PROGRESSOR (07:35)
(Translater : DarksLight21; Editor : Hamdi)

Kilatan cahaya menyilaukan memancar dari bagian bawah kota dan serta merta menembus ‘Pilar Surga’, sampai ke langit.
Karasawa melihat peristiwa itu dari atap markas besar partai pemerintah, dia mengelus dagunya dengan terkejut.
“–Woah, aku tidak sempat…”
Dia mencuri beberapa data dari terminal milik partai penguasa, lalu dari catatan tersebut, dia memastikan suatu fakta.
Dan tepat ketika dia hampir menghubungi Marie dan yang lainnya untuk melaporkan hal ini–peristiwa ini terjadi.
“Wah sial…komisiku sebagai konsultan jadi tidak bernilai sekarang.”
Aku adalah orang yang tidak akan bekerja tanpa dibayar–dengan ekspresi pahit, Karasawa memegang terminal di tangannya.
Punggungnya bersandar ke pagar besi yang ada di atap tersebut, lalu dia menghela napasnya dalam-dalam.
–Harusnya aku menyadari hal ini.
Berdasarkan laporan Profesor Marie, orang-orang itu memindahkan sebuah unit Initial-Y secara ilegal’.
Orang-orang itu adalah peneliti teknologi elektromagnetik, jadi kenapa mereka tidak menggunakan teknologi itu di senjata mereka? Harusnya aku menyadarinya.
Selain itu, laporan ini–
“Terlalu beresiko kalau aku menangani intel ini sendirian…”
‘Militer’ Shiga, catatan komunikasi mata-mata di pemerintah–catatan tersebut sengaja di enkripsi, tapi dia menghabiskan sekitar satu jam untuk mendekripnya, yang membuatnya harus memuji dirinya sendiri. Tapi…
Di titik ini, dia mungkin lebih memilih untuk tidak mengetahuinya.
“Tidak peduli apakah coup d’etat berhasil atau tidak, ‘dalang’ dibalik mereka memiliki tujuan yang sama–membuat ‘Lingkar Ibukota’ ambruk–sekarang apa yang harus kulakukan ya…”
Tepat ketika Karasawa berkeringat dingin serta bergumam pada dirinya sendiri–
“–…”
Dia meluruskan punggungnya tanpa mengeluarkan kata-kata apapun.
Dia tidak merasa kaget.
Dia memprediksi kalau kejadiannya akan berakhir begini ketika dia mendapat intel ini.
Dia ingin memberitahu Marie sebelum hal ini terjadi–tetapi, orang yang sudah menolongnya, Profesor Marie…
“Mereka langsung muncul ya…duh, sebagai penjahat, mereka begitu ahli. Dasar.”
Karasawa berkata begitu, lalu menghela napasnya.
Dia melihat ke samping.
Dia melihat seorang manusia–bukan, seseorang muncul di atap.
Musuh sedang berada dalam mode stealth, tapi mereka bisa dilihat jika orang memusatkan perhatiannya. Ada sesuatu seperti uap disana.
–Kamuflase optis.
“Dengan ukuran yang bisa digunakan pribadi…? Hei hei, aku bisa menarik kesimpilan sebagai seorang konsultan kalau ‘5 Perusahaan’ pun belum berhasil mengembangkan hal itu dengan sukses, lho?”
Mata dan bibir Karasawa tampak tersenyum seraya memiringkan kepalanya dengan bingung.
Lalu dia menaikkan volume suaranya dengan tulus dan berkata,
“Maukah kau memberitahuku? –seberapa banyak bayaranmu?”
Tumpukan uap itu tidak menjawab.
Sudah kuduga, Karasawa tersenyum kecut.
Orang-orang itu bukanlah tipe orang yang suka bermain-main dan berkata ‘ada kata-kata terakhit’, apa yang sudah kau dapatkan’, atau ‘berdoalah’.
Jika mereka sama seperti yang dikatakan intel yang dia dapatkan, mereka tahu kalau Karasawa tidak punya kata-kata terakhir, tahu apa yang sudah dia dapatkan, dan tahu kalau dia itu seorang ateis.
Di hadapan niat membunuh yang semakin mendekat ini, Karasawa perlahan membuka kancing di kerah bajunya.
Dia memundurkan kaki kanannya, lalu memasang kuda-kuda.
“Baiklah, mari kita lakukan pekerjaan masing-masing. Apa kau tahu kalau di negara ini, kau akan dianggap tidak bekerja jika tidak mengerjakan tugas tambahan.”
Hidup buruh–Karasawa menggumam sinis saat menghadapi musuh di hadapannya ini.
Musuhnya mungkin seorang cyborg sungguhan dengan perlengkapan terbaru, dan barangkali juga seorang profesional. Di sisi lain, dia hanyalah seorang konsultan, yang bersenjatakan pistol dan beberapa peralatan lainnya.
–Berapa detik dia bisa bertahan?
Sambil menghela napas dalam-dalam, Karasawa menantang kerja lembur yang melibatkan perkara hidup dan mati ini.

–Apa yang terjadi?
Marie menatap kosong ke arah pemandangan di depannya, dia begitu terkejut sampai-sampai napasnya pun terengah-engah.
–Semuanya menghilang.
Ledakan cahaya yang tiba-tiba itu telah melahap, melelehkan, serta melenyapkan segalanya.
Instalasi Pusat ‘Pilar Surga’ yang terbuat dari bahan yang sangat amat kokoh telah meleleh seperti Amezaiku[1].
Lantainya, dindingnya, bahkan atapnya pun memiliki lubang yang sangat besar.
Cahaya tadi menembus dinding bagian luar, melelehkan lantai, melenyapkan strukturnya lalu keluar dari dinding bagian luar di sisi lainnya.
Cahaya tadi menciptakan lubang ini, dan di saat yang sama meninggalkan kerusakan yang buruk .
Marie jatuh lemas.
Jika dia telat satu detik saja, dia pun akan dilenyapkan oleh cahaya tadi.
Dengan tatapan bergetar, dia melihat ke sekelilingnya, dia melihat Houko di sampingnya, ‘Kura-Kura Hitam’ yang dikendalikan Halter di dinding, serta Vermouth di dekat kaki tubuh raksasa Halter tersebut.
Naoto, yang berada di zona aman bersama RyuZU dan AnchoR tidak terluka sedikitpun.
Automata perawatan di sana tidak kelihatan lagi. Mereka sedang bekerja di bagian pusat sehingga tidak bisa meloloskan diri.
–Tapi paling tidak, tampaknya tidak ada manusia yang terkena ledakan itu.
Setelah memahami hal itu, kebingungan muncul di pikiran Marie.
Dengan suara gemetar, dia menyuarakan kebingungannya,
“–A-apa yang terjadi!?”
Seruan ini menggema ke arah lubang raksasa dan hampa itu sampai gemanya menghilang secara bertahap.
Tidak ada yang menjawab–tidak,
“…Kita dibombardir.”
Hanya Naoto yang menjawab pertanyaannya dengan sebuah gumaman,
“Apa katamu?”
–Aku tidak mengerti, oleh siapa? Dengan apa?  Kenapa?
Pikiran Marie mulai campur aduk tidak karuan, lalu Naoto kembali mengulangi kata-katanya–kali ini dengan suara yang keras.
“Itu serangan ‘meriam utama’ benda besar sialan yang melubangi Akihabara! Kita kena serangan! Kau dengar!?”
Dia mendengar perkataannya, atau setidaknya, Marie bisa memahami apa yang Naoto katakan, tapi–
Marie balas berteriak, dia tampak tercengang,
“–Kenapa!? Kenapa kita dibombardir!? Orang-orang itu ingin melakukan coup d’etat, kan!? Kalau Houko–Keluarga Raja sampai terluka, tujuan mereka akan tidak ada gunanya, kan!? Tidak, yang lebih penting–!”
Marie langsung bangkit dan menggerak-gerakkan lengannya.
“Jika mereka menghancurkan ‘Pilar Surga’, Tokyo, Jepang akan tenggelam kalau situasinya terlalu buruk! Orang-orang itu juga akan…!”
Ini bukan lagi coup d’etat.
Ini hanyalah serangan teroris biasa–bukan, ini adalah ‘aksi teroris bunuh diri’, serangan yang paling buruk.
Ini berbeda dari premis awalnya, berbeda dari sebelumnya. Marie tidak bisa mengerti arti dari tindakan ini–
Tetapi, tampaknya Naoto pun tidak bisa menjelaskan kebingungannya, ketika angin bertiup dari lubang raksasa tersebut, menyelimuti orang-orang di dalamnya–di momen itu…

“–Menyemprotkan uap bisa memperlemah kekuatan terarah gelombang mikro. Tindakan pencegahan yang sangat cocok itu membuatku kesal. Tapi, aku ingin tahu, bagaimana caranya kau tahu kalau meriam utama ini adalah ‘Meriam Mega Gelombang Mikro’?”

Suara berat dan bertekad seorang pria menggema di lantai tersebut.
Darimana
–Darimana datangnya suara itu?
Suara itu tidak datang dari sebuah pengeras suara, maupun didengar langsung.
Melihat ke sekelilingnya, mencoba untuk menjawab kebingungannya sendiri. Lalu, dia menyadarinya,
Seluruh lantai di sana sedang beresonansi, menyebarluaskan suara tersebut.
Sebelum siapapun bisa bereaksi, suara itu melanjutkan kata-katanya dengan tenang,
“Kurasa kau masih hidup, kan? ‘Y’–, bukan, aku ingat, nak Naoto Miura.”
Semua orang, selain RyuZU, mengalihkan pandangan mereka kepada Naoto.
Dua orang yang mengenali suara tersebut–Naoto dan RyuZU, menatap keluar dari lubang yang ada di lantai.
Disana ada sebuah senjata raksasa, yang kelihatan seperti titik kecil di Grid Akihabara.
“–Suara ini…pak tua yang waktu itu…!?”
Naoto bergumam, lalu Marie melompat dan berseru,
“Naoto! Ada apa? Jelaskan! apa itu meriam mega gelombang mikro!? Suara siapa itu?”
Tapi Naoto tidak bisa menjawab. Dia tidak menjawab.
“Gimana aku bisa tahu!? Mikro–apaan!?”
“–ketika kami jatuh ke ruang bawah tanah yang dalam saat itu, kami bertemu dengan seorang pria tua yang mengira dirinya seorang pecundang dalam kehidupannya. Saya rasa suara itu miliknya–tapi pertanyaannya. Kenapa kami mendengar suara menyebalkan itu lagi?”
RyuZU bergumam sambil mengingat kembali, dia terlihat bingung.
“…Tidak, karena itu kau, kurasa kau membloknya ‘tanpa sadar’. Dulu pernah ada sebuah alat yang diberi nama microwave, dan senjata ini menggunakan teori di balik alat terebut–suara ini juga menggunakan dinding untuk beresonansi menggunakan kekuatan gelombang elektromagnetik. Aku minta maaf telah mengoceh sendiri.”
Suara robotik tersebut terus mengabaikan kumpulan manusia yang terhenyak tersebut, lalu dia berkata,
“Oh iya, aku belum memperkenalkan diri–namaku Gennai Hirayama, pemimpin coup d’etat ini. Nah, kalian pasti berpikir, kenapa menyerang ‘Pilar Surga’?”
“Gennai…Hirayama…”
Marie mengingat nama itu baik-baik dan mengangguk.
Ya, biarpun dia melakukan hal itu, itu hanya akan menuntun mereka ke jalur penghancuran diri…
“Aku akan bicara singkat. Sejujurnya, mengenai coup d’etat ini…hasilnya tidak kupedulikan. Tapi anak buahku yang dieksekusi sangat marah atas ketidakadilan ini.”
–Tidak peduli?
Tidak, yang lebih penting. Ada apa dengan ‘dieksekusi’ yang dia bicarakan?
Sementara rasa bingung yang baru muncul di pikiran Marie, pemilik suara tersebut–Gennai, melanjutkan perkataannya,
“–Kami ingin menunjukkan kepada dunia yang berpikiran sempit ini, yang hanya mengenali teknologi gir, hasil dari penelitian kami–seberapa hebatnya teknologi elektromagnetik ini. Setelah itu, kami akan mengoreksi pemerintah yang sudah membuang kami seperti sampah. Itulah tujuan dari misi kami ini, tapi…”
Gennai berhenti sejenak, lalu meneruskan kata-katanya,
“Aku tahu kalau misi ini akan gagal.”
“–!”
“Atau lebih tepatnya, aku akan bilang kalau premisnya tidak ada. Dunia sudah mengakui seberapa hebatnya daya elektromagnetis itu. Memangnya ada negara yang mau membuang teknologi bermanfaat seperti ini dan mematuhi Traktat Internasional. Kau tidak akan mempercayainya, kan?”
Itu memang benar. Pikir Marie.
Jepang, yang lemah dalam hubungan diplomatik, telah meneliti teknologi elektromagnetik.
Siapapun bisa menemukan satu atau dua laboratorium penelitian rahasia di negara manapun, jika mereka mau mencarinya…
“Selanjutnya, untuk melumpuhkan pemerintah–itu adalah tujuan yang gampang kami capai, tapi ketika senjata elektromagnetik kami terungkap, apa yang akan menunggu kami hanyalah perang dunia.”
Ya, negara-negara lain tidak akan mengabaikan ancaman yang nyata seperti itu.
Mereka akan mencoba untuk menyingkirkan acaman itu dengan segala cara. Paling tidak, mereka akan mencoba untuk menyusun langkah balasan, biarpun mereka harus menggunakan teknologi elektromagnetik rahasia mereka.
“Yah, anak buahku tampaknya mengira kalau dengan senjata dan teknologi elektromagnetik ini, kami mampu bertempur seimbang dengan negara-negara lain. Semangat anak muda memang menakutkan. Aku yang dulu tidak akan mengizinkan diriku bergaul dengan anak buahku, jadi aku lari ke bawah tanah dan terus hidup–tetapi…”
Nada bicaranya berubah,
“Disana, aku sadar–jauh melebihi struktur kota ini, yang lebih penting dari hilangnya nyawa manusia–adalah makhluk arogan ini. Aku sadar kalau dunia ini sudah melenceng!”
Suara berat dan nyaring itu terdengar kesal untuk pertama kalinya,

“–Aku akan langsung saja. Naoto Miura–tidak, ‘Y’.”

Naoto mengangkat wajahnya.
Mata kelabu yang berisi niat yang tidak bisa dijelaskan itu menatap ke ruang kosong.
“–Kau telah mengubah dunia ini dengan arogan, menolak semua langkah yang telah dibuat umat manusia di masa lalu, bersikeras bahwa pandanganmu adalah hal yang benar, serta membengkokkan dunia ini–kalau begitu, aku akan menanyaimu lagi.”
Marie tidak bisa memahami apa yang sedang Gennai katakan.
Tapi dia bisa merasakan kemarahan dan kebencian mendalam dari suara tersbut–serta pandangan tersembunyinya.
“–Hentikan aku kalau bisa. Kalau kau bisa, kau bukanlah manusia. Kalau kau tidak bisa, kau akan menyesal telah membengkokkan dunia ini dengan kekurangajaran dan kesombonganmu itu, lalu tenggelamlah ke dasar neraka. Kau akan tahu keinginan kami manusia biasa–dasar monster.”

–kesunyian pun menyelimuti mereka.
Suara itu menghilang.
Sementara orang lain ternganga, orang yang pertama memecah kesunyian adalah Halter, dia memiringkan kepala ‘Kura-Kura Hitam’ yang keras itu dan berkata,
“–Jadi, Naoto, lawakan macam apa ini?”
Vermouth lalu angkat bicara,
“Hei, nak. Ha-hal buruk macam apa yang kau katakan sampai dia marah-marah begitu? Beritahu aku buat referensi di masa depan?”
Semenatara Naoto, yang sedang ditanyai, tampak bingung, dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Ah, entahlah…? Aku cuma menjawab apa yang dia katakan…apa aku bicara hal yang aneh saat itu, RyuZU?”
“Tidak, Master Naoto, anda hanya menyebutkan logika yang sederhana saja. Masalahnya disini adalah, kenapa orang itu mengamuk…apa karena dia sudah pikun?”
Situasi saat ini yang sangat gawat, ditambah dengan suasana yang agak santai ini, membuat Marie menaikkan volume suaranya dan berseru,
“Jadi Asia akan tenggelam karena kepikunan seseorang–!? Kau pasti bercanda! Ngomong-ngomong, Naoto!”
Marie menunjuk ke arah Naoto dengan keras,
“Kau tidak berhak memanggilku gadis pemarah!? Kau baru saja membuat seseorang begitu marah sampai seperti itu!?”
“TIdak, yah, biarpun kau bilang begitu, mustahil aku bisa tahu kalau pria tua aneh itu orang yang pemarah! Orang itu sih bisa dibilang sudah setengah gila.”
“…? Papa, apa yang dikatakan pria tua itu?”
“Eh, AnchoR, tidak apa-apa kalau kamu tidak mengerti~ kurasa orang lain pun tidak ada yang mengerti…”
Naoto tampak lesu saat dia berkata begitu.
Di momen itu, Marie mendadak merasakan hawa dingin menghampiri tubuhnya.
–Apa aku berpikir terlalu banyak?
Senyuman kosong itu, terasa seperti ada sesuatu yang tidak bisa dia dapatkan kembali…
“P-pokoknya, ayo kita diskusi dulu!!”
Marie membuang rasa takutnya serta mencoba menjernihkan pikirannya,
“Naoto, berapa lama lagi benda raksasa itu bisa menembak sekali lagi?”
“…Aku tidak tahu. Tapi saat benda itu menembak…energinya mungkin terisi sekitar 80%. Saat ini…energinya sekitar 30, mungkin? Yah, aku tidak tahu struktur aktual benda itu, tapi kurasa benda itu perlu mengisi energi kembali sampai 80% sebelum bisa menembak lagi, atau mungkin cuma 50%!? Toh aku tidak punya bukti apapun!”
“…Tidak masalah. Kita pikirkan saja skenario terburuknya. Dengan asumsi benda itu bisa menembak lagi saat energinya 50%–berapa lama waktu yang kita punya?”
Marie bertanya, dan Naoto menangkupkan kepalanya,
“…Kubilang aku tidak tahu. Kupikir rasanya aneh senjata itu bisa mengisi kembali sampai ke 80% saat itu. Sudah kubilang kalau senjata itu butuh 66 jam untuk pengisian kembali! Sekitar 46 jam sudah lewat sejak saat itu, dan harusnya masih ada sekitar satu hari lagi! Tapi itu di luar–”
Marie mencengkram kerah baju Naoto.
Mata zamrud yang menyala itu melotot ke arah mata kelabu Naoto.
“Saat ini, satu-satunya hal yang bisa kita andalkan hanyalah telinga dan instingmu! Jawab pertanyaanku dengan instingmu! Berapa lama lagi tembakan selanjutnya siap, katakan waktu paling cepatnya!”
“–72 menit. ‘Tidak’–lebih cepat dari itu.”
Simpul Naoto.
Kemudian, Marie berpikir,
Karena orang ini berkata begitu, maka tidak salah lagi. Tanpa petunjuk lainnya, kita akan gunakan kata-katanya sebagai garis awal–72 menit. Sudah diputuskan. Sudah  pasti.
Waktunya jelas tidak banyak.
Dalam situasi ini, tidak ada perbedaan besar antara tujuh menit dan tujuh detik.
Hirup napas dalam-dalam, lalu atur segalanya satu demi satu–
Marie menoleh ke arah Halter–kepala yang ada di ‘Kura-Kura Hitam’, lalu dia bertanya,
“–Halter, kau pikir berapa lama lagi ‘militer’ akan berhenti menonton dan menerjunkan pasukan untuk menundukkan mereka?”
“…Kalau kau mau tahu; mereka akan menyerang kapan saja saat ini. Tidak ada hal yang bisa jadi jaminan keselamatan Tuan Putri.
“Argh, dasar! Semua orang cuma jago merepotkan orang lain saja, ya!?”
Marie menginjak-injak lantai.
Namun, Houko melangkah maju, dan mengeluarkan pendapat berbeda,
“Tidak, saya rasa mereka membutuhkan waktu sekitar 40 menit… keajaiban seperti apapun yang bisa terjadi saat ini, itulah waktu yang diperlukan oleh ‘militer’.”
Eh–semua orang disana menoleh ke arah Houko.
Lalu dengan tatapan semua orang yang terfokus pada dirinya, Houko melanjutkan kata-katanya,
“–Saat senjata itu muncul, Angkatan Pertahanan Ibukota ditumpas habis. Setelah itu, total ada 8 kasus konflik internal berbeda di Tokyo karena kelumpuhan pemerintahan, lalu dengan adanya pemberontakan, angkatan militer kesatu sampai keempat dikerahkan untuk memadamkan pemberontakan atas permintaan polisi dan mereka masih dalam mode pertempuran. Pasukan pemberontak utama mengepung Istana dalam 2 formasi raksasa, tapi kalian menumpas mereka semua, kan?”
Lalu–
“Singkatnya, saat ini, ‘militer’ Tokyo kehilangan kemampuan tempurnya, dan berada dalam kekacauan komando. Dengan asumsi bahwa baik ‘militer’ sekutu dan musuh dikerahkan karena serangan teroris kalian, sekarang mereka harus mengumpulkan kembali pasukan mereka, menyususn strategi, menentukan struktur komando, dan jika diperlukan, meminta bala bantuan–meskipun ada orang dengan kemampuan, kemauan dan wewenang seperti itu, jika saya harus membuat perkiraan berdasarkan waktu yang sudah lewat–saya rasa batasnya adalah 40 menit. Tetapi–”
Houko tersenyum lembut,
“Kalau orang seperti itu memang ada, kurasa situasinya tidak akan berakhir seperti ini.”
Marie tampak tidak repot-repot menyembunyikan keterkejutannya saat dia menatap Houko.
“–Kamu adalah orang yang tidak punya wewenang politik, kan?”
“Tentu saja. Saya ini seorang wanita yang terlahir di Keluarga Raja lho.”
Houko tersenyum malu-malu kucing.
Sayang sekali. Pikir Marie.
Houko mampu memamerkan kemampuan dan kemauan untuk membuat analisis seperti itu dalam situasi seperti ini. Kalau saja dia terlahir di era yang berbeda, atau barangkali, dia tidak terlahir dari Keluarga Raja, dia mungkin adalah orang yang mampu memimpin negeri ini.
“–Oke, kalau begitu, kita lanjutkan dengan petimbangan itu.”
Marie membuang apa yang dia pikirkan tadi dalam sekejap, lalu dia berujar.
“Paling tidak, kita tidak perlu menunggu 40 menit sampai mereka menyerang. Kita tinggal menurunkan dinding partisinya; Halter dan Vermouth saja sudah cukup untuk menghalau JSDF. Selanjutnya…”
Masalah terbesarnya.
Dan karena hal ini, Marie merasa bimbang apakah dia harus menyentuk topik gawat ini.
“…Jadi dalam 72 menit sampai meriam utama senjata itu siap menembak–bagaimana cara kita menghubungkan kabel-kabel yang terputus dan menghancurkan benda raksasa itu…kurasa?”
Tembakan sebelumnya telah melenyapkan seluruh bagian yang hampir terhubung.
Itu artinya mereka harus mengulangi semuanya. Yang paling buruk adalah–
“Kita kekurangan 18 orang…haha.”
–Marie hanya bisa tertawa.
Sebelumnya ada 18 automata yang dikendalikan oleh para Meister yang hebat, lalu bersama dengan Marie dan Conrad, yang bersinkronisasi dengan Vermouth–pekerjaan 20 orang yang setidaknya menghabiskan satu jam harus dituntaskan lagi oleh 2 orang setelah kehancuran yang besar tadi.
–Mustahil. Harusnya ada batasan seberapa buruk situasi saat ini.
Tidak peduli bagaimanapun dia menyusun rencana di pikirannya, Marie tidak bisa memunculkan sebuah strategi untung ‘menang’.
Tapi…dia tidak punya waktu untuk merasa bimbang.
Dan bersama dengan angin yang berhembus di lantai yang berlubang ini, Marie bertanya,
“–Naoto, ayo kita hubungkan kabel-kabelnya lagi! Analisis strukturnya lag–”
“Hei Marie, apa kau bicara apa yang sedang kau katakan saat ini?”
Naoto hanya tertawa kosong dan berkata,

“–Bagaimana caranya aku mendengarkan suara gir yang sudah lenyap?”

Marie terkesiap.
Pemuda mungil itu tersenyum hampa seraya berkata begitu.
Orang bisa merasa kalau itu adalah pernyataan datangnya hari kiamat dari Dewa–apa yang disebut ‘akhir’.

Apa yang tersisa di sana hanyalah dengungan aneh struktur ‘Pilar Surga’, angin yang berhembus–serta…
Bunyi jarum jam yang berdetik memenuhi lantai tersebut–bunyi yang menandakan waktu yang berharga.
Tidak ada orang yang tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka semua hanya terdiam disana.
Marie sendiri juga terkulai disana, sambil menatap jam tersebut.
4 menit telah berlalu.
–10% dari batas minimum yang mereka miliki telah berlalu tanpa arti.
Tiba-tiba, Marie mendapat suatu ide, lalu dia menggumam,
“…Sekarang tidak terlalu terlambat. Ada cara untuk mengevakuasi orang-orang?”
“Saya rasa tidak ada.”
Houko, yang duduk di sampingnya, langsung menjawab.
“Tidak ada orang di pusat komando yang mampu meminta orang-orang untuk evakuasi. Orang-orang yang bereaksi dengan cepat pasti telah melakukannya dari dulu…pertanyaannya adalah apakah mereka bisa diselamatkan.”
“…Kayaknya sih begitu. Aku tahu itu.”
Tapi mau tidak mau aku harus bertanya– Marie menghela napasnya.
Naoto, tepat di depan Marie, berkata,
“RyuZU, AnchoR, kalian bisa evakuasi duluan, kan?”
“Mustahil. Hamba sudah bilang sebelumnya, Master Naoto, kalau bagi hamba, tidak ada pilihan bagi hamba untuk meninggalkan anda. Kalau anda lupa, hamba akan bilang kalau ingatan jangka pendek anda punya masalah serius.”
“AnchoR…juga tidak mau…!”
RyuZU menjawab tanpa keraguan sedikitpun, sementara AnchoR memegangi Naoto dengan erat, dia tidak mau berpisah dengan Naoto.
Hal pentingnya adalah kita tidak bisa meloloskan diri sekarang– pikir Marie.
Gennai Hirayama menembakkan meriam itu, dengan niat untuk memusnahkan ‘Pilar Surga’.
Kerusakan akibat tembakan meriam yang pertama sedikit diminimalisir sampai ‘sejauh ini’ berkat insting Naoto–tapi dengan banyaknya suku cadang yang hancur, mereka tidak bisa memanipulasi cuaca, apalagi menghubungkan kabel-kabelnya. Mustahil mereka bisa memblok tembakan selanjutnya.
Apa yang akan terjadi nanti?
‘Pilar Surga’–jika menara ini, yang cocok dengan namanya itu patah dan ambruk, akan ada kehancuran yang luas.
Setelahnya, Lingkar Ibukota akan sepenuhnya berhenti berfungsi dan jatuh terjerembab ke dasar planet.
Setelah Multi Grid Tokyo ambruk, seluruh Jepang, keseluruhan Aisa Timur, dan cepat atau lambat, ‘Clockwork Planet’ ini akan mengalami kerusakan fatal.
Kemana pun mereka lari, mereka pasti tidak akan bisa meloloskan diri.
Adapun dengan tindakan balasan yang bisa mereka lakukan…mereka tidak punya satupun meski Marie sudah memikirkannya selama sekian kali.
Mata Marie tampak murung, ujung jarinya yang menyentuh bibirnya pun gemetar, dan terasa kering kerontang. Dia merasakan rasa waswas yang mengerikan dan diikuti dengan rasa takut yang membuat pelipisnya mati rasa. Keadaannya saat itu adalah…
Marie menyadarinya.
–Aku sedang putus asa.
Hal itu tidak bermula dari titik ini.
Ketika dia pertama kali merasakan gelombang kejut dua hari yang lalu–kekuatan yang menghancurkan dunia itu, Marie putus asa.
Memang, saat itu, jantung Marie berhenti berdetak bersama dengan teknologi mesin jam yang hancur akibat EMP–itulah yang dia pahami.

–Aku sudah menyerah dari dulu. Aku hanya menggunakan ‘sihir’ itu sebagai harapan terakhirku.

Dengan hati yang telah lama mati, Marie bertanya dengan penuh harap,
“–Naoto, apa AnchoR dan RyuZU benar-benar tidak mampu menghancurkan senjata itu?”
Naoto menjawab dengan suara lemah.
“‘Mereka mungkin bisa, tapi mereka pasti akan rusak parah–aku lebih memilih seluruh Asia, atau malah lebih baik dunia tenggelam daripada membiarkan itu terjadi–cuma itu.”
Naoto menggaruk-garuk kepalanya, dia memasang raut muka yang belum pernah kelihatan sebelumnya, lalu menggigit kukunya.
–Jadi dia mengerti, pikir Marie.
Kalau terus begini, hanya masalah waktu saja sebelum semua orang akan ikut jatuh dan terkubur bersama mereka.
Meskipun begitu, Naoto tidak bisa memberikan perintah tersebut.
Kedua belah pihak sama-sama tidak mau mengalah. Keduanya sama-sama tidak mau membantu.
…Tentu saja begitu.
Karena Naoto hanyalah seorang manusia biasa yang akan merasa frustasi, bimbang serta melakukan kesalahan.
Tentu saja tidak ada ‘sihir’ yang bisa mengabulkan segala keinginan.
Setelah memahami kebenaran yang dapat dengan mudah dimengerti itu pada saat seperti ini, Marie menundukkan kepalanya.
Dia tidak bisa melihat itu.
Di momen tersebut–
“…Papa.”
AnchoR tiba-tiba berdiri, lalu berkata,
“…Tolong, beri saya perintah–”
Naoto mengangkat wajahnya, mukanya tampak suram, lalu dia langsung menggelengkan kepalanya,
“–Tidak. Tidak mau! Tolong, jangan membuatku mengulangi kata-kata tadi…AnchoR.”
“Tapi…kalau terus begini…”
“Ya, aku tahu, aku tahu! Jadi AnchoR, tolong–gunakan itu buat pilihan terakhir. Aku akan pikirkan sesuatu. Aku akan memecahkan–”
Naoto memohon berulang-ulang kali.
Tapi Marie tiba-tiba menyadari suatu perubahan kecil.
Sekujur tubuh AnchoR gemetar, dia melangkah mundur.
AnchoR tidak mengangguk, melainkan hanya menatap Naoto, lalu bicara dengan sungguh-sungguh,
“…Saya tidak mau.”
“Eh?”
Naoto mengangkat kepalanya, sebaliknya, AnchoR menundukkan kepalanya.
“Maaf…papa…Saya tidak bisa mematuhi…perintah itu.”
“AnchoR…?”
Naoto bergumam, dia tampak tercengang.
Sesaat kemudian, terasa sebuah guncangan.
AnchoR menghancurkan suasana disana dengan melompat keluar, melakukan gerakan putaran. Dia melompat ke lubang raksasa di lantai, bergerak langsung–ke arah senjata raksasa di ujung sana.
“AnchoR!!!”
Meskipun AnchoR mendengar permohonan untuk berhenti, figur berbabaju merah putih itu semakin mengecil dalam sekejap.
Naoto menoleh ke arah RyuZU dengan panik, seraya berseru,
“RyuZU! Bawa dia kembali sekarang!”
“…Saya sendirian tidak akan cukup untuk menghentikan AnchoR saat anak itu mulai mengambil tindakan.”
“Kalau begitu…!”
Naoto menggaruk kepalanya dengan rasa menyesal, dia mengerang serta mengayun-ayunkan lengannya, kemudian bicara pada RyuZU,
“Kalau begitu, sampaikan pesannya pada dia! Tunggu 46 menit lagi! Tolong, aku akan kesana sebelum waktunya habis!”
“–Dimengerti.”
RyuZU membungkuk dengan anggun. Lalu dengan keliman rok yang sedikit berputar, RyuZU hampir akan mengejar adiknya, tapi dia berhenti dan membalikkan badannya,
“Master Marie, anda keberatan jika saya bicara beberapa patah kata?”
“…P-padaku?”
Marie tampak sedikit terhenyak, dia tidak bisa berkata-kata.
RyuZU memang bukan sosok yang akan berinisiatif untuk mengajak orang lain bicara.
“Saya telah memutuskan untuk mempertimbangkan nasihat yang diberikan oleh Tuan Putri. Saya sungguh percaya kalau ini sia-sia, hanya sebuah harapan suram, tapi saya mau mengakui kalau meskipun saya ini adalah ‘pelayan’ yang sempurna, saya ini masih belum komplit juga tidak maha kuasa–karena kepribadian saya adalah yang paling pendiam diantara para saudari.”
“…Erm, kayaknya sih begitu.”
Bukannya kaulah yang paling sombong diantara mereka? Marie bertanya-tanya seraya mengangguk-angguk.
RyuZU duduk dengan sopan seraya berkata,
“Master Marie, saya akan berkata kalau Master Naoto selalu melihat ke arah ‘batas’ dari pikiran anda yang menyedihkan itu. Teori itu, jika didefinisikan dengan sedikit ekstrim, hanyalah artikel yang kelihatan mewah dan dibagikan kepada orang lain lalu dimodifikasi kan semaunya. Kebenaran itu tidak universal, dan juga tidak tetap, maupun terbiaskan. Oleh karena itu, meskipun ini menyedihkan, kenyataan kalau saya benar-benar sulit untuk setuju dengan–”
RyuZU berhenti sejenak, mata topasnya menatap Marie.
Dia lalu berujar,
“…Anda memang benar. Sama seperti Master Naoto. Di saat yang sama, anda salah.
“Benar…dan salah…?”
Marie tampak kebingungan saat dia mengulangi apa yang RyuZU ucapkan.
…Aku tidak mengerti arti kata-kata itu.
Tetapi, Marie menerima kata-kata itu dengan sepenuh hati. Dia harusnya berhenti berpikir, tapi dia tergerak oleh sesuatu.
–Sesuatu itu adalah, sejak awal, siapa sebenarnya yang salah?
RyuZU membungkuk dengan wajah acuh tak acuh.
“Lakukanlah yang terbaik dan renungkanlah dengan isi kepala anda yang tidak memadai itu, Master Marie. Kalau begitu, saya akan undur diri–permisi.”
RyuZU lalu membalikkan tubuhnya dengan anggun serta melompat ke lubang raksasa tersebut.
Sementara semua orang yang ada disana tidak bisa bergerak serta tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, hanya Naoto sendiri yang berdiri tanpa bersuara lalu menyatakan sesuatu,
“Ayo pergi, Marie.”
–Apa?
Marie melanjutkan apa yang dipikirkannya meskipun dia tidak begitu paham, lalu dia bergumam dengan tatapan kosong,
“…Tapi apa yang akan kita lakukan?”
“Apa lagi? Ya memikirkan sesuatu.”
“Itulah yang kulakukan, apa yang akan kita lakukan setelahnya!?”
Marie tetap terduduk, tidak bergerak sama sekali seraya berseru kepada Naoto.
“Kau sendiri bilang kan? Kau tidak bisa dengar suara gir-gir yang sudah lenyap, kau tidak bisa melakukan apapun! Kau bilang kalau kau akan memikirkan sesuatu–tapi ‘sihir’ semudah itu tidak ada kan!?”
“Terus kenapa!?”
Raungan Naoto menggema ke seluruh lantai tersebut.
“Jadi apa kita akan menyerah? Apa kau cuma akan menanti datangnya kematian seperti ini!? Oke, kau mau aku mengakuinya!? Akan kulakukan! Aku sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan!”
Kerah baju Marie dicengkram oleh Naoto, akibatnya, Marie merasa kesulitan bernapas.
Mata kelabu yang membara itu melotot balik,
“Tapi, hei! Kalau kau tidak tahu jika aku tidak memberitahumu, akan kubuat kau ingat!”
“…Ingat apa?”
“Wanita macam apa kau ini!”
Ketika mendengar seruan tersebut, bahu Marie langsung berguncang.
Naoto memusatkan tenaganya di tangan yang sedang mencengkram baju Marie, wajahnya berubah karena kesal seraya mengoceh,
“Kau itu–benar-benar arogan, sungguh menyebalkan, selalu berpikir kalau kau ini orang penting, tapi selalu mengoceh tentang impianmu, menangis tiap kali kau gagal, hatimu selembut tahu, selalu memikirkan hal-hal yang sulit, merusak dirimu sendiri dan membebani orang lain, tipe gadis pemarah sialan yang paling buruk…!”
–Marie tanpa sadar memperokeh kembali nada bicaranya yang biasanya saat dia bergumam,
“Kau mau berkelahi?”
“Tapi!!”
Naoto berhenti sejenak.

“Tidak ada yang mustahil–kau itu tipe wanita yang selalu berpikir demikian, kan?”
Marie membelalakkan matanya.
Untuk sekejap, Marie tidak mengerti makna dari kata-kata tersebut.
Tapi sebelum Marie bisa menjawab, Naoto menggelengkan kepalanya dengan tidak sabaran lalu berteriak,
“Argh sialan! Kenapa aku harus mengatakan kata-kata itu sekarang!? Dengar, Marie, aku benar-benar tidak senang akan hal ini, tapi kau itu orang jenius, kan? Kukira aku bisa melakukan suatu hal yang begitu teliti dan tidak bisa dilakukan orang lain, tapi melakukan itu semua adalah bakat yang kau miliki, kan?”
“–”
“Baik itu di Kyoto maupun di Akihabara, sama saja, kan? Tanpa bantuanmu, aku tidak akan bisa memperbaikir AnchoR dan RyuZU tepat waktu, dan juga paman Halter tidak akan ada disini! Kalau aku harus bilang, kita tidak akan bisa pergi dari Akihabara, kan!?”
“–”
Naoto terus mengoceh, karena itu, Marie berhenti berpikir.
Marie mengejapkan matanya, sementara Naoto terus berseru dengan liar..
“–Beritahu aku, Marie! Dengan otak, keterampilan, dan bakat hebat milikmu itu–kenapa kau selalu mudah menyerah dan bilang kalau kau tidak bisa melakukannya!?”
Hal yang tidak bisa dia jelaskan adalah apa yang Marie rasakan dari kata-kata tersebut–perasaan iri dan cemburu.
“Kalau kau tidak mau menggunakannya, berikan padaku! Berikan bakatmu itu padaku saja, oke!?”
Kata-kata bukan kepalang itu memasuki telinga Marie.
–Bakat, bakat kau bilang?
Orang ini punya bakat yang tidak bisa ditiru siapapun…bakat asli seperti sihir, anugrah dari dewa, tapi dia memohon-mohon ingin bakatku…?
–Oleh karena itu, Marie mengayunkan tinju tangan kanannya sebagai bukti.

“Aw!?”
Pak–! Dengan suara yang begitu melegakan, pipi kiri Naoto berputar ke samping.
Sementara putarannya mencapai batas, kali ini Marie mengayunkan tangan kirinya.
Pak–!
…Ahh! Tidak, stop, stop! Aku tidak akan merenung soal ini. Baiklah, selesai sudah. Semuanya sudah bekerja keras!
Ya. Jika semuanya dipikirkan dari awal, rasanya aneh. Konyol.
Kenapa aku yang mulia ini harus mengharapkan si idiot, orang mesum tak jelas, orang gila ini yang punya pandangan yang benar-benar berbeda tentang dunia, dan kenapa aku harus didorong olehnya.
Tidak sama sekali–harusnya kebalikannya, kan?
Semua ini membuatku kesal! Menyebalkan!
Semua hal tentangku dan orang lain selain diriku membuatku kesal!
Argh, dunia ini tinggal makan tinja sana! Semuanya mati saja! Mati sana!!
Pokoknya, semua orang cuma melakukan apa yang mereka inginkan! Kalian semua itu cuma makhluk rendahan sialan. Jangan menimbulkan masalah tanpa izin dariku! Berlututlah! Sujud sana!
–Jadi? Erm, sampai mana tadi?

Marie melepaskan tangannya, melepaskan Naoto dari jepitan tangannya, lalu berpikir.
“–Oh, iya, ya! Akan kuberitahu caranya! Cara–yang bisa memecahkan situasi sialan ini!!”
Pekikan Marie tersebut menarik perhatian dari semua orang yang ada disana.
Itu sederhana. Pikirnya seraya memberitahukan hal itu pada semuanya.
“Dengan kata lain–jika Naoto punya ketrampilanku, kita akan bisa melakukan sesuatu. Kau hanya perlu mendengarkan struktur dari gir-gir yang tersisa, lalu membangun sebuah sirkuit baru. Di sisi lain–aku bisa melakukan hal yang sama jika aku punya insting Naoto, kan? Kalau begitu–”
Marie melanjutkan perkataannya,
“Sederhananya, alasan kenapa kita sedang ‘diskakmat’ dalam situasi sialan seperti ini–adalah karena satu hal yang sama. Situasi ini tidak bisa dipecahkan selama aku dan kau bekerja terpisah, Naoto.”
Marie menolehkan kepalanya.
Di depannya adalah seorang idiot yang cemberut serta meregangkan sendi-sendinya setelah lepas dari pitingan Marie.
“Karena itu Naoto–waktunya untuk saling memberi dan menerima.”
Setelah berkata begitu, Marie merenung sendiri, dia sengaja berhenti berpikir.
–Sejak awal, siapa sebenarnya yang salah?
Apa yang RyuZU katakan menggema di pikirannya.
–Sial. Bagaimanapun aku tidak mau mengakuinya, dan ini benar-benar tidak bisa dipercaya…
Marie pelan-pelan menarik napas, lalu melihat ke sekelilingnya.
Disana ada Houko, Halter, Vermouth, Conrad, yang sedang bersinkronisasi dengan Vermouth, lalu tepat di depan matanya ada Naoto.
Dengan seluruh tatapan orang-orang tersebut terpusat kepadanya, Marie menerangkan,
“–Indramu memang tepat, jadi aku akan mengajarimu cara menggunakan perasaan itu. Di sisi lain, ajari aku perasaan itu…!”

“Menggunakan penuh indra ini…?”
Naoto mengulangi kata-kata itu dengan tidak mengerti, lalu Marie memberitahunya,
“Kau sudah bilang, kan? Berapa kalipun kau mencoba membaca buku teks dan materi pembelajaran, kau tidak mengerti apa maksud dari keduanya. Dengan kata lain, kau menemukan sesuatu yang aneh, kan”
“I-iya…”
Naoto mengangguk mendengar kata-kata singkat Marie.
“Kalau begitu itu mudah–apa yang salah adalah buku teksnya. Instingmulah yang tepat.”
“…Eh!?”
Naoto berteriak ngeri, lalu dia menerangkan dengan panik,
“S-sebentar. Yang kubaca itu buku teknologi gir terbaru!”
“Sudah kuduga. Jadi…apa yang salah adalah teknologi gir saat ini.
Marie mengakui hal itu.
…Dia mengakuinya.
Apa yang dia ucapkan dari mulutnya itu membuatnya gemetar karena kesal.
Dia merasakan tatapan Houko, Halter dan Vermouth yang tertahan napasnya.
Lalu Conrad, melalui Vermouth, mengeluarkan suara ngeri,
“Permisi–Profesor Marie. Saya minta maaf telah menyela, tapi izinkan saya berkata sesuatu. Boleh saya bertanya apa yang anda maksudkan…?”
“–Seperti yang kami katakan tadi. Teknologi gir yang kita pelajari adalah hal yang salah.”
Orang bisa merasakan Conrad yang terkesiap di ujung sana.
Tentu saja akan begini. Pikir Marie.
Mengakui kesalahan dari teknologi gir saat ini–setara dengan mengambil inisiatif untuk memungkiri dirinya sendiri serta semua orang yang telah memprakterkkan teknologi tersebut.
Tetapi…
“Insting Naoto sudah pasti tepat, buktinya adalah ‘Gir Imajiner’ RyuZU yang telah diperbaiki, serta ketidaknormalan yang ditemukan persis di dalam Menara Inti. Karena Naoto menganggap itu hal yang aneh–apa yang salah adalah kita yang berasumsi kalau kita telah mengerti.”
Marie selesai menjelaskan, lalu melotot ke arah Naoto.
“Aku tidak tahu alasannya, dan biarpun aku benar-benar tidak senang, aku memang tidak tahu. Satu-satunya hal yang bisa kupastikan adalah–kemampuanmu bukanlah sesuatu yang bisa dijelaskan hanya dengan pendengaran luar biasa.”
“Itu…erm, kalau begitu, kemampuanku ini apa?”
Sementara Naoto masih kebingungan, Marie melanjutkan ucapannya,

“Kau–tahu ‘jawaban’nya.”

“Aku tahu…‘Jawaban’nya?”
Aku tidak mengerti, Naoto memasang wajah seperti itu, lalu Marie mengangguk padanya dan berkata lagi,
“Kau sudah punya ‘jawaban’nya dari awal, karena itulah kau tahu sesuatu itu apa dan bagaimana sesuatu itu harusnya bekerja. Kalau tidak begitu, bagaimana caranya kau bisa tahu cara kerja triliunan suku cadang mini itu seharusnya? Logikanya, itu tidak mungkin. Apa yang kau gambarkan dengan samar-samar sebagai ‘suara’, ‘jawaban’mu itu–lebih dari tepat.”
Lalu, lanjut Marie,
“–Tidak ada ‘teknologi’ apapun yang menggunakan perasaan seperti itu sebagai premis. Tidak peduli apapun yang kau lakukan, semua itu akan kembali ke ‘status quo’ bagimu, kau akan mencoba segala jenis metode sebelum kau menemukan jawabannya.”
–Benar, tidak aneh kalau dia tidak memahami pelajaran apapun. Tentu saja dia pun tidak bisa memahami cetak biru.
Jika pertanyaannya, cetak birunya–semua hal itu yang sedari awal ‘cacat’, maka Naoto, yang tahu ‘kesempurnaan’, akan menganggap itu adalah hal yang aneh.
“Kurasa aku yang pertama. Aku akan membantumu–‘dimulai dari pelajaran’, kursus kilat pribadi dari Marie Bell Breguet ini yang didesain khusus untukmu. Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan baik-baik.”
Ketika mendengar hal itu, bunyi Naoto menelan ludahnya terdengar.
Dia pun duduk dengan sopan serta menatap Marie dengan seksama.
Dengan wajah serius, Naoto khawatir kalau dia akan melewatkan setiap kata yang Marie ucapkan dan setiap tindakan yang dia lakukan pula.
Lalu Marie mengangguk ringan, dan memulai pelajarannya–

“–Tolong analisis ini di dalam pikiranmu. Pelajarannya cukup sampai disini.

–Pelajarannya berakhir dengan satu kalimat itu.
“………Hah?”
Naoto tampak sangat kecewa, diapun cemberut.
Apa kau mengejekku? Kekecewaannya begitu tinggi sampai-sampai wajahnya terlihat seperti sedang marah, tapi Marie tidak memikirkan hal itu seraya melanjutkan perkataannya,
“Karena kau bisa melihat jawabannya, kau cuma perlu menganalisis jawaban itu dan kerja terbalik.”
“Kerja terbalik…?”
“Tebakanku sih begitu…tidak, aku yakin kau mendengarkan sebuah pergelaran orkestra sebelum itu terjadi.”
“…”
“Setelah orkestra itu dimulai, kau akan mulai merasa kecewa oleh pertunjukan yang lesu itu. Oleh karena itu, kau akan mengidentifikasi semua instrumen dan pemainnya satu demi satu, sampai kau mengetahui masalahnya, lalu pergelarannya dimulai lagi, proses yang sama terus diulangi lagi dan lagi–sampai orkestranya menjadi orkestra yang sama sekali berbeda. Apa kau setuju?”
Marie bertanya begitu, sementara Naoto tetap terdiam.
Tetapi, wajahnya jelas sekali menunjukkan keterkejutannya.
–Bagaimana bisa kau tahu segitu banyak. Wajah Naoto praktis mengindikasikan hal tersebut.
“Apa yang kau perlukan bukanlah sebuah cetak biru, tapi lembar lagu. Kau punya metode yang jauh berbeda dengan kami teknisi mesin jam, dan juga pemahamanmu benar-benar berbeda dari kami–”
Marie menggelengkan kepalanya,
“–Tidak, mungkin bukan lembar lagu, tapi kurasa grafik gelombang? Pokoknya, pemahamanmu tentang gir benar-benar berbeda dari orang biasa. Itulah alasan kenapa kau merasakan hal yang janggal saat membandingkan antara buku teks dengan apa yang kau tahu. Apa yang kau lihat itu adalah ritme, musik…dengan kata lain, ‘aliran’.”
–Contohnya, ya benar, cahaya.
Cahaya memiliki dua sifat, yaitu sebagai ‘partikel’ dan sebagai ‘gelombang’.
Konon katanya masalah apakah cahaya merupakan partikel atau gelombang telah mengganggu ilmuwan sejak zaman kuno.
Jika gir-gir digambarkan sebagai cahaya–maka teknologi gir saat ini hanya akan memandang gir sebagai ‘partikel’, sementara Naoto Miura memahaminya sebagai ‘gelombang’.
Tidak ada yang mengajarinya, dan secara alamiah dia mendengarkan gelombang itu–sebagai ‘suara’.
Dan tidak peduli seberapa tidak masuk akal hal itu, jawaban Naoto memang tepat.
Sama seperti cahaya adalah ‘partikel’ sekaligus ‘gelombang’–
Jika Marie menganggap hal ini seperti itu, maka kemampuan Naoto dapat dimengerti.
Dia memiliki bakat untuk memahami struktur gir lebih teliti dari siapapun di dunia, tapi kenapa dia tidak mengerti teknologi sederhana?
Itu karena bagi Naoto, si jenius sialan ini–dia dididik dengan cara yang salah.
Paling tidak–bagi Naoto, teknologi gir biasa hanyalah belenggu baginya.
Itu bisa diduga. Ini tidak bisa dijelaskan dengan sendirinya. Barangkali ini merupakan sebuah keharusan.
Dengan pengetahuan tentang gir sebagai ‘partikel’ saja, Marie tidak mungkin bisa memahami gir-gir yang bertingkah seperti ‘gelombang’…
Oleh karena itu, apa yang Naoto butuhkan bukanlah sebuah teori tentang teknologi.
Apa yang dia perlukan hanyalah–mengikuti indranya.
“Kau tidak perlu berpikir untuk memperbaikinya, atau berpikir untuk menyelaraskannya. Apa yang harus kau lakukan–adalah menganalisisnya, lalu melangkah mundur.”
Bangun imej sempurnanya di dalam pikiran.
Bagi Naoto, dia hanya perlu menganalisis penuh ‘imajinasi sempurna’ yang mirip dengan benda aslinya, lalu merekayasa balik, dan hasilnya akan menjadi cetak biru untuk dirinya sendiri.

Setelah pelajaran ini selesai, Naoto terus menatap Marie dengan seksama.
Matanya dipenuhi dengan rasa hormat, kagum dan iri.
Dulu, ketika Marie masih merupakan anggota ‘Meister Guild’, rekan-rekan teknisi Marie juga memandangnya seperti itu, pandangan yang memujinya sebagai orang jenius.
Dan sekarang ketika Naotolah yang memberikan tatapan seperti itu, Marie merasa tidak nyaman–dan juga terhina, karena itu, dia sengaja bersikap tenang, lalu berkata dengan nada yang agak pedas,
“Baiklah, sekarang giliranmu untuk mengajariku…”

…Aku bukanlah orang jenius.
Setelah Marie mengakui kenyataan tersebut, Marie merasa begitu tenang, sampai-sampai dia sendiripun merasa terkejut akan hal itu.
Dia hanyalah sebuah tiruan, hanya menutupi, menyembunyikan kerendahan dirinya.
Orang jenius sejati. Kata itu lebih pantas mengacu kepada kakak perempuannya, ayahnya–atau orang mesum mengesalkan di depannya ini.
Marie juga punya bakat. Dia berusaha keras, dan menuai hasil memuaskan.
Tapi cuma itu saja.
Dia tidak mampu keluar dari kotak. Dia lihai menggunakan apa yang orang lain ciptakan, tapi dia sendiri tidak mampu menciptakan sesuatu yang baru atau sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Dia tidak mampu menggunakan kemampuannya untuk membuat hal yang mustahil menjadi mungkin.
Dan karena dia memahami hal ini lebih dari siapapun, Marie memaksa dirinya untuk berpikir,

–Aku adalah orang yang berpikir kalau tidak ada hal yang mustahil di dunia ini.

Itu bukan berasal dari kebanggaan maupun gengsi.
Itu adalah pernyataan yang Marie pasang untuk dirinya sendiri, satu-satunya hal yang pasti tidak bisa dia bengkokkan.
Dan demi pernyataan ini, Marie menyangkal semua akal sehat yang membentuk dirinya.
–Baiklah, waktunya menyiapkan diriku sendiri. Pikirnya.
Apa yang akan kau ketahui nanti adalah pengetahuan yang jauh berbeda dari apa yang kau tahu.
Apa yang akan dia ajarkan padamu, apa yang akan dia beritahu padamu, dan apakah kau bisa memahami hal itu sendiri–
Buang pikiran-pikiran itu sekarang.
–Ini bukan masalah apakah aku bisa, tapi aku akan melakukannya.
Bagaimana tepatnya orang abnormal di depanku ini melihat dunia–
Tidak peduli apakah aku bisa memahaminya, biarpun cuma sekeping saja.
Tidak peduli seberapa tidak masuk akalnya, aku harus menyerap itu semua. Aku harus membangun ulang pemahamanku sendiri–!
Dengan antisipasi sebanyak itu, Marie menunggu kata-kata Naoto, lalu Naoto hanya berkata singkat,
“Kurasa kurang lebih kau sudah memahaminya, Marie.”
“…Aku sudah paham…?”
Marie mengangkat alisnya seraya mengulangi apa yang Naoto katakan.
Naoto mengangguk dan berujar,
‘Kau sudah mengetahuinya…kau tahu kebiasaan-kebiasaan kecil yang unik milikku ini. Kau sudah melakukannya saat kau memasang kepala paman Halter, kan?”
“…Apa yang kau katakan? Yah–saat itu aku sudah tahu cetak birunya–”
“Yakin?”
Naoto menjawab singkat,
“Kau memodifikasinya dalam waktu sesingkat itu, tanpa pikir panjang, lho”
Mata kelabu Naoto memancarkan rasa kagum ketika dia menarik kesimpulan seperti itu,
“Kau melihatnya, Marie, kau melihat ‘hasil’nya–kau melihat masa depan yang harus kau sambung.”
Tidak–tepat ketika Marie hampir menyangkal tanpa sadar, dia menggelengkan kepalanya.
Benar–aku harus mengakuinya terlebih dahulu.
Naoto Miura–dia tahu hal-hal yang secara logika harusnya tidak dia ketahui.
Aku tidak tahu logika dan alasan dibalik hal tersebut, tapi kalau aku tidak berpikir dengan cara ini, aku tidak bisa menjelaskannya.
Jadi jika Naoto bilang kalau aku bisa melakukannya–aku pasti bisa.
Orang ini cuma menyatakan kekagumannya, dan saat ini dia sedang membuatku yakin dengan kejeniusanku sendiri. Apa ada hal yang lebih bisa dipercaya dari ini?
Marie percaya.
–Bahwa Naoto Miura hanya memiliki pendengaran yang sedikit lebih baik daripada orang biasa.
Seperti yang digambarkan oleh Naoto sendiri, pendengarannya itu adalah hal yang tidak normal.
Dengan asumsi kalau Naoto dianggap spesial karena pendengarannya jauh lebih presisi dari perlengkapan modern–Marie Bell Breguet tidak akan kalah dalam hal ini.
Untuk membuktikan kalau itu salah–meskipun dia punya kemampuan untuk itu, Marie bersedia untuk menggunakan perlengkapan modern untuk menciptakan alat yang jauh melampaui kemampuan yang dia miliki.
Itu hanyalah sebuah kebiasaan yang unik, perbedaan pribadi yang begitu kerdil, sebuah masalah sederhana dimana semua orang memiliki kekuatan mereka sendiri.
Tapi ketika hal itu menyatu dengan sentuhan yang peka–
Otak manusia akan melampaui akal sehat.
Halter telah membuktikan hal itu.
Keberadaan Naoto telah membuktikan hal itu.
–Aku juga sudah membuktikan ini berulang-ulang kali!!
Kemudian, sebuah imej muncul di pikiran Marie seperti sebuah kilatan cahaya, membuat matanya terbelalak lebar.
“–Begitu ya…jadi kita ini ‘berlawanan’…kau benar-benar berbeda dariku.”
“Berlawanan?”
Naoto bergumama dengan bingung, sementara Marie menatap Naoto dengan penuh percaya diri.
Ya, berlawanan.
Marie Bell Breguet mampu memperoleh jawaban dari peristiwa yang menyebabkan suatu situasi.
Naoto Miura adalah orang yang bisa menciptakan suatu skenario berdasarkan ‘jawaban ideal’ yang dia inginkan.
Oleh karena itu, dengan mengubah metodenya–apa yang harus mereka lakukan adalah hal yang sederhana.
Melangkah mundur.
Marie mengangkat wajahnya, dan bicara dengan semangat,
“Naoto, beritahu aku sirkuit atau inti utama yang kau dengar di dalam ‘Pilar Surga’–pokoknya, beritahu aku segala hal yang menurutmu penting. Kau tahu hasil akhirnya, jadi beritahu aku apa hasilnya.”
Ketika mendengar hal itu, Naoto menjawab dengan ragu.
“…Oke, tapi aku tidak yakin kalau aku bisa menggambarkannya dengan sempurna, lho.”
“Tidak masalah–aku akan menganalisis, menghafal, menyerap dan menelan semuanya–bagaimana? Apa kau mau bilang kalau aku tidak bisa melakukannya? Coba saja!?”
Marie menyeringai seraya berkata begitu.
Dan ketika melihat hal tersebut, mata Naoto kelihatan serius lalu dia pun mengangguk ringan,
“…Kalau begitu, Marie. Aku tidak sepintar dirimu, dan aku tidak lihai menjelaskan dengan kata-kata, tapi kalau lawan bicaraku adalah kau, aku yakin kau akan mengerti. Oleh karena itu, aku akan mengungkapkan apa yang kurasakan.”
“–Baiklah.”
Maju sini–Marie menelan kembali kata-kata yang hampir dia ucapkan tersebut dan menggigit bibirnya.
Kemudian–
“Marie, apa yang aku katakan mulai sekarang, ‘dengarkan, lalu lupakan semua’.”
“–Eh?”
Marie tanpa sadar memekik karena kata-kata yang berlawanan tadi itu. Tetapi Naoto tampak tidak keberatan akan hal itu seraya melanjutkan perkataannya,
“Tidak apa jika kau tidak bisa mengingatnya tapi jangan lupa dengar semuanya dan jangan dengarkan jadi jangan berpikir tapi bayangkan”
“–”
“Semua itu benar dan semua itu salah adalah sebuah paradoks yang tepat lalu kanan itu adalah kiri jadi tidak ada apapun disana dan disana ada segalanya–”
“—-”
“Aku tidak tahu tapi aku tahu.”
–Hah…?
“Aku tahu tapi aku tidak tahu.”
–Tung…!
“Kau mungkin belum mengingatnya tapi kau harus mengingatnya jadi bersiaplah.”
–Tunggu…!


LANTAI KE-20 PILAR SURGA TIDAK BISA MENGENDALIKAN SUHU SELURUH GRID, TAPI ADA CARA UNTUK MELAKUKANNYA. SEMUA LANTAI MENARA INI, DAN SELURUH SUKU CADANGNYA BERGERAK DENGAN SERENTAK, DAN SEMUANYA ITU UNIT PENGGANTI DAN SEKALI PAKAI. MEREKA BERGERAK DARI ATAS KE BAWAH DARI BAWAH KE ATAS DARI KANAN KE KIRI DARI KIRI KE KANAN DARI DEPAN KE BELAKANG DARI BELAKANG KE DEPAN, SEMUA ITU MEMBENTUK GRID-GRID KECIL, DENGAN MELEPAS GRID-GRID TERSEBUT, APA YANG TERSISA ADALAH SIMPANAN ENERGI MURNI, AKU TIDAK BISA MENEMUKAN ALAT PENGENDALINYA, TAPI HAL SEPERTI ITU SELALU ADA, YANG ARTINYA ADA ALAT PENGENDALI DI SINI. GIR-GIR YANG SUDAH LENYAP TIDAK AKAN KEMBALI, DAN BERDASARKAN KERUSAKANNYA, GIR-GIR YANG LAIN AKAN MEMBANTU MENANGGUNG BEBANNYAKITA JANGAN MEMIKIRKAN TENTANG JALAN PINTASTAPI SIRKUIT LANGSUNG. BIARPUN KITA TIDAK BISA MEMBUAT RUANGNYA, KITA BISA MELAKUKANNYA. BUAT KEMBALI BENTUK ASLINYA LALU HANCURKAN. LUPAKAN SEMUA ITU. JUNGKIRBALIKKAN ITU, TIPU SISTEMNYABUAT SISTEMNYA MENGIRA KALAU SISTEMNYA BEKERJA. HENTIKAN KESEIMBANGANNYA REGANGKAN PEGASNYA PUTAR RODA KELUARNYA PUTUS PERSIMPANGANNYA LEWATI SAUHNYA GERAKKAN GIRNYA KE ATAS DAN KE BAWAH ALIRKAN DAYANYA KE MARTIL LALU PUTAR INTINYA. PUTARAN ROTASI SISTEM 86754 SAMPAI SISTEM 96640 AKAN MELAMBAT SAMPAI NOMOR 36396 LALU BERHENTI. HIDUPKAN KEMBALI. HUBUNGKAN KEMBALI KE DERET RODA, LALU GIR 457 KE DERET RODA 3360, PERLAMBAT SELURUH RODA KESEIMBANGAN YANG SUDAH TERSAMBUNG, AMPLITUDO ALAT PENGATUR GERAKAN JAMNYA DARI 4634 KE 3053. DI SAAT YANG SAMA, HUBUNGKAN SEMUA PERANGKAT SAMPAI NOMOR 3530 LANGSUNG KE SISTEM 406464 DI BAWAHNYA. DENGAN MEMASTIKAN KALAU LANTAI KE-15 SAMPAI LANTAI KE-18 BEKERJA BERSAMA, KAU BISA MENGENDALIKAN DAYA PEGAS YANG MENGALIR KELUAR DARI BAWAH KE ATAS. DAYA YANG MENGALIR DARI LANTAI KE-22 SAMPAI LANTAI KE-28 HARUS BERLANJUT SAMPAI LANTAI KE-21, LALU RESONANSINYA HARUS BERLANJUT SAMPAI MESIN DIFERENSIAL DI LANTAI KE-20. DENGAN MEMANFAATKAN HAL INI, KITA BISA MELANJUTKAN PERANGKAT KENDALI DAYA DARI LANTAI 19 KE SELURUH GRID. KITA HANYA PERLU MENGABAIKAN PERANGKAT DI LANTAI 20 DAN MENGAMBIL DAYANYA. LALU KITA HENTIKAN. HIDUPKAN KEMBALI DERET RODANYA, TINGKATKAN KECEPATAN ROTASI SEMUA SISTEM YANG SUDAH TERHUBUNG. APA YANG PERLU KITA UBAH BUKANLAH CUACANYA MAUPUN SUHUNYA, MELAINKAN ALIRAN ENERGINYA. KITA TIDAK MENCIPTAKAN SEBUAH FENOMENA, TAPI SEBUAH HASIL AKHIR. KITA MENGUBAH ATURAN UNTUK ALJABAR YANG SESUAI. KITA TIDAK PERLU MENGHITUNGNYA. CUKUP TEMUKAN KECEPATAN ROTASI YANG KITA SUKAI, ITULAH NILAI RESONANSI YANG BENAR.
TAPI DI SAAT YANG SAMA, NILAI ITU SALAH. KARENA ITU KITA MEMERLUKAN PERANGKAT LAINNYA UNTUK MENINDAKLANJUTI. POTONG SEMUA KABEL DALAM SISTEM35350, BIARKAN SISTEM 457060 BERPUTAR BERLAWANAN ARAH. BIARKAN SISTEM TERSEBUT MENGALIR TANPA MENGGUNAKAN ENERGI. BIARKAN ENERGI OUTPUTNYA MENGALIR TERBALIK, DAN MANFAATKAN KEDUA ARAHNYA. SISTEM INI NANTINYA AKAN MENCIPTAKAN ENERGI YANG KITA BUTUHKAN. BIARKAN SISTEM PENGENDALI ROTASI DARI LANTAI 5 SAMPAI LANTAI 10 BERESONANSI. TINGKATKAN KECEPATAN DARI 3535 SAMPAI 4540, SERTA SELARASKAN UNTUK MENCEGAH PENOLAKAN. KITA PERLU MENYESUAIKAN SISTEM 3500 DI GRID 3356 DI LANTAI 14. JANGAN BUAT KESALAHAN APAPUN. TAPI HANCURKAN ITU. PUTAR GERAKAN ITU SENDIRI. TIDAK PERLU MENYUSUNNYA KEMBALI, SISTEMNYA AKAN MENYUSUN DIRINYA SENDIRI. GIR-GIRNYA AKAN TERPASANG KEMBALI DI TEMPATNYA SEBELUM KITA MELAKUKAN APAPUN. PAKSA SISTEM 5356 UNTUK BEKERJA, LALU PAKSA SISTEMNYA UNTUK MELAKUKAN KESALAHAN. MANFAATKAN PERANGKAT YANG RUSAK SAMPAI BATASNYA, LALU PAKSA UNTUK LAKUKAN KESALAHAN LAGI. ITU AKAN MENCEGAH PERANGKATNYA AMBRUK. DENGAN KEMBALI KE SIRKUIT KABEL, PERANGKATNYA AKAN TERHUBUNG KE BAREL DI LANTAI 29. PERANGKATNYA AKAN MENGGUNAKAN BAREL TERSEBUT SEBAGAI PENGGANTI. PERANGKATNYA AKAN SECARA REGULER BEROPERASI SECARA IREGULER, BERTINDAK BERDASARKAN ATURAN YANG BARU. PERANGKATNYA AKAN MENEBUS ADANYA RUANG HAMPA LALU MENCIPTAKAN PANAS. TITIK TERDEPANNYA ADALAH GRID 26. MENARA INTI YANG BERTINDAK SECARA SERENTAK AKAN BERPUTAR SEJALAN DENGAN SIKAP YANG BERBEDA-BEDA, LALU DARI KANAN KE KIRI, URUTANNYA ADALAH 3430, 3035, 3056, 3053, 3124, 3894. GUNAKAN GERAKAN YANG SALING TERHUBUNG ITU UNTUK MENGGANTI KABEL-KABELNYA. PASTIKAN NILAI RESONANSI PADA GRID 26 TERUS MENINGKAT, DAN DI SAAT YANG SAMA, LAKUKAN PENYELARASAN TANPA MEMBUAT RESONANSI DI SEKELILINGNYA BERANTAKAN. BASIS YANG DIGUNAKAN ADALAH GERAKAN TERMINAL PADA LANTAI 1, TAPI JANGAN SAMPAI ADA SATUPUN YANG MEMILIKI NILAI YANG TAMPAK MIRIP. PASTIKAN SEMUANYA SUDAH DIUBAH SEBELUM NILAINYA SAMA.
DAN AKHIRNYA—JIKA SEBUAH ALAT MESIN JAM TIDAK BISA BERFUNGSI KETIKA KEHILANGAN SATU GIR, KENAPA PLANET INI MASIH BISA TERUS BERGERAK?
“…Marie, kau sadar?”
“——Eh?”
Telapak tangan yang melambai di depan mata Marie akhirnya membuat Marie kaget.
Tanpa sadar Marie pun melenguh–apa yang baru saja Naoto lakukan padanya? Apa yang tadi dia katakan?
“Oke, tampaknya kau sudah sadar. Kau ingat semuanya?”
“–Ah? Eh? Ingat apa?”
Marie merasa lidahnya kaku untuk sesaat, dia pun memiringkan kepalanya dengan ragu.
Dia samar-samar ingat hal itu, tapi Naoto kelihatannya telah memberitahukan banyak hal padanya–?
“Baik, oke–tampaknya kau ‘ingat’.”
“T-tunggu!? Apa yang baru saja kau–”
“Sudah kubilang kalau aku ingin menyatakan apa yang kurasakan, kan? Aku hanya mengubah apa yang kurasakan di pikiranku ke dalam kata-kata.”
“T-Tunggu sebentar! Kubilang aku akan mengingatnya! Apa yang baru saja kau katakan, aku–”
“Kau mengingatnya.”
Naoto menunjuk ke langit, seakan mengisyaratkan kalau ‘matahari telah terbit’, seraya tertawa kecil,
“Marie…kau mengingat semua produk perusahaan Breguet, semua senjata dan mesin di dunia, bahkan cetak birunya RyuZU…kan?”
Marie mengangguk tidak mengerti, lalu Naoto melanjutkan perkataannya,
Karena kau tidak tahu, biar kuberi tahu, oke? Tidak ada orang normal–yang bisa melakukan hal seperti itu.”
Naoto tampaknya membalas hutang budinya pada Marie, dia berkaata begitu dengan wajah berseri-seri, membuat Marie membelalakkan matanya.
“Sudah kubilang, kan? Kau sudah mengetahuinya, Marie. Satu-satunya perbedaan diantara kita hanyalah masalah mata dan telinga saja…ah, akan kukatakan saja disini. Aku memang mengingat segalanya tentang struktur tubuh RyuZU, sampai ke bagian kawat paling kecil, lho”
Marie dengan acuh menyaksikan Naoto berujar begitu dengan bangganya dan senyum menantang, Marie pun terdiam.
–Merenungkan makna dari apa yang baru saja Naoto katakan.
Apa itu semua hanya tentang ‘mengingat’ atau apakah dia ‘sudah tahu’?
Sementara Marie terus merenung dengan pikiran tidak jelas seperti itu, Naoto memberitahunya,
“Tenang saja–indraku sudah diubah menjadi kata-kata dengan sukses, jadi kau pasti bisa mengerti.”
“…Benarkah?”
“Marie, kau mengingat apa yang kukatakan. Kau tidak ingat, tapi kau ingat. Marie yang kukenal–si jenius Marie pasti dapat ‘memahami keseluruhan lantainya’.”
“–Kenapa kau pikir aku bisa melakukannya?”
“Itu bukan tentang apa yang kupikirkan, ini tentang apa yang kutahu. Daya ingatmu, Marie–adalah alasan kenapa aku begitu iri dan sangat hormat padamu. Ini memalukan, tapi aku harus memberitahukannya padamu.”
Naoto menghirup napas dalam-dalam.
“–Ini sama saja, cuma begitu. Kau tidak hanya ‘menghafal’nya saja, Marie, entah bagaimana kau ‘memahami’nya begitu saja. Karena itu–aku merasa kalau barangkali aku pun bisa melakukan hal yang sama.”
Senyuman yang sedikit mencolok menghiasi bibir Naoto.
Kemudian, dia memasang wajah yang belum pernah Marie lihat sebelumnya–ekspresi yang dipenuhi dengan rasa percaya diri dan keyakinan.
“Tenang saja. Percayalah.”
Naoto berujar singkat begitu pada Marie, lalu berdiri.
Dia mengambil peralatan yang terserak di lantai, lalu kembali ke posisinya. Marie menyaksikan punggungnya dengan matanya sendiri, dan menelan ludahnya, sebelum mengikuti apa yang Naoto lakukan.
Dengan peralatan di kepalanya, Marie berjalan dengan tenang, serta pergi ke ‘pos’nya.
Tetapi, di momen itu–tangannya berhenti, lalu…
Marie merasa frustasi.
Sejujurnya, Marie tidak mengerti apa yang baru saja Naoto katakan.
Apa yang harus kulakukan? Apa yang akan kulakukan? Darimana aku mulai–?
Pikir Marie–sebelum dia mulai menghina dirinya sendiri.
“Ha–”
Marie menertawakan dirinya sendiri sekian menit yang lalu. Dengan kata lain–Marie yang pastinya merasa sangat risau di momen ini, jatuh kedalam keputusasaan seperti biasanya, menjadi Marie Bell Breguet yang tidak bisa bergerak.
Tapi dirinya yang saat ini berbeda.
Si Naoto itu, imej pahlawan yang dia kagumi, imej ideal yang ingin dia capai, si jenius yang tidak bisa diragukan lagi…
Dengan keyakinan yang diulang-ulang sekian kali–orang itu ingin Marie ‘percaya’.
Pahlawan ideal yang dia kagumi telah repot-repot meyakinkan dirinya.
Bagus sekali–Marie tersenyum dengan berani.
Benar–hanya sekarang saatnya.
Dengan kata-katanya sebagai jaminan, aku akan memenuhi pengharapan itu, dan masuk ke dalam dunia yang orang itu lihat–!
“–Hitungan ke 4, tarik napas….hitungan ke 3, tarik napas–”
Gumam Marie, yang mencoba berkonsentrasi penuh secara paksa.
Marie bertujuan merasakan kembali sensasi yang dia rasakan ketika dia menyambungkan kepala Halter.
Setelah Marie yakin kalau dia telah berada di alam dimana dia mampu melihat keseluruhan kota–
“Hitungan ke 3, tarik napas, hitungan ke 2 tarik napas, hitungan ke 2 tarik napas lagi, hitungan ke 1–”
–Marie menutup matanya. Semua bunyi telah menghilang, kesadarannya menjadi semakin terang, menyingkirkan semua kebisingan itu.
Kemudian…di dalam kesadaran yang telah membenamnya, imajinasi yang dia miliki mulai membuka mata mereka.

–Tepat di depannya adalah lubang yang sangat amat dalam.
Lubang itu memang gelap, bagian bawahnya tidak bisa kita lihat, lalu pintu yang telah rusak itu terbuka sedikit.
Pintu yang rusak itu memiliki beberapa kata yang diukir di pintunya, mirip dengan sesuatu yang pernah dia lihat dalam koleksi syair klasik,
–“‘Lasciate ogne speranza, voi ch’entrate’.”
Begitu ya, pikir Marie sambil meringis, dan sangat yakin,
Bahwa apa yang menunggu di depan kata-kata itu, adalah neraka yang sebenarnya–dunia yang ‘dilihat Naoto Miura’, ‘dunia yang lain’.
Marie tersenyum–melepas harapan. Harapan?
Hal yang tidak jelas dan pemberian Dewa seperti itu bukanlah sesuatu yang harus dia serahkan. Marie telah kehilangan harapan dari dulu.
Kalau begitu–‘keserakahan’ dan ‘keangkuhan’ untuk mengungkapkan segala hal tentang dunia ini…
Bersama dengan dua ‘dosa besar’ ini, mudah baginya untuk melompat maju–!
Dan tepat ketika Marie hampir melangkah maju, apa yang tersisa dari akal sehatnya memberikan peringatan,
“Jika kau melompat masuk kesini, kau tidak bisa kembali.”
–Aku sudah siap. Tapi apakah dunia ini benar-benar–dunia yang Naoto tunjukkan padaku–?
Sedikit kebimbangan tersebut membuat kesadarannya, yang tadinya terkubur, muncul di matanya.

Tepat di depannya adalah Naoto Miura–yang telah mulai bekerja.
Pada awalnya, Naoto mendengarkan ruang kosong dengan seksama seperti biasanya. Kemudian, dengan perlahan–tapi tanpa ragu sedikitpun, terus bekerja tanpa berhenti.
Tidak bisa dibantah lagi–saat ini Naoto tampak seperti seorang ‘teknisi mesin jam’ yang mengesankan di mata siapapun yang melihatnya..
Marie merasa sangat yakin akan satu hal–Naoto telah berubah.
Gerakannnya tidak secepat dirinya, dan juga tidak sehalus seorang Meister; kadang dia mengambil alat yang salah, tapi–tidak ada keraguan mengenai ‘dimana tempat yang harus dia sentuh’ sambil bekerja dengan cepat, dia telah melampaui para Meister yang baru pertama kali mulai bekerja dengan mudah.
Untuk mengoreksi apa yang Marie asumsikan–Naoto tidaklah berubah.
–Itu, apa yang Naoto lakukan saat ini memang, dirinya memang seperti itu, dirinya yang sesungguhnya, orang yang menyulut rasa benci di alam bawah sadar Marie.
(–Orang amatir macam apa itu? Ini sih jenius sungguhan?)
Marie merasakan bara yang semakin membara di dalam hatinya, bara itu berubah menjadi api unggun yang membakar segalanya.
–Aku akan mengejarnya. Aku bersedia pergi ke mana saja demi tujuan ini…!!
Marie kembali menyelam ke dalam alam bawah sadarnya, membayangkan dirinya berdiri di depan lubang yang tadi.
Dia berada di dunia yang tidak memiliki suara ini–tapi,

“…Hei, Marie.”
…Tapi suara itu menggema dengan sangat jelas.
Lalu ketika matanya terfokus, Marie melihat Naoto, yang berdiri jauh di dalam neraka–jauh di sana di balik gerbang neraka, pelan-pelan menolehkan kepalanya ke belakang.
“–Apa yang kau takutkan?”
Suara dan punggung Naoto menjangkau Marie, seolah-olah Naoto sedang mengolok-oloknya.
Di saat itu, hati Marie membara.
“–Jangan sombong. Aku tidak akan membiarkankan kau berhenti dan berbalik arah, juga jangan membantuku–aku akan mengejarmu, dan memberi tendangan pada punggungmu itu–!”
Marie meraung dengan marah, lalu melangkah maju dengan sekuat tenaga.
–Dia melangkah menuju tempat yang dia dambakan.
Dan ketika dia mengambil jalan satu arah menuju neraka–
Di momen itu–waktu terhenti.
Perasaan ini…tentu saja, dia memiliki kesan akan hal ini.
Marie memang pernah mengalami sensasi seperti ini ketika dia sangat fokus saat melakukan perbaikan, ketika konsentrasinya mencapai titik maksimum.
Seekor ikan yang sedang berenang bebas di dalam mimpinya, indra yang Marie ketahui telah memanjang sampai tidak terhingga–di titik ini, baginya hal itu masih konsep yang familiar.
Tetapi, bagi Marie, yang matanya terbelalak karena kenyataan…
–Dunia telah berubah.
Dia mendongak ke atas, pemandangan gir-gir yang saling berderak memang sama seperti biasanya–tapi…
Anginnya tampak seperti dibalut dengan warna, sedangkan gaya, operasi, aliran, arah–semuanya tampak berputar seperti sebuah angin puting beliung.
‘Angin’ yang Marie lihat saat ini adalah sesuatu yang normalnya tidak bisa dia lihat.
‘Warna’ yang dia sadari saat ini adalah sesuatu yang harusnya tidak dia ketahui.
Karena sesuatu yang Naoto kenali sebagai ‘suara’, Marie melihatnya sebagai ‘warna’.
Naoto mencetakkan informasi dalan jumlah yang sangat besar ke dalam pikiran Marie–dan pikiran Marie mengenalinya sebagai ‘sinkronisasi’.
Jumlah informasi yang begitu banyak itu membakar pikirannya, menyebabkan Marie merasakan kebahagiaan yang menarik hati.
Cetak biru yang divisualisasikan. Versi imej dari hukum-hukum fisika.
Dan seraya Marie merasakan kemahakuasaan tak terbatas yang menggerakkannya, Marie berpikir,

“–Wow, kurasa aku ini memang jenius ya.”
Marie teringat kembali akan keputusasaan yang dia rasakan di Akihabara, delusinya yang menggelikan itu.
Ahh, kurasa aku ini memang sedikit berguna ya–Marie mengejek dirinya sendiri, lalu memungut sebuah alat.
–‘Segalanya hanyalah sebuah ilusi’, kesan itu sendiri, bukan sensasi itu–memang benar.
Semua hal yang bisa dia lihat itu salah semua.
Bukan, Marie tidak bisa melihat jauh ke dalam dunia yang tertutup oleh permukaan.
Dia merasa seperti sedang menyingkapkan sebuah ‘ilusi’, seperti sebuah ‘membran’ yang terkelupas dari dunia.
Marie, yang telah membuang segala konsep sebelum hal ini, dapat merasa yakin–
Naoto mampu menggunakan telinganya untuk memastikan ‘ketidaknormalan’ di dalam ‘Menara Inti’ ataupun ‘Pilar Surga’.
Vermouth mampu menggunakan sesuatu yang sebenarnya bukanlah sebuah organ prostetik, serta melawan ‘ketidaknormalan’ sampai batas tertentu.
Tidak, bukan itu saja.
Di titik ini, Marie membuang segala konsep yang dia miliki–semua hal yang telah dia terima sampai titik ini–lalu menyingkirkan semua itu…
Marie mampu menyadari kalau segalanya–segala hal di dunia ini adalah ‘ketidaknormalan’, dan ‘normal’.
Gir-gir resonansi non kontak? Nanogir? AI mesin jam yang meniru pikiran manusia?
Semua itu adalah ‘ketidaknormalan’.
–Jika orang memikirkan tentang hal itu secara logika, bagaimana mungkin hal-hal seperti itu bisa ada…
Orang yang mendesain hal-hal itu, atau orang-orang yang menganalisis detailnya, barangkali dengan tidak sadar, atau kadang-kadang, menjamahkan jari jemari mereka ke ‘Inti dunia’, lalu menciptakan–kemudian…
Setelah itu, mereka membuat teori.
Semua teori, ilmu pengetahuan, dan teknologi memang seperti itu.
Pertama, hasilnya didapat, kemudian, mereka akan menjelaskan teorinya dengan ‘mengarang’.
Jika mereka mengerti, maka itu bukan apa-apa–tapi jika teori saat ini tidak bisa menjelaskan, lalu bagaimana?

–Bumi ini dulunya datar.
Setelah itu, manusia melihat planet-planet, menulis formula matematis, membangun astrologi, dan mengerti kalau Bumi berbentuk bola. Mereka mempelajari bahwa Bumi berevolusi mengelilingi matahari–tapi bagaimana dengan waktu sebelum teori ini terbukti?
Apakah Bumi datar? Apakah mereka pusat alam semesta?
–Tidak, tidak ada yang berubah.
Dunia selalu dibangun ulang. Dibangun ulang–oleh ‘tangan umat manusia sendiri’–!!
Lalu kali ini, oleh tangan dari orang yang sedikit gila, lanskapnya dibangun ulang menjadi gir.
Itu terjadi seribu tahun yang lalu…
Tapi, barangkali–dunia sudah dimekanisasi saat itu terjadi?
Setelah memahami sensasi ini di titik ini, Marie merasa kalau itu juga meragukan–dan ketika memikirkannya lagi, Marie tersenyum,
‘Y’ ingin menggunakan teknologi mesin jam untuk menciptakan ulang dunia–konon itulah yang dia katakan.
Kalau begitu–Marie menatap ke sekelilingnya, angin yang melingkar-lingkar serta berwarna akibat indranya yang beresonansi, lalu berpikir,
–Kurasa begininilah tampang dunia yang asli–setelah ‘ilusinya’ dikupas habis.
Marie mulai bekerja.
Dia membersihkan pikirannya, membayangkan gambar.
Pikirannya yang terakselerasi sedang mengambil pengetahuan yang dia inginkan dari informasi yang terkompresi di dalam dirinya.
Apa yang dia harus lakukan, apa yang harus dia lakukan.
–Semuanya terasa jelas dan konsisten.
“Aku benar, kan? Kalau aku bisa, kau juga bisa, benar kan, Marie?”
Naoto berseru dengan girang.
Dari suara dan napasnya, sudah jelas kalau Naoto telah merasakan perubahan dalam diri Marie–
“–Tentu saja…! Kau pikir aku ini siapa? Aku ini Marie–si jenius yang membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin! Aku adalah wanita yang akan membuatmu hancur suatu hari nanti!”
–Aku tahu. Dunia yang sedang kulihat sekarang adalah hal-hal yang Naoto tunjukkan padaku.
Tapi karena Marie sudah tahu perasaan ini, biarpun dia sendirian, dia pasti bisa masuk ke alam ini…!
Kemudian, keduanya bisa mengikuti insting dan perasaan mereka, dan berbalas senyum–
Marie membuang daya pahamnya seraya mulai bekerja di luar intelijensi manusia.

AnchoR sedang berdiri di ujung Grid Ueno, dia sedang melihat Grid Akihabara yang tepat berada di bawahnya.
Mata merahnya yang lembab menatap langsung ke arah monster laba-laba mekanik yang berukuran raksasa itu.
Tangan kecilnya sedang bergerak ragu di depan dadanya, menyentuh kubus yang tergantung disana.
Di momen itu,
“–Tolong tunggulah.”
Sebuah suara terdengar dari belakang.
AnchoR tidak menoleh kebelakang untuk melihat siapa itu.
Karena meskipun tidak menoleh, dia bisa mengerti suara siapa itu, dan untuk tujuan apa orang itu ada disini.
Sebaliknya, AnchoR menjawab dengan suara kaku,
“…Jangan menghentikan saya, kakak.”
Tidak. Sang kakak–RyuZU, membalas.
“Berhenti. Master Naoto menyuruh kakak untuk menghentikan kamu.”
“…Papa pernah bilang…kalau AnchoR boleh melakukan apapun yang AnchoR inginkan, lho.”
“Kebebasan dan keegoisan adalah dua hal yang berbeda. Ketika anaknya melakukan kesalahan, orang tua punya hak dan kewajiban untuk menegur dan mengoreksi sang anak. AnchoR, keputusan yang kamu pilih disini adalah salah.”
AnchoR membalikkan tubuhnya.
“Terus…kalau begitu…apakah ada cara lain?”
RyuZu tidak menjawab pertanyaan AnchoR, tapi AnchoR terus berbicara,
“..Kalau saya tidak menghancurkan benda itu, semuanya akan mati. Satu-satunya yang bisa mengalahkan benda itu adalah AnchoR…lalu, AnchoR…tidak sama sepertimu, kak. AnchoR hanya tahu cara menghancurkan…”
RyuZU menerima beban berat dari kata-kata tersebut.
Pandangannya menunduk, mata topasnya bertemu dengan mata rubi merah AnchoR.
Kemudian, RyuZU menarik napas dan berkata,

“AnchoR–kamu salah disitu.”

“…Eh?”
Ketika mendengar kata-kata sang kakak, AnchoR membelalakkan matanya, bertanya-tanya apa yang kakak katakan? Diantara kita para bersaudari, hanya AnchoR yang dibuat untuk bertempur–apa lagi yang bisa saya lakukan selain menghancurkan?
RyuZU melangkah mendekat, dengan sedikit membungkuk.
“Akan kakak ulangi sampai kamu mengerti. Bukan itu alasan kenapa kamu dibuat. Apa yang diharapkan darimu, apa yang perlu kamu lakukan, itu bukan untuk hal sesimpel ini.”
“…”
AnchoR terkejut.
RyuZU mengulurkan tangannya ke tubuh yang tidak bergerak itu, menepuk ringan di bahu AnchoR,
“–Kamu menangggung takdir ‘Trishula’, ‘kekuatan’ dengan nama anchor, dan kamu adalah yang terkuat diantara kita para saudari.”
“…Benar, karena itu…saya harus menghancurkan–”
“Dan karena itulah, kamu tidak mengerti. Kenapa kamu diizinkan menjadi ‘Trishula’, sang ‘Penghancur’? kenapa kamu harus dianugerahi nama ‘AnchoR’?”
“Kenapa…?”
Gumam AnchoR. RyuZU perlahan menyenggol AnchoR.
Dia meletakkan tangannya dengan lembut di kepala AnchoR, mengusapnya dengan lembut.
“Tapi–”
RyuZU tersenyum pahit,
“‘Pemikiran’mu tidaklah salah. Jadi kakak–tidak akan menghentikanmu.”
“Kak…?”
Saya tidak mengerti, AnchoR bertanya-tanya,
–Apa yang kakak coba katakan? Di bagian mana saya salah? Yang mana yang benar?
Sementara AnchoR terus bimbang, RyuZU berujar,
“‘Pemikiran’mu adalah hal yang berharga, dan tepat. Tapi sebelumnya, kamu harus mencoba percaya pada Master Naoto–dan Master Marie yang tidak berguna sekalian.”
RyuZU berhenti sejenak, lalu melanjutkan,
“–Tolong tunggulah sampai detik-detik terakhir.”

Tepat di depan kepala mereka–ada seorang laki-laki dan perempuan yang sedang mempertontonkan ketrampilan tingkat dewa yang melampaui pemahaman manusia.
Vermouth yang melihat hal itu, bergumam kecil,
“Hei, pak tua…kau ini Meister juga kan?”
Lalu dari mulut yang sama, suara seorang pria tua menjawab,
“…Ya. Atau lebih tepatnya ‘dulunya’.”
“Kalau begitu, bisa beritahu aku satu hal–apa itu yang disebut Meister? Kalau begitu, sementara aku menyerah dalam hal hidup sebagai manusia selain kepalaku saja, dua orang itu–”
Bagian terakhir kata-kata tersebut tidak diungkapkan dengan kata-kata.
Sementara Vermouth mulai merasa ngeri,
“Maaf, nak Vermouth–tapi menyatakan kalau diri kami sebagai Meister di depan mereka berdua–puncak tertinggi para teknisi di dunia ini, kurasa itu lebih pantas disebut ejekan terhadap diri kami sendiri.”
–Manusia memiliki batas.
Kemungkinan yang dimiliki manusia itu tidak terbatas–tapi bagaimanapun cara orang mendandani kata-kata tersebut, kenyataannya tidak akan berubah.
Selama dia hidup sampai titik ini, Conrad telah melihat banyak anak muda–dengan masa depan cerah dan berbakat.
Mereka benar-benar memiliki talenta yang tinggi, menyerap semuanya seperti spons yang direndam dalam air, memperlajari dan mengubah apa yang mereka pelajari menjadi kemampuan mereka sendiri. Mereka menerima warisan yang ditinggalkan oleh pendahulu mereka–ilmu pengetahuan, dan terus melangkah maju menuju alam yang tidak bisa dicapai manusia sendirian dalam masa hidupnya.
Tapi–meskipun begitu, mereka harus berhenti di suatu tempat.
Rintangan, keangkuhan, kesombongan, arogansi, kehilangan kekuatan–Conrad paham betul kalau menyangkal itu semua sebagai kekanak-kanakan adalah hal yang berlebihan.
Karena umat manusia memang seperti itu. Siapa saja yang memiliki hati akan mencapai dinding tersebut. Oleh karena itu, meskipun memiliki kemungkinan tidak terhingga, manusia akan menyegel kemungkinan mereka sendiri di suatu tempat. Atau kadang-kadang, mereka akan hancur oleh kemungkinan-kemungkinan tersebut. Atau terkadang, mereka akan menjadi gila.
–Tetapi, Marie telah melampaui batasan tersebut, itulah yang dipikirkan Conrad.
Marie tidak akan berkompromi, maupun mengalah. Meskipun dia berkali-kali menemui rintangan dan kegagalan, dia terus bergerak maju–dan mencapai alam itu. Dia ‘telah’ mencapai alam yang bisa dianggap sebagai puncak tertinggi dunia ini.
Atau setidaknya, itulah yang tampak di mata Conrad.
–Karena itu, pemandangan di depan mata Conrad ini membuatnya menyadari pemahamannya yang tidak sempurna.
Gadis mungil itu–bersedia berkompromi dan menerima segala hal yang telah dia serap dalam sponsnya. Meskipun begitu, dia memilih untuk terus bergerak maju.
Mengejar punggung pemuda itu–yang berada di alam yang tidak bisa didekati Conrad atau mungkin orang manapun di dunia–
“…Profesor Marie, kemana tepatnya anda ingin pergi…”
Suaranya dipenuhi dengan rasa kagum ketika dia bergumam sambil menatap dari kejauhan. Vermouth lalu memberitahunya,
“…Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Tapi setelah melihat orang-orang yang melakukan hal-hal seperti itu, aku mulai merasa bernafsu untuk menantang ‘mimpi’ yang hampir kulupakan–apakah kata-kataku membuktikan kalau laki-laki itu tetap aja seorang bocah berapapun umurnya? Apa pendapatmu, pak tua?”
“Hmm…Begitu ya. Itu memang masuk akal.”
Conrad setuju, lalu menambahkan,
“…Meskipun aku sudah berumur segini, anak-anak muda benar-benar memberiku pelajaran. Kurasa aku ini masih kekanak-kanakan ya? Setelah aku memikirkannya dari sini, aku sungguh merasa bahagia karena penasaran apakah aku akan terus tumbuh, dan hasil apa yang akan terjadi nanti.”
Ketika mendengar suara riang Conrad, Vermouth tersenyum kecut,
“Ya, aku menantikannya. Buatkan aku Dutch Wife[2] terbaik.”
Vermouth terdiam sebentar.
“Tentu saja–yang standarnya setara dengan Initial-Y yang itu.”
Tapi ketika dia mendengar suara bercanda itu, Conrad tampak tidak merasa kesal.
Dia hanya kelihatan terkejut, lalu bertanya,
“…Hm? Apa aku mengatakan suatu hal yang mengarah kesana?”
“Tidak? Hanya saja aku ini makhluk hidup yang berhasil bertahan hidup berkat instingnya.”
Vermouth menatap ke organ prostetiknya–atau lebih tepatnya, automata lacur yang Conrad buat, lalu berkata lebih lanjut,
“Kau membuat sebuah automata lacur yang cuma digunakan untuk tontonan saja dengan seksama begini–kupikir kau mungkin mendapat ide ini setelah melihatnya sebelumnya, kan?”
“Yah…itu bukan hal yang hebat. Aku sendiri lupa akan hal itu.”
Conrad berkata begitu seraya mengenang masa lalunya.
“–Itu saat aku masih kepala dua.”
“Lama juga.”
“Saat itu ada seorang anak muda, yang terkenal karena menjadi Meister termuda di dunia, yang dielukan sebagai orang jenius yang belum pernah ada sebelumnya.”
“Oh, jadi orang itu kau?”
“Wow, makasih sudah menyadarinya. Bagaimanapun, anak muda itu diberi perintah oleh negaranya, oleh Yang Mulia saat itu, untuk menangani sesuatu. Ada sebuah automata yang tidak mau bergerak, tersembunyi dalam Keluarga Kerajaan–kata yang tercetak di lehernya adalah…’Y, ‘BezEL’, kalau tidak salah?”
“–”
Vermouth terdiam. Conrad melanjutkan kata-katanya dengan ironis,
“Sang anak muda dilanda ketidakpercayaan. Saat itu–setengah abad sebelumnya. Peralatannya tidak sekuat peralatan zaman sekarang–harga diri sang pemuda hancur di hadapan karya seni tingkat dewa dan hebat ini, yang sederhananya berupa sebuah Menara Inti dikompres kedalam sebuah tubuh gadis muda. Sang pemuda lalu bersumpah kalau dia harus membuat sebuah automata sendiri yang melampaui karya seni itu..”
“…Apa itu alasan kenapa kau menjadi teknisi mesin jam?”
“Kau pasti bercanda kan?”
Conrad tersenyum kecut.
“Aku sudah bilang kalau aku sudah lama lupa tentang hal itu. Tapi aku sendiri merasa kaget, barangkali hal ini selalu ada di dalam diriku di suatu tempat.”
Tetapi–
“–Menantang sebuah seri Initial-Y…yah, itu bukan ‘mimpi’ yang jelek.”
“Malah bagus kan? Inilah yang mereka bilang mengunjungi masa muda kembali, kan?”
Bahu Vermouth terguncang ketika dia tertawa. Tapi di momen ini–tatapannya beralih ke jarum jam.”
“Mengesampingkan hal itu…aku bisa bilang kalau ini bukan hanya melampaui umat manusia, kelihatannya mereka sudah melebihi Dewa itu sendiri. Tapi…apa ini hal yang benar, pak tua?”
“Hm, ya…dengan kecepatan ini pun–hanya ada peluang 50% mereka bisa tepat waktu.”
Keduanya telah melihat waktu yang ditunjukkan oleh jam; hanya ada sisa waktu 3 menit.
Naoto dan Marie memperpendek satu jam hasil kerja lusinan Meister menjadi 30 detik.
Tapi meskipun begitu–membuat sirkuit baru untuk ‘Pilar Surga’ yang rusak parah ini–akan menghabiskan satu bulan bagi 120 Meister. Apa yang Conrad khawatirkan adalah apakah waktu sebulan tersebut bisa diperpendek menjadi 180 detik.
Tapi–dengan asumsi kalau itu bisa dilakukan, hal itu sendiri telah melampaui Dewa–

Waktu yang dijanjikan telah tiba.
Batas 72 menit yang Naoto katakan semakin mendekat.
Saya tidak bisa menunggu lagi. AnchoR berdiri lalu berkata,
“…Kalau begitu, kakak…begitulah, saya akan pergi…”
AnchoR menyentuk kubus yang teruntai di depan dadanya.
Gudang senjatanya terbuka dengan koyakan dahsyat di udara. AnchoR menarik keluar senjata yang dia miliki–bukan, apa yang dia tarik adalah boneka beruang.
Naoto membelikan boneka ini untuknya 2 hari yang lalu.
AnchoR melepas cincin di jari tengah tangan kanannya, lalu menyerahkannya pada RyuZU bersama dengan boneka beruang tadi.
“Erm…Saya takut mengotori keduanya…tolong bantu jaga dua-duanya.”
“…Kakak terima.”
RyuZU menerima cincin dan boneka beruang tersebut, dia tampak sedikit ragu-ragu seraya melanjutkan kata-katanya,
“AnchoR, jika kamu ‘serius’, kamu akan melampaui ‘Mute Scream’ kakak. Tunggulah sampai 71 menit lebih 59 detik–”
“Maaf, kakak…saya tidak akan menunggu.”
AnchoR langsung menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

“Saya mematuhi apa yang papa perintahkan. Jadi…tidak masalah. AnchoR akan mengakhiri semuanya, tidak akan membiarkan siapapun melukai–papa dan yang lain–”
AnchoR melongok ke bawah.
Dia melihat ke blok di bawah–sang ‘target’ yang berdiam di Akihabara.
Benda raksasa dan mengancam–yang ingin membunuh orang-orang yang dia cintai.
AnchoR menatap benda itu–dia memutuskan untuk menghancurkannya tanpa ampun, lalu menarik napasnya.
AnchoR menyentuh kubus di depan dadanya.
Pegasnya berputar, lalu seluruh daya yang tersimpan di dalam ‘Gir Kekal’.
Semua itu berubah menjadi–
“AnchoR.”
Sang kakak memanggil namanya dari belakang.
Tetapi, AnchoR tidak menoleh. Dia mengambil langkah ke depan menuju medan perang–untuk memusnahkan segalanya.
“AnchoR.”
Sang kakak mengulangi panggilannya. Nada bicaranya sama seperti sebelumnya, diwarnai dengan keanggunan  dan mulia.”
“–Saat kamu kembali, Master Naoto akan memberitahumu sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang dirimu. Kakak tidak ingin memaksamu kembali tanpa luka.”
Tetapi, sang kakak yang bangga ini melanjutkan kata-katanya dengan suara pedas.
“Kamu harus kembali. Jika kamu tidak berniat melakukannya–”
Jeda sejenak.
“–Sebagai seorang kakak, kakak akan menyeretmu kembali, biarpun kakak harus memberimu hukuman kecil.”
AnchoR tampak sedikit sedih dengan bibir tersimpul.
“…Maaf…tapi kakak, kakak tidak bisa menghentikan AnchoR, lho.”
“Kata-katamu sungguh berat. Kamu adalah adik yang sangat kakak banggakan, tapi kakak rasa kamu sudah sedikit berlebihan, tampaknya kakak perlu–mendidikmu lagi.”
“–”
“Kamu harus tahu kalau di dalam maupun di luar surga, tidak ada automata yang lebih hebat daripada kakakmu ini–dan juga tidak ada adik yang lebih hebat dari kakaknya♪”
Ha–Anchor tanpa sadar tertawa kecil, lalu dia mengangguk.
Kemudian, dia melompat.
Dari ketinggian 1.500 m–menuju Grid Akihabara yang termagnetisasi.

Sang anak merah putih terjun, rambut dan pakaiannya berkibar oleh angin yang kuat.
Mulutnya sedikit bergetar, mengeluarkan suatu suara.
Suara yang keluar bukanlah suara biasanya, yang bimbang dan kekanak-kanakan, melainkan suara mekanik dan dingin yang dikonversin menjadi bahasa.
‘Penetapan Deklarasi–seri Initial Y, Unit 04, ‘Trishula’ AnchoR.”
AnchoR menegaskan dengan suara yang menyatakan revolusi.
Cek Kondisi–All Green.
Balance Wheel, nomor 1. Persenjataan tidak ada kerusakan. Kondisi Aktivasi Penuh, pelepasan dikonfirmasi.
Peringatan–Energi yang Tersimpan di dalam Kotak Keharuman Sepuluh Ribu Bunga, ‘Power Reservoir’–6.1%. Perhitungan daya…selesai.
Daya maksimum, pergerakan ke-12 diaktifkan, output daya maksimum subjektif diestimasikan pada 3,2 detik.
–Diabaikan.
Fungsi inheren— Kotak Keharuman Sepuluh Ribu Bunga (Power Reservoir)…memulai rangkaian transformasi.
AnchoR menyatakan niatnya untuk memberontak.
Itu adalah pernyataan bahwa mulai saat ini–dia akan melanggar semua hukum fisika.
Di saat yang sama, dia memastikan musuhnya.
Targetnya–adalah senjata kelas taktis elektromagnetik multipedal ‘Yatsukahagi’.
Tinggi 320m, panjang 932m.
Dia mengenali sumber panasnya–Inti pusatnya, lalu memastikan bahwa teknologi elektromagnetik memang digunakan.
Dalam momen sekejap itu, dia merasakan seseorang di dalam dirinya, berbeda dari keinginannya sendiri, seseorang itu tertawa kecil.
–Ya ampun, bahkan setelah 1.000 tahun, kau masih disana?
Bahkan AnchoR sendiri pun tidak bisa memahami kata-kata itu bicara tentang apa, tapi simulasi pertarungan terus menganalisis musuh di depan matanya.
Persenjataan musuh: tembakan EMP, railgun, dan mega meriam gelombang mikro.
Dilengkapi dengan phased array radar dan penglihatan infrared. Posisi saat ini berada di dalam jarak efektif musuh.
Musuh memiliki perisai magnetik. Menarik kesimpulan dari informasi bahwa perisai tersebut menangkis sabetan Unit 01 RyuZU, memperkirakan output minimum untuk menghancurkannya pada tingkat 11–
“–Tingkat ancaman musuh, klasifikasi ‘lacquer’–Balance Wheel, mulai bergeser ke angka 13.”
Tubuh sang anak mulai membara.
Hukum-hukum fisika mulai bergemeretuk, paradoks di dalam konsep-konsep mulai saling bergesekan.
“–Mulai perubahan–Balance Wheel, nomor 2.”
Cakram bulat di dalam AnchoR–sang automata yang dibuat untuk bertempur, mulai berputar.
Bentuk alat tersebut mirip seperti sebuah jam. Jarumnya melompat ke posisi yang ditandai II, serta bergerak menuju III.
“–Nomor 3–bergerak melampaui kondisi aktivasi untuk ‘Bloody Murder’–”
Di saat yang sama, rambut hitam mengkilat sang anak memanjang, berubah warna menjadi merah darah.
Armor putihnya melebar dengan menakutkan, garis merah bercahaya menyebar di atas armor hitamnya.
“–Nomor 4–5–6, 7, 8–”
Revolusinya semakin cepat.
Sang anak tahu kalau gelombang panasnya telah merusak, memutarbalikkan, membuat waktu menjadi gila.
Karena untuk setiap tingkatan gir, waktu subjektifnya akan semakin memanjang.
“9, 10, 11–”
Dia merasakan jarum jam di tubuhnya berputar penuh sekali, lalu menyimpulkan,
–‘Metode lain’ Master sudah saya beritahu.
Senjata yang bisa dia gunakan memang terbatas, tapi dengan aktivasi berfrekuensi tinggi, sebagian besar senjata biasa tidak bisa digunakan–tapi tidak masalah, karena tidak ada metode lain yang bisa diterima, serta tidak ada waktu lagi.
“–Nomor 12–Senjata LB01, BC08–keluar.”
Kubus di depan dada AnchoR berputar.
Setelah itu, sebuah pedang gir mekanis yang lebih tinggi dari AnchoR muncul di tangan kanannya.
Mengikuti pedang tersebut sesaat kemudian adalah 8 bola yang melayang di belakang AnchoR.

Kemudian, dada sang anak mekar.

Pakaian yang menutupi dadanya terbelah, kulit artifisialnya robek, dan tulang rusuknya diubah menjadi sebuah wadah dengan tidak teratur.
Kubus yang berputar itu terus berakselerasi tanpa tanda-tanda mengurangi kecepatannya, yang hampir mencapai kecepatan cahaya.
Lalu sesaat kemudian, dengan panas yang terus meningkat sampai tidak terbatas, kubus tersebut tertanam dalam di dada sang anak yang sedang mekar.

“–Melepaskan kondisi regulatif dan subjektif  dari ‘kehendak bebas’–diterobos.”

Jarum jam yang menunjuk ke XII di dalam tubuh sang anak berdenyut dengan intens seolah-olah sedang melawan.
Jarum jam itu berputar-putar, getarannya begitu menggila. Sampai akhirnya, jarum jam itu retak, dan pecah berkeping-keping.
Di saat itu, AnchoR tahu–kalau pada hari ini, mimpi yang dikenal sebagai keabadian akan berakhir.

“Balance Wheel, nomor 13–memulai ‘Gerakan Penghancuran Diri’.”

Dia akan terbakar untuk selama-lamanya. Di dalam api tersebut, sang anak berubah menjadi seorang wanita.
Anggota tubuhnya tumbuh memanjang, rambutnya yang menyatu dengan panas dalam jumlah besar memanjang turun seperti air terjun.
Armornya meleleh dan jatuh ke tanah, gaun merah muda mengkilat di baliknya memamerkan tubuhnya yang memikat.

Chronofork–memulai output imajiner Gir Kekal, muncullah.”

Kemudian–

Di dunia yang berhenti ini, sang gadis cantik AnchoR yang membakar dirinya sampai batas dan mengubah penampilannya–
Mengatakan kalimat terakhir kedua yang hanya dia miliki dari seluruh seri Initial-Y.

“–Pergerakan Bagian Akhir ‘Steel Weight’–”

Itulah kata-kata terakhir yang menandakan kematiannya.
Gir Kekal–fungsi yang membuktikan konsep keabadian, mengalami kerusakan, dan terus berputar bising.
Khayalan sang anak abadi mulai berantakan. Kenyataan menolak dirinya terbangun.
Tetapi, pergerakan bagian akhir tersebut membuktikan satu hal.
Kekeliruan tidak masuk akal mengenai ‘Trishula’–yaitu tidak ada hal yang tidak bisa hancur selama 3000 tahun ini.

–Sebenarnya itu hal yang sederhana.
Berbeda dari Unit 01 RyuZU , yang menguasai waktu imajiner, AnchoR dapat menggunakan panas tidak terbatas untuk memasuki waktu imajiner secara paksa melalui distorsi waktu–tapi tindakan ini sendiri akan mendatangkan gesekan, inersia, gravitasi dan rekoil. AnchoR melepas semua gaya yang melindunginya dari terpapar oleh itu semua–meningkatkan outputnya dengan premis kehancurna dirinya sendiri.
Itu saja sudah cukup untuk membuatnya mampu terus berfungsi dengna output maksimum–seperti nama Gir Kekal yang dia umumkan.
–Untuk selama lama lama lama lama lamanya.
Sampai tubuh, rangka, dan suku cadangnya mencapau batas dan hancur.

Keabadian sedang melaksanakan upacara kematian–dan ketika melodi paradox ini sedang dimainkan.
Gadis cantik yang memberontak dari alam semesta itu mengoyak dunia yang dibelenggu oleh semua hukum fisika–lalu meloncat ke depan

AnchoR terus bergerak maju di dalam dunia yang terkompres ini.
Di belakangnya ada 8 bola yang melayang.
Bola-bola tersebut aslinya adalah attack drone mini, tetapi AnchoR membiarkan bola-bola tersebut bergerak bersamaan dengan output pergerakannya dan ikatan resonansi–meningkatkan ouputnya menjadi maksimum.
Meriam drone tersebut berubah menjadi semacam booster, menembakkan api yang tidak terlihat.
Dengan dorongan luar biasa dari ke delapan unit teresbut, kecepatan AnchoR meningkat.
Dia melaju ke arah ‘target’ dengan kecepatan yang tidak bisa diamati oleh siapapun di dunia ini.
(–Terima ini–!)
AnchoR mengangkat pedangnya dengan kedua tangan dan menyiapkan tubuhnya.
Pada bilah pedang tersebut ada gir-gir dengan ukuran partikel yang berputar dengan cepat. Umumnya, pedang tersebut dapat memotong segalanya, tanpa mempedulikan ketebalan bahan yang dipotongnya.
Tapi di momen ini, ketika waktu tampak seperti telah mendekati tidak terbatas dan berhenti–‘di saat ini’ yang berada di celah diantara nol dan satu detik, gir-gir pada pedang tersebut tidak akan mampu bergerak di kecepatan tersebut. Jika AnchoR membuatnya bergerak, gir-gir tersebut akan lenyap bersama dengan bola-bola di belakang AnchoR.
Oleh karena itu–AnchoR mengangkat pedang itu, memilih waktu yang tepat, lalu mengayunkannya.
Memanfaatkan daya tahan pedang gir ini, pada kecepatan yang melebihi pemahaman manusia, dan kepercayaan terhadap hukum fisika seperti hal yang normal–
“—!”
Pedang itu berhasil menembusnya.
Sebenarnya–pedang itu pun retak, tidak ada suara yang terdengar di ruang ini–AnchoR hanya merasakan kalau pedang itu telah memotong sesuatu, dan mengambil tindakan selanjutnya.
Dia terus ‘melemparkan’–kedelapan bola yang mengikutinya.
Bola itu menabrak permukaan armor ‘Yatsukahagi’ dengan kecepatan cahaya, merusak serta mengelurakan energy dalam jumlah luar biasa, yang mengikis dan melenyapkan armor elektromagnetisnya.
AnchoR bergerak maju melalui lubang yang dia buat, lubang yang hanya cukup bagi seseorang untuk memaksa masuk.
Lalu, dia masuk ke dalam ‘Yatsukahagi’–
(–…!)
–Kemudian, dia ambruk.
Di saat yang sama, penghilang guncangan yang berjumlah lebih dari 30 di dalam tubuhnya itu, 12 diantaranya telah rusak parah.
AnchoR merasakan kerangkanya berderit, segalanya, dari suku cadang terkecil di dalam tubuhnya, mulai mengalami kerusakan, lalu–
(Auto Gyro–tidak rusak…tidak masalah!)
AnchoR melepaskan belenggu gravitasi, melompat, mendarat di dinding, dan mulai menggerakkan kakinya.
–Ketika dia tiba di target pertamanya, kaki kanannya telah hancur akibat panas dan benturan tadi.
Kerangkanya telah berubah menjadi tidak berbentuk, penghilang guncangannya pun telah lepas entah dimana.
–Suhu AnchoR begitu panas sampai-sampai temperature di dalam mesin itu sendiri tidak ada pengaruhnya, dan beberapa suku cadangnya sudah mencapai titik lelehnya. Saat ini, AnchoR sedang mengeluarkan panas dengan jumlah yang jauh lebih banyak daripada jumlah yang dibutuhkan untuk menghapus daya magnet.
Tetapi, AnchoR mengabaikan itu juga.
AnchoR terus mengayunkan pedangnya ke dinding pembatas tepat di depan matanya.
Dia terus menyabetkan pedangnya dengan kecepatan yang dapat membuat alam semesta menjadi gila, dan langsung mengubah dinding pembatas itu menjadi plasma.
Sebelum plasmanya menyebar, AnchoR menginjak lantai lalu berakselerasi–hanya untuk merasakan kalau kakinya telah rusak–tapi dia mengabaikan hal itu.
Dia sampai di sebuah ruangan, dan memastikan apa yang kelihatannya seperti gerakan–31 dari 1033 kumparan yang disebutkan Naoto.
Piston yang berbentuk sekrup rumit dan raksasa, dengan daya elektromagnetik luar biasa.
(…Ah…aaaaahhhhhhhhh!!!)
AnchoR mengeluarkan raungan tanpa bunyi.
Dia mengesampingkan ‘rasa sakit’ yang menyayat di bagian sendi lengannya–lalu dengan satu sabetan, dia menghancurkan segalanya di lantai tersebut.

–……
Manusia di dalam mesin ini–satu-satunya sumber panas yang hidup–Gennai tetap tidak bergerak.
Lebih tepatnya, dia tidak bisa bergerak. Tidak, barangkali dia tidak bisa menyadarinya.
AnchoR, dalam mode ‘Steel Weight’ itu, tidak bisa mendeduksi perbedaan diantara waktu eksternal dan waktu yang dia alami.
Tapi mulai dari waktu AnchoR membelah armor ‘Yatsukahagi’ dan menghancurkan dinding pembatas–bahkan setelah dia menghancurkan 809 kumparan, hanya 0,24 detik telah berlalu.
Setidaknya–butuh 0,3 detik sampai guncangannya menyebar, pikiran Gennai mengenali guncangan itu, dan pikirannya mengubahnya menjadi ‘rasa terkejut’.

–……
Untuk setiap langkah yang dia ambil–manipulatornya rusak dan tidak bisa diperbaiki.
Untuk setiap langkah yang dia lakukan–guncangannya berubah menjadi panas, membuat actuatornya meleleh.
Meskipun begitu, AnchoR terus mengayunkan pedangnya–sampai tangan kanannya terputus.
Pedang itu terlempar bersama dengan lengan kanannya ke arah yang tidak terduga–dengan kecepatan yang jauh melebihi railgun senjata raksasa ini, keduanya tertanam dalam di dinding.
Namun, AnchoR hanya mencabut lengannya yang terlepas dari gagang pedang, lalu menggunakan tangan kirinya yang masih tersisa untuk memegang pedang tersebut–
(Ha–ah, ahh–ahhhhhh–!!)
Dengan begitu, dia mengayunkan pedangnya dengan paksa.
Pedang itu mengoyak ruang, memicu ledakan.
Guncangan dari serangan kali ini membuat ruang menjadi terkoyak dan zat menjadi lenyap.
Goresan akibat serangan tersebut terus meluas seperti gelombang, panas dan tekanannya meledakkan seluruh lantai di belakang dinding di depannya, melenyapkan segalanya.
Panas menciptakan cahaya, guncangannya mengakibatkan ledakan.
AnchoR tidak bisa menahan guncangan tersebut sehingga dia terlempar ke dinding.
Dia merasa semakin sulit untuk mengendalikan posturnya–karena bunyi di dalam ruang tertutup ini pun tidak bisa mencapai pendengarannya.
–Tetapi,
AnchoR terus bergerak ke lantai selanjutnya seperti sesosok hantu–
(–Sa…kit…)
Sakit. Gumam AnchoR di dalam hatinya.
AnchoR terus bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diamati siapapun, membelah armor senjata raksasa itu dengan kecepatan melebihi cahaya, dan di saat yang sama, masuk ke dalam serta memusnahkan segala hal di dalamnya–
Ketika AnchoR menghancurkan kumparan ke-932, dia akhirnya merasakan akhirnya.
Auto Gyronya telah meleleh, dan semua hal di bawah lutut kirinya telah berhenti berfungsi. Lengan kanannya telah putus, dan bahkan pedang yang menunjukkan daya tahan mengagumkan itu pun telah lenyap beberapa saat yang lalu.
Proses pikirnya mulai terputus.
Perangkatnya yang mengalami malfungsi sedang dihancurkan oleh akal sehat alam semesta.
Praktis, AnchoR telah kehilangan semua mobilitasnya, tapi meskipun keadannya telah separah itu, ketika dia tiba di tujuannya–
“Ah–aahhhhhh!!!”
AnchoR berteriak–lalu memukul pintu sampai lepas dengan tangan kirinya yang masih tersisa.
Kemudian, dia menyadari sesuatu.
Kekuatan pukulan itu menembus pintu dan meledakkan beberapa kumparan di lantai di belakangnya.
Pecahannya jatuh bersama dengan gravitasi, lalu diantara kebisingan itu, AnchoR menyadari teriakannya dan kehancuran tersebut.
–Dia tidak bisa lagi beraksi di luar waktu sungguhan.
(…Sakit, sakit, sakit ,sakit, sakit, sakit–sa…)
Hatinya menjerit kesakitan.
–Papa, mama, kakak, tolong–
Instingnya meratap dan menjeritkan kata-kata pesimis seperti itu sebelum pikiran rasionalnya.
Tapi pikiran rasionalnya menilai situasi saat ini dengna dingin sebelum dia dapat merasa malu akan kenyataan tersebut.
Waktu subyektifnya tidak lagi berbeda dari waktu sungguhan.
Jadi–sudah berapa detik berlalu setelah serangannya? Ataukah beberapa menit?
Dia masih belum menghancurkan semua kumparannya.
Dia tidak tahu seberapa banyak kumparan yang harus dia hancurkan sebelum senjata raksasa ini berhenti–tapi untuk jaga-jaga, jika dia tidak menghancurkan semuanya, semua orang akan–
“–Ahh–ahh…”
Bahkan perangkat suaranya pun kehilangan fungsinya.
–Dia hampir mencapai batasnya.
Tapi AnchoR tidak punya waktu untuk merenung, maupun merasa ragu, dia pun merangkak menuju suatu sumber panas.
Sudah jelas–kalau ini adalah kali pertama AnchoR menggunakan ‘Steel Weight’.
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, itu memang benar-benar taruhan terakhir, dan sasarannya adalah untuk jaga-jaga–saat ‘daya tersimpannya habis’, dia punya cukup daya untuk bergerak.
–Malahan, dia tidak tahu berapa detik yang bisa dia lalui setelahh menggunakannya.
Meskipun begitu, pikiran rasionalnya sebagai mesin tempur menyatakan kalau ‘hasil pertempuran’nya tidak terlalu buruk.
Dengan simpanan daya kurang dari 7%, jumlah kerusakan yang dia berikan pada ‘target’ ini adalah 18,2 kali lipat daripada aktivasi gir ke-12nya. Selain itu, berdasarkan informasi yang dia miliki saat ini, jika dia bergeser ke nomor 11–dayanya akan habis ketika dia menghancurkan armor pertama.
Tetapi, hati AnchoR berseru liar–aku tidak tahu tentang hal itu.
(…Kalau aku tidak bisa menghancurkan ‘benda seperti ini’…lalu..ke-kenapa saya–)
AnchoR mengayunkan tinjunya sambil meratap.
Dia sadar kalau tangan kirinya yang masih tersisa tidak bisa menanggung tekanannya dan rusak, lalu menghancurkan semua yang dia lihat.
–Tidak ada artinya.
Kehendak bebas–sebuah hati, adalah kunci aktivasinya, tapi dia tidak bisa melindungi orang-orang yang hatinya ingin lindungi, lalu–AnchoR mengutuk penciptanya.
(…Kenapa, kamu…mencip, takan…An…choR…!?)
–Beritahu, saya…
AnchoR meratap dengan suara yang tidak akan pernah keluar dan terus bergerak maju.

–…
Kedua lengannya sudah tidak ada lagi. Kaki kirinya meleleh, sementara kaki kanannya tampak kusam.
Jumlah pembangkit daya yang telah dia hancurkan sebanyak –10008.
(…25…buah…lagi…)
–Itu mustahil.
Energinya telah terkuras sampai titik dimana dia kembali ke waktu sebenarnya, serta membuka gudang senjatanya saja sudah menjadi hal yang sulit baginya.
Meskipun dia bisa mengambil sebuah senjata–dia tidak punya tangan untuk menggunakannya.
Semua sensornya telah mengalami kegagalan fungsi, pandagannya pun telah kabur–tetapi…
(–!?)
Di dalam dirinya masih ada sedikit penglihatan panas, dan dia menangkap sebuah reaksi.
AnchoR jelas melihat sebuah blok yang kira-kira berjarak 200 meter darinya, sebuah kumpulan energy panas di tempat tersebut.
Dia menyerahkan hatinya yang sedang bersedih, lalu sang mesin tempur yang behati dingin mulai menyusun sebuah asumsi.
Jika meriam utama senjata ini memperoleh energi dari kumparan-kumparan lalu ‘mengumpulkan’ semua energi itu untuk menembak,
Jika dia menghancurkan sumber panas yang terkumpul disana, dia pasti bisa mencegah serangan meriam tersebut–!
(–Saya mohon, hancurlah!!)
AnchoR meringis dan mengucapkan doanya.
Dia mengerahkan semua energi dari nomor 1nya dengan tanpa perasaan–ke arah kaki kanannya yang rusak sebagian.
Dia tidak memikirkan cara mendarat, apa yang dia pikirkan hanyalah meluncur menembus dinding seperti sebuah peluru meriam.
Di momen itu–AnchoR menyadari sesuatu.
Sumber panas di penglihatannya tidak bergerak sama sekali.
Itu mengindikasikan bahwa–waktu objektifnya akan melebar lagi.

–Ini adalah aktivasi saya yang terakhir, pikir AnchoR.
Dia tersenyum.
Dengan kaki kanannya yang tersisa, AnchoR berakselerasi di dalam celah waktu ini.
–Tubuh yang rusak itu bergesekan dengan ruang. Setelah dia yakin kalau panas tubuhnya telah meningkat lagi–satu kenyataan itu saja sudah cukup untuk membuatnya merasa tenang.
–Akselerasinya berhasil. Tubuh ini masih bisa bergerak.
Tentu saja, itu seperti sebuah lilin yang membakar sumbunya yang tersisa sedikit, begitu mempesona.
Rekoil yang disebabkan oleh tumbukan kakinya yang menendang ruang membuat kaki kanannya meleleh dan jatuh terlepas.
Indranya yang melebar merasakan kalau dinding itu begitu jauh.
Guncangan luar biasa pun terasa.
Guncangan itu seperti guncangan akibat sebuah peluru meriam. AnchoR yang membara dan terbakar itu telah menabrak dan menembus dinding, serta masuk ke dalam blok di balik dinding tersebut. Tetapi, tepat di saat itu, dia kehilangan kendali dan kecepatan, lalu sebelum dia bisa membedakan mana atas dan bawah, AnchoR mendarat dengan keras dan malang di dinding seberang.
Tubuhnya memantul-mantul di lantai seperti sebuah boneka yang benang kendalinya telah dipotong.
Tetapi–
(Belum…berakhir…)
Meskipun anggota tubuhnya sudah tidak ada, fungsi tubuh AnchoR masih belum berhenti.
Dia mengangkat lehernya dengan kaku dan melihat ke sekelilingnya.
–Di sebelah sana ada sebuah aula yang mirip seperti sebuah kuil atau gereja.
Di bagian tengahnya ada begitu banyak gir dengan segala ukuran, kemudian bagian tengah lantainya terangkat dan melebar menjadi sebuah kubah.
Apa yang ada disana adalah sebuah silinder raksasa dengan sekian banyak shaft[3], bantalan peluru, dan bola–sebuah kumparan kristal yang berbentuk spiral kaca yang menyimpan energi.
(…Jika saya menghancurkan…benda itu…)
AnchoR mengumpulkan semua sisa semangatnya, lalu bergerak,
Tubuhnya melengkung, dia bergerak maju seperti seekor lintah.
–Sakit.
Sakit sakit sakit sakit sakit sakit sakit–
Sinyal dari sensornya yang rusak mengganggu pikirannya, lalu penderitaan menyiksa seluruh tubuhnya.
Kenapa sih sebuah automata–sebuah mesin tempur, malah bisa merasakan rasa sakit…?
Tepat ketika AnchoR memikirkan pertanyaan tak berarti tersebut–

–Sekujur tubuh AnchoR berguncang, tubuhnya telah dipenuhi oleh banyak lubang.

Suara seorang pria tua terdengar dari atasnya.
“…Tidak pantas sekali. Apa kau tidak merasa malu sebagai mahakarya ‘Y’?”
Gennai Hirayama–kesadaran AnchoR yang samar-samar setidaknya menyadari hal itu.
Tapi tubuhnya hampir akan hancur, dan dia tidak bisa menggerakkan penglihatannya sama sekali.
“Ataukah…teknologi elektromagnetik ini ternyata begitu ampuh terhadap automata ‘Y’?”
Dia tidak bisa bergerak.
Tidak bisa bergerak tidak bisa bergerak tidak bisa bergerak, error, stop, error, error, error
“Begitu ya. Mungkin itu memang benar. Kau terlambat–perintah untuk menembakkan meriam utama telah dimasukkan.”
Error.
“Sebentar lagi, meriam itu akan menembak–kau kalah.”
Gennai menatap ke arah warisan ‘Y’ yang sedang menggeliat kesakitan di lantai dan berkata,
“Ngomong-ngomong…, aku memang memperkirakan hal ini dari awal; aku minta maaf atas kata-kata klise ini–”
Gennai melanjutkan kata-katanya dengan geli, lalu mengangkat pistol di tangan kanannya.
Senapan yang ditempeli elektroda itu bukanlah senapan gir.
“Ini adalah railgun portabel yang berguna untuk melawan warisan ‘Y’–kalian semua…secara pribadi, aku tidak berharap pistol ini akan bekerja dengan efektif, tapi tampaknya memang melakukan persiapan sebelumnya adalah hal yang bagus.”
Sambil berkata begitu, Gennai mengarahkan pistolnya ke sang target.
Pistol itu diarahkan ke kepala AnchoR yang sedang menggeliat kesakitan.
–Suara tembakan pun menggema.
Peluru supersonik diakselerasi oleh listrik itu–ditembakkan bersamaan dengan suara tembakan menggema.

“Koneksi selesai! Marie!”
“Aku juga selesai disini! Mengakfikan sekarang. Semuanya, bersiaplah untuk melarikan diri!”
–73 menit, 52 detik.
Itulah momen ketika Naoto dan Marie mengendalikan grid-grid di sebelah Akihabara.
Itu adalah pekerjaan yang melebihi pengetahuan umat manusia, sebuah pencapaian yang tidak mustahil di tangan Dewa–tapi mustahil dilakukan oleh manusia.
Karena dalam selan waktu sependek itu, keduanya menciptakan sirkuit baru untuk ‘Pilar Surga’ yang rusak berat.
Meskipun misalnya disana ada cetak biru yang detail sekalipun, untuk memahami strukturnya saja diperlukan waktu selama sepekan.
Tapi meskipun begitu–batas waktunya terlewati tanpa belas kasihan.

Vermouth berseru dengan sinis,
“Tidak perlu persiapan apapun! Langsung saja ambil langkah seribu dan lompat ke lubang itu! Apa kita akan menyapa militer dulu sebelum pergi? Lihatlah, mereka mengantarkan kita pergi dari jarak dekat!”
Dia berkata begitu seraya menembakkan sebuah senapan ke balik barikade.
‘Militer’ yang berada di depannya, yang bersenjatakan mesin dan senjata using, semakin memperkecil jarak diantara mereka.
Houko tidak terdengar optimis–tapi Marie merasa kalau diantara ‘militer’ Tokyo yang masih tersisa, ada beberapa tentara yang masih memiliki keberanian.
Mereka adalah sisa-sisa Pengawal Kerajaan dan tentara yang datang dari grid-grid lain.
Mereka mulai melakukan penyerbuan ke benteng sesaat setelah 50 menit berlalu, sebelum mereka dapat mengumpulkan semua pasukannya.
Dari sisi militer, mereka melakukan kesalahan besar dengan mengirimkan tentara secara bergelombang–
Tapi di pihak Marie, ini merupakan pertempuran yang sulit, karena RyuZU dan AnchoR tidak ada di tempat, dan mereka harus mengendalikan benteng melalui Vermouth dengan organ prostetiknya serta Halter sang automata bersenjata berat.
Keduanya menghambat pasukan yang datang dengan nekat tersebut, upaya keduanya tersebut pantas dipuji oleh orang biasa yang melihat.
Tapi Naoto–tidak, semuanya merasa khawatir.
Batas waktunya sudah lewat. Saat ini sudah 2 menit lebih dari waktu tembak selanjutnya yang Naoto sebutkan.
Naoto memang bilang kalau ‘paling cepat’ 72 menit. Barangkali senjata itu butuh waktu lebih dari 80 menit–atau mungkin senjata itu bisa menembak saat ini juga.
Tapi Naoto lebih khawatir soal–
“Sial–kumohon, AnchoR, RyuZU…”
Barangkali penundaan selama dua menit itu berkat pengorbanan AnchoR atau RyuZU.
Tapi dia berharap kalau dua menit ini tidak diperoleh berkat pengorbanan terbesar di dalam hidupnya–

Di sisi lain, Marie sedang sibuk dengan peneyelarasan akhir, dan di saat yang sama, berseru pada Houko,
“Kau dengar!? Kami akan memanaskan Grid Akihabara sampai 2.000 Derajat Celsius! Panaskan area di sekeliling senjata itu sampai 30.000 Derajat!”
–Apa aku ini waras? Tanya Marie.
Dia lebih merasakan takut akan apa yang dia katakan daripada siapapun disana.
Tapi dengan pertimbangan kalau dia harus menghancurkan senjata itu, dia merasa kalau temperatur tersebut masih terlalu rendah–Marie menggelengkan kepalanya.
“Area sekelilingnya mulai memanas, dan akan segera mencapai temperatur yang kita inginkan–tapi butuh waktu sekitar 30 detik untuk demagnetisasi struktur Grid Akihabara! Setelah 30 detik, Houko, tolong gunakan terminal itu untuk memberi perintah. Jalan pintasnya akan terputus dan temperaturnya akan turun.”
“Baik–aku mengerti.”
Houko mengangguk setelah mendengar instruksi Marie.
Naoto berteriak dengan tidak sabar.
“Hei, Marie! Kau belum selesai!? Cepatlah!”
“Oke! Sele–”
Marie berseru, dan tepat ketika dia hampir mengambil langkah terakhir.
Tiba-tiba…dia merasa ragu.

Memang benar–kalau dia telah belajar.
Dia memperoleh pemahaman tentang hal-hal yang mungkin tidak mungkin dia ketahui sebelumnya. Dia memperoleh kemampuan untuk melihat apa yang tidak bisa dia lihat.
Dia mengakui kalau dia bukanlah seorang jenius, dan memutuskan untuk menjadi orang jenius.
Tapi meski begitu, tidak, karena itu–dia hanyalah manusia biasa.
Jarinya sedang memegang pemicu yang mungkin saja bisa menghancurkan dunia.
…Apa ini benar-benar tidak apa-apa? Apa aku tidak melakukan kesalahan? Apa aku terlalu sombong?
Ini pertama kalinya aku melakukannya, bekerja dengan mengandalkan instingku, dan membuat sebuah konstruksi mekanis yang belum pernah ada sebelumnya.
Aku belum mengetesnya–tidak, mustahil aku gagal.
Tapi–jika agu gagal, Tokyo, negara ini akan jatuh.
Aku punya firasat kalau planet ini bisa terpengaruh fatal.
Dengan jariku ini–aku mungkin akan menjadi manusia yang paling banyak membunuh manusia dalam sejarah.
Giginya bergemeletuk, sensasi di jarinya menghilang.
Perasaan kesal dan tegang membakar pikirannya, dia tidak bisa menembus kebuntuan tersebut, dan dia merasa kalau dia bisa pingsan kapan saja.
–Tidak salah lagi. Ini adalah hal yang benar.
Tidak peduli bagaimanapun cara dia meyakinkan dirinya sendiri, rasa takut yang dia tunjukkan tampak tidak mereda sedikitpun.
Tiba-tiba, dia merasa bimbang.
–Apa yang orang-orang itu pikirkan pada awalnya ketika mereka memulai pemberontakan?
Mereka melakukan sesuatu yang berpotensi untuk menghancurkan dunia. Apa yang membuat mereka–
“…Hei Marie, cepatlah. Apa yang kau lak…ah, kau mau ke toilet?”
Begitu ya–Marie memahami sesuatu.
Setelah dia memahaminya, dia merasa kalau masalah itu begitu sederhana.
“Ini kedua kalinya. Aku akan membunuhmu nanti–!!”
–Itu adalah rasa murka.
Dengan murka, Marie menekan tombol enter.

Di saat itu–‘Pilar Surga’ mengeluarkan suara denyutan yang berirama.
Sukses atau gagal–Marie mengesampingkan pikiran tersebut lalau berdiri.
Harusnya ini cukup, ITU harusnya bisa bertahan.
Itulah bagaimana caranya‘Y’melakukannya–kedua unit itu adalah buktinya. Itu saja sudah cukup!
Dia menolehkan kepalanya, dan melihat Naoto sedang menepuk-nepuk terminal dengan senang.
“Baiklah–! Sekarang, kalian cuma mengganggu, jadi mundurlah♪”
Suara tepukan yang nyaring pun menggema.
Dan dengan guncangan dan suara bum yang mirip seperti ledakan yang besar, udara berderit keras di bagian luar barikade.
Angin tersebut menerbangkan para ‘militer’ dan berubah menjadi tornado di lorong yang mengeluarkan suara lolongan di dinding bagian dalam.
–Ini adalah downburst[4] dalam skala yang sangat kecil.
Dan yang mengikuti suara lolongan tersebut adalah bunyi keyboard,
“Semuanya! Ayo lari–melalui lubang di lantai ini–!!”
Naoto berteriak,
Di momen itu, ada angin yang muncul dari lubang raksasa di lantai tersebut,
Di depan angin topan seperti itu, Halter berkata,
“…Hei Naoto. Lubang di lantai…terus?
“Kita melompat, lah. Apalagi?”
“Ada parasut?”
“Tidak ada–karena itu aku memanggil angin.”
Naoto berdiri di dekat lubang dengan angin yang berderung keras, lalu berkata,
“Jatuh bebas dari sini, lalu kita bisa mengendarai angin dan mendarat di bawah–kayaknya.”
“…Kayaknya?
“Tidak masalah, sungguh. Kubilang kita bisa melakukannya. Ini cuma masalah pola pikir. Jangan menyerah, paman.”
“…Kau bercanda? Yah, tadinya aku tidak akan bertanya cara kita melarikan diri–tapi ini pasti bohong, kan?”
Halter mengerang. Orang bisa mendengar dari nada suaranya jika saja tubuhnya adalah tubuh cyborgnya yang asli, dia mungkin akan menepuk kepala botaknya.
Jarak antara lokasi mereka dengan permukaan tanah itu kira-kira 60km.
Di ketinggian ini, mesin Halter dan Vermouth sekalipun tidak mungkin bisa lolos tanpa luka sedikitpun, apalagi Naoto dan Marie yang terbuat dari darah dan daging.
Tapi Vermouth menepuk ringan tubuh Halter, lalu melompat ke udara,
“Aku akan jadi yang pertama! Ayo bbeerrrttteeerr–!”
Teriakannya menjadi tidak jelas akibat efek Doppler.
Sensor Halter merasakan dengan jelas kalau tubuh Vermouth melambat ketika dia mengendarai angin raksasa itu dan meluncur ke tanah.
Naoto, yang juga memicingkan telinganya untuk mendengarkan, berkata,
“Baiklah, kelihatannya berhasil. Kalau begitu, aku bisa terbang–!!!”
Dia berteriak, lalu melompat ke udara.
Setelah itu, Halter tampak telah menyerah dan melompat turun dari bagian samping lubang tersebut.
Akhirnya, hanya tinggal Marie saja, lalu dia menoleh ke arah teman baiknya yang ada di sampingnya, lalu berujar,
“Kalau begitu–kuserahkan sisanya padamu, Houko.”
“–Baik, aku akan menandai kalian semua sebagai penjahat kelas atas. Tenang saja.”
Houko tersenyum seraya menjawab begitu.
Ini mungkin kali terakhir mereka bisa bertemu–itulah yang Marie pikirkan.
Tuan putri sebuah Negara dan seorang teroris biadab–mungkin tidak akan ada lagi peluang bagi mereka untuk bertemu.
Mulai saat ini, jalan mereka tidak akan pernah bertemu, karena mereka akan menempuh jalur yang berbeda.
Aku tidak menyesali keputusan ini, tapi, sedikit saja–tepat ketika Marie berpikir begitu, dan merasa melankolis…
Houko mengangkat tangan kirinya ke arah Marie.
Dia menganakan sebuah jam tangan perak di tangannya.
“–”
Marie tersenyum, lalu mulai berlari.
Telapak tangan teman dekatnya sedang terangkat di depannya, dan ketika mereka berhadapan, dengan bunyi tepukan–

Pada saat itu, Marie melompat ke lubang di lantai,
Nantinya, ‘militer’ menyusun kembali pasukannya, mendobrak barikade dan menyerbu masuk.

“Wha–”
Suara terkejut terdengar.
Peluru supersonik yang diakselerasi oleh listrik itu–berhenti di udara.
Dua sabit tajam terbentang disana, memblok peluru tersebut.
Seorang gadis bergaun hitam berbicara dengan suara jelas seperti nyanyian,
“Sudah tugasnya seorang pelayan untuk mematuhi perintah tuannya. Selain itu–”
Sabit hitam itu berputar bersama dengan kata-kata sang gadis.
Lalu, tangan kanan Gennai yang memegang pistol terputus dan melayang di udara.
“….Sudah tanggung jawab seorang kakak perempuan untuk mengurusi adik perempuannya, dan menghentikannya saat dia terlalu gegabah.”
Sambil berkata begitu, sang gadis–RyuZU, membungkuk dengan gerakan yang anggun.
Di sisi lain, Gennai, yang lengannya telah terputus, tampak begitu kesal sampai-sampai wajahnya berkerut.
Itu bukan karena rasa sakit akibat kehilangan lengannya.
“–Mustahil…kenapa meriamnya tidak menembak–!?”
Tapi karena guncangan akibat meriam utama yang akan menembak tidak terasa olehnya.
Sementara Gennai tampak tidak menahan emosinya, RyuZU tersenyum mengejek dan menjawab,
“–Saya datang kesini melalui lubang yang adik saya buka–dan dalam selang waktu tersebut, saya memotong sekitar 18 kumparan dengan kekuatan saya yang kecil ini. Dilihat dari ekspresimu yang begitu mencolok itu, jika saja kepalamu dipotong lalu dipamerkan di pameran seni dengan judul ‘orang dungu’, saya rasa saya telah melakukan sesuatu yang pantas sebagai balasan atas perbuatanmu–ini benar-benar kebahagiaan yang setara dengan naik ke Surga.”
“…Ka…kak…kenapa…?”
Ketika mendengar suara adiknya yang dipenuhi dengan static tersebut, RyuZU mengalihkan pandangannya ke bawah.
Tepat di bawahnya adalah AnchoR, yang mengalami kerusakan begitu berat, anggota tubuhnya pun telah putus.
RyuZU merengut ketika melihat hal tersebut–dan tiba-tiba mengayunkan sabit hitamnya.
Bam!
Sabit yang diayunkan dengan cepat itu, mengenai kepala AnchoR dengan keras.
Tubuh AnchoR pun berhenti hancur dan kembali ke tubuh seorang anak perempuan.
“…Aduh…uu…kamu memukul saya…kakak…”
AnchoR, yang begitu kelelahan, memutar tubuhnya, dan mulai menangis tanpa sadar.
AnchoR tidak menyadari perubahan di dalam dirinya.
Dia tidak tahu bahwa ketika dia dipukul, sabit hitam sang kakak memotong Balance Wheel ‘Gir Kekal’ dengan akurat, menghentikan ‘Steel Weight’nya–jika bagian yang dipotong itu sedikit saja meleset, AnchoR mungkin tidak akan bisa bergerak lagi.
Tanpa membiarkan sang adik menyadari bahaya yang baru saja terjadi, RyuZU membalas dengan acuh tak acuh,
“–Iya, sudah kakak ingatkan kalau kamu tidak berniat kembali, kakak akan menghukummu.”
“Ah…ahhn…uu”
AnchoR menyadari keadaannya yang gawat ini, dan sedikit mengerang.
RyuZU menyaksikan hal itu sambil tersenyum, lalu wajahnya berubah menjadi suram.
Gennai, yang sedang memegangi lengannya dan napasnya tidak beraturan, meratap,
“…Aku memang tidak bisa menang ya…?”
“Menang lawan siapa? Kamu tidak pernah kalah pada siapapun.”
Mata topas RyuZU memancarkan kilatan sinis.
Dengan cemoohan yang jahat tapi anggun, RyuZU membungkuk seperti seorang gadis kelas atas, dan berkata,
“Karena kamu sudah mengaku kalah pada dirimu sendiri sedari awal, sungguh tidak pantas jika kamu salah mengira kalau kamu sedang melawan Master Naoto, dan saya benar-benar berharap kamu bisa memperkecil kesalahpahaman fatal ini paling tidak sampai tingkat yang ringan.”
RyuZU berhenti sejenak.
“–Saya harusnya mengejar AnchoR dengan ‘Mute Scream’, tapi ada dua alasan kenapa saya tidak melakukannya. Oleh karena itu, saya perlu meminta kamu untuk meminta maaf karena saya harus bersabar menatap mata kasarmu itu.”
Seperti yang bisa diduga, Gennai tidak bergerak.
Tapi RyuZU tidak keberatan seraya berjongkok di sisi AnchoR.
“Pertama-tama, membawa AnchoR kembali.”
Ketika AnchoR memasuki ‘Steel Weight’, kecepatan sesaat awalnya adalah hal yang bahkan ‘Mute Scream’ sekalipun tidak bisa tandingi.
Tapi selama dia terus mengambil tindakan yang mengahncurkan dirinya sendiri, tentu saja kecepatannya akan melambat.
Jika RyuZU berakselerasi dan memukul AnchoR di momen tersebut, dampak dari bergerak di sumbu waktu yang berbeda dapat membuat AnchoR rusak.
Oleh karena itu, RyuZU tidak muncul, tetapi langsung mengejar ketika AnchoR melompat turun. Dia langsung membuntuti sang adik yang menimbulkan kerusakan yang begitu besar–tapi meski begitu, dia membutuhkan beberapa waktu untuk bisa menyusulnya.
–Selain itu, lanjutnya,
“Yang kedua, saya tidak ingin kamu mati dalam keadaan tidak sadar. Saya sungguh tidak bisa membiarkan diri saya sendiri bertindak baik seperti itu”
Dengan senyuman berbinar, RyuZU berkata begitu, lalu dia merasakan sebuah perubahan.
Temperatur di sekelilingnya mulai meningkat.
“–Syukurlah, AnchoR.”
“….Eh…?”
Tampaknya dia masih belum menyadarinya, RyuZU diam-diam mengangguk di dalam hatinya.
–Berkat AnchoR, Naoto dan yang lainnya masih tetap hidup, dan berhasil melakukannya.
Kamu akan diberi hadiah yang pantas RyuZU diam-diam bicara begitu di dalam hatinya, lalu dia pun tersenyum sebelum berkata kepada Gennai,
“Kalau begitu…untuk tubuh tua yang menyedihkan ini, saya bisa mengabulkan keinginanmu dan membiarkanmu direbus–atau barangkali, harus saya bilang, kalau memungkinkan, saya sungguh ingin melihat dagingmu terbakar, darahmu mendidih, dan bola matamu meleleh menjadi kotoran ketika kamu mati, sampai saya mencapai batas temperatur–”
Sambil berkata begitu, RyuZU memeluk AnchoR,
“Tapi meskipun ini benar-benar berlawanan dengan keinginan pribadi saya, Master Naoto memerintahkan kalau membunuh itu tidak baik untuk pendidikan emosi AnchoR, selain itu ada seorang gadis yang ingin menentukan takdirmu.”
Di saat itu, sabit hitam RyuZU melesat.
Senjata dan perlengkapan di tubuh Gennai berubah menjadi sampah dalam sekejap. Kemudian sabit hitam itu berputar seperti cambuk dan mengenai bagian belakang kepala Gennai dengan bagian tumpul sabit tersebut.
“…!”
Tentu saja, Gennai kehilangan kesadarannya dan diangkut oleh sabit RyuZU dengan cekatan.
“…Jorok sekali. Perlu dibersihkan nanti. Saya memang menggunakan kecepatan tercepat yang dimungkinkan untuk membuat darah dan lemaknya tidak berceceran saat saya memotong lengannya…tapi ini hanya masalah perasaan saja. Akan lebih baik bagi saya jika kamu tidak bergerak.”
RyuZU membalikkan tubuhnya.
Dia memeluk AnchoR dengan penuh kasih sayang, lalu bersama dengan sang pria tua di sabitnya, RyuZU pergi menuju lubang yang dibuat AnchoR dengan kecepatan penuh.
“Ahh, maaf jika kamu terbakar karena kita tidak bisa lolos tepat waktu, karena itu bisa dibilang kecelakaan.”

Beberapa detik setelah RyuZU dan yang lainnya pergi dari tempat tersebut.
–Sebuah matahari muncul di pusat Grid Akihabara.
Temperatur fotosfernya berada di kisaran 2.000 Derajat Celsius–sedangkan intinya sangat panas, yaitu berada di kisaran 30.000 Derajat. Sang matahari melahap senjata raksasa tersebut bersama dengan Grid Akihabara, membakar dataran disana dan menghapus daya magnet yang melanda Akihabara–



[1] Seni pahat permen.
[2] Guling dengan gambar ‘khusus’ ( ͡° ͜Ê– ͡°)
[3] Batang besi yang menjadi pusat rotasi gir.
[4] Aliran angin yang mengalir ke bawah dengan kuat.