada di jarak pandangnya. Akan tetapi, para musuh dapat melihat di kegelapan dan akan dapat menemukan dirinya bahkan tanpa menggunakan obor. Di dalam keadaan seperti itu, tidak mempunya cahaya hanya akan di anggap sebagai mudarat. (TL Note : mudarat = https://kbbi.web.id/mudarat )
Dia mengambil sebuah obor dari tas perlengkapannya dan menyalakan batu api namun kemudian dia berhenti.
“…”
Dia baru saja menyadari akan sesuatu yang seharusnya dia sadari lebih awal.
Aku nggak bisa memegang obor seperti ini.
Dia memiliki pedang di tangan kanan dan sebuah perisai di kirinya. Merupakan hal bodoh jika dia akan pergi tanpa pedangnya, namun dia juga tidak ingin pergi tanpa satu-satunya pertahanannya. Dia mencoba untuk melepaskan genggaman perisanya untuk  memegang obor, namun sudut aneh dari pergelangan tangannya membuatnya sulit untuk menggerakkan lengannya.
Dia membuat dengusan frustasi, menyumpat akan kebodohannya sendiri. Jika masternya melihat dia, dia tidak akan bisa berkata apa-apa.
Dia menghabiskan beberapa waktu berpikir, melihat pada pintu masuk gua, dan kemudian menyerah, obor di tangan kanan, perisai di kiri, pedang di pinggulnya, dan tas pada punggungnya. Apalah arti sebuah obor selain merupakan stik kayu? Obor dapat berfungsi sebagai pentungan jika di perlukan.
Dia berniat untuk melepaskan gagang perisainya ketika dia telah kembali ke kota, kemudian berjalan maju ke dalam gua.
Itupun, dia bersenandika, kalau aku bisa kembali ke kota.
*****
“Pastinya kamu nggak berpikir kalau kamu beruntung hanya karena aku mengajarimu kan? Atau seperti kamu merasa di berkahi?”
Dia sangatlah yakin bahwa itu merupakan ucapan dari pria rhea tua seraya pria itu menendang sang bocah ke dalam gua es.
Sang bocah tersandung masuk ke dalam gua, yang penuh dengan kotoran dan makanan tua, tempat terjorok yang pernah dia kunjungi.
Tempat tinggal kaum rhea di kenal sebagai tempat paling nyaman di dunia, paling tidak, itulah yang dia dengar nantinya.
Para rhea merupakan orang-orang yang hidup di sekitar padang rumput. Menikmati pekerjaan keseharian mereka dan dengan jumlah petualang yang sangat sedikit. Mereka sangatlah ceria dan supel.
Yah, selalu ada pengecualian di setiap peraturan—dan pria rhea tua ini merupakan pengecualian untuk ini.
Sang rhea menghiraukan batuk-batuk sang bocah dan menutup pintu kayu gua, memagarnya.
“Yang benar-benar beruntung itu adalah orang yang dapat melakukan apapun tanpa perlu di ajari.”
Tidak terdapat cahaya pada tempat di mana bocah berada, dia telah di lempar secara sekejap masuk ke dalam kegelapan. Ketika dia telah berhasil menenangkan pernapasannya dan melihat sekitarannya, dia tidak dapat melihat apapun.
Terkecuali sepasang mata yang berkelip di baying-bayang: sang rhea tua.
Bocah menyadari bahwa dia terlalu focus melihat pria itu, dan sang bocah menelan liurnya.
“Tapi kamu bukan tipe seperti itu. Kamu nggak bisa melakukan apapun. Tidak kompeten, anak ingusan.”
“Ya, Master,” sang bocah akhirnya menjawab. Anehnya, dia tidak merasa bahwa dia akan di bunuh.
Bunuh atau di bunuh, dia telah mempelajari ini di desanya.
Namun dia menduga bahwa pria tua ini dapat membunuh tanpa pikir panjang.
“Kamu pikir kalau aku akan mengajarimu, kamu akan menjadi kuat,” sang rhae menyengir.
Sebelum sang bocah dapat mengutarakan sebuah ya. Sesuatu terbang mendatangi melewati kegelapan dan mengenai dahinya. Sesuatu itu pecah dengan suara dedas, sebuah rasa sakit hangat terasa pada tengkorak sang bocah. Darah mengalir turun menuju wajahnya. (TL Note: Dedas = https://kbbi.web.id/dedas )
Dia terjatuh. Sang rhea menendangnya, kemudian muncul dengan samar-samar untuk mengejeknya.
“Dasar bego. Serangga dengan senjata itu nggak lebih dari sekedar serangga.”
Merupakan sebuah piring, sang bocah menyadari. Dia telah di lempar dengan sebuah piring.
Dia tidak pernah mengetahui bahwa benda sederhana seperti dapat menimbulkan rasa sakit yang teramat.
“Gunakan apapun yang kamu miliki. Persiapkan perlengkapamu. Kalau ada sesuatu yang kamu inginkan, dan kamu nggak mengerahkan segalanya dengan seluruh kemampuanmu untuk mendapatkannya…”
Sekarang setelah dia memikirkannya, itu merupakan pelajaran pertama gurunya yang telah di berikan kepadanya.
“…maka apa gunanya kamu hidup?”
*****
Aroma sengit menusuk hidungnya di saat dia memasuki gua.
Sampah yang membusuk. Kotoran. Tinja. Aroma hawa nafsu yang mengambang.
Dia sudah terbiasa dengan semua ini. Ini tidak akan menjadi masalah serius untuknya.
Akan tetapi, kegelapan, merupakan sebuah halangan. Benar, dia memiliki obor, namun kegelapan ini sungguh kuat. Kepalanya terisi dengan pikiran akan apa yang mungkin bersembunyi di balik bayang-bayang yang berkelip di ujung cahaya obornya.
 Bukan mungkin…apa yang bersembunyi.
Tidak ada celah baginya untuk meragukan fakta itu. Dia tidak boleh melupakan tempat dia berada : di dalam sarang goblin.
Kalau aku memaksa diriku sendiri untuk bernapas lewat hidung, aku akan terbiasa dengan baunya.
Dia berdiri dan menenangkan pernapasannya, kemudian melangkahkan satu kakinya ke depan, memulai penyerangannya. Sangatlah mudah untuk bisa terpeleset pada tanah yang basah dan lumut yang menutupi bebatuan. Dia berusaha untuk focus pada kemana dia menginjakkan kakinya, namun tidak lama kegelapan mulai mengusiknya.
Apa yang menunggu di depannya? Atau di atas? Gua ini tampak seperti menyempit baginya. Napasnya semakin memendek, semakin cepat. Berusaha untuk memperhatikan segalanya secara sekaligus telah membuatnya menjadi pusing.
“…Lakukan hal satu persatu,” dia bergumam pada dirinya sendiri, kemudian memutar obornya pada bayangan sebuah batu di dinding.
Dia hanya perlu mengalahkan mereka secara bertahap. Jangan mempermasalahkan waktu dan upaya untuk bisa membuat hidupmu menjadi lebih mudah. Di samping suara tarikan napasnya yang tidak teratur, dia mendeteksi suara denting samar. Dia tidak mengetahui apakah suara itu di sebabkan keheningan atau kegugupannya.
Dia ingin melepas helmnya dan mengelap keringat dari dahinya. Namun tentu saja, dia tidak dapat melakukan itu. Dia berkedip beberapa kali, kemudian menatap kepada kegelapan.
Mungkin hanyalah imajinasinya belaka. Namun juga, mungkin juga tidak.
Secara reflek dia melempar obornya mengarah pada baying-bayang yang berdansa, tepat pada tempat yang memilki gerakan yang berbeda di bandingkan kegelapan di sekitarnya.
“GOOROB?!”
Sebuah teriakan terdengar, jeritan tercekik. Makhluk itu masih hidup. Dia melompat mengarah makhluk itu dan memberikan pukulan lainnya di antara mata makhluk itu. Dia merasa rasa lembek yang tidak nyaman, layaknya menghancurkan sebuah buah, seraya goblin itu mati dan otaknya bertebaran.
“…Nghaa.”
Dia mengeluarkan satu hela napas yang nyaring. Pada saat yang sama, dia berpikir bahwa dia merasa lunglai, kakinay telah kehilangan kekuatannya.
Dia menyadari bahwa cipratan darah itu telah hampir membuat obor yang terbelah dua ini padam. Dia merasa akan lebih baik jika membuang obor ini, namun entah mengapa dia tidak bisa melepaskannya dari tangannya. Tangannya tidak mau terbuka.
Tangannya dan jarinya menegang; tidak peduli apapun yang dia lakukan, dia tidak dapat menghilangkan ketegangan dari tangannya.
“…”
Dia menjentikkan lidahnya, kemudian memaksa jari tangan kirinya terbuka, menjatuhkan obor. Api yang bercucuran pada tanah gua tetap membara, menjilat udara layaknya sebuah lidah.
Nggak masalah. Nggak masalah, dia bergumam pada dirinya sendiri. Apalah arti dari membunuh seekor goblin?
Satu goblin. Masih baru satu. Hanya satu. Namun telah berhasil membunuhnya. Dia memeriksanya lagi untuk memastikan bahwa goblin itu benar-benar telah mati, kemudian mengambil obor lainnya—
“GOBGG!”
“GBBGROBG!”
Dia menanggalkan obornya dan menarik pedangnya. Dengan cepat ocehan tidak jelas para goblin datang mendekatinya dari belakang.
Dia berusaha berputar dan menyapu menjauh dengan pedangnya, namun mata pedangnya telah terhempas dari tangannya dengan bunyi yang memekikkan. Seraya dia menyadari bahwa pedangnya telah tersangkut pada dinding gua, seekor goblin datang menabraknya dan menjatuhkan dirinya. Terdengar suara sesuatu yang pecah pada tas peralatannya di punggungnya seraya dia terjatuh, namun dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu.
“GROB! GOOROGB!!”
“GROORB!!”
Satu goblin, sebuah senyum menjijikan pada wajahnya, menebasnya dengan sebuah belati yang di genggamnya dengan kedua tangan.obor yang berada di tanah yang hampir padam di tanah, masih menghasilkan cukup cahaya untuk membuat mata belati itu berkelip redup. Di kejauhan, goblin lainnya sedang menunjuk dirinya dan tersenyum jahat.
Aku bakal mati.
“Hrr—agh!”
Dengan kekuatan tekad, dia melipat lengan kirinya, membawa perisa ke atas tepat di depan wajahnya. Belati itu tertancap pada perisai, dan dia mengayunkannya kesamping.
“GBBROB?!”
Secara fisik goblin tidaklah kuat. Dengan senjata yang telah terlepas dari genggamannya, membuat makhluk ini kehilangan keseimbangannya.
Dengan segera dia melengkungkan punggungnya, mendorong perutnya ke atas dan memaksa goblin terjatuh ke belakang. Tidak ada waktu untuk di sia-siakan. Jika sebuah grup yang lebih besar datang sekarang, maka dia tidak akan mempunyai kesempatan.
Sang goblin yang telah dia jatuhkan ke tanah sekarang berusaha untuk berdiri dengan kedua kakinya, namun dia tidak akan memberikan goblin itu kesempatan untuk berdiri,
“?!”
Sang makhluk tekesiap tanpa suara seraya dia menendang makhluk itu di perutnya dengan sepatu bot yang telah di perkuat, tendangan itu telah merobek perut dan membuat isi perutnya terburai ke tanah. Kemudian dia menurunkan tapak kakinya ke bawah dan menghancurkan selangkangan makhluk itu.
“GBORROGBGOR?!”
“GROB! GROORBG!!”
Korbanya menjerit kesakitan, sementara goblin lainnya mentertawai ketidak-beruntungan rekannya.
Tawaan itu tidak berlangsung lama.
Sang bocah sudah kembali mengambil pedang yang terlepas dari tangannya, membenamkannya tanpa ampun masuk ke dalam tenggorokan goblin. Makhluk itu terbatuk, tersedak dengan darahnya sendiri; makhluk itu berusaha untuk memegang mata pedang itu. Dia menendangnya menjauh, menarik pedangnya.
“Huff…”
Darah terciprat di keseluruhan tubuhnya. Tubuhnya terasa panas, napas terengah-engah, kepalanya terasa sakit. Tenggorokkannya menggelitik; ingin sekali dia meminum air dari persediaannya. Namun tidak ada waktu untuk itu.
Dia dapat merasakan sesuatu yang mengerikan di dekatnya. Terdengara suara gesekan yang datang dari belakangnya di kegelapan.
Dia mendengus halus dan merapatkan gigitnya. Pada saat yang sama, dia mencoba untuk berpikir. Dia tidak boleh berhenti berpikir.
Adalah jelas bahwa terdapat sebuah terowongan sergapan di belakangnya. Dia hanya tidak melihatnya. Pertanyaannya adalah,  bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa dia masuk ke dalam sarang mereka? Dia telah masuk di kala penjaga sedang tidak ada, dan goblin pertama tidak terlalu membuat banyak suara.
“…!”
Kemudian, sebuah pikiran terlintas di benaknya dan dia melihat ke bawah pada perlengkapannya. Perlengkapannya masihlah baru, bersinar, mengkilap. Kulit dan baja.
Bau tubuhku!
Sudah terlambat baginya untuk menyadari ini. Para goblin hampir berada di depannya. Dia memeriksa pedangnya. Pedangnya masih cukup bersih dari darah dan jeroan, namun mata pedangnya memiliki cuilan besar di tengah-tengahnya. Dia menjentikan lidahnya.
Dia memasukan tangannya ke dalam tas perlatannya, di mana dia mengira ada sesuatu yang aneh. Meskipun demikian, dia mengambil obor dan melemparnya ke tanah. Obor itu menangkap api dari obor yang bercucuran di tanah, membara dan menghasilkan cahaya. Pencahayaan itu menghasilkan banyak mata kuning yang berkelip dengan kebencian dan pembunuhan.
“GOOROGB!”
“GROB! GOBORB!!”
“GOOROGBGROOB!!”
Kemudian kekacauanpun melanda kepadanya.
Dia menunduk, menghadapkan punggungnya pada dinding dan mengangkat perisainya. Dia menusukkan pedangnya kedepan, berharap untuk dapat mendaratkan sebuah tusukan.
Dia tidak ingin membuat kesalahan yang sama seperti sebelumnya. Dia berfokus untuk menusuk para goblin. Cara ini dapat berhasil.
Tenggorokan, mata, perut, jantung. Dia pedangnya beraksi, menembus, mencari tempat yang dapat membunuh dengan satu serangan.
Namun dia dan para goblin sama-sama memiliki niat untuk saling membunuh. Belati berkarat dan tombak mengenai tangan dan kakinya yang tidak terlindungi, mencabiknya, mengeluarkan darah. Para goblin, mulai saling menghalangi jalan rekan mereka masing-masing, saling tersandung dan berdesak-desakan dengan sesame rekannya; beberapa argument buruk mulai terjadi. Para goblin sama sekali tidak mengetahui arti dari sebuah kata kerja tim.
Pada saat itu, yang dia perlukan hanyalah tetap menusuk dengan pedangnya. Segalanya yang bukan dia adalah musuh. Itu membuat semuanya menjadi mudah.
Oleh karena itu dia merapatkan giginya dan terus bekerja. Jika lengannya tidak bergerak, tentunya dia akan mati; itulah kenyataannya.
Darah dan lemak, daging dan tulang: dia membenci kenyataan bahwa pedangnya menjadi tumpul setiap kali dia menggunakannya. Mungkin semua akan berbeda jika dia merupakan petarung yang lebih handal.
Kemudian datanglah sebuah suara duk yang merubah arus pertarungan.
Tepat di belakang gerombolan goblin, terdapat goblin besar—sungguh besar—yang datang mendekati. Sebuah pentungan berada di pundaknya, dan goblin itu tampak seperti seorang pria yang sedang dalam perjalanannya bekerja menuju kebun.
“HOOOOOB…”
Dia kelihatannya seperti hob, dia berpikir, napasnya terengah-engah. Seekor hob: hobgoblin. Apakah ada kemungkinannya untuk menang? Ya.
Tubuhnya bergerak. Layaknya melempar sebuah bola silver masuk ke dalam mulut katak. Pedang di tangannya berputar hingga dia menggenggamnya secara terbalik. Dia menghantam goblin yang ada di depannya dengan perisainya, membunuhnya. Masternya telah mengajarinya bahwa jika kamu menghancurkan hidung seseorang dan terus mendorongnya, hidung mereka akan masuk ke dalam otak mereka dan membunuhnya.
Sekarang dia mengayunkan pedangnya, mengambil langkah pertama menjauhnya dari sisi dinding.
Lemparan.
“GOROOGB?!”
Sebuah serangan kritikal.
Pedang itu bersiul melintasi udara, terbang melewati kepala para goblin dan menancap pada tenggorokan hobgoblin. Mencakar pada udara kosong, makhluk itu terjatuh ke belakang, menghajar tanah. Menyedihkan.
Dia mengambil belati dari pinggulnya, mengubah perhatiannya pada musuh yang tesisa.
“GROBG?!”
“GRG! GOOROGGB!!”
Para goblin yang masih hidup melihat dari segala arah.
Meraka melogo melihat pada mayat pengawal mereka, kemudian melihat kembali pada bocah yang ada di depan mereka dengan armor dan topengnya, dan berteriak.
Mereka menjatuhkan senjata mereka seraya mereka melarikan diri masuk ke dalam gua, namun dia tidak memiliki perlengkapan untuk mengejar mereka sekarang. Tertatih-tatih, dia berjalan dengan tubuhnya yang babak beluk dan berdarah, dia memperhatikan hobgoblin yang masih terkejang-kejang di tanah.
“Terima…ini!”
Dengan kedua tangan, dia mengambil pedang yang masih tertancap di leher makhluk itu dan mengoyak batang tenggorokannya dengan seluruh kekuatannya. Terdengar suara akan sesuatu yang retak, dan mata pedang telah terbelah dua pada cuilan yang dia lihat sebelumnya.
Sang bocah kehilangan keseimbangannya, terpeleset pada genangan darah. Tiba-tiba dia merasa ingin sekali meminum limun.
Di tangannya, dia mendapati dirinya sendiri memegang sekitar dua pertiga dari pedangnya. Dia mencoba mengayunkan kakinya yang tidak limbungl; entah mengapa dia merasakan kakinya menjadi ringan.
Ini bagus.
Pada akhirnya, dia dapat bernapas kembali; dia melihat sekitarannya.
“Ada berapa banyak tadi…?”
Merupakan sebuah pembantaian. Tidak ada kata lain yang dapat mengambarkan gambaran yang terpapar oleh obor yang terkulai.
Sekarang pertarungan itu telah berakhir, dia mulai menginjak mayat goblin yang sudah mati.
Seberapa banyak yang telah dia bunuh? Seberapa banyak yang telah melarikan diri? Dan seberapa banyak yang tersisia? Dia tidak mengetahuinya.
Ada berapa banyak goblin yang ada di gua ini?
“…”
Seraya pikiran itu melintas, dia menggelengkan kepalanya yang berat perlahan dari samping ke samping.
Apapun itu, adalah jelas apa yang perlu dia lakukan—apa yang dia harus lakukan.
“Aku rasa aku harus mulai dari P3K dulu.”
Dia mengambil tas peralatan pada punggungnya. Tidak salah lagi, dia sangat kelelahan. Napasnya berat, nadinya meninggi dan pandangannya buram. Semua sarafnya sakit, dan aliran deras darah telah memperlambat pikirannya.
Itulah mengapa dia tidak menyadarinya.
“GOGGBR!!”
Sang bocah berteriak.
Goblin dengan selangkangan yang hancur melompat mengarah padanya, mengangkat sebuah belati. Di kala dia merasakan ada sesuatu yang berat yang menghantam punggungnya, semua sudah terlambat. Dia berusaha berputar, dan dia mendapati kepalanya di sentak dengan kasar. Monster itu pasti telah menggengam salah satu tanduk dari helmnya.
“Hrr… Kamu…!”
“GBGGB!”
Dia hampir mengira bahwa pundak kanannya telah meledak. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa goblin itu telah munusuknya dengan sebuah belati.
Dia batuk darah bersamaan dengan momen itu, menciprat di dalam helmnya.
“Graaaaahh…!” Dia berteriak, mencoba untuk mengambil langkah mundur menuju sebuah dinding. Dia menghantamkan goblin itu pada sebuah batu.
Terdengar jeritan : “GOOROG?!”
Lagi.
“GORO?!”
Sekali lagi.
“GOROOBGBG?!”
Terdengar suara sesuatu yang retak, dan tiba-tiba, berat pada kepala dan punggungnya telah terangkat. Walaupun begitu, kepalanya menggantung pada arah yang tidak wajar. Tanduk itu pasti telah terlepas.
Dia berputar, menggunakan tangan kirinya yang masih berfungsi untuk mengambil tanduk itu di tanah. Gerakan itu telah membaut pergelangan tangannya terluka, namun karena perisai itu masih terpasang di tangannya, dia tidak mempedulikannya. Dia mempunyai satu hal yang harus di lakukan.
Dia menghajar monster yang menggeliat di tanah, membenamkan tanduk menembus tenggorokannya.
“GOOBGGB…?!”
Sang goblin menjerit, kemudian berhenti bergerak. Sang bocah duduk—tidak pingsang—di samping goblin itu.
P3K. itulah yang terpenting. Penyembuhan. Masih terdapat musuh yang tersisa. Dia tidak bisa membiarkan dirinya berada di dalam keadaan yang tidak bisa bergerak.
“Hrgh…”
Namun keseluruhan tubuhnya terguncang. Dia mengira bahwa sebuah luka seharusnya terasa seperti terbakar, namun entah mengapa dia merasa sangat kedinginan.
Dia berusaha melepaskan sebuah belati yang berada di tangan kirinya, namun lengannya kejang dan mulutnya terasa mati rasa; liur mengalir dari bibirnya.
Tidak lama baginya untuk menyadari alasannya.
Dia menarik paksa belati dan menemukan sebuah cairan kental, tidak di ketahui, yang melumasinya.
“Hrr…kk…”
Racun.
Dia melempar belati ke samping dan belati itu tergeser di tanah.
Dia merogoh tas peralatannya kembali. Dia telah membeli antiracun. Dengan ini semua akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja…
“…Hrk…?”
Yang hanya dapat dia rasakan pada jarinya adalah sebuah sensasi basah, dan dentingan kecil seperti kaca.
Namun tidak terdapat satupun botol.
Botolnya pecah…!
Dia merasa pucat, dan bukan hanya di karenakan racun.
Botol itu pasti telah pecah di saat dia terjatuh pada sergapan sebelumnya. Yah, penyesalan tidak akan berguna baginya sekarang.
Jika dia kembali ke kota—tidak, ke desa—apakah mereka dapat menolongnya? Adalah mustahil. Tubuhnya hampir tidak bisa bergerak; dia merasa lemah seolah seperti sedang terkena demam.
Jika itu terus berlangsung, dia akan mati. Tidak di ragukan lagi.
Tanpa suara, dia menarik tasnya lebih dekat dengan tangan yang gemetar. Dia mendorong ujung tas menuju celah helm dan memeras keluar isinya.
Sebuah campuran dari potion penyembuh dan antiracun menetes masuk ke dalam mulutnya; dia menghisapnya dengan susah payah, layaknya bayi yang sedang menyusu pada payudara ibunya.
Dia tidak memiliki niat untuk mati.
Paling tidak, tidak hari ini.
****
Sang pemimpin menggeram marah seraya dia telah di ganggu oleh bawahannya yang bermuka pucat dan berteriak, Penyusup! Penyusup! Penyusup!
Dia memberikan bawahannya sebuah pukulan dengan tongkatnya dan menendang ibu goblin yang sekarang telah terdiam. “Katakan padaku,” dia menyuruh.
Dengan cepat dia menyatukan setiap bagian-bagian petunjuk dari bawahannya. Di sangat cerdas dalam hal itu.
Tampaknya seorang petualang telah memasuki sarang—dan sendirian.
Dasar bodoh. Sang pemimpin tertawa. Tidak akan lama lagi petualang itu akan mati dalam sergapan. Sangatlah di sayangkan bahwa pendatang baru itu merupakan seorang pria, namun pejantan masihlah berguna sebagai makanan. Bukanlah hal yang buruk.
Itulah apa yang sedang di pikirkan oleh sang pemimpin—namun di salah.
Petualang itu tidak hanya berhasil menggagalkan sergapan sebelumnya, namunbahkan dia dapat membunuh pengelana mereka.
Sang pemimpin melontarkan banyak umpatan pada sang petualang, menginjak-injak tanah dalam kekesalan; dia memberika bawahannya satu pukulan lainnya.
Sebenarnya dia tidak terlalu marah dengan fakta bahwa bawahannya telah terbunuh. Namun dia tidak dapat menerima sebuah pikiran akan sarangnya yang sempurna (dalam pandangannya) telah di usik oleh seorang penyusup.
Kumpulkan semua yang masih hidup, dia menggeram, dan seekor goblin telah berlari kepadanya sekarang berlari kembali, berteriak.
Lumat dan hancurkan petualang bajingan ini. Yang sudah membuatku harus mencari ibu goblin lainnya.
Goblin selalu percaya di karenakan mereka lemah, merekalah yang selalu menjadi korban. Akan tetapi, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka menganggap diri mereka sebagai makhluk terpenting di dunia, dan itulah alasan mengapa mereka sangatlah memuakkan.
Sang pemimpin mencambuk empat goblin yang telah berhasil datang kembali dalam keadaan hidup seraya dia menantikan pertarungan dengan sang petualang. Dia akan menyelesaikan pekerjaan ini sendiri. Pengikutnya tidak akan melakukan apapun. Lagipula,sebagian besar alasan sarang goblin dapat terus berlanjut adalah di karenakan  ketidak-percayaan sang pemimpin; sedangkan sebagiannya lagi adalah kecemburuan dari pengikutnya.
Jika dia tidak hati-hati, goblin-goblin tolol yang mengelilinginya ini akan menganggunya. Dan  sang pemimpin, tidak akan mentolerir itu.
Untungnya bagi dirinya, petualang itu telah di laporkan dalam keadaan terluka dalm pertarungan. Terdapat tetesan darah yang terjatuh mengarah pada pintu masuk, menjauh dari tumpukkan mayat akan rekannya yang bodoh. Terlebih lagi, jejak kakinya menandakan bahwa sang petualang menyeret kakinya untuk berjalan. Petualang itu telah terluka parah, tidak di ragukan lagi.
Sang pemimpin tersenyum jahat; dia memberikan gerakan dengan tongkatnya untuk menyemangati bawahnnya. Berdebat dan mengeluh, mereka maju ke depan, hingga akhirnya mereka telah tiba pada mulut gua. Lubang besar membawa masuk cahaya dari bulan hijau, keseluruhan tempat terisi penuh dengan cahaya akan “pagi.”
Adalah mustahil untuk petualang itu dapat melarikan diri dalam keadaan seperti ini. Sang pemimpin mengayunkan tongkatnya, mengirim rekan goblinnya keluar dari gua.
Pada saat dia melakukannya, terdengar suara krak basah, dan dua dari goblin telah di hancurkan.
“GOBOR?!”
Apa yang telah terjadi? Sang pemimpin pada awalnya tidak yakin, namun dia berpikir bahwa ada sesuatu yang besar yang telah jatuh dari atas.
Adalah mayat hobgoblin. Sejauh sang pemimpin memandang, gumpalan besar itu merupakan makhluk yang tidak berguna yang masih membuat masalah untuknya bahkansetelah makhluk itu sudah mati.
Tidak pernah terlintas pada sang pemimpin bahwa petualang itu akan menyeret mayat itu ke suatu tempat dan mendorongnya menjatuhi para goblin.
“GOBBBR!”
“GBO! GROOBGR!!”
Dua goblin yang tersisa, yang berhasil menghindari bencana, memutar matanya pada sang pemimpin dengan rasa takut pada wajah mereka.
Bodoh, makhluk nggak punya otak. Sang pemimpin memberikan mereka pukulan pada kepala mereka dan menendang mereka keluar dari gua.
Dengan segera, sesuatu terjatuh dan mengenai salah satu dari mereka.
Sesuatu itu ada sang petualang, menggunakan armor dan hem. Tanduk pada satu sisinya telah patah.
“GORB?!”
Sang petualang  memulai dengan menhantamkan perisainya pada kepala goblin terdekatnya, membelah wajah makhluk itu.
“GOROBRG?!”
Kemudian dia berputar, mendapatkan goblin kedua (yang telah mengendap-endap di belakangnya) dengan ujung perisainya dalam satu gerakan ayunan. Ujung metal itu tidak terlalu tajam seperti mata pedang, namun itu sudah cukup untuk menghancurkan dada makhluk itu, membuatnya mengeluarkan jeritan.
Sang petualang menjentikan lidahnya ketika dia menyadari bahwa dia telah gagal untuk menyelesaikan monster ini dengan satu hantaman, kemudian melompat mengarah padahnya, menjatuhkan perisainya masuk ke dalam tenggorokannya. Batang tenggorokannya hancur, sang goblin mati tercekik dalam beberapa detik ke depan.
Untuk sang pemimpin, ini sangatlah cukup.
Mereka mungkin merupakan kumpulan makhluk bodoh, namun paling tidak mereka telah mengulur waktu untuk dirinya untuk menggunakan mantranya.
Sang pemimpin sudah mengangkat tongkatnya, tongkat itu memiliki tengkorak pada ujungnya, dan mendeklamasikan umpatan yang tidak dapat di mengerti.
Sang petualang menyadari apa yang di lakukan makhluk itu dan berputar, namun sudah terlambat.
Pada detik itu, petir meledak dari tongkatnya.
*****
Adalah sebuah Kilatan petir.
Dia tidak menyadari bahwa terdapat hal yang seperti ini: seekor goblin yang dapat menggunakan sihir.
Dia menyokong dirinya dengan lengan kanannya—dia tidak akan mengorbankan lengan kanannya—dan menggunakan mayat hobgoblin untuk melindungi dirinya. Petir biru keputihan menghajar mayat itu, denture dan desisan seraya petir itu membakar lengannya.
Dia tidak berteriak—terlalu lantang, dia tidak merasakan itu sebagai rasa sakit, namun lebih seperti sensasi mati rasa, hampir terasa seperti tangannya telah terlontar ke udara.
“Argh…!”
Bahkan, dia telah terlempar beberapa meter dari mayat hobgoblin. Sebuah rasa aneh akan obat-obatan tersebar di mulutnya, dan keringat bercucuran dari setiap bagian tubuhnya.
Gimana lengan kananku?
Dia menatap ke bawah dan melihat lengannya. Dia tidak akan mempercayainya jika dia tidak melihatnya secara langsung, namun lengannya masih terpasang pada tubuhnya. Dia berusah menggerakkannya, namun lengannya tidak dapat bergerak sesuai keinginannya, seolah lengannya telah membengkak parah.
Namun tentunya rasa sakit selalu ada.
Rasa sakit ini sulit untuk di jelaskan: lengannya terasa seperti terbuat dari ribuan jarum.
Dan masih ada lagi. Dia menjentikan lidahnya. Goblin yang ada di depannya mulai mengangkat tongkatnya kembali.
Dia akan mengetahui makhluk macam apakah ini nantinya. Jika lengan kanannya masih terpasang pada tubuhnya hingga akhir pertarungan, maka dia akan mengurus lengannya juga nantinya. Dia harus membunuh monster ini sebelum kilatan lainnya datang.
Tubuh hobgoblin kejang-kejang dengan setruman listrik sebelumnya, asap mengepul dari dagingnya yang terpanggang. Mayat itu telah memberikannya perlindungan namun itu tidak sepenuhnya melindunginya. Sangatlah jelas sekarang.
Apa yang harus dia lakukan kalau begitu? Dan jalan apa yang harus dia ambil?
Gimana cara aku bisa bunuh makhluk ini?
Otaknya bekerja dengan cepat, menilai setiap kemungkinan. Dia melepaskan ikatan pada punggung perisainya, menggenggamnya pada pegangannya.
“GOOBOOGOROGOBOG!!”
Sang pemimpin—goblin shaman—mengumandangkan kalimat-kalimat mantra kembali, dan Kilatan petir kedua merobek udara. Cahaya biru keputihan itu bengkok pada arah yang aneh namun tetap datang mengarah sang petualang.
“—ngh!”
Dia menangkap serangan itu dengan perisainya—perisainya telah di lempar dengan tangan kirinya dari balik bayangan mayat hobgoblin.
Perisai itu terbang dengan lengkungan tajam, menghalau petir dan mengirimnya pada arah yang lain.
Lebih mudah daripada melempar bola silver masuk ke dalam mulut katak di festival.
Cahaya menyilaukan membanjiri pandangannya, dan aroma tajam akan armor kulit yang terbakar mencapai hidungnya; asap hitam mengepul di udara. Situasi ini sama sekali tidak kondusif. Kilatan itu masih menyilaukan matanya. Namun hal itu juga berlaku pada musuhnya.
Dan itu sudah cukup.
Dia mengambil pedangnya, yang sekarang memiliki panjang yang aneh, pada tangan kirinya. Dia mengangakatnya dalam genggaman terbalik dan melompat melewati asap untuk menyerang sang shaman.
“Ha—ahh!”
“GBBRGGG!”
Sang shaman menusukkan tongkatnya ke atas. Dapatkan dia menggunakan mantra lainnya? Dia tidak mengetahui itu, namun itu tidak masalah.
Apa yang harus aku lakukan itu sederhana.
Dia melompat, melampaui tubuh hobgoblin, berusaha tetap menjaga tubuhnya untuk tetap rendah, mengangkat pedangnya ke atas, dan kemudian menjatukannya ke tenggorokannya.
Itu saja.
“GOBORG?!”
Terdengar benturan yang cukup keras yang dapat membuat seseorang pingsan; dia merasakan sesuatu di bawah dirinya, mendengar jeritan dan melihat cipratan darahnya. Tampaknya pedang yang telah patah ini cukup untuk dapat menhancurkan tenggorokan goblin.
Seharusnya ini dapat mencegahnya untuk menggunakan mantra lagi.
 Bahkan seraya jeroan goblin membanjirinya, dia membebani tubuh goblin dengan berat badannya, berharap untuk mematahkan tulangnya. Dengan hanya memakai satu tangan, membuatnya menjadi lebih sulit dari yang dia bayangkan,
“GOROGOGOR?!?!”
Hanya sebagai jaminan. Tidak peduli apakah makhluk itu dapat menggunakan mantra atau tidak. Dia tidak akan memberikannya kesempatan.
Dia menekan berat tubuhnya lebih kuat pada sosok kejang-kejang shaman itu dan menusukannya kembali, sekali lagi pada tenggorokannya.
“—?! ——?!?”
Lagi dan lagi hingga tubuh yang menggeliat itu berhenti bergerak. Dan lagi. Sebanyak yang di butuhkan.
“…”
Kemudian, akhirnya, dia menghela napas.
Pedangnya telah tertanam pada tenggorokan  shaman hingga mencapai gagang pedangnya, yang sekarang terbaring tak bergerak. Tangan dan jarinya terasa dingin membeku; dia hanya berdiam di sana dengan pedang yang di erat genggam pada tanganya.
“…Hrm.”
Dengan sebuah upaya, dia berhasil melepaskan jari dari pedangnya, yang terlumasi dengan berbagai macam isi tubuh goblin.
Dia memperhatikan sekitaran dan melihat, di dalam kegelapan yang redup, mayat goblin yang berserakan di segala arah. Hanya dialah satu-satunya makhluk yang bergerak.
Sang goblin shaman, hobgoblin, dan goblin lainnya: mereka semua telah mati.
Tidak.
Dia telah membunuh mereka semua.
Jika dia membunuh mereka, maka mereka tidak akan bisa membunuh dirinya.
“…..”
Tanpa suara, dia menggenggam pedang yang terbenam pada tenggorokan mayat itu; dia menumpukan kakinya pada tubuh itu dan mencabutnya. Namun pedang itu licin di karenakan darah, dan dia mendapati dirinya sendiri tidak dapat memegang pedang itu dengan hanya satu tangan.
Dia mendengus, memperhatikan pemandangan hasil akhir pertempuran di sekitarnya, kemudan mengeluarkan belati yang telah dia bawa sebagai cadangan.
Hanyalah satu-satunya senjata yang tersisa pada dirinya.
Dia memaksa kepalanya, yang selalu miring pada satu sisi di karenakan tanduk yang hilang, untuk tetap tegak lurus, kemudian entah bagaimana berhasil menyalakan obor dengan hanya satu tangan.
Dengan cahaya dari api, dia kembali masuk ke dalam gua.
Tempat itu penuh akan mayat. Aroma yang mengambang dari isi tubuh, darah yang menghitam melumasi segalanya, dan mata kosong akan goblin yang mati menatapnya.
Mereka beruntung tubuh mereka masih tersisa, dia berpikir. Merupakan hal yang seharusnya tidak pantas untuk para goblin.
“Empat di puntu masuk, dan cuma…” dia menyimpulkan, “…satu pemimpin. Total lima.”
Dia menendang salah satu mayat, membuatnya tengkurap, sangat jelas bahwa goblin itu telah mati.
Atau paling tidak, terlihat mati.
Oleh karena itu dia mengangkat belati kecilnya.
“Enam.”
Satu persatu, dia membenamkan pisaunya ke dalam tenggorokan mereka, membelahnya terbuka, memastikan bahwa mereka tidak akan dapat bernapas kembali. Jika mereka sudah mati, maka semua akan baik-baik saja. Jika mereka terluka, dia akan menghabisi mereka. Jikan mereka akan menyergap dia, dia akan membunuh mereka.
Melakukan semua ini hanya dengan lengan kirinya merupakan pekerjaan yang melelahkan. Belati itu telah terlumasi dengan darah yang membuatnya mengira bahwa belati itu dapat terlepas dari tangannya sewaktu-waktu, oleh karena itu dia mengubah posisi genggamannya hingga terbalik dan melilitkan perban di sekitar telapak tangan dan belatinya.  Dia tidak dapat mengikatnya, namun selama dia memiliki sesuatu untuk di cengkram pada senjatanya, dia tidak akan menjatuhkannya.
Di tengah-tengah pekerjaannya, sebuah aroma yang memualkan perut dan rasa sakit pada lengan kanannya tiba-tiba melandanya, membuatnya merasa lunglai. Apakah detik ataukah menit dia terbaring di sana? Atau jam atau hari? Dalam sekejap, kesadarannya kembali terfokus, dan dia muntah.
Pada apakah dia terjatuh? Kotoran, darah, atau keduanya? Secara perlahan dia berdiri.
Dengan satu lengannya yang masih bagus, dia mencari sesuatau di dalam tasnya, mengambil beberapa herba yang telah basah dengan potion dan mendorongkannya ke dalam mulutnya. Herba itu terasa menjijikkan, namun dia tetap mengunyahnya, dia merasa kepalanya terasa lebih ringan. Tetapi beberapa herba tidak akan menyembuhkan lukanya. Dia membutuhkan perawatan medis.
Lengan kanannya berdenyut begitu dashsyat, namun rasa sakit adalah sebuah tanda bahwa dia masih memiliki sensasi rasa. Dia akan mengkhawatirkannya nanti.
Setelah dia menyelesaikan apa yang harus dia lakukan.
“…Sepuluh, sebelas—— Dua belas, tiga belas, empat belas… Lima belas… Enam belas…”
Banyak waktu yang terbuang, namun dia memastikan bahwa setiap goblin telah mati. Menusuk tenggorokannya, mencabiknya, dan kemudian mencabut belatinya kembali dan pergi menuju sasaran berikutnya. Lagi dan lagi, dia mengulangi proses itu.
Dia tidak mengetahui berapa lama waktu yang dia butuhkan hingga pada akhirnya dia mencapai bagian terdalam dari gua.
Dia tidak memahami apa yang dia lihat dengan segera. Langit-langit begitu tingi di atasnya, angin berhembus. Apakah ruangan ini terbentuk secara alami, atau buatan? Dia tidak mengetahuinya. Namun ruang yang telah di tinggalkan ini  sangatlah jelas di peruntukkan bagi seseorang yang penting (atau seekor goblin). Di tengah-tengah ruangan, terikat dengan rantai, adalah seorang wanita.
Tubuhnya penuh akan kotoran dan wanita itu tidak bergerak sedikitpun.
Jika dia mengingatnya—dan jika durasi tidak sadarkan dirinya tidak begitu lama—wanita ini telah di culik sekitar satu minggu yang lalu.
“…Apa kamu masih hidup?”
Dia melihat pergerakan, begitu samar hingga pada awalnya membuatnya berpikir bahwa gerakan itu hanyalah sebuah trik dari cahaya obor yang berkelip. Namun kemudian dia melihat dadanya—penuh akan bekas gigitan-gigitan yang menyakitkan—kembang-kempis perlahan, sebuah bukti bahwa gadis desa ini masih hidup.
Sekarang dia telah di selamatkan, namun kehidupannya telah di hancurkan.
“…”
Tanpa sepatah kata, dia berlutut di samping wanita itu dan memeriksa wanita itu, kemudian berdiri.
Bukanlah hak dia untuk memutuskan. Dia hanya dapat berharap.
Apakah mungkin wanita ini akan lebih bahagia di bunuh oleh para goblin di bandingkan di selamatkan dalam kondisi seperti ini? Di bunuh oleh goblin—bagaimana bisa itu sebuah kebahagiaan? Adalah sebuah pemikiran yang bodoh.
Dia melihat sekitaran ruangan, menyadari beberapa tempat yang memungkinan bagi goblin untuk bersembunyi. Di pojokan, sebagai contoh. Sebuah altar berdiri di sana seolah di desain untuk menarik perhatian, walaupun altar itu tampak seperti imitasi murahan dari altar aslinya. Altar itu terbuat dari tulang manusia. Dia menendangnya, tulang-tulang itu berjatuhan di tanah, dan kemudian dia melihat di balik altar itu.
“…”
Dia menemukan goblin.
Beberapa makhluk kecil, berpelukan bersama, bergetar dan meracau suara kecil. Apakah mereka memohon ampunan demi nyawa mereka?
Dia menatap pada para monster, bergetar di sudut ruangan.
Goblin kecil. Anak-anak. Anak-anak goblin.
Dia sangat yakin bahwa goblin dewasa telah menyuruh mereka untuk bersembunyi. Dia dapat membayangkan itu dengan mudah.
Dia dapat memahami ekspresi mereka: baginya ekspresi mereka tampak seperti ekspresi siapapun yang melihat seseorang merampok rumah mereka.
Dia memiringkan kepalanya seolah memikirkan tentang sesuatu dan berdiri dalam waktu yang cukup lama.
Anak goblin mulai mengambil batu pada tangan mungil mereka. Apakah mereka berpikir bahwa dia tidak bisa melihat mereka?
Dia mengambil napas, dan kemudian menghembuskannya.  Dia mendeteksi aroma yang tidak asing, campuran daging busuk, kotoran, dan lumpur.
Dia melihat sekitarannya, mendengarkan napas pendek gadis desa, seorang gadis yang harga dirinya telah di nodai.
Dengan anggukan pendek, dia menghitung goblin di depannya.
“Dua puluh satu.”
Kemudian menurunkan belatinya.
*****
Gadis itu melihat pada senja matahari yang baginya tampak berwarna seperti darah.
Matahari terbenam di barat, merubah langit menjadi merah.
Setiap kali gadis melihatnya seraya dia mengikuti sapi di sekitaran kebun, gadis mengalihkan pandangannya.
Apa aku selalu melakukan itu?
Ya, kemungkinan. Dia membenci senja. Dia menyukai langit malam namun dia tidak menyukai pemandangan akan matahari terbenam.
Kira-kira kenapa ya.
Sekarang alasannya telah menjadi berbeda dengan di waktu dulu. Bahkan dia mengerti akan hal itu.
Sewaktu gadis masih kecil, itu di karenakan dia tidak ingin pulang. Waktu bermain telah berakhir ketika matahari telah terbenam. Gadis harus berpisah dengan bocah dan pergi pulang. Dan itu, membuatnya kesal.
Namun sekarang…
“Aku rasa ini bukan waktunya untuk memikirkannya.”
Dia harus bergegas dan mengembalikan para sapi kembali ke dalam lumbung. Gadis Sapi menggeleng kepalanya. Rambut panjangnya berkibas. Dia sudah memutuskan untuk memanjangkan rambutnya sendiri. Namun ada waktu di mana rambut panjangnya menjadi cukup menyebalkan.
“Oh, ayolah,” dia menggerutu, menyisir rambutnya dari depan wajahnya. Dia mengejar para sapi, memanggil, “Ayo, sapi!”
Dia mendengak untuk melihat bayangan panjang orang-orang yang melewati jalan di depan kebun. Bayangan mereka memanjang begitu mengerikan, tangan dan kaki merentang begitu panjang.
Pedagang, pengelana, petualang. Ya—petualang. Dan di antara mereka, terdapat satu yang terlihat berbeda.
Dia memakai armor dan helm, membawa sebuah perisai dan pedang, sebuah penanda yang jelas bahwa dia seorang petualang.
Semua itu masih wajar, terkecuali keseluruhan tubuhnya penuh akan kotoran. Dan salah satu tanduk pada helmnya telah patah, perisainya retak, dan pedangnya terlihat aneh. Dan terlebih lagi, petualang itu sangat bau. Beberapa orang meringis seraya dia melewati mereka; beberapa tertawa di balik tangan mereka.
Dia tampak tidak mempermasalahkan semua itu. Hanyalah seorang pemula yang mengunyah lebih dari yang dia mampu dan berakhir pulang dengan penuh luka. Tidak ada seorangpun yang dapat tumbuh tanpa jerih payah, layaknya seorang anak kecil yang tidak akan dapat belajar berdiri tanpa terjatuh.
Reaksi mereka, standar bagi manusia: ketika orang-orang melihat seseorang yang dalam keadaan mengenaskan, mereka akan merasa iba atau mengejeknya.
Gadis sapi merasa iba, merasa iba pada sang petualang. Dia mengernyit.
Apa dia terluka.
Salah satu lengannya menggantung, dan dia menyeret satu kakinya seraya dia berjalan tak bersuara. Sangatlah pedih untuk melihatnya.
Namun hanyalah itu yang Gadis Sapi rasakan; dia tidak merasakan sesuatu yang special dari pria itu.
Lagipula, dia hanyalah seorang petualang terluka yang berjalan di jalan. Apakah ada yang special dari itu?
Kemudian petualang itu melewati kebun, pergi menuju kota, dan dengan sedikit jarak yang ada di antara mereka, Gadis Sapi melihat punggung pria itu dan berhenti.
“Ap…?”
Sebuah stik yang biasa dia gunakan untuk membimbing binatang terjatuh dari tangan Gadis Sapi. Gadis Sapi tidak dapat menjelaskannya—dia hanya mempunyai firasat. Sebuah firasat bodoh. Namun jika di pikir kembali, tidak ada penjelasan lainnya.
Kalau, kalau saja.
Kalau saja dia selamat, aku yakin dia akan—
—menjadi petualang…!
Tidak lama setelah pikiran itu melintas di kepalanya, Gadis Sapi mulai berlari. Dia melompati pahar, benar-benar sudah melupakan sapi-sapinya.
Merupakan jarak yang pendek di antara mereka, namun Gadis Sapi menolak untuk berkedip, dia merasa pria itu akan menghilang jika dia berkedip.
“H-hei, hey, kamu! Tunggu—Tunggu sebentar!”
Pria itu tidak berhenti atau berputar. Mungkin tidak menyadari bahwa Gadis itu sedang berbicara kepadanya.
Gadis Sapi mengeratkan giginya dan berlari lebih cepat. Gadis Sapi tidak mengingat kapan terakhir kali dia berlari begitu kuatnya semenjak dia masih kecil. Gadis Sapi tidak pernah jauh dari desanya, tidak peduli seberapa kuatnya dia berlari.
“Aku bilang, tunggu…!”
Hampir tidak di sadarinya, tangannya menjulur dan menggenggam lengan petualang itu. Dia telah berhasil menyentuhnya.
Dia menarik lengan itu, dan akhirnya sang petualang berhenti berjalan. Gadis Sapi meletakkan sebelah tangannya pada dada dan menghela napas. Tatapan-tatapan mereka yang berjalan membuat Gadis Sapi merasa tidak nyaman—namun itu tidaklah penting.
Helm itu berputar mengarah padanya, dan sepasang mata merah menatap Gadis Sapi dari balik helm.
“Er, Um…”
Gadis Sapi sama sekali tidak dapat melihat ekspresi pria itu, akan tetapi sepasang mata itu seolah menembus dirinya, dan Gadis Sapi-pun menelan liur.
“Hei, kamu… Kamu ingat aku, kan?”
Suara bergetar. Apakah pria ini mengingat dirinya? Atau apakah Gadis Sapi telah salah orang? Tangan Gadis Sapi bergetar pada lengan pria itu.
Bagaimana jika Gadis Sapi telah membuat kesalahan? Sudah sedikit terlambat untuk keraguan seperti itu.
Betapa menggelikannya dia merasa. Betapa bodohnya. Gadis Sapi menggigit bibirnya keras.
Sang pria memiringkan helmnya perlahan, dan setelah beberapa saat, dengan suara yang sangat dingin dan samar, bergumam, “…Ya.”
Jadi memang dia!
Gadis Sapi tidak dapat mengenali sebuah emosi yang meledak dalam hatinya. Dia tidak mengetahui apakah dia harus merasa senang ataupun sedih, namun air mata mulai berlinang membasahi wajahnya.
“Di mana rumahmu? Di mana kamu tinggal? Apa yang sudah kamu lakukan…? Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan kakakmu?!”
Gadis Sapi sudah tidak dapat membendungnya lagi. Kalimat-kalimat mengalir keluar dari mulutnya; bahkan Gadis Sapi sendiri pun merasa terkejut dengan seberapa banyak dia sudah berbicara.
Lima tahun. Lima tahun telah berlalu. Apa yang dapat mereka bicarakan? Apa yang harus dia tanyakan? Apa yang harus dia katakana atau beritahu pria ini?
Pada akhirnya, aliran kalimat yang tampaknya tidak ada akhirnya, terhalang oleh keheningan.
“Oh, um…” Sekarang Gadis Sapi hanya menatap pada helmnya, merasa malu.
Dan kemudian pria itu berkata. Dengan begitu santai, seolah tidak ada hal yang aneh.
“…Aku membasmi goblin.”
“Oh…”
Gadis Sapi merasa sulit untuk bernapas.
Walaupun sebuah gambaran peti mati kosong orang tuanya melintas pada benaknya, tidak ada satu tubuhpun yang di kubur pada proses penguburan mereka.
Gadis Sapi mengingat bertanya sesuatu pada pamannya. Pamannya tidak memberitahukan apapun pada dirinya.
Angin bertiup semakin kencang, mengirimkan helaan melintasi rumput perkebunan.
Angin terasa begitu dingin, begitu kejam.
“Um, Aku hanya…”
Gadis Sapi melepaskan tangannya yang gemetar dari lengan pria itu. Gadis Sapi sekarang telah merasa yakin bahwa pria ini tidak akan bergerak walaupun dia telah melepaskan genggamannya.
Gadis Sapi mengambil satu napas dalam, dadanya mengembang, kemudian menghembuskannya. Gadis Sapi tidak mengetahui tindakan terbaik apa yang perlu di lakukan, namun dia mengetahui apa yang harus di lakukan. Paling tidak, dia mengira mengetahuinya.
“Tung-tunggu di sini, oke?”
“…”
Pria itu tidak memberikan jawaban. Gadis Sapi berpikir, walaupun dia berkata “oke.” Itu harus di katakan.
Gadis Sapi mulai berlari, namun setelah beberapa langkah, Gadis Sapi berputar.
“Kalau kamu menghilang, aku nggak akan maafkan kamu!”
Sekarang Gadis Sapi mengetahui dia masih berdiri di belakangnya. Menggosok matanya, dia terus berlari.
Pria itu hanya…berdiri di sana. Seolah dia sedang menunggu kakak perempuannya untuk menjemputnya.
*****
“Paman!”
Sang pemilik kebun mendengak perlahan melihat keponakannya  mendobrak pintu dengan keras. Pamannya telah menyelesaikan pekerjaan hari ini dan baru saja membungkus irisan tembakau masuk ke dalam pipanya untuk menikmati momen istirahat.
Merupakan hal yang tidak biasa bagi Gadis Sapi untuk bertingkah seperti itu. Bahkan, Sang pemilik kebun tidak dapat mengingat apakah hal ini pernah terjadi sebelumnya.
“Cowok itu— Cowok itu, dia—!”
“Tenang dulu. Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi sama kamu?” Kegelisahan Gadis Sapi membuat paman berdiri secara reflex.
Gadis ini adalah anak dari adik perempuannya. Gadis ini telah mengalami nasib yang mengerikan. Pemilik kebun ini tidak pernah berpikir bahwa dia bisa menjadi orang tua pengganti bagi gadis ini, namun paling tidak, paman berpikir bahwa dia telah merawat gadis ini dengan penuh kasih saying.
Terdapat banyak orang-orang kasar di kota. Beberapa dari mereka merupakan seorang petualang: kerap, masyarakat kaum rendah tidak berbeda jauh dengan petualangan menegah yang kuat. Paman merasakan rasa takut akan salah satu dari mereka telah melakukan sesuatu kepada keponakannya.
“Bu-bukan, bukan, bukan seperti—“
Namun sang gadis menggelengkan kepalanya cepat, rambutnya berkibas ke segala arah. Suaranya mengalir dengan terbata-bata, hampir seperti dia sedang menangis.
“Cowok itu… cowok tetangga itu, dia hidup… Ternyata dia hidup selama ini!”
“Apa…!” Linang air mata yang jatuh membasahi wajahnya, namun Gadis Sapi mengangguk lagi dan lagi. Gadis Sapi berbicara di antara isak tangisnya. “AK-aku rasa dia sekarang seorang pet-petualang… Dan dia ada…di luar…!”
“Petualang…” Sebuah ekspresi tergambar pada wajah sang pemilik kebun, dan dia menggelengkan kepalanya. “Apa dia kembali dari pekerjaannya?”
“Aku rasa… Ya, aku rasa begitu…”
Terdapat banyak rumor tentang para petualang, dan tidak semuanya dapat di percaya. Namun petualang pemula konon memliki dua tipe pekerjaan: membersihkan saluran air atau…
“Jadi dia membasmi goblin ya?”
“Ya…”
Sang pemilik kebun melihat keponakannya mengangguk lemah. “Goblin. Sudah pasti.” Paman mengeluarkan semacam dengusan.
Berpetualang. Mungkin bocah itu tidak memiliki pilihan lain. Dunia terlalu kejam bagi yatim piatu untuk dapat bertahan hidup. Namun tetap saja…seorang petualang. Dan lagi yang berurusan dengan goblin.
“Aku mau…dia tinggal…di sini, tapi…”
Mungkin paman nggak mengijinkannya. Mendengar pertanyaan gadis itu, wajah pemilik kebun terlihat begitu tersiksa, dan Paman menghela napasnya.
Kalau di pikir apa yang sudah di alami bocah itu, aku rasa wajar saja kalau dia mau balas dendam.
Sang pemilik kebun-pun telah kehilangan keluarganya pula. Pemilik kebun memahami perasaan itu.
Seraya Paman mengingatnya, keponakan dan bocah itu hampir seumuran: bocah itu pasti berumur tiga belas, atau empat belas, atau mungkin lima belas tahun…
Terlalu muda, untuk mengemban emosi seperti itu.
Anggap saja seseorang yang berjalan di jalan memukulmu di wajah, dan kemudian hanya berjalan menjauh dengan senyuman. Hanya sedikit orang yang akan memaafkan perbuatan seperti itu, apalagi melupakannya. Namun untuk memburu orang yang telah memukulmu, dan membalas pukulannya—seberapa banyak waktu dan upaya yang akan di perlukan? Dan seberapa banyak lagi jika ada kemungkinan 80 atau 90 persen bahwa seseorang yang lain sudah mengurus orang yang telah memukulmu?
Aku rasa dia akan merasa lega setelah menghancurkan dua atau tiga sarang.
Akan ada batasannya, sang pemilik kebun memutuskan. Itu saja. Jika tidak, apakah semuanya dapat berakhir?
Kalau dia mau belajar cara berdagang, dia bisa membantuku di kebun.
Dan terlebih lagi, ini merupakan permintaaan dari keponakannya.
Sejak sang pemilik kebun merawat gadis ini, gadis ini terus menatap ke bawah, tidak membiarkan perasaannya di ketahui orang lain. Dan sekarang gadis ini datang kepadanya dengan sebuah permohonan yang sangat teramat. Bagaimana mungkin Paman dapat menginjak-injak permintaan itu?
“…Baiklah.” Sang pemilik kebun menghela napas panjang, bibir pada wajahnya yang terpanggang matahari berubah menjadi senyuman. “Kasih tahu dia untuk tinggal di sini. Selama yang dia mau.”
“Beneran?!”
Seperti apa kalimat pepatah itu? “Sang gagak yang menangis kini telah tergantikan dengan tawaan.”
Wajah gadis itu bersinar, bahkan dengan air mata yang berlinang dari matanya.
“Tapi,” Paman berkata, “Aku mau dia membayar uang sewa. Paling tidak itu akan membuat dia berkontribusi pada tempat ini.”
Sang pemilik kebun tidak lupa untuk menambahkan kaliamt peringatan. Keponakannya tentu sangat mempercayai bocah itu, namun sebagai penjaganya, sang pemilik kebun harus lebih berhati-hati. Telah lima tahun berlalu semenjak rumah gadis ini telah di hancurkan, waktu yang cukup bagi bocah itu untuk menjadi tidak hanya petualang namun orang bajingan, salah satu dari kumpulan orang biadab.
Bocah itu dapat tinggal di gudang atau tempat lain hingga sang pemilik merasa lebih yakin tentang bocah itu.
“Kalau dia setuju, bawa dia ke sini.”
“Ba-baik! Itu bagus!”
Keponakannya menggosok matanya berkali-kali dengan lengan bajunya. Matanya merah dan membengkak, dan Gadis Sapi berkedip berkali-kali.
“Aku—aku akan kembali bersamanya! Terima kasih, Paman!”
Kemudian gadis berputar dan berlari melewati pintu lebih cepat di banding ketika dia datang sebelumnya.
Pintu tertutup dengan keras. Sang pemilik melihatnya kembali dan menghela lagi.
“Kalau begitu, sekarang…”
Gadis Sapi sudah begitu terburu-buru; Paman yakin bahwa sang gadis lupa untuk membawa para sapi pulang.
Paman akan melakukannya demi sang gadis. Sang pemilik kebun meregangkan tubuhnya dan bersiap untuk bekerja.
Bocah ini bukanlah orang asing. Dan bukan darah dagingnya, hanyalah seorang teman keponakannya, namun tali persaudaraan tetaplah tali persaudaraan. Bocah itu berasal dari desa yang sama.
Siapa yang tahu? Kalau kita menunjukkannya kehidupan yang tenang dan nyaman, mungkin itu akan meredam amarahnya.
Kemudian sang pemilik kebun berjalan keluar, tidak mengetahui seberapa keliru pikirannya.
*****
Bintang-bintang berkelip di kegelapan malam, dan bulam kembar bersinar begitu terangnya.
Dia  sedang melihat ke atas, menatap seksama pada bulan merah dan hijau.
Di kejauhan dapat terdengar hiruk-pikuk keramaian kota, sebuah keriuhan yang dapat terdengar hingga masuk ke dalam kegelapan hutan sampai rerumputan perkebunan. Jika seseorang mendengarkan dengan seksama, seseorang itu bahkan dapat mendengarkan suara hewan-hewan liar yang bersembunyi di balik baying-bayang.
Namun mendengarkan dengan seksama bukanlah yang sedang dia lakukan.
Dia hanya berdiri, mengingat kembali pertarungan itu di dalam pikirannya.
Dia telah mempersiapkan perlengkapannya, masuk ke dalam gua, bertarung melawan goblin, dan membunuh mereka.
Dia masih dapat merasakan sensasi akan mencabut dua puluh satu nyawa di tangannya. Dia masih belum terbiasa dengan semua ini.
Dia telah menyelamatkan gadis itu dan mengantarkannya ke kepala desa . dia tidak mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu setelahnya, dan juga dia tidak peduli untuk mempertanyakannya.
Dia tidak memikirkan apakah dia menang atau kalah. Dia bahkan tidak memikirkan kenyaatan bahwa dia telah menyelamatkan seseorang.
Yang dia ketahui adalah dia telah menghancurkan sebuah sarang.
Apa yang akan di hasilkannya dari menghancurkan satu lubang goblin?
Tidak ada.
Yang dia lakukan hanyalah menghancurkan satu sarang goblin.
Tidak lebih.
Tidak ada yang berubah.
Tentu saja tidak ada. Apakah dia berharap sesuatau akan berubah, sekecil apapun? Konyol.
Hatinya terasa dingin. Tidak sedikitpun emosi yang menggenang di hatinya.
Masih banyak yang harus di pikirkan.
Pedangnya telah patah, namun ternyata pedangnya lebih mudah di pakai dalam keadaan seperti itu. Dia perlu membeli sebuah pedang pendek.
Armornya telah memuaskannya, namun tampaknya armor ini sedikit rentan akan serangan tusukan. Dia akan membutuhkan sebuah baju besi atau semacamnya.
Sebuah perisai merupakan pilihan yang tepat. Idealnya, perisainya perlu sedikit lebih kecil dan memudahkan untuk bergerak… Sebuah perisai tanpa gagang, hanya tali pengikat.
Helm sangatlah penting. Helm ini telah menyelamatkan nyawanya. Namun apa yang harus di lakukan perihal dua tanduknya…atau satu tanduk?
Antiracun. Potion. Benda-benda penyembuh. Dia akan membutuhkan bermacam-macam benda ini. Merupakan satu melawan banyak. Dia membutuhkan setiap kartu yang dapat dia mainkan.
Dia akan memikirkan sebuah strategi. Jika dia terus melakukan apa yang dia telah lakukan kali ini, dia akan mati. Dia tidak peduli jika dia mati, namun setidaknya dia ingin membawa lebih dari satu atau dua goblin mati bersamanya.
Taktik merupakan hal yang penting juga.dia akan dapat membunuh mereka dengan lebih lancer, dan tanpa harus meninggalkan pekerjaannya setegah selesai.
Jika dia dapat membunuh mereka, dia tidak akan terbunuh. Merupakan sebuah kenyataan yang sederhana.
Dia akan berpikir, membuat rencana, dan menyerang. Dia tidak dapat menghiraukan latihannya.
Tidak ada jaminan bahwa semuanya akan berjalan dengan baik. Namun dia akan melakukannya dengan lebih baik di lain kali. Dan lebih baik lagi setelahnya.
Semua tidak akan berakhir hanya dengan satu atau dua sarang. Tidak mungkin.
Ini hanyalah sebuah awal. Hanyalah langkah pertamanya.
Aku akan membunuh semua goblin.
“Heeeei!”
Itulah di mana sang gadis telah tiba: seorang gadis yang berlari pada jalanan yang gelap tanpa sebuah lentera, dadanya kembang-kembing karena kelelahan.
Adalah seorang gadis yang menghentikan dirinya. Dia mengingat gadis itu, gadis itu telah berkata, “Tunggu di sini,” dan oleh karena itu dia menunggu.
“Pa-pamanku, dia—dia bilang—!”
Sang petualang yakin dia melihat ekspresi kelegaan dan kebahagiaan yang tampak di keseluruhan wajah sang gadis ketika dia melihatnya.
“Dia bilang kamu bisa…tinggal di sini! Ja-jadi a—“
“Ayo.” Kata itu begitu lembut, begitu tersiksa, hingga membuatnya tampak seperti akan menangis.
Sang petualang terdiam sesaat, berpikir. Dan kemudian, dia mengangguk perlahan.