BENTUK IMPIAN YANG MEREKA LUKISKAN BERSAMA
(Part 4)
(Translator : Blade; Editor : Gian Toro)

Sorata buru-buru kembali ke Sakurasou dari Universitas Seni Suimei.
Saat sampai di Sakurasou, sudah jam 12 lewat 7, telat 7 menit.
“Mashiro!”
Sorata sambil meneriakkan nama Mashiro, sambil membuka pintu Sakurasou. Pintu tidak sempat tertutup, Sorata langsung melepaskan sepatunya dan berlari ke arah tangga.
Berdiri didepan pintu kamar, rasanya ada orang didalam, benar, ada seseorang.
“Apa itu Mashiro?”
Sorata memastikannya dan membuka pintu.
Yang tampak didalam tatapannya itu adalah kamarnya sendiri, tapi dari dalam mulut Sorata mengeluarkan
“Huh? Are!?”
Suara yang begitu panik.
Didalam kamar terlihat baju, handuk, komi, malah dan berkas game yang berantakan. Tidak ada tempat untuk menaruh kaki, seperti kamar seseorang.
Ditengah kamar Sorata yang berantakan, ada seekor monster lucu yang sedang mengacaukan pakaian.
Itu Mashiro. Ia memakai gaun yang dipakainya saat kencan dulu. Yang dipilih oleh Sorata.
Diatasnya menggunakan cardigan, sebuah kombinasi yang menarik. Tapi sekarang bukan saatnya untuk terpesona.
“Hoi! Ada apa denganmu!”
Mashiro melihat ke arah Sorata.
“Tiba-tiba semangat.”
“Maksudnya marah kali!?”
“………….”
“Ah~bagaimana ini, akan memakan waktu yang lama untuk membereskan ini………….”
Pokoknya rapikan dulu berkas gamenya.
“Semua salah Sorata.”
“Itu, telat, maaf, aku sangat menyesal, tadi aku bertengkar dengan Akasaka.”
“Bagi Sorata, tetap Ryuunosuke lebih penting.”
“Kenapa jadi begitu?”
“………….”
Mashiro tampa sangat tidak senang, dan dengan diam mengacaukan pakaian Sorata.
“Ah! Kan sudah kuminta maaf!”
“Sorata tidak mengerti sama sekali.”
“Kan sudah aku minta maaf soal aku telat.”
“Terserah telat atau tidak.”
“Huh? Jadi tidak masalah!?”
Bingung sekali.
“Sorata tidak paham.”
“Tidak, tunggu, harusnya dialog aku."
“Tidak suka aku lagi.”
“Suka, paling suka.”
Apaan, ada apa dengan ‘Play’ semacam ini……….
“Bohong.”
Mashiro dengan marah melihat ke arah lain.
“Yang benar saja.”
“Tapi, hari itu, kau tidak melakukan apapun.”
Mashiro kemudian dengan marah mencibirkan bibirnya.
“Hari itu?”
Apa maksudnya.
“Hari saat kita ke pantai…………”
“……………”
Apa yang terjadi.
“Malamnya.”
“Puh!”
Dengan tidak sadar Sorata sembur.
“Apa! Tunggu! Kau, kau tahu apa yang kau katakan!”
“Padahal sudah kupakai celana dalam kemenangan.”
Mashiro semakin marah.
“Padahal saat kencan juga, juga selalu kupakai.”
“I-itu ya.”
Sekarang, Sorata akhirnya paham. Paham setiap saat mereka kembali dari kencan…….alasan Mashiro terus menatap ke arahnya……..
Mashiro menatap ke arah Sorata.
“Sorata.”
“Apa?”
“ Aku ini seorang pacar yang cocok denganmu?”
“…………”
Rasanya dengan kencan setiap minggu, dan meningkatkan hubungan mereka perlahan saja.
“Biarpun bersama juga tidak mengerti dengan Sorata.”
Tapi, tidak bisa hanya begitu.
“Apa Sorata tidak ingin menyentuhku?”
Sorata sangat menyayanginya dan tidak ingin melukainya………juga bukannya tidak akan melakukan apapun karna takut Mashiro terluka………..
“Tentu aku sangat ingin menyentuhmu.”
“Benar?”
Terkadang, ada saatnya untuk membuat pergerakkan. Ini juga salah satu cara untuk menyampaikan rasa suka kita. Kalau setiap hari selalu kita lewati seperti dulu, untuk apa kita berpacaran.
“Selalu ingin menyentuhmu, ingin menciummu, hanya aku tidak paham apa pikiranmu mengenai ini………..”
“………..aku juga tidak tahu harus melakukan apa sebagai pacarmu.”
“Menjalin hubungan dengan perempuan, ini pertama kalinya buatku, aku juga tidak tahu apa yang harus dilakukan.”
“Sorata juga begitu?”
“Ya, tidak seperti membersihkan, cuci baju, ataupun memasak yang bisa kulakukan untukmu, saat kencan selesai, kalau kau hanya mengatakan ‘Apapun boleh’ padaku, aku juga bingung apa yang harus kulakukan.”
“……………”
“Jadi…………itu, aku akan berusaha supaya bisa menyampaikan rasa suka ini, Mashiro juga berusahalah bersamaku.”
“…………….”
“Ah, tidak, bukan berusaha juga.”
Setelah mengatakannya, Sorata mengatakannya karena merasa ada sesuatu yang kurang.
“Tidak, akan berusaha.”
“Huh?”
“ Cukup ‘berusaha’ saja, akhirnya bisa mengusahakan ini bersamamu.”
Mashiro dengan lembut tersenyum. Ia menaruh kedua tangannya didepan dadanya, itu adalah senyuman yang terlihat sanga bahagia.
Dengan tidak sadar hati Sorata tergerak.
“Ti-tidak peduli apa yang dilakukan, sa-saat untuk melakukannya juga sangat penting, saat seperti itu!”
Mashiro hanya mendengar Sorata dengan diam, dan hanya menatap lurus ke Sorata.
Matanya yang indah itu, terus menarik Sorata.
“…………….”
“…………….”
Antara kedua orang itu, terus diam. Dalam matanya tampak semangat.
Apapun itu yang paling penting adalah saatnya.
Kalau begitu, bagaimana dengan saat ini.
Mashiro menatap ke Sorata, dan dengan perlahan menutup matanya.
Sorata yang sekarang bukan lagi Sorata yang tidak paham semuanya. Disaat seperti ini, jawabannya sudah jelas.
Sekaranglah saat itu.
Tangan Sorata memegang pundak Mashiro, Mashiro bergetar sekali. Sorata tidak takut dengan ini, dan dengan perlahan mendorong Mashiro jatuh, mencium bibir Mashiro. Dengan begitu, kedua orang itu akan melakukannya diatas kasur yang berantakan dengan baju.
Mashiro berbaring diatas kasur, dan menatap ke arah Sorata dengan mata yang sedikit basah. Jantung mereka berdua berdetak dengan keras.
Mashiro sangat cantik, sangat indah, sosoknya yang indah itu membuat jatuh cinta. Karena begitulah, Sorata ingin memeluk Mashiro didalam pelukannya, dengan erat.
“Mashiro……….”
“………hn.”
Mashiro mengulurkan tangannya, kedua tangannya mengelilingi leher Sorata.
Kedua orang itu berciuman lagi. saat ini, terdengar suara dari bawah.
“!?”
Kedua tubuh orang itu sedikit bergetar.
Seseorang pulang.
Suara langkah kakinya semakin mendekati kamar.
“Hoi, dengarkan aku Sorata!”
Rita berdiri didepan pintu kamar yang terbuka. Lalu Sorata dan Mashiro, masih saling memeluk diatas kasur.
“Sepertinya kalian sedang seru-serunya, aku kabur dulu.”
“Ah~tu-tunggu! Tidak perlu kabur!”
Sorata segera loncat dari kasur, Mashiro juga ikut bangun.
Setelah beberapa saat, Ryuunosuke juga kemari.
Ekspresi Ryuunosuke terlihat senang, tampaknya ia sudah berbicara dengan Takumi dan Maya.
“E-eh ya, bagaimana dengan kalian?”
Pokoknya Sorata memaksakan diri untuk membuka topik dengan Rita dan Ryuunosuke. ‘bagaimana dengan kalian’ itu tentu maksudnya adalah pernyataan perasaan Rita.
“Sorata, dengarkan aku!”
Rita yang masuk ke dalam kamar itu terlihat sangat marah.
“Ryuunosuke ya, dia bilang padaku ‘aku benci dengan perempuan' dan menolakku? Apa kau percaya?”
“Begitukah?”
Sorata kemudian bertanya ke orang itu.
Ryuunosuke menganggukkan kepalanya seperti biasanya.
“Biasanya kalau menyatakan perasaan disituasi seperti itu bukannya OK?”
Bagaimanapun Rita terlihat tidak menerima semua ini.
“Ah, benar………”
Saat itu, suasana antara Rita dan Ryuunosuke sedang baik baiknya. Bahkan Sorata berpikir mereka akan jadian dengan begitu………
“Aku tidak akan ditarik oleh situasi. Didalam hatiku selalu tenang dan memikirkan keputusan yang tepat.”
“Omong-omong, bukannya harusnya setelah berbaikan dengan perempuan yang bernama Ikejiri Maya itu, penyakit trauma dengan perempuanmu itu akan sembuh?”
“Itu tidak ada hubungannya antara aku benci perempuan dengan dia.”
Setelah mengatakannya, Ryuunosuke bilang ingin membuat program, lalu kembali ke kamar no.102. awalnya kira Maya lah alasannya, sepertinya tidak……….
Rita juga dengan panik mengikutinya.
“Tunggu, Ryuunosuke!”
Tapi, dengan segera, Rita menahan pintu kamarnya.
“Maaf mengganggu, silahkan lanjutkan.”
Lalu, menutup pintu kamar Sorata.
“……………..”
“……………..”
Kedua orang itu terdiam, Mashiro kemudian merapikan pakaian yang berantakan.
“Itu, Mashiro-san?”
“Apa?”
“Kelanjutannya?”
“Tidak boleh.”
“Itu……..”
Tombol didalam hati Sorata sudah diaktifkan. Kalau tiba-tiba berhenti sekarang rasanya tidak nyaman, seperti hidup enggan mati tak mau.
“Hari ini tidak boleh lagi.”
Mashiro dengan malu memindahkan pandangannya.
“Kenapa?”
“Karena kita memerlukan ‘saat’nya.”
“Huft.”
Sroata dengan kecewa menghela napas.
“Sorata H.”
“Yang membuatku menjadi seperti itu, adalah Mashiro!”
Mashiro dengan sedikti senang melihat ke Sorata yang berbicara jujur, hanya hari ini tidak boleh berlalu begitu saja.
“Cukup, Mashiro, ayo kita keluar kencan.”
Kalau begitu, mereka hanya bisa memulainya dari awal untuk membuat suasana seperti tadi lagi.
Sorata sudah memutuskannya didalam hati. Hari ini, walaupun telat dengan waktu yang dijanjikan, tapi Sorata dan Mashiro tetap keluar untuk kencan.
Setelah beberapa hari, tercatat di rekor pertemuan Sakurasou.
---Sepertinya perlu membuat nasi kacang merah~ -Mitaka Misaki