DISASTER (05:17)

Di pagi hari.
Sebuah bayangan hitam raksasa berdiri mencakar langit yang berwarna biru dan jingga.
Bayangan itu adalah sebuah Menara. Sebuah menara raksasa yang menjulang dari permukaan sampai ke langit.
–Sebuah bangunan yang disebut ‘Pilar Surga’.
Bila dilihat dasarnya, orang akan melihat kalau pilar itu berdiri kokoh dengan menembus sebuah gir raksasa.
Gir itu adalah Grid Sakuradamon, kota tertinggi dari Multi Grid Tokyo.
Kota kecil ini hanya berdiameter beberapa kilometer, dan ‘Pilar Surga’, menghabiskan mayoritas ruang tanahnya. Oleh karena itu, tidak ada orang sipil yang tinggal di grid tersebut.
Tetapi, ada orang-orang yang tinggal di dalam dinding kota yang mengelilingi ‘Pilar Surga’ sebagai pusatnya.
Sudah sejak lama, tempat ini menjadi rumah dari keluarga tradisional yang telah ada sejak zaman kuno, beserta orang-orang yang melayani mereka.
Ada parit dalam yang mengelilingi dinding tersebut, memisahkan istana dari Grid Sakuradamon.
Karena kodratnya sebagai gir, gir-gir di dunia ini ditakdirkan untuk terus berputar. Namun, tempat ini adalah pengecualian yang langka, dimana gir-girnya tidak bergerak.
Dan di atas gir serta dinding yang tidak bergerak ini.
Ada warna hijau yang lebat serta air yang tergantung di atas kota.
Tempat itu bukanlah tempat buatan sedikitpun; itu adalah sebuah plaza yang dipenuhi dengan alam yang sesungguhnya.
Sebuah taman melayang.
Disana ada sebuah observatorium yang dibangun di samping taman, dimana bagian dalam dan luar Gridnya bisa terlihat.
–Seorang gadis muda sedang berdiri disana.
Gadis itu mengenakan sebuah blus merah muda, sebuah setelah buatan tangan, serta sepatu pantofel.
Rambut hitamnya yang berkilau memanjang sampai di bawah pinggangnya.
Gadis itu barangkali tampak seperti seorang bocah kecil yang baru saja lulus dari perguruan tinggi dan berbaur dengan masyarakat, tapi matanya mengisyaratkan hal lain.
Seorang gadis biasa tidak akan pernah memiliki mata hitam yang mengandung tekad yang telah ditempa keras.
Kedua mata tajam itu sedang menatap ke arah ‘militer’ yang sedang menyusun formasi di luar kota.
–Saat ini, ‘istana’ ini sedang dikepung.

Houko punya pemahaman kasar mengenai kekacauan dan krisis yang menimpa negara ini.
Dan dia sangat tahu sekali…kalau dia tidak berdaya untuk melawannya.
“–Ini benar-benar situasi yang tidak mengenakkan.”
Dia bergumam untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk menenangkan diri, lalu dia mengalihkan pandangannya.
Dia memutar pergelangan tangan kirinya, lalu menarik lengan bajunya.
Apa yang terpasang di pergelangan tangan kirinya adalah sebuah jam tangan perak. Fungsi jam itu sederhana, tapi apa yang terukir di permukaan jam itu adalah nama ‘Marie’, ukurannya begitu kecil sampai-sampai tulisannya tidak kelihatan jelas.
Sekarang sudah jam 5.17 pagi.
Masih ada 43 menit lagi sebelum waktu yang ditentukan ‘militer’ di bawah  kalau mereka akan ‘menjebol benteng ini’.

Pada tanggal 8 Februari, ada sebuah serangan teroris di Akihabara saat tengah malam, lalu di pagi harinya, sebuah senjata raksasa tak dikenal muncul.
Senjata elektromagnetik itu menyebabkan seluruh Grid Akihabara menjadi gagal berfungsi, sedangkan ‘militer’ yang dikirim untuk menghadangnya pun dibabat habis.
Pemerintah mengeluarkan pernyataan keadaan darurat, memakzulkan Perdana Menteri, lalu menuntutnya dengan tuntutan telah menyulut konflik internal serta mengundang bencana eksternal. Menteri Pertahanan juga ikut dicurigai–
Kemudian, media mengambil inisiatif untuk memuat berita tentang senjata raksasa tersebut.
Karena itu, sebelum warga sipil dapat pulih dari rasa syok karena insiden terorisme, mereka mendengar kalau Tokyo telah jatuh, dan karena rasa panik yang melanda mereka, grid-grid lain mulai memberontak.
Polisi tidak bisa menangani kekacauan ini, sehingga mereka meminta agar ‘militer’ dapat dimobilisasi.
Tapi suatu kelompok yang sebagian besar terdiri dari opsir-opsir muda memisahkan diri dari ‘militer’ tepat ketika sistem komandonya sedang berantakan.
Mereka langsung menyerang garnisun-garnisun di Grid Ichigaya, mencuri perlengkapan senjata, lalu menyerbu Grid Sakuradamon, serta mengepung ‘Istana’.
–Itulah ringkasan singkat dari huru-hara yang nantinya akan dikenal sebagai ‘Insiden 2/8’.
“–Kami tidak bisa lagi menyerahkan hal ini pada atasan.”
Seorang kapten muda berkata begitu ketika dia duduk di meja negosiasi.”
“Pemerintah dan ‘militer’ tidak mau bertanggungjawab sedikitpun di hadapan krisis nasional ini. Tidak, mengesampingkan hal itu, mereka lari dari tanggungjawab sejak mereka diam-diam menyetujui penelitian tentang teknologi elektromagnetik. Situasi ini sepenuhnya disebabkan oleh para atasan. Insiden Kyoto, lalu kali ini–kami tidak bisa lagi tetap diam.”
Itu benar. Pikir Houko.
Para atasan sudah tidak bisa berfungsi lagi, dan memang benar kalau merekalah yang menyebabkan krisis ini terjadi.
Si Kapten lalu berujar,
“Kita tidak punya waktu lagi. Ancaman senjata raksasa tersebut masih ada, serta permintaan Perdana Menteri untuk menggunakan ‘Tall Wand’ masih belum dicabut. Kita harus buru-buru mengambil alih kekuasaan politik, serta bernegosiasi dengan senjata raksasa tersebut dan negara-negara lain. Di saat yang sama, kami membutuhkan sebuah simbol untuk membuktikan kalau kami telah mendapat kekuasaan tersebut–simbol itu adalah anda, Yang Mulia.”
Tapi disinilah masalahnya berada, pikir Houko.
Dalam arti tertentu, pertimbangan seperti itu memang benar. Biarpun mereka berhasil menumbangkan pemerintah dengan kekuatan militer, perbuatan mereka hanya akan dipandang sebagai pemberontakan jika mereka tidak memiliki legitimasi nyata apapun.
Satu-satunya orang yang bisa membuktikan legitimasi ini–tidak peduli apapun caranya–adalah orang-orang ‘Istana’, sepertinya.
Tetapi, orang itu bukanlah Kaisar yang terbaring sakit di ranjang, maupun Pangeran yang masih kecil, sudah jelas kalau dia–Putri Houko Hoshinomiya, yang secara resmi mengambil kendali tahta untuk sementara, lah yang memiliki wewenang untuk itu.
Namun, seberapa efektif simbol itu nantinya–?
Si kapten muda memohon dengan sungguh-sungguh,
“Negara ini sudah busuk. Negara ini perlu dibenarkan! Masuknya kami tanpa diundang ke dalam ruangan anda memang tidak bisa dimaafkan, tapi Putri, tolong bantu kami demi kepentingan negara ini.
Sejujurnya– pikir Houko.
Secara pribadi dia berempati dengan mereka, dan merasa kalau apa yang mereka katakan itu memang benar. Jika eranya berbeda, atau jika situasinya sedikit berbeda, barangkali dia akan memberikan mereka Bendera Kekaisaran.
Namun, kenyataan tidak sesederhana serta semanis angan-angan.
Oleh karena itu, jawabannya telah diputuskan.
“–Apa yang kalian lakukan itu tidak ada artinya. Saya menolak.”
Wajah si Kapten muda itu mengernyit.
Houko melancarkan tatapan penuh tekad baja ke arah komandan-komandan yang hadir disana, lalu memberitahukan sesuatu pada mereka.
“Saya menganjurkan seluruh pihak untuk berhenti mengambil tindakan yang sia-sia seperti ini, kembali ke skuadron masing-masing, lalu pertahankan pangkalan kalian. Tindakan kalian tidak bisa diampuni, tapi saya sendiri akan menulis surat untuk memintakan keringanan, supaya tindakan kriminal kalian akan dikurangi.”
“Yang Mulia! Tolong pikirkan masak-masak!”
“Saya sudah memikirkannya. Dan inilah kesimpulan dari pemikiran saya.
Wajah si Kapten memerah, lalu dia menggumamkan sesuatu,
“Kami tidak bisa mundur sekarang. Jika anda menolaknya, kami sudah siap mental untuk mendapatkan apa yang kami inginkan, biarpun harus menggunakan kekerasan.”
“Saya kira begitu. Lakukan apa yang anda inginkan, Kapten.”
“…Apa anda pikir ini cuma ancaman belaka?”
“Tidak. Anda punya pemikiran sendiri, tapi saya sendiri punya pemikiran, tanggungjawab saya sendiri. Saya tidak bisa menuruti keinginan kalian.”
Seluruh negosiasi telah gagal. Mereka telah berencana untuk mengadakan banyak negosiasi yang tidak ada artinya setelah pertemuan tersebut–tapi bagaimanapun juga, sudah tidak ada waktu lagi.
Pukul 6 pagi, tanggal 10 Februari–itulah waktu ketika rencana mereka untuk ‘masuk dengan paksa’ dimulai.

“–Ah, Yang Mulia. Jadi anda ada disini?”
Houko mendengar suara dari belakangnya, dia lalu membalikkan badan.
Orang yang berdiri disana adalah seorang pria tua renta yang mengenakan jas.
“Pak Kusunoki.”
“Anda harus tahu kalau berjalan sendiri di saat seperti ini itu berbahaya.”
“Sia-sia saja bila mereka membunuhku. Mengingat tujuan mereka, mereka akan mencoba untuk menghindari pilihan itu apapun yang terjadi.”
Menerobos masuk ke dalam ‘Istana’ secara paksa itu sendiri saja sudah menjadi tindakan penuh resiko, tapi jika ada satu orang pun dari Keluarga Kekaisaran sampai meninggal akibat perbuatan tersebut, apa yang mereka lakukan itu tidak akan pernah dilegitimasi.
Namun, kepala pelayan Kusunoki menjawab skeptis,
“Barangkali komandan mereka mungkin berpikir begitu…tapi orang-orang yang didorong oleh impuls sesaat itu bisa saja tidak sebijak anda, Yang Mulia.”
Houko mengangguk, lalu menyuarakan pemikirannya yang lain.
“Jika semua orang itu bijak, saya rasa situasi seperti ini tidak akan pernah terjadi?”
“Hamba tidak tahu…tetapi, kalau saja orang yang berwenang itu seperti anda, Yang Mulia–”
“Yah, sulit untuk dikatakan. Bagaimanapun juga, pada akhirnya saya ini adalah gadis yang tidak berdaya.”
Houko menghina dirinya sendiri, lalu menoleh ke luar dinding.”
Dia menyaksikan batalyon yang telah mengatur posisinya, lalu dia bergumam,
“Mereka melakukan ini dengan asumsi kalau mereka benar.”
“Dasar gerombolan biadab dan tolol. Mereka berani-beraninya mengganggu ‘Istana’.”
“Barangkali itu benar. Tapi, untuk memanggil mereka tolol, kita tidak punya kapabilitas lebih baik daripada mereka.”
Ketika mendengar kata-kata Houko, kepala pelayan Kusunoki terkesiap, lalu bertanya,
“Yang Mulia–apa anda mengisyaratkan kalau mereka memang benar?”
“Tidak. Saya sudah memberitahu mereka saat negosiasi kalau apa yang mereka lakukan itu sia-sia. Sudah tidak ada lagi yang patut dibahas ketika mereka mengeluarkan ancaman yang jelas serta menyulut pemberontakan, tetapi–”
Houko berhenti sejenak lalu melanjutkan,
“Jika saya menyetujui tindakan mereka serta memberi mereka legitimasi–apa yang akan berubah?”

“Yang Mulia, apa yang anda katakan itu…”
“Saya tidak meremehkan wewenang yang saya miliki, tapi meskipun masyarakat menerimanya, itu hanya terbatas pada negara ini saja. Sampai sejauh mana negara lain…orang-orang yang mengendalikan senjata raksasa itu akan menerimanya?”
“Berdasarkan laporannya, mereka adalah ‘militer’ Shiga lama, dan apa yang mereka lakukan adalah coup d’etat terhadap pemerintah…kalau itu benar, saya rasa mereka tidak akan meremehkan wewenang Keluarga Kekaisaran, kan?”
“–Benarkah? Saya sih meragukan itu.”
Houko menyipitkan matanya sambil bergumam,
“–Bicara tentang laporan.”
“Kenapa…”
“Apakah kamu sudah mendengar laporan apapun tentang keberadaan Marie Bell Breguet?”
Houko bertanya begitu, pertanyaan ini menyebabkan Kusunoki tampak gusar.
“Erm…yah, dia adalah seseorang yang tampaknya telah wafat, dan kami tidak dapat melacak keberadaannya. Saya bisa bilang kalau saya tidak akan mengingat namanya sampai anda melihat fotonya, Yang Mulia.”
“Tetapi, saya yakin kalau dia ikut terlibat dalam Insiden Terorisme Akihabara.”
“Jadi anda bilang kalau dia punya peran penting dalam situasi ini?”
“Sebenarnya–saya malah berpikir kalau dialah dalangnya.”
Houko memperkuat genggaman tangannya di pagar besi.
“Biarpun seluruh teknisi dari JSDF di sekitar ‘Pilar Surga’ dikumpulkan, mengambil alih kendali sebuah grid kota serta memanipulasinya sesuai keinginan bukanlah hal yang bisa mereka lakukan. Saya tidak berpikir kalau para teknisi dari Angkatan Pertahanan Ibukota juga bisa melakukannya. Hanya dia seorang yang saya pikir punya kemampuan untuk itu.”
“…Hamba ingat kalau dia adalah teman sekelas anda?”
“Cuma sebulan sih.”
Sebuah senyuman terulas di bibir Houko, dia lalu berkata,
“Ketika saya belajar di Eropa, saya berterimakasih atas sambutan yang dia berikan. Saya ingat betul betapa mungil tubuhnya, tapi dia dipenuhi semangat seperti sebuah bola api, juga dipenuhi rasa keadilan, serta seorang teknisi primer…”
Kusunoki bertanya dengan nada terkejut,
“…Apa orang seperti itu adalah dalangnya?”
Houko menggelengkan kepalanya,
“Saya memang merasa kalau aksi terorisme itu sendiri tidak masuk akal. Coup d’etatnya tetap akan berhasil tanpa aksi terorisme itu sendiri–tidak, saya berani bilang kalau karena insiden tersebutlah orang-orang bisa dievakuasi dengan selamat, sehingga tidak ada korban jiwa.”
“Kalau begitu, Yang Mulia, apa anda mengisyaratkan kalau insiden terorisme itu memiliki niatan yang berbeda dengan coup d’etat ini?”
“Ya. Tentu saja, ini cuma kesimpulan berdasarkan ‘firasat samar’, tapi dengan asumsi kalau itu benar…”
Houko berhenti sejenak,
“Saya mau tidak mau berpikir kalau masih ada kehebohan yang akan terjadi nanti.”
Tentu saja, itu hanyalah sebuah dugaan yang optimistis dan penuh harapan.
Kenyataan tidak sebaik apa yang dibayangkan. Houko tahu betul akan hal itu.
Tidak, dia mengira kalau dia tahu–

–Tetapi, Houko tidak tahu.
Bahwa dalam10 menit lagi, atau lebih tepatnya, 8 menit 52 detik lagi.
Mengesampingkan Houko, dunia akan menyadari kalau pemahaman seperti itu hanyalah imajinasi yang penuh kebahagiaan.
Kenyataan yang mereka alami masih berdiri di atas imajinasi tersebut.

Dengan kata lain–Kenyataan selalu menimpa imajinasi mereka.

Di saat yang sama, di luar istana.
Ada suasana tegang yang menyelimuti Grid Sakuradamon.
Sesaat lagi, ‘penyerbuan paksa’ yang telah direncanakan akan dimulai.
Hasrat revolusi, kekesalan di hadapan sebuah pertempuran–serta dilema moral atas kebiadaban yang akan mereka lakukan.
Suasana berat menghampiri tentara yang telah mengepung istana, sementara itu, sebuah helikopter berita sedang mengintai dari kejauhan.
Rasa pahit–suasana yang hampir semua orang disana rasakan.

“Fiuh…akhirnya, udara segar setelah 48 jam, betapa segar. Tidak, bahkan saya pun tidak punya sesuatu seperti instalasi pernapasan. Tapi saya harus bilang meskipun pandangan saya dipenuhi oleh babu-babu tolol yang tidak bisa lulus dari cara pikir yang lebih rendah dari kutu selama ribuan tahun, rasa nikmat yang saya rasakan ini tetap valid.”
Apa yang mendekat dari belakang adalah–‘kenyataan’.
Disana ada kelompok kecil. Orang yang sedang berjalan di depan adalah seorang gadis yang mengenakan gaun hitam dan berambut perak.
Langkah kakinya tampak cepat dan ringan, seolah-olah gadis itu akan mulai menari dengan elegan dan gembira kapan saja.
Apa yang keluar dari bibir yang merekah dan segar itu adalah suara lonceng perak yang menyegarkan.
Mata topaznya berkilauan, dan Automata tersebut memamerkan silat lidah yang lama tidak terdengar.
Apa yang mengikuti gadis itu adalah seorang pemuda berambut hiram serta gadis berambut pirang, keduanya berjalan dengan santai.
Tepat di belakang keduanya adalah seorang anak perempuan dengan armor merah putih.
Mereka berjalan di tengah jalan raya dengan santai, mereka melangkah maju dengan berani.
Si gadis bergaun hitam tersebut berjalan lalu menolehkan kepalanya ke belakang–dan melempar senyum kepada si pemuda, sebuah senyuman yang bahkan akan membuat malaikat pun tergila-gila, lalu si gadis berkata,
“Master Naoto–? Biarpun hamba ini hanyalah pelayan yang terbuat dari mesin jam, hamba harusnya punya hak istimewa serta batasan untuk memilih siapa yang harus hamba layani. Kepala hamba tidak begitu rusak untuk membungkukkan diri kepada mikroba bersel satu yang bodoh, jadi mohon pahami ketidak senangan hamba.”
“Ya, ya, aku tahu, tapi ini–”
Orang akan bertanya-tanya sudah berapa kali mereka mengulangi percakapan ini, sedangkan si pemuda berambut hitam hanya mengangguk lemah.
Namun, si gadis tampak tidak senang seraya melanjutkan kata-katanya,
“Hamba paham, Master Naoto. Anda menginginkan hamba untuk bisa membedakan seekor hewan yang tidak mengenal kata ‘etika’ dengan jelas, dan hamba akan menghargai logika vulgar anda serta menaatinya. Tetapi, hamba akan mengulanginya–hamba benar-benar enggan melakukannya.”
Si pemuda dapat mendengar suara yang tersembunyi diantara kata-kata tersebut, lalu dia tersenyum kecut seraya menjawab.
“Baiklah. Kita perlu melakukan yang terbaik saat ini, jadi tahan dulu–aku punya hadiah untukmu.”
“–Hamba ini benda milik anda, Master Naoto. Diberi hadiah oleh anda itu…mohon pahami posisi anda sendiri.”
Tapi berlawanan dengan kata-katanya–yang hanya mampu dilihat si pemuda–rasa bahagia muncul dari si gadis bergaun hitam, kemudian–
“AnchoR…kamu siap?”
“…Ya. Itu kan perintahmu, papa–bukan, permintaanmu, jadi saya siap.”
Kepala si anak berpakaian merah putih itu dielus oleh si pemuda, lalu anak itu mengangguk.
Akhirnya, si gadis beramut pirang memasang senyum kecut dan menyerah.
“Apa kalian tahu rasa gugup itu apa…? Apa ini akan berjalan lancar?”
Tapi berbeda dari kata-katanya, tidak ada perasaan gelisah yang terasa dari kata-kata gadis itu.
Tampaknya baik si pemuda maupun gadis bergaun hitam mengerti hal itu, lalu wajah keduanya tampak berseri-seri sambil berujar,
“Yah, Marie, tidak mungkin RyuZU dan AnchoR kalah.”
“Master Marie, apa anda begitu bosan sampai-sampai bertanya retorik begitu? Atau mungkin otak bodoh anda itu sudah rusak? Jika Master Naoto bilang kalau beliau bisa melakukannya, maka masalah yang terlalu besar bagi Dewa, beliau tetap akan melakukannya–tentu saja, itu bergantung pada seorang Nona yang tidak akan melakukan blunder serta menjadi beban.”
“…Yah, bodoh amat, aku tidak mau bertengkar soal itu. Kata-kata tajammupun terdengar begitu bisa diandalkan saat ini.”
Lalu–si gadis berambut pirang berkata,
“Musuhlah yang harusnya kau cincang.”

Tepat di depan mereka adalah sebuah barikade yang disusun oleh miniature senjata otomatis serta kendaraan.
–Di hadapan perimeter militer yang mengepung ‘ibukota’, si pemuda mendengarkan dengan tajam lalu bergumam,
“18 unit tank lapis baja berat multi pedal, 32 tentara lapis baja, automata ringan dan berat…aku agak malas buat mengurutkannya, tapi ada 68 buah. Termasuk penumpang-penumpang itu, ada 98 tentara dengan prostetik militer–”
Si pemuda dengan acuh memastikan jumlah pasukan yang mengepung istana, lalu dia bertanya,
“Marie–jika kita mau menumpas mereka–memberangus mereka dengan pasukan terkuat di dunia, berapa lama waktu yang dibutuhkan?”
“Dan juga tidak menimbulkan kerusakan apapun pada ‘Istana’? Rasanya mustail untuk memastikannya, tapi biar kupikirkan dulu…”
Si gadis pirang menundukkan kepalanya untuk merenung.
Gadis itu adalah seorang teknisi, bukan seorang tentara bayarang maupun tentara negara. Oelh karena itu, dengan kepribadiannya seorang teknisi, dia mulai memperkirakan berdasarkan kemampuan–
“Dengan asumsi penggunaan banyak generasi persenjataan yang dikembangkan oleh Keluarga Breguet, automata lapis baja ringan serta organ prostetik yang diberikan kepada pasukan militer yang berpengalaman dalam perang di jalan terbuka dan anti huru-hara, jika kita mengirimkan 4 orang dan memanfaatkan mereka sampai batasnya, minimal kita membutuhkan waktu 14 menit.”
Setelah mendengar jawaban berdasarkan premis yang tidak bisa dipercaya itu, si pemuda langsung berkoar,
“Kalau begitu, RyuZU, AnchoR, batas waktunya “7 Menit”. Harusnya sudah lebih dari cukup, kan?”
“…Menghancurkan mereka, semua? Saya mau perintah…boleh saya menahan diri…?”
“Ya, tahan diri semaumu. Jangan bunuh siapapun. Pokoknya jangan.”
–Jika ada orang lain yang mendengar percakapan ini, apa yang akan mereka pikirkan?
Apakah mereka akan menertawakannya? Mencaci mereka? atau–
“Pokoknya, RyuZU, AnchoR–sesuai rencana, berusahalah untuk menarik perhatian mereka. Kuserahkan pada kalian.”
“Dimengerti…kalau begitu, hamba mohon permisi.”

–Ngomong-ngomong.
Selama tahun ini, sudah banyak peristiwa, yang belum pernah terjadi sebelumnya, terjadi di Jepang, dimulai dari penghapusan Kyoto yang gagal.
Pengumuman Terorisme Akihabara, Krisis Magnetisasi Akihabara, Rapat Kasumigaseki, permintaan untuk penggunaan ‘Tall Wand’, pemberontakan Tokyo, pemberontakan 9 Februari, pertempuran Sakuradamon–
Insiden-insiden seperti itu mungkin saja dikemudikan oleh suatu dalang, yang merencanakan banyak konspirasi…
–Yang tampak mengejek semua ini.
Itu semua adalah sebuah tindakan kriminal yang menyerupai teater yang nantinya disimpulkan sebagai  segalanya dilakukan oleh satu sel seroris belaka.
Insiden terakhir yang akan menutup serta dianggap sebagai nama umum.
Serta insiden pertama–dari rangkaian insiden yang akan mengejutkan dunia.
Insiden ini nantinya akan ditulis dalam sejarah sebagai ‘Pemberontakan 8 Februari’, atau ‘Upsilon Kedua’.
Pada tahun ini, di hari ini, di saat ini, tepat di momen ini.
Tahun Jam 1016, tanggal 10 Februari, Waktu Standar Jepang, pukul 5.59 pagi–

Sebuah menara tiba-tiba terbelah lalu runtuh seperti sebuah puzzle, menarik perhatian dari orang di sekelilingnya.
Lalu diantara suara bangunan yang runtuh tersebut, suara yangs serupa dengan suara kotak musik bergema dengan jelas,
“–Mohon perhatian♪”
Seorang gadis bergaun hitam membungkuk dengan elegan di depan menara yang ambruk tersebut.
Beserta seorang anak kecil lapis baja merah putih, dengan malu-malu, meniru sikap si gadis dan ikut membungkuk.

“Halo, . Nama saya adalah unit pertama dari Seri Initial-Y, ‘YourSlave’ RyuZU.”
“E-erm…Saya unit keempat dari Seri Initial-Y series ‘Trishula’ AnchoR…se-senang bertemu denganmu.”

–Insiden ini dimulai dengan salam dari dua automata (legenda).

“Saat ini, saya sedang mengamati sekelompok mikroba arogan, tragis serta patut dikasihani yang bergerak dengan rencana payah, oleh karena itu dengarkan, harusnya ini peristiwa yang menggelikan tapi membahagiakan–tetapi atas perintah Tuan saya, dan karena beberapa masalah pribadi saya–kalau saya boleh jujur, apa yang akan saya lakukan selanjutnya cuma pembantaian.”
“E-erm…tolong izinkan saya meminta maaf terlebih dahulu…maaf…!”
Si gadis bergaun hitam tersenyum seperti bidadari, lalu dia mengeluarkan dua sabit hitam dari dalam roknya.
Sedangkan si anak merah putih dengan menyesal menarik pedang-pedang berukuran besar dari gir-gir padat yang muncul entah dari mana.
Siapa saja yang mendengarkan perkenalan keduanya–pasti akan meragukan apa yang mereka lihat.
Tetapi, si gadis bergaun hitam tampak tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan serta ragukan, lalu sambil terus tersenyum–
“Saya tidak merasa kalau ini lancang, dan saya benar-benar enggan untuk mengukir hal ini di dalam pikiran-pikiran yang sayangnya payah dan menyedihkan itu, tapi saya memang berharap jika semua yang beruntung telah mendengar nama dan suara kami–”
Si gadis berhenti sejenak,
“Akan berhenti berdiri dengan sombong, serta berlutut mengagungkan kami♪”
“Ma-maaf….!”
–Lalu, siapapun yang mendengar kata-kata itu tidak diperbolehkan tahu siapa mereka, apalagi melawan sedikitpun.
Biarpun unit-unit lapis baja mereka terus melancarkan tembakan, unit-unit tersebut tersungkur dan hancur dengan malang, tidak berdaya melawan ketidak rasionalan ini.

–Hari ini membuktikan keberadaan legenda terbaru, yang menghapus legenda kuno.
Manusia yang hidup di permukaan ‘Clockwork Planet’ ini harus mengingat.
Harus berpikir dimana mereka berpijak.
Dan itu adalah–apa yang disebut kenyataan selalu menindas dan menginjak-injak imajinasi mereka untuk terus bergerak maju.

Tidak ada ‘kebenaran’ di dalam sejarah, hanya ada ‘penjelasan’…atau begitulah yang seseorang ucapkan.
Walau bagaimanapun, hal itu pun berlaku bagi orang yang menjadi saksi peristiwa bersejarah. Contohnya–

Kapten Sumitada Hikoshima dari ‘militer’ Tokyo Cabang Intelijen Pusat, umur 28 tahun.
Dia adalah seorang komandan muda, orang yang paling cepat meraih kedudukan itu.
Lalu Cabang Intelijen Pusat yang tempat dia bertugas, berwenang untuk menangani misi informasi ‘militer’, mereka bertugas untuk membantu skuad lain dalam hal strategi.
Kali ini, ‘Insiden Terorisme Akihabara’ telah terjadi, kemudian sebuah senjata raksasa tidak dikenal muncul,
“–Bohong, bohong, bohong! Karena insiden ini, si Okada…!”
Hikoshima menggebrak meja dengan marah, membuat tenda komandan yang sempit dan sederhana itu bergoyang-goyang.
Teriakan marahnya itu juga membuat opsir lainnya, yang ada di dalam tenda, terkesiap.
Letnan Okada adalah temannya yang sebaya, dia merupakan bagian dari Angkatan Pertahann Ibukota. Dia pergi untuk menghadapi senjata raksasa itu…dan tewas di pertempuran tersebut.
Sistem komando ‘militer’ jadi tidak beraturan, laporan-laporan yang sampai saling berlawanan, lalu Kapten Hikoshima, orang baru di kalangan muda, didorong oleh motivasi untuk membalas dendam temannya–kemudian…dia mengetahui rahasia ‘militer’.
30 tahun lalu, Grid Shiga dihapus; pemerintah diam-diam menyetujui penelitian teknologi elektromagnetik. Di momen ini, mereka sedang mencoba memanipulasi insiden itu untuk menyebabkan insiden ini.
–Dengan kata lain, temanku dibunuh oleh para politisi…!
Dia merasa kalau itu tidak bisa dimaafkan, dan hal ini tidak boleh diserahkan pada para atasan.
Para atasan masih terlibat dalam konflik internal mereka sendiri, saling menyalahkan satu sama lain–dia tidak bisa lagi berharap pada para atasan ‘militer’ lagi, dan langsung menghubungi teman-temannya, yang bisa dia percaya.
Sang komandan muda beserta teman-temannya, yang juga merupakan orang baru, merupakan teman yang telah berikrar untuk mengabdikan diri mereka demi negara ini.
Rasa amarah keadilan Kapten Hikoshima membara seperti api, menyulut nyala api di dalam diri opsir lainnya.
Hasilnya, terbentuklah sebuah pemberontakan–bukan, sebuah ‘coup d’etat’.
Pada awalnya, dia berniat untuk menunggu respons Tuan Putri sebagai simbol kekuatan mereka, tapi dia dibuat kecewa–meskipun sekutunya telah menasihati kalau orang seperti Tuan Putri tentunya akan berpikir konservatif.
Kapten Hikoshima juga paham betul kalau merebut kekuatan politik melalui kekuatan militer–bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan. Dia bukanlah keadilan.
–Tapi dengan negara dalam keadaan krisis, situasinya gawat darurat. Kadang-kadang, dia harus melakukan sesuatu meskipun itu berlawanan dengan keadilan. Kenapa gadis itu tidak mengerti…
Ketika dia memikirkan niat sebenarnya dari senjata raksasa–dan para atasan yang masih menghabiskan waktu mereka, yang tidak ada bedanya dari bunuh diri secara perlahan-lahan. Dia berpikir kalau mengumpulkan semua wewenang politik dan kekuatan tempur itu sangant dibutuhkan.
Tapi…kenapa menyerang ‘Istana’?
Ini terlalu gila–pikir Kapten Hikoshima, lalu dia menggelengkan kepalanya.
(Biarpun aku harus menjalankan siasat apapun, hal paling penting adalah hasil akhirnya! …Tapi, itu–)
Itu hanyalah konflik internal yang sia-sia. Malahan, mereka tidak punya waktu dan kemampuan untuk mengerahkan angkatan militer sebanyak itu untuk hal seperti ini. Mereka harus menyelesaikan hal ini secepat mungkin.
Ketika waktu untuk menyerbu mulai mendekat, dan tepat ketika Kapten Hikoshima hampir mengomando–di momen itu…

Sebuah ledakan terdengar menggelegar.
Bukan hanya satu, tapi beberapa ledakan menggema sesaat kemudian.
“Apa yang terjadi!? Idiot mana yang sudah mulai duluan–!?”
Para pasukan yang sudah gelisah itu mulai melancarkan serangan sekarang Kapten Hikoshima menjentikkan lidahnya karena dia berpikir begitu.
–Ini buruk. Biarpun sudah dinyatakan sebelumnya, akan muncul masalah d I masa depan jika seseorang mulai melakukan serangan sebelum komando diberikan.
Tidak, masalah besar sudah muncul sejak orang-orang bodoh mulai menyerang.
“Skuad 7 telah ditumpas! Sepertinya mereka diserang musuh dari belakang!”
“…Apa, kau bilang?”
Namun, laporan dari pasukan intel membuat sang Kapten membelalakkan matanya..
“Meriam otomatis di sayam kanan telah hancur!”
“Kita kehilangan kontak dengan angkatan lapis baja kedua! Yang ketiga dan keempat–juga tidak merespons!”
“–Mustahil. Siapa musuhnya! Pasukan mana yang sedang menyerang sekarang!?”
Sang Kapten meraung ke arah opsir komunikasi sambil merenung,
Para atasan militer? Orang-orang payah itu sedang bermain saling menyalahkan.
Polisi? Mustahil. Mereka sudah kewalahan untuk menjaga ketertiban, dan juga tidak punya kemampuan seperti ini.
Angkatan khusus publik? Mustahil. Jumlah mereka tidak cukup untuk berhadapan dengan angkatan ‘militer’ dengan jumlah ini.
Kalau begitu–apakah ‘Penjaga Istana’? Kapten Hikoshima menjentikkan lidahnya.
Penjaga Istana adalah teknisi militer yang bertugas untuk merawat ‘Pilar Surga’, dan tentunya, kekuatan tempur mereka tampaknya kecil.
Tetapi, mereka adalah pasukan yang bertugas untuk mempertahankan ‘Pilar Surga’–Apa kita meremehkan mereka?
Mungkin mereka menggunakan ‘Pilar Surga’–Istana, atau jalan rahasia bawah tanah dan semacamnya untuk menyerang.
Apa kita menyelesaikan ini dengan cepat dan mudah, serta menyerang dari depan sementara pasukan mereka terpecah?
Ini berbeda dari apa yang kita rencanakan, tapi jika kita bisa meminimalisir kerusakan pada istana sebanyak mungkin–
“Laporan tentang pasukan musuh!”
Sang komandan menoleh untuk berteriak, tapi–

“–Wow, berani sekali kamu memerintah saya, Pak. Memang kamu bebas untuk tidak menghargai nyawamu, tapi saya menganjurkan kamu untuk menyesal kalau kamu mengira kamu bisa memerintah saya dan membuat saya kesal–”

Apa yang menjawab ucapannya adalah suara jernih seorang gadis–yang diikuti dengan kesunyian.
Orang-orang yang bersamanya telah terkapar di atas meja, dan perlengkapan raksasa yang masih beroperasi beberapa saat yang lalu telah hancur berkeping-keping.
Apa–kapan ini terjadi?
Tendanya telah terpotong dan berkibar ditiup angin; membuat orang bisa melihat pemandangan di luar.
Mata sang Kapten melihat tank berkaki empat ‘Komainu’ yang dipasang tepat di belakang tendan komandan yang sederhana–telah tercerai berai.
Apa yang berdiri di atas rongsokan itu adalah seorang gadis bergaun hitam.
Si gadis mengeluarkan dua sabit dari balik roknya sambil tersenyum santai.
“……Hah?”
Mata Kapten Hikoshima tampak memutih seraya meneriakkan keraguannya.
–Apa yang dia lihat tampak seperti sedang ada pertunjukan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal.
“Wow…yah, kurasa kaulah komandannya kan?”
Kapten Hikoshima menoleh, dia melihat seorang gadis pirang, yang tampaknya lewat, sedang mengintip ke dalam tenda.
“Aku mengerti perasaanmu sih…anggap saja kau terjebak dalam suatu bencana alam, oke? Maaf ya.”
Gadis itu tampak benar-benar berempati dengannya, lalu gadis itu menutup mata dan menggambar salib di depan dadanya.
Di momen itu, Kapten Hikoshima akhirnya mengumpulkan keberanian untuk menanyakan identitas para penyusup itu dengan suara gemetar.
“…Siapa–kalian?”
“–Yah, kalau harus bicara baik-baik, jika aku harus mengenalkan diriku, itu benar-benar menyusahkan…aku meninggalkan stasiun komunikasi untukmu, jadi apa kau mau menyiarkan ini ke seluruh militer untukku? Itu akan menghemat waktu.”
Di momen itu, sebuah ledakan terdengar.
Kali ini, atap tenda itu terbakar, dan di saat yang sama, 3 tank yang mengelilingi mereka terbelah dengan malang.
Apa yang menyebabkan tragedi membingungkan itu–adalah seorang anak perempuan dengan armor merah putih, lalu tiba-tiba dia melihat Hikoshima.
“Ah, eh…halo, saya…AnchoR”
“Saya kakaknya RyuZU–dari seri Initial-Y. Saya mohon maaf atas kesia-siaan yang kamu lakukan. Semoga harimu menyenangkan.”
Hikoshima menyaksikan kelompok yang berjalan pergi sambil meninggalkan kata-kata itu.

Kapten Sumitada Hikoshima adalah salah satu dari saksi sejarah.
Jika orang disuruh menggambarkan sudut pandangnya ke dalam kata-kata, kata-kata seperti apa yang pantas ya?
Tidak logis, mustahil, singkat, tiba-tiba–pemberontakannya, yang berlandaskan kemarahan demi keadilan, gagal tanpa alasan apapun.
Pertempuran? Insiden? Tidak–fenomena ini hanya bisa dianggap sebagai ‘insiden’.
Mendefinisikan kebenaran itu sendiri bukanlah tugas seorang saksi–melainkan seorang sejarawan.

–Pemandangan ini benar-benar gila.
Itu bukanlah sebuah pertempuran; itu hanyalah pembantaian sepihak.
Itu bukanlah sebuah bencana; fenomena tidak masuk akal ini dilandasi suatu tujuan.
Dengan kata lain, itu hanyalah penindasan–yang kuat mengalahkan yang lemah.
“…Aku tahu itu…tapi ini benar-benar tidak masuk akal.”
“Ini sih normal bagi RyuZU dan AnchoR.”
Sementara Marie merasa kasihan pada si Kapten muda yang tampaknya merupakan komandan operasi militer ini, Naoto menjawab dengan bangga.
Keduanya berjalan melewati parit yang melindungi istana sambil mengobrol santai.
Di momen itu, automata lapis baja ringan, yang sedang mengarahkan senjatanya pada mereka berdua, hancur dalam sekejap.
Sesaat kemudian–bukan, di saat itu juga, sebuah meriam otomatis yang berjarak beberapa ratus meter juga ikut hancur.
Kemungkinan besar itu adalah–ulah RyuZU.
Marie tidak bisa yakin dengan pasti, karena dia tidak bisa melihat tindakan RyuZU dan AnchoR.
RyuZU terus bergerak dengan kecepatan tinggi, menumpas semua hawa jahat yang mengincar Naoto.
Dengan kata lain, kehancuran di sekitar sini kayaknya dilakukan oleh RyuZU, sedangkan AnchoR–
“…Ah, waah…tendang…!”
Suara anak itu terdengar sedikit panik. Berdasarkan deduksi Marie, anak itu paling sedang mengayunkan pedangnya, lalu tidak bisa bereaksi tepat waktu terhadap serangan balasan, sehingga dia menendangnya–kayaknya sih. ‘Tendangan’ itu dia lakukan sambil menahan dirinya sebisa mungkin–
“Hei Naoto… ‘Komainu’ itu beratnya 3,4 ton, lho?”
“Heh~ gak kusangka beratnya segitu.”
“Ya…benar-benar berat. Benda itu melayang di udara…lucu banget kan?”
Onggokan logam seberat 3,4 ton itu melayang di udara, membuat Marie mau tidak mau menghela napasnya.
–Tank berkaki 4 C&S 228, yang biasa disebut ‘Komainu’.
Tank itu adalah tank berkaki 4 yang dikembangkan bersama oleh dua perusahaan terbesar di negeri ini, ‘Seiko’ dan ‘Citizen’; meskipun keduanya masih kalah saing dengan 5 Perusahaan Besar, Breguet, Vachron, Audemar, Patek, dan Langes, keduanya masih punya beberapa teknologi primer di dunia.
Unit utama yang dimiliki ‘militer’ sepertinya adalah ‘A-Un’–barangkali mereka tidak bisa mengerahkan persenjataan ‘militer’ terbaru karena coup d’etat yang tiba-tiba ini.
Namun–‘Komainu’ tetap saja merupakan unit luar biasa yang masih belum dipasarkan.
Bahkan, Marie sendiri, sebagai seorang teknisi, merasa terkesan akan desainnya.
Benda itu merupakan kendaraan berawak, dan memiliki sistem penyerapan inersia serta penglihatan ke segala arah, tapi mobilitas tempurnya bisa dibandingkan dengan sebuah automata bersenjata berat, lalu benda itu juga bisa bergerak vertikal menggunakan kabel. Dengan sengaja membuang tarikan dari pegas otomatis dan beralih ke fungsi energi simpanan, ‘Komainu’ dapat memberikan output daya yang besar pada area permukaan yang luas.
Hal yang paling utama adalah persenjataannya–‘Komainu’ diisi dengan persenjataan sederhana berupa meriam 120 cm, meriam Gatling 30 cm, serta paling banyak dapat ditambah dengan 4 senjata lagi, yang bisa diganti-ganti saat pertempuran–tapi–
“Ah…maaf, papa, mama.”
AnchoR tiba-tiba muncul di depan Naoto dan Marie, seolah-olah dia telah berteleportasi, lalu AnchoR mengayunkan tangannya begitu saja.
Sesaat kemudian–ada ledakan di langit, dan setelah beberapa detik, Marie mengerti situasinya.
–Ada dua peluru kendali yang mengarah ke keduanya, yang dapat dengan mudah ditangkis oleh sarung tangan AnchoR jauh di atas sana.
Marie menoleh ke belakang, ke arah ‘Komainu’ yang sedang menembak–nun jauh di sana. Mesin itu terpotong secara vertikal, sementara pilotnya tidak bisa bicara apa-apa, AnchoR tidak repot-repot untuk membungkuk ke arahnya.
Setelah menyaksikan hal itu, yang bisa Marie lakukan hanyalah tersenyum masam.
Tentu saja, persenjataan ‘militer’ negara ini tidak lemah ditinjau dari sisi manapun.
Bagi sebuah negara yang utamanya berfokus pada memproduksi barang-barang lokal, persenjataan negara ini bisa dianggap sebagai salah satu yang terbaik di dunia.
Tapi semua itu–berakhir seperti ini.

“…Hei Naoto, ini benar-benar nyata, kan? Bisa tolong cubit aku?”
“Oke–hei, kenapa kau menghajarku!”
“Duh, harusnya ada batasan seberapa tidak masuk akalnya semua ini…”
“Ow…itulah yang ingin kukatakan sekarang…sialan.”
Setelah menyaksikan badai keganasan ini, Marie akhirnya paham.
RyuZU tidak sedang merendah ketika dia menyatakan kalau dirinya adalah yang terlemah diantara ‘seri Initial-Y’.
“…RyuZU seharusnya adalah yang ‘terlemah’, tapi dia mencabik-cabik senjata itu seperti secarik kertas. Aku harus lebih memperhatikan hal ini…”
Jika diingat-ingat, RyuZU memang telah mencincang senjata terbaru keluarga Vachron ‘Grat’ begitu mudahnya. Dengan pertimbangan itu, senjata raksasa itu adalah sebuah abnormalitas karena bisa menahan sabitnya RyuZU, sedangkan senjata normal tentu saja akan berakhir begini–ini adalah logika yang tidak logis.
Ditambah lagi…kemampuannya AnchoR, yang disebut-sebut ‘perwujudan dari yang terkuat’–
Marie melihat AnchoR mengayunkan sebuah pedang besar untuk membelah tiga buah ‘Komainu’.
“…Hei, Naoto. Pertempuran macam apa yang ‘Y’ rencanakan ketika dia memberikan anak itu daya tempur sekuat itu? –Kurasa alien pun akan lari terbirit-birit ketika melihat itu, kan?”
Marie bertanya dengan lesu, lalu Naoto memasang wajah bodoh sambil menjawab,
“Yah, biar mereka lari terkencing-kencing, kan? Kau ini memang suka bertanya hal-hal yang tidak perlu, Marie.”

–Kemudian, di momen itu,
“Ketemu, Marie.”
Naoto, yang sejak awal tidak mengenakan headphonenya, menaikkan suaranya,
“Itu automata bersenjata berat tipe Cz 35C ‘Kura-Kura Hitam’–yup, tidak salah lagi. Aku menemukannya.”
–Tentu saja, tidak diragukan lagi kalau mereka tidak akan punya masalah berarti jika mereka memasuki istana begitu saja.
Tapi itu saja belum cukup.
Mereka harus menghancurkan seluruh kekuatan militernya sebelum musuh melarikan diri.
Berdasarkan ‘rencana Naoto’, mereka harus melakukannya dengan cara yang tidak masuk akal, mustahil dan tidak bisa ditiru–
Mereka harus menghancurkan tempat ini sampai-sampai kekuatan militer terkuat di dunia pun tidak bisa melakukan hal yang sama.
–Lalu satu hal lagi.
“Oke, saatnya rencana berikutnya…!”
Marie memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, dia tampak sedang menyemangati dirinya seraya tersenyum simpul.
Dia mendongak ke langit–melihat ke arah sejumlah helikopter media yang sedang berputar-putar disana, yang dengan berani mencari berita di tenagh-tengah badai kehancuran ini. Ketka dia melihat salah satunya sedang mengarahkan kamera pada mereka.
Marie mengangkat tangan kanannya, lalu mengayunkannya keras-keras.

Ada sebuah pos komando JSDF sementara yang didirikan di dalam ruang rapat Istana.
Perabotan mewah disana telah dipindahkan semua, lalu diganti dengan alat-alat komunikasi serta layar besar.
Lalu JSDFnya, yang tadi masih dalam suasana muram, sedang menonton TV di layar tersebut bersama dengan staf Istana yang ketakutan.
“–P-pemirsa, lihatlah pemandangan yang tidak bisa dipercaya ini…!”
Suara si reporter terdengar naik, kemungkinan besar karena rasa tidak percaya.
Yah, itu tidak diluar dugaan, karena apa yang dia saksikan memang benar-benar tidak bisa dipercaya.
Angkatan ‘militer’ yang sedang mengepung Istana di dalam visual baru saja dihancurkan oleh ‘sesuatu’ yang tidak bisa mereka pahami–
“Identitas mereka tidak diketahui! T-tapi salah satu dari mereka adalah–ah, itu si pemuda itu! Dia adalah tersangka, Naoto Miura, yang menyatakan kalau dia akan membekukan Akihabara beberapa hari yang lalu! Dan juga, berdasarkan kesaksian korban selamat, ada dua buah automata yang menyebut diri mereka unit ‘Initial-Y’–!”
Sang gadis muda berambut hitam–Houko menatap ke arah layar, lalu bergumam,
“Apa…ini?”
Seorang opsir JSDF muda menjawab,
“S-saya tidak tahu…tidak ada senjata apapun yang bisa melakukan hal seperti itu…”
“Apa ini benar-benar siaran langsung? Apa mungkin visualnya telah dimanipulasi?”
Sementara sang Putri bertanya dengan hati-hati, si opsir langsung menjawab–
“Saya rasa tidak. Siaran ini memang tampak seperti siaran televisi langsung dari saluran publik. Selain itu, ‘tidak ada’ yang punya waktu, teknologi, bahkan motif untuk menciptakan imej palsu begitu.”
–Tentu saja. Siapa yang akan diuntungkan dengan menyiarkan hal seperti ini? Hal yang pentingnya adalah itu terjadi tepat di depan muka kita. Apapun yang bisa dilihat dari istana tidak bisa dipalsukan.
“Jadi itu artinya siaran ini memang asli, kan?”
Si opsir mengangguk meskipun tidak bisa berkata apapun untuk merespons penegasan Houko.
–Ini kenyataan.
Itu adalah sesuatu yang Houko pun lupa–sesuatu yang menindas imajinasi.
Dia merasa terintimidasi, lalu mengalihkan pandangannya ke layar–sebelum menyadari sesuatu.
Sementara si reporter memperkenalkan pemuda bernama Naoto Miura…tepat di sampingnya ada seorang gadis pirang yang sedang menatap ke arah kamera.
Mata zamrud si gadis berkilauan ketika dia mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi dan mengayunkannya.
“–…”
Houko mau tidak mau memutar tangan kirinya.
Dia punya sebuah jam tangan perak, dengan ukiran nama ‘MARIE’ di dalamnya.
“K-kami punya laporan anonim! …Huh? Ah, maaf, me-mereka–“
Laporan selanjutnya membuat Houko ternganga keheranan.
Hanya dia yang menyadari kalau itu adalah mantra sihir untuk menyelesaikan segalanya.

“Mereka adalah kelompok kriminal yang mengotaki insiden terorisme di Grid Akihabara, serta menciptakan senjata tidak dikenal yang sedang mengamuk disana…!”

“Fuu…hhaa! Memang gak bisa tenang tanpa ini.”
–Lokasinya adalah salah satu gedung yang mengapit jalan menuju istana.
Seorang gadis sedang melihat ke bawah dari atap, menatap pemandangan yang dahsyat disana sambil merokok dengan pakaian karet.
Lebih akuratnya, dia bukanlah seorang wanita, dan lebih teknisnya, dia bukanlah seorang manusia–bukan cyborg, maupun automata.
Dia adalah seorang pria yang kepalanya ditempelkan secara paksa ke leher sebuah unit automata–lalu seseorang memanggil namanya.

“Vermouth, Naoto menemukannya. ‘Target’ diperkirakan ada di arah jam 2, dalam satu diantara 5 unit disana.”
Suara Marie terdengar dari komunikator resonansi yang dipasang dalam tubuh mekanisnya untuk memberitahunya.
Pria/Wanita itu berdiri dengan santai, meregangkan lengannya sambil tersenyum lebar.
“Baiklah, seperti yang kuharapkan dari bocah kecil yang kucintai. Akan kusodomi dia sebagai hadiahnya.”
“–Homoseksualitas itu menular. Itulah yang dia katakan.”
Vermouth tersenyum kecut, lalu berlari turun dari atap sambil melompat. Dia terus bergerak menuju tempat yang ditunjukkan, lalu Marie bertanya dengan gugup, dia menyembunyikan rasa jijiknya,
“–Agak telat bertanya begini sekarang…tapi apa kau benar-benar yakin dengan ini?”
Yah, ini memang agak telat–Vermouth tertawa kecil tanpa suara.
“Apa nih? Kau sendiri pun tidak percaya pada tubuh yang kau bangun ini? Bukannya kau cuma sedikit–”
“Tentu saja aku percaya! Aku melakukan sebisaku dalam penyelarasannya–tapi mesin itu bukanlah tubuh cyborg. Kau mengerti yang kukatakan? Tubuh itu bukan untuk dikontrol manusia!”
“–Kau bercanda ya! Kau membuatku kaget dengan sesuatu yang tidak kutahu! Kalau begitu, Nona, kasih tahu aku. Memangnya siapa yang menempelkan kepalaku ke benda ini?”
Vermouth terus meloncat dari satu gedung ke gedung lain seraya bicara dengan nada mendendam, sedangkan Marie tidak berkata apapun.
–Tidak perlu disebutkan lagi, karena Marie sendirilah yang melakukannya. Tapi–
“Tenanglah. Tubuh ini sudah cukup buatku, lho? Kau memang hebat, Nona.”
Itu bukanlah kebohongan. Malahan, dia sedang meloncati gedung-gedung, tapi tidak ada kerusakan pada penyerap guncangannya.
Sesuai dugaan, automata lacur memang seksi dan cantik, begitu cantiknya sampai-sampai orang pun akan memikirkan seorang bintang film maupun model top. Hebatnya dan untungnya, perbedaan yang terasa antara model ini serta organ prostetik Vermouth sebelumnya diatur supaya seminimum mungkin. Meskipun dayanya kalah dari suku cadang militer kelas tinggi yang asli, tapi karena automata ini dibuat untuk menari, tubuh ini dapat melakukan pergerakan fleksibel yang tidak bisa dilakukan tubuh aslinya.
–Benar, pekerjaannya dilakukan dengan begitu, begitu baiknya sampai-sampai dia tidak merasakan jeda apapun pada reaksinya.
Meskipun menggunakan begitu banyak suku cadang berkualitas, tidak ada orang yang bisa melakukan penyelarasan hebat seperti ini.
Memang, ini adalah pekerjaan seorang jenius–pikir Vermouth, tapi dia tidak mengatakannya.
“Yah, tubuh ini kan automata lacur, tapi sebenarnya ada burung besar di selangkanganku–”
“Mau kubunuh?”
Olokan Vermouth dibalas dengan respons dingin.
“Tidak tidak tidak. Aku serius. Kenapa kau memasangnya?”
“Gimana aku tahu! Benda itu sudah ada disana dari awal! Aku juga tidak mau menyentuh benda kotor seperti itu!”
Vermouth membelalakkan matanya, seolah-olah bisa melihat wajah memerah Marie,
“–Hei, kau bercanda, itu perlengkapan standarnya? Aku sudah dengan rumornya, tapi inikah regulasi Jepang Keren? Hebat; dalam era apapun, Jepang selalu hidup di masa depan!”
Vermouth menyeringai dengan riang, tapi dia merasakan sesuatu yang aneh melalui komunikatornya–oleh karena itu dia mengubah tingkahnya.
Dia menyalakan rokoknya seraya bicara dengan tenang pada Marie,
“–Mau rokok? Rasanya enak.”
“Tubuh itu–tubuh aslimu pun tidak akan bisa mencium baunya”
Ketika mendengar Marie bertanya ‘apa untungnya’, Vermouth hanya meringis. Marie tidak mengerti hal itu.
Vermouth terus meloncati gedung-gedung, lalu mengidentifikasi targetnya–seperti yang dikatakan si bocah, ada satu skuad berisi 5 unit di arah jam 2. Dia melihat ‘target’ diantara mereka.
“Contohnya, Non, tubuh yang terbuat dari darah dan daging pun akan bilang kalau udaranya segar, tapi apa artinya itu?”
“…”
“Udara itu sendiri tidak berbau, kan? Arti dari udara segar itu hanyalah suasana yang bagus–itu saja.”
–Automata bersenjata berat, Tipe Cz-35C ‘Kura-Kura Hitam’.
Dibuat oleh Seiko, karakteristik uniknya adalah gabungan dari alloy lapis baja yang tebal dan daya serang yang besar–lengannya dilengkapi dengan meriam kaliber 40, bahunya dilengkapi dengan meriam utama–Thermobaric Busters[1], lalu dilengkapi dengan AI[2] yang sangat rumit. Unit ini adalah salah satu dari senjata berkaki dua tanpa awak terkuat di kota ini.
…Mereka memobilisasi benda seperti itu hanya untuk pemberontakan seorang Kapten muda belaka, orang normal harus meringis melihat hal itu.
Namun, tampaknya mereka tidak bisa mengerahkan secukupnya, jadi benda itu ditemani oleh 3 unit ‘Iblis Logam’ lapis baja serta tank berkaki empat ‘Komainu’.
Tepat di bawahnya ada sekian banyak tentara cyborg dan automata lapis baja ringan.
Vermouth menengok ke arah skuad ini, lalu memikirkan ‘permintaan Naoto’.

Kuulangi lagi. Jangan bunuh siapapun. Hancurkan saja ‘AI Kura-Kura Hitam’, singkirkan semua unit lainnya.
Apa cuma itu pesanannya? Apa aku juga perlu menambahkan kentang goreng dan minuman?

Vermouth menahan keinginannya untuk tersenyum lebar. Si bocah Naoto memberikan masalah yang mustahil seperti ini bagi bajingan sepertiku.
“Lalu…saat ini, aku merasa kalau tembakau adalah rasa terbaik.”
–“Tidak ada lagi yang bisa melakukannya selain kau”–
“…jadi, apa maksudnya itu?”
Marie bertanya ragu, lalu Vermouth melompat dari atap–
Dia melompat ke gedung berlantai 6 di hadapannya, lalu melompat seperti segitiga ke celah diantara kedua gedung dan mendarat di bawah.
Jika kau tidak suka sesuatu, hajar saja–dia membayangkan mata Naoto ketika Naoto menyatakan begitu, lalu Vermouth menghembuskan kepulan asam, dan tampak berseri-seri, seolah-olah dia akan menggigit rokoknya.
“–Artinya karena rokokku enak, aku tidak akan meleset!”
Vermouth menyeringai, lalu menyerbu ke dalam medan perang yang kacau dari belakang gedung.
Menyerbu ke arah seorang tentara cyborg yang sedang berjaga-jaga.
Tentu saja, dia ketahuan.
“S-siapa itu–”
Si tentara cyborg mengangkat senapannya dengan ragu-ragu ketika dia melihat automata lacur itu menyerbu tiba-tiba.
Vermouth langsung menutup jarak diantara mereka.
Ketika dia sampai disana, dia menendang.
Jari kakinya menendang tubuh senapan itu, sehingga senapannya lepas dari tangan si cyborg.
Vermouth mengambil senapan yang lepas itu, lalu menembak sekali ke arah kaki kanan si cyborg.
Dan dalam sekejap mata, dia menembakkan 3 peluru lagi ke bagian belakang cyborg yang tertegun itu.
Vermouth menyaksikan musuhnya terjerembab, sambil tersennyum, dia berkata,
“Bagaimana penampilanku? Aku ingin tahu kesanmu.”
Ada 4 tembakan yang terdengar, dan itu memicu reaksi dari tentara cyborg lainnya yang berteriak,
“–Ada musuh!”
“Ah–bagus. Akan mudah bagiku jika mereka mengira segalanya adalah ‘musuh’, biarpun itu cuma boneka lacur yang sedang lewat.”
Vermouth tertawa terbahak-bahak ketika dia ditembaki oleh musuh dari tiga arah. Namun, dia tidak berhenti.
Vermouth terus menghindari hujan peluru itu dengan gerak kaki seperti penari handal.
Dia menyelinap ke titik buta dari tentara cyborg dan automata, kadang menggunakan mereka sebagai tameng agar mereka menembak teman sendiri, dan terus bergerak kemana-mana.
Senjata mereka hanyalah senapan, tapi satu peluru saja akan fatal bagi automata lacur ini–tapi Vermouth terus berlari-lari, tanpa rasa takut, malah tersenyum mengejek.
Kemudian–
“Pinjam kepalamu, nak.”
Vermouth menginjak kepala seorang cyborg, lalu melompat.
Tepat di depannya adalah tentara lapis baja – ‘Iblis Logam’.
Vermouth mendarat di bahu tentara musuh–tingginya sekitar 8 meter lebih tinggi dari unit musuh lainnya. Mobilitasnya tentu saja kalah dari cyborg militer, tapi kemampuannya jauh melebihi manusia.
Karena medang perang yang kacau serta kehilangan musuhnya, ‘Iblis Logam’ yang sedang dinaiki Vermouth melihat ke sekelilingnya dengan waspada.
–Tetapi, benda itu tidak bisa menemukan musuh manapun.
Vermouth tahu betul kalau selama dia terus bersembunyi di posisi ini, dia tidak akan kelihatan oleh 8 kamera pada ‘Iblis Logam’ ini.
Dia terus menempel ke lengan panjang ‘Iblis Logam’ ini, lalu membuka lubang palkanya yang praktis terletak di bagian belakang leher manusia, dan memutar tuas daruratnya ke kanan.
Kemudian ‘Iblis Logam’ itu berhenti. Suara berderam gir-gir serta silinder-silinder terdengar, lalu lubang palkan pilotnya tiba-tiba terbuka seperti sebuah ransel.
Orang yang duduk di dalam sana adalah seorang pemuda yang tampaknya baru saja lulus dari sekolah prajurit.
“…Hah?”
Si prajurit menatap kosong ke arah Vermouth, lalu Vermouth menodongkan pistolnya ke hidung si prajurit sambil berujar,
“Yo nak, kontrol yang bagus. Ngomong-ngomong, aku sedikit kaget kalau unit ini cuma berpilot satu, lho”
Vermouth memegang pistolnya dengan satu tangan, lalu memasukkan rokok di tangan satunya ke mulut si pilot.
Kemudian, dia memegangi si prajurit yang terkejut itu dan memaksanya mengangguk.
“Aku menukar rokok ini dengan benda cantik ini. Kita teman kan? Kasih tahu rasanya terbang di udara nanti ya.”
Vermouth terus mengoceh seraya menarik tuas pilotnya.
Lalu–bersamaan dengan sebuah ledakan, kursi pilotnya terlempar, si pilot berteriak saat dia terbang ke langit.
“Makasih.”
Vermouth mengirim ciuman seksi ke arah si pilot lalu duduk di kursi pilot.
“Kalau begitu~–ayo tunjukkan pada semua orang kalau aku ini bajingan yang pantas buat memenuhi harapan si pelacur kecil (Naoto) itu.”
Sebagian fungsi mesin itu tidak bisa digunakan karena kursi pilotnya sudah tidak ada. Tetapi, kokpitnya masih ada, berbeda dari jet tempur.
Vermouth mengambil kabel yang terputus serta joystick–yang membuatnya bisa mengendalikan sistem ‘Iblis Logam’.
Jika Marie melihat kemampuannya yang sebenarnya–wajah seperti apa yang akan ditunjukkan Marie?
Vermouth mengira-ngira seraya bersiap untuk ‘strategi’ selanjutnya.
Di saat yang sama, dia melihat unit-unit lapis baja dan tank berkaki empat yang kebingungan, dia pun tersenyum mengejek,
(Ha–kita punya anak baru yang gak ada bedanya sama orang amatir. Mereka tidak tahu caranya mengenali unit musuh?)
Meskipun unit lapis baja ‘Iblis Logam’ telah dicuri, musuh tidak melawan.
Tidak ada yang bisa menentukan kalau ‘Iblis Logam’ yang dicuri sebagai musuh dan menggunakan senjata mereka, untuk mencegah salah tembak.
Selain itu, ‘Kura-Kura Hitam’ dan automata lainnya tidak bisa menentukan musuh sendiri.
Satu-satunya kondisi agar situasi ini berubah–adalah ketika mereka diserang dua kali.
Lebih jelasnya, tidak ada yang bisa menembak ‘Iblis Logam’ yang dikendalikan Vermouth, kecuali senapan dari tentara infantry, sampai Vermouth menembak dua kali.
Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan?

–Pertama, dia harus menghancurkan kaki empat ‘Komainu’ dulu.
Mengingat armor ‘Iblis Logam’, dan dalam keadaan seperti ini–tamatlah sudah kalau dia diincar.
Kalau begitu–
Jika dia tidak bisa menghancurkan ‘Komainu’ dalam satu serangan, meriam Gatlingnya ‘Kura-Kura Hitam’ akan menjebol ‘Iblis Logam’ tepat ketika dia menembak untuk kedua kalinya. Tapi biarpun begitu, jika dia mau melumpuhkan ‘Kura-Kura Hitam’ dalam satu serangan, jika pilot ‘Komainu’ mengubah pengaturan deteksi musuh dan kembali ke medan perang–dia akan diskakmat.
Jika begitu, pertama-tama dia akan melumpuhkan ‘Komainu’ lalu menyegel ‘Kura-Kura Hitam’.
Setelah itu, dia harus menghabisi dua ‘Iblis Logam’ sebelum tembakan beruntun yang pasti akan terjadi.
Semua itu–tanpa membunuh satupun.
Bicara itu gampang–tapi inilah misi tersukar yang pernah dia lakukan sampai titik ini.
Tetapi, Vermouth merampungkan strateginya dalam waktu kurang dari sedetik, lalu melempar senyuman yang tidak cocok dengan automata lacur sambil berpikir,
–Ini sungguh, sungguh menarik.

Vermouth menendang lantai kokpit seraya berujar,
“Hei besi rongsok–apa kau tahu kode D3?”
Tentu saja, tidak ada jawaban.
Setelah kursi pilotnya terlempar, sistem unit ini menentukan kalau unit ini ‘tidak berawak’.
Tapi dengan asumsi kalau unitnya bereaksi, sistem akan menjawab ‘negatif’. Di samping itu, kode itu adalah kode komando yang diberi nama oleh Vermouth sendiri.
“Kau tidak tahu? Yah, sudah kuduga sih. Gimana dengan trik yang diajarkan siPutri hantu padaku ini?”
Setelah berkata begitu, Vermouth mulai bermain-main dengan kabel yang dia pegang dengan kedua tangannya.
Tangan satunya menempel ke silinder yang mengendalikan output daya ‘Iblis Logam’.
Sebelum operasinya dimulai, instruksi yang diberikan Marie adalah–
“Semua batasan sudah mati–tusuk punyamu demi diriku, kau dengar kan, perjaka?”
Dan tampak seperti merespons, layarnya bercahaya.
Apa yang muncul di sana adalah hitung mundur yang mengindikasikan output daya yang tersisa, ‘162 detik’.
“Ha–cuma 2 setengah menit untuk kali pertamamu? Jangan malu-malu dasar ejakulator dini–akan kutunjukkan beberapa teknik yang akan membuat seluruh Nona-nona di dunia klimaks dalam 2 menit–!”
Denyutan mesin itu membuat Vermouth berseru kesal.
Lalu suara jijik Marie terdengar dari komunikator resonansi,
“…Apa kau ini sakit sindrom lelucon jorok atau semacamnya?”
“Hah? Yah, kau dengar kan, Putri Lacur–macho kan?”
“…Serius? Kalau kau memang serius, akan kukasih–“
“Hahaha! Kaulah yang akan dikasih sesuatu, lho!?”
Dengan ucapan tak berperasaan, Vermouth menarik kabelnya.
Di momen itu–mesinnya dalam sekejap memanas, lalu ‘Iblis Logam mulai berlari.
Lengan kanan mesin itu menggenggam pedang hiperfrekuensi seraya menyerbu ke arah target yang telah direncanakan sebelumnya–kaki empat ‘Komainu’–
Sementara unit ini terus menyerbu ke arah musuh dengan kecepatan maksimal–Vermouth tersenyum kecut.
Baik AnchoR maupun RyuZU–kedua automata abnormal itu dapat dengan mudah menangani senjata-senjata ini, sebuah tank berkaki empat adalah ‘monster di medan perang’, biarpun sudah ketinggalan zaman.
Menyerang dari depan hanya dengan sebuah unit lapis baja adalah tindakan bunuh diri.
Tapi meskipun dia tidak hafal dengan cetak biru desain seperti Marie–Vermouth, orang yang sudah banyak makan asam garam di medan perang, tahu betul dengan kelemahan dari unit berkaki banyak.
Ada 3 kelemahan yang mereka miliki.
AI pendukung, pegas aktivator, serta–kokpit dengan armor ringan di bagian perut.
Dua kelemahan awal dilindungi oleh armor yang kuat tanpa terkecuali, daya serang ‘Iblis Logam’ tidak cukup untuk menembus armor tersebut.
Oleh karena itu, metode terbaiknya adalah–menyelinap ke bawah musuh dan membunuh pilotnya.
Tetapi–permintaan Naoto adalah ‘jangan membunuh siapapun’
Oleh karena itu, Vermouth memilih ‘opsi keempat’ untuk menyingkirkannya.
Kelemahan yang dimiliki oleh tank berkaki banyak manapun—bukan, yang akan dimiliki unit berawak manapun–jika mereka dikendalikan oleh manusia, maka akan ada jalur kendali yang bisa diputus.
Meskipun tidak sekokoh dua kelemahan yang pertama, bagian ini tetap saja dilindungi oleh armor yang kuat.
Satu-satunya bagian yang lebih lemah adalah–di bagian pinggang belakang mesin tersebut.
Tepat di atas kursi pilot.
–Vermouth harus menusuk menembus armornya lalu menghancurkan target tersebut, dan di saat yang sama, tidak merusak kokpit yang terletak di bawahnya.
Sebuah tugas yang benar-benar sulit–
“–Hanya kau yang bisa melakukannya.”
Vermouth mengenang wajah yang dipasang si bocah saat dia berkata begitu, lalu Vermouth tersenyum kecut.
Dia menarik kabelnya, dan mendorong joystick disana.
Vermouth menggunakan pendorong mesin dengan kekuatan penuh, dan di saat yang sama, melompat tinggi ke udara.
Proses aktivasi yang jauh melampaui batasan output itu sendiri menyebabkan seluruh bagian mesin itu memberikan peringatan malfungsi.
Tapi itu tidak masalah.
‘Iblis Logam’ itu menyesuaikan posisinya di udara, lalu membidik targetnya.
Ketika digabung dengan massa mesin yang mencapai 14,2 ton, dia seperti sebuah penjepit.
Dia menusukkan ujung pedang dari pisau berfrekuensi tinggi ke pinggang bagian belakang ‘Komainu’–
“Brengseeeeeeeekkkk–!!”
Apa yang dia rasakan–rekoil dan guncangan mesin itu membuat Vermouth berkata kasar keras-keras.
“Segitu kerasnya kau coba melawan burungku, dasar anjing sialan–?”
Pedangnya sedikit demi sedikit bengkok, tapi Vermouth terus mengerahkan kekuatan tanpa peduli sedikitpun.
Dan sekali lagi, suara Marie terdengar dari komunikator.
“…Akan kukasih tahu ya. Kata-kata jorokmu–membuatmu benar-benar berlawanan dari orang macho.”
“–!?”
Kata-kata itu membuat Vermouth tertegun, lalu dia mengayunkan tangan unitnya ke bawah sebelum melompat mundur.
Di saat yang sama, dia merasakan sensasi kalau pedangnya sedikit mengenai target.
Buktinya, kaki ‘Komainu’ langsung tertekuk.
Dengan begitu, ‘Komainu’ tidak akan bisa bergerak selama beberapa jam, sampai perbaikannya selesai.
…Tapi yang lebih penting.
“Hei, tunggu! Gentlemen itu orang yang dengan luwes menggunakan kata-kata ‘Sial, Brengsek, Jancok, Lacur’ kan!?”
Akibatnya, lengan kanan yang dia gunakan tadi sekarang meledak, lalu guncangan akibat pendaratan menyebabkan kaki unitnya menjadi tidak normal.
Dan karena tindakan ini, seluruh automata menentukan Vermouth sebagai ‘seseorang yang harus diidentifikasi kembali sebagai calon musuh’–dan tatapan mereka tertuju padanya.”
Di dekat kaki unitnya, dia mengabaikan tembakan dari senapan yang terasa seperti senapan mainan.
“…Apa kau lahir di Amerika? Tidak, film-film penjahat di era ini pun punya kata-kata yang lebih elegan daripada kau, tahu?”
Vermouth tampaknya merasakan kenyataan dalam suara jijik Marie.
“–Serius!? Si bajingan itu menipuku!? Akan kubunuh dia kalau aku bertemu dengannya di akhirat nanti.”
Dia mengutuk rekannya yang telah mati, Amaretto–lalu menatap ‘Kura-Kura Hitam’ di depannya.
Lalu dia berpikir, ‘satu serangan lagi’–
Jika dia melancarkan satu serangan lagi, dia akan dilubangi oleh meriam.
Oleh karena itu, sesuai rencana, target kedua tentunya adalah–automata bersenjata berat ‘Kura-Kura Hitam’.
Vermouth mengambil pedang lainnya dengan tangan kiri unitnya, dan langsung melaju.
Dia mendekati ‘Kura-Kura Hitam’ sambil mengabaikan peringatan kerusakan yang menyebalkan–
(–Kena kau–)
Tiba-tiba, mesinnya berguncang keras.
Unit ‘Iblis Logam’ lainnya menubruknya tanpa menggunakan senjata apapun.
Meskipun tidak menyingkirkan alat identifikasi musuh–setidaknya ‘Iblis Logam’ bisa menerjang dengan tubuhnya.
“Benda brengsek ini–tampaknya ada perjaka lainnya yang tahu cara menggunakan otaknya sedikit, oi!”
Vermouth menggertakkan giginya.

Walaupun keduanya sama-sama ‘Iblis Logam’, mustahil musuh bisa menandingi kekuatannya saat dia sudah melepas batasan output daya.
Oleh karena itu, dia bisa menyerang langsung ‘Kura-Kura Hitam’ sambil mengabaikan musuh ini, tapi–
Menusuk AI ‘Kura-Kura Hitam’ ‘begitu saja’ saat dipegangi oleh ‘Iblis Logam’ ini adalah hal yang mustahil–jadi dia harus melepaskan diri dari musuh ini terlebih dulu.
Vermouth memutar otaknya–tapi sebentar saja.
“Yang benar saja, apa itu benar? Aku ini orang Napoli tulen…kan! Ditilik dari kebangsaan–tidak, aku tidak punya kebangsaan maupun ingatan apapun, tapi itu pasti benar!”
“Pokoknya, kau ini cuma gelandangan yang lahir dari tempat sampah.”
Vermouth bersiap untuk serangan kedua jika situasinya memungkinkan–serangan terakhir pada ‘Iblis Logam’.
“Hei lacur! Minta maaf pada seluruh orang Itali! Kau tahu kan, orang Itali itu orang-orang seperti itu–yang terbaik di dunia dalam balapan dan main bola! Tentu saja, main bola itu termasuk olahraga di kasur–!”
“Mati saja sana.”
Pegas aktivatornya dihancurkan, dan ‘Iblis Logam’ itu jatuh berlutut.
Tapi di momen itu, Vermouth merasakan niat membunuh anorganik dari segala penjuru.
Tentu saja–termasuk dari unit di depannya.
“–Ahh, tampaknya seperti yang kau harapkan.”
‘Kura-Kura Hitam’ di depannya membidikkan meriam Thermobaric Buster ke arahnya.
Goresan sedikit saja sudah cukup untuk memastikan kebinasaannya, apalagi terkena langsung.
“–Vermouth!”
Ketika mendengar suara Marie, Vermouth menggigil.
“Hei lacur! Kurasa aku ini memang orang Itali! Jiwaku berkata begitu!”
–Sial! Vermouth mendesis seraya menunjukkan taringnya. Dia masih punya peluang.
Dia menarik kabel disana, dan membiarkan mesinnya melangkah ke kiri.
Sesaat kemudian, Meriam Thermobaric Buster Cannons ‘Kura-Kura Hitam’ menghujam tempat dimana Vermouth tadi berada–
…Aku hanya perlu lolos dari jarak tembak mesin ini!
Kalau saja itu meriamnya automata lapis baja ringan, dia bisa bertahan untuk beberapa saat.
Tetapi…
“–Di situasi seperti ini pun, jiwaku menyuruhku untuk bersikap keren di depan seorang wanita!”
Vermouth memekik, dan melangkah ke sebelah kiri mengikuti instingnya.
Satu momen kemudian, meriam Gatling ditembakkan ke tempat dia tadi berada.
–Tembakan itu berasal dari ‘Iblis Logam’ terakhir yang masih tersisa.
“Jadi kau akhirnya tahu cara melakukan identifikasi? Tapi–aku bersyukur kau melakukannya, tahu?”
–Dia benar-benar merasa bersyukur.
Vermouth terkekeh seraya terus meloloskan diri ke arah kiri dengan mesin yang dia kendarai.
Meriam Gatling musuh terus meraung, dan peluru yang ditembakannya terus mengikuti ‘Iblis Logam’ yang dipiloti Vermouth.
–Tapi Vermouth dengan cepat pergi ke bagian samping ‘Kura-Kura Hitam’.
Dia mengambil posisi bersembunyi dari meriam-meriam tersebut.
Sapuan meriam itu mengenai armor ‘Kura-Kura Hitam’, menimbulkan percikan-percikan api.
Kemudian–
“–Kalau kau mau melumpuhkan sesuatu, cukup lumpuhkan satu saja. Apa kau menghabiskan waktumu di kelas tanpa latihan sama sekali?”
‘Iblis Logam’ satunya dianggap sebagai musuh oleh sang automata.

–Di titik ini, total ada ‘dua’ musuh.
AI ‘Kura-Kura Hitam’ langsung merasa bimbang untuk sekejap. Ada dua musuh, jadi yang mana yang harus diprioritaskan?
Pergerakan ‘Kura-Kura Hitam’ berhenti untuk sebentar. AInya menghabiskan waktu tersebut untuk melakukan simulasi.
Tetapi–Vermouth tersenyum simpul.
Dia membiarkan unitnya merunduk ke dalam celah, lalu keluar dari bagian belakang armor musuh dari samping, dan menusukkan pedangnya dengan keras ke instalasi AI ‘Kura-Kura Hitam’.
Percikan api memancar, lalu ujung pedangnya menghujam dalam menembus armor tersebut.
“Keraguan dalam sepersekian detik di medan perang akan menentukan antara hidup dan mati. Kau sudah belajar hal yang bagus, dasar perjaka?”
–Tentunya, automata itu tampak telah memahami hal itu.

Inilah alasan kenapa Naoto bilang kalau ini adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan Vermouth.
Secara teori, Marie juga tahu.
Dimana bagian komando AInya terletak; posisi persis sistem pemikirannya, sistem pengendalinya, kedalamannya, bagian tertipis armornya, nilai teoritis minimum yang dibutuhkan untuk menghancurkan sebuah unit.
Tetapi, Marie tidak bisa mengaplikasikan teori-teori itu di medan perang.
–Seberapa besar kehancuran yang dianggap ‘minimal, dan seberapa besar kehancuran yang dianggap ‘berlebihan’.
Meskipun nilai tepatnya bisa dihitung, itu tidak bisa ditunaikan hanya dengan ‘kehancuran’ saja.
Di samping itu, hal itu memerlukan pengendalian obyek raksasa dengan pedang sepanjang 2,5 meter, yang benar-benar berbeda dari unit yang biasa ditangani Marie.
Jika dia tidak sengaja menghancurkan AInya bersama dengan sirkuit mesin tersebut, dia harus memperbaikinya.
Oleh karena itu–Vermouth menjadi angkuh.
Seperti yang dikatakan pelacur cilik Naoto, cuma aku yang bisa.
–Dalam sekejap itu, cahaya hitam melintas.
Seluruh tentara yang tersisa disana telah terpotong.
Tentara-tentara cyborg disana tidak bisa bergerak, sedangkan automatanya tidak bisa bergerak lagi, manusia dan logam rongsokan menumpuk menjadi bukit.
Gadis yang mendarat di bukit rongsokan itu–RyuZU, bicara dengan suara mengejek,
“–Cara bertempur yang keji dan sembrono. Mengesankan sekali.”
Ketika mendengar kata-kata itu, Vermouth tersenyum kecut.
Dia melepaskan sandera yang dia siapkan, lalu memukul tengkuknya untuk membuatnya pingsan.
“Pengertian sekali, Nona Automata…yup yup, panggil aku dengan ‘cara menyenangkan’ seperti itu.”
Naoto, AnchoR dan Marie juga sampai disana, lalu Marie berkata,
“…Aku tidak percaya. Kau melakukan ini–dengan tubuh itu…?”
Nada bicaranya mengandung rasa terkejut–serta lega.
Ketika dia menyadari itu, Vermouth merasa puas, lalu dia menghirup asap rokoknya.
Dia lalu tersenyum simpul dan berujar,
“–Kenapa, Non? Kau menggangguku lewat wireless karena kau cemas? Apa kau jatuh cinta padaku?”
“Mati sana, dasar mesum. Kalau kau gagal, Halter akan berada dalam banyak masalah.”
“Hah–kayaknya sih? Jadi targetmu yang asli adalah si abang itu, ya? Aku menyerah. Aku tidak bisa mengalahkannya.”
Vermouth melambaikan tangannya sambil tertawa lepas,
Dia bicara pada Marie yang sedang berlari ke arah ‘Kura-Kura Hitam’,
“–Tembak dia, ‘Non’. Akan kuhibur kau jika kau gagal, ‘lacur’.”
Aku melakukan keajaiban buatmu.
Sekarang giliranmu buat menunjukkan apakah kau jenius sungguhan, atau cuma pelacur yang mengaku sebagai jenius

Mendengar dukungan dari sub-channel komunikatornya, Marie tersenyum kecut.
Begitulah, pikirnya.
Pria ini memang mesum dan menyebalkan, tapi tampaknya dia akan menepati janjinya.
“RyuZU, AnchoR, dan–Marie, kuserahkan pada kalian.”
Merespons suara Naoto, dua pasang kaki melompat dengan tujuan berbeda.
Sabit RyuZU mengiris ‘Kura-Kura Hitam’ yang AInya telah dihancurkan Vermouth dan melepaskan armor bagian belakangnya.
AnchoR membawa Marie ke bagian fungsi internal ‘Kura-Kura Hitam’ yang telah terbuka, lalu ketika dia menurunkan Marie–
“…Mama, berusahalah…!”
“Sudah kubilang jangan memanggilku mama.”
Marie bergumam dan menghela napasnya.
Dia menaruh kepala Halter di lantai, membuka peralatannya, meregangkan jari-jarinya dan mengepalkannya.

–Dia harus membiarkan ‘rencana Naoto’ berhasil.
Mereka harus menghancurkan seluruh kekuatan musuh secara tidak logis, luar biasa dan mustahil dengan kecepatan yang tidak akan bisa dilakukan oleh kekuatan terkuat di dunia ini sekalipun.
–Dan satu hal lagi.
Marie terus mengutak-atik kepala Halter sambil merenung tentang kemarin malam–

“Menyambungkan kepala Halter ke automata lapis baja berat–kau bercanda!?”
Marie berseru kasar.
Strategi yang Naoto jelaskan pada mereka–tidak, apa yang dia katakan adalah gagasan gila yang bisa membuat orang bertanya-tanya apakah itu bisa dibilang strategi. Apa yang Naoto jelaskan pada mereka adalah usul tentang apa yang harus dilakukan dengan tubuh cyborg Halter.
Kehilangan veteran tempur seperti Halter adalah kerugina yang besar. Biarpun begitu, menggunakan suku cadang cyborg murahan itu penuh resiko. Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan hanyalah menangkap senjata utama ‘militer’ dan menggunakannya–itulah yang dikatakan Naoto, tapi…
“…Pahami ini ya. Jangan bilang kalau kau tidak tahu kalau otak manusia itu digunakan untuk mengendalikan anggota tubuh manusia! Dari kecocokannya saja, cyborg dan automata adalah dua hal yang benar-benar berbeda!”
Marie terus mengoceh tentang akal sehat, tapi Naoto hanya merasa bingung, dia memiringkan kepalanya dan berkata,
“…Tapi kurasa paman bisa melakukannya?”
“–Hanya karena Halter pernah memiloti unit lapis baja sebelumnya? Yah, dia memang punya pengalaman, tapi itu benar-benar berbeda dari menghubungkan otaknya ke unit tersebut! Apa kau sudah pernah memindai sekelilingmu dengan ‘mata kompleks’? Apa kau bisa mengendalikan 8 kaki? Kau harus tahu kalau intel untuk sensor kulit artifisial itu benar-benar berbeda dari Sonar Sentuhan! Otak manusia tidak mampu menangani informasi seperti itu.”
“Kau salah, Non.”
Vermouth, yang terhubung dengan automata lacur yang tergantung di rak, menyela kata-kata Marie,
“Apa kau meremehkan otaknya tentara veteran? Yang rambutnya sudah beruban sampai-sampai senjata adalah bagian dari darah dagingnya?”
“…Jangan bertingkah bodoh. Apalagi, premis seperti itu–”
Mereka memang ada. Jumlahnya pun banyak.
Marie tidak bisa berkomentar apapun, lalu Vermouth mengejeknya,
“Dengan menghubungkan otak ke sebuah senjata, mesin tersebut tidak akan dikekang oleh simulasi kaku AI, dan mampu menambah kelemahan unit berawak dengan mencegah keterlambatan kontrol. Sebagian dipaksa untuk melakukannya–dan sebagian yang lain melakukannya dengan sukarela, lho?”
Jumlahnya pun banyak–kalimat ini menyiratkan kalau ‘percobaan manusia’ seperti itu telah banyak terjadi di seluruh penjuru dunia. Marie membelalakkan matanya dan berseru,
“Kau bercanda kan!? Itu melanggar HAM–itu benar-benar ilegal, kan?”
“Haha–! Lucu sekali! Bicara soal HAM di medan perang? Dewi macam apa yang mau menghargai hal seperti itu? Sayang ssekali aku belum pernah melihatnya!”
Sementara Marie terdiam, Vermouth tertawa menyindir, lalu mengalihkan pandangannya.
“Ngomong-ngomong–bocah, kaulah maniak terbaik di luar sana–apa kau menyadari hal itu saat kau bicara begitu?”
“Ah, kayaknya sih? Kudengar tubuh cyborg paman adalah sebuah ‘prototipe’, jadi tebakanku sih begitu–”
“Lumayan, lumayan. Wawasanmu benar-benar dalam tingkatan sampah masyarakat! Tapi aku agak terkejut Nona tidak tahu ini.”
“…Apa yang kalian bicarakan?”
Marie merasa ragu karena dia tidak bisa mengikuti arah pembicaraan ini, lalu dia bertanya dengan sebal.”
Vermouth menyeringai dengan menjiikan, dan menjawab pertanyaannya.
“Baru saja kubilang kan? Orang yang melakukannya dengan sukarela–adalah bang Halter sendiri.”
Ketika mendengar jawaban tersebut, Marie merasa napasnya terasa sesak, lalu dia bergumam,
“…Kau bercanda, kan?”
“Aku malah agak terkejut kau tidak tahu, Non. Itu legenda terkenal di kalangan dunia bawah, lho?”
Wajah Vermouth berhenti tersenyum saat dia berkata begini.
“Tentara bayaran legendaris yang terlbat dalam insiden Pekan Raya Scarborough. Oberon. Over Work, mampu memicu keajaiban di saat-saat sekarat dan putus asa. Siapa saja yang tidak tahu itu adalah orang luar atau amatir. Si abang itu–sedang di tengah pertempuran saat dia melakukannya, lho?
Kemudian–
“Dia menangkap sebuah automata lapis baja berat milik musuh! Lalu menghubungkannya! Ke kepalanya!”
Vermouth terdengar begitu bangga akan hal itu.
“Si abang itu tampaknya pernah bilang begini, lho? ‘Tidak ada alat simulasi yang bisa dibandingkan dengan otak manusia yang telah selamat dari medan pertempuran’. Buktinya adalah dia sendiri menembak jatuh 27 buah automata lapis baja berat dengan tipe yang sama dan dia masih tetap hidup.”
Vermouth terus mengoceh seperti seorang penggemar yang membicarakan tim favoritnya. Saat mendengar hal itu, Marie menjawab,
“…Kau bohong. Jika insiden seperti itu memang terjadi, harusnya ada berita soal itu.”
“Insiden Pekan Raya Scarborough adalah operasi tidak resmi, dan terjadi sebelum kau lahir, Non. Gimana kalau aku bilang alasan kenapa aku terkejut kalau si bocah lacur Naoto mengetahuinya sementara kau tidak–?”
Kemudian–
“Non, sebuah ‘Prototipe’–itu dengan kata lain, sebuah tubuh eksperimental’, kan?”
Marie betul-betul terkesiap setelah mendengar kata-kata itu.
“Kau mengerti? Normalnya, itu pelanggaran HAM–tapi apa yang terjadi jika secara kebetulan orangnya cocok untuk suatu tugas?”
…Vermouth tidak kelihatan sedang berbohong.
Sejujurnya–dari awal, Marie tidak mengerti alasan keluarga Breguet mempekerjakan Halter.
Tapi jika itu benar, artinya Halter adalah tikus percobaan–
Marie menyangkalnya lagi,
“…Secara teoritis itu mustahil. Jika informasi automata militer mengalir ke otak–otak itu akan rusak.”
“Yep. Itulah alasan kenapa ‘senjata seperti itu’ tidak diproduksi massal. Salah satu alasannya adalah banyak orang idiot di luar sana yang mencoba menjadi pahlawan dengan menghubungkan otak mereka dengan senjata, lalu menjadi gila, dan lupa nama mereka sendiri.”
Vermouth tertawa kecil.
“–Contohnya, diriku?”
Marie menatap Vermouth dengan terkejut.
Pria yang telah kehilangan segalanya kecuali otaknya saja itu tertawa.
“–Sudah kubilang, kan? Aku ini ‘penggemar setia’ abang Halter.”
Marie menundukkan kepalanya dan bungkam, dia merenung–sebelum akhirnya menghela napas.
Kemudian, dia mengangkat kepalanya.
“Baiklah, tapi ada satu syarat. Kau menyebut dirimu sendiri penggemar, jadi kau tahu mesin yang Halter hubungkan ke dirinya sendiri saat itu, kan?”
“HS FK2 ‘Oberon–dulu pun mesin itu memang sudah kuno. Negara ini belum membelinya, dan biarpun kau bisa menggerakkannya, kurasa mesin itu tidak akan berguna di medan perang, lho?”
Vermouth menebak pikiran Marie, lalu memberi komentar tambahan.
Marie kemungkinan ingin mencari mesin yang mirip dengan mesin yang sukses dihubungkan dengan Halter untuk mengurangi resikonya sebesar mungkin…itulah tebakan Vermouth.
Tapi Marie memandang ke ruang kosong, sedikit bergumam dan merenung untuk beberapa saat, lalu mengangguk pelan.
“–‘Oberon’, ya? Begitu toh. Kurasa aku bisa sedikit menerimanya. Itu artinya Halter tidak bertempur dengan gegabah tanpa peluang untuk menang.”
“Eh?”
“‘Oberon’–adalah ‘produk cacat’ yang sistem kendali dan pola pikirnya ada di tempat yang sama. Selama mesin itu ditembak dari belakang, mesin itu akan berhenti berfungsi, jadi ada armor tambahan di bagian belakang untuk memperkuat bagian tersebut. Hal ini menyebabkan pusat gravitasi mesin tersebut menjadi bergeser, untuk menyeimbangkannya, mesin itu dipenuhi dengan senjata berlebih. Mesin itu adalah ‘karya sampah’ yang lebih jelek dari tinja.”
Vermouth tidak bisa bicara apapun, lalu dia menatap Marie.
“–Hei, apa kau menghafal cetak biru semua senjata di dunia–”
Apa aku menghafal semuanya? Tentu saja aku menghafal semuanya.”
Marie menjawab dengan tulus dan tersenyum simpul.
“Jangan meremehkan mantan Meister, Tuan Guling[3]? Kalau seperti ini, mungkin kita bisa memecahkan masalah ini.”
“Eh, masalahnya apa?”
Naoto bertanya bingung, lalu Marie menjelaskan,
“Mesin yang punya cacat berupa sistem kendali dan pola pikir di tempat yang sama di bagian belakang, tapi juga gampang diperbaiki. Ada banyak senjata yang punya struktur begitu…dan ada satu yang desain konsepnya miripi dengan ‘Oberon’–Tipe CZ-35C ‘Kura-Kura Hitam’–Naoto, telinga ajaibmu bisa mencari lokasi ‘Kura-Kura Hitam’ itu di Tokyo ini nggak?”
“Kau menyebutnya ajaib…model unitnya saja aku tidak tahu. Paling tidak, aku perlu mendengarnya bergerak–”
“–Kau bisa mencarinya hanya dengan mendengar cara bergeraknya?”
Marie memandang serius seraya mengulangi kata-kata itu untuk memastikan,
“–Bisa kau dengar?”
“Ya. Saat mesin itu bergerak, aku akan menemukannya untukmu.”
Naoto menatap Marie tepat di matanya, lalu mengangguk pasti. Marie menilai sorot mata Naoto–sambil berkata’ begitu ya’, lalu dia juga mengangguk. Di titik ini, tidak ada waktu untuk meragukan orang ini.
“Oleh karena itu, mari kita susun rencana buat mengincarnya. Bersiaplah buat menempelkan kepala ke mesin itu–Vermouth.”
Inilah kali pertama Marie memanggil pria di depannya ini dengan namanya, lalu dia bertanya,
“Jadi, jawablah…kau pikir peluang suksesnya berapa?”
Halter tidak bereaksi dan tetap tidak sadarkan diri biarpun kepalanya dihubungkan dengan instalasi suara. Dia sedang dalam keadaan koma.
Apakah semuanya akan berjalan lancar? Apakah dia akan benar-benar bangun? Tepat ketika Marie merasa gelisah–
“Perlu kuberi tahu sesuatu yang bagus? Nona Marie Bitch Breguet?”
Vermouth tersenyum membangkang,
Seorang tentara hidup dan mati di medan tempur. Biarpun dia sudah menjadi pengasuh seorang Tuan Putri, darah pejuangnya tidak akan pernah meenghilang. Aku berani bilang ketika abang Halter mencium bau pertempuran–”
Vermouth berhenti sejenak, lalu melanjutkan kata-katanya,
“Dia akan bangun meskipun dia mati–dan juga dalam keadaan mood paling buruk yang pernah ada.”

–Menghubungkan otak ke automata bersenjata berat.
Teknisi manapun akan menertawakan hal itu sambil berkata kalau itu ‘mustahil’. Di hadapan pertanyaan sulit seperti itu, Marie juga menertawakannya.
Vermouth menusukkan pedang berfrekuensi tinggi itu dengan mudah, memenuhi misinya sesuai renana, dan hanya menghancurkan AInya saja. Pergerakannya sempurna, saking telitinya sampai-sampai tidak ada hal yang bisa dikritik.
Begitu ya. Orang ini memang mesum dan mengesalkan, tapi dia bukan cuma omong doang–tampaknya dia akan melakukan tugasnya dengan tuntas.
Dia membayar sihir Naoto dengan sebuah keajaiban.
“Kalau begitu…sekarang giliranku untuk bekerja–”
–30 detik. Itulah batas waktu yang telah ditentukan Naoto.
30 detik bagi mereka untuk mengumpulkan musuh, dan sementara musuh terus meningkatkan jumlah mereka serta mengepung Naoto, Marie, Vermouth serta ‘Kura-Kura Hitam’ Halter sementara AnchoR dan RyuZU diandalkan untuk melindungi mereka.

“Ehh–aku akan membuatmu bertekuk lutut! Ini sih gampang!”
Marie sengaja berlagak untuk menyemangati dirinya sendiri–lalu dengan senyum jahat, dia meraung.
Di momen sekejap itu–waktu melambat.
Atau setidaknya itulah yang Marie rasakan.
Suara-suara menghilang, lalu dalam kesadarannya yang membentang, dia melirik ke arah situasi di depannya.
Dia melempar kepala Halter ke atas dengan lengan terbentang seperti sepasang sayap seraya mengeluarkan peralatannya.
Dia memperbaiki sistem pola pikir yang telah hancur–dengan total 2.876 bagian, dengan menganalisa, memotong lalu–memodifikasi sistem kendali automata yang telah dimodifikasi sebelumnya, sebelum Halter mendarat di tangannya 2,4 detik kemudian.
–Operasi itu sendiri sederhana. Memperbaiki RyuZU adalah hal yang lebih sulit baginya.
Tapi ketegangan yang dia rasakan terasa tak ada taranya.
Marie merasa tulangnya bergemeretuk, ototnya merinding dan darahnya mendidih.
Jika dia salah melangkah sekali saja, atau teorinya salah, Halter tidak akan pernah bangun.
Selain itu, perbuatannya ini berpotensi menjadi pukulan terakhir yang akan dia lakukan sendiri–yang dapat membunuh Halter.
Dengan rasa takut dan tekanan seperti itu, bibir Marie membentuk senyuman yang memikat.
(–Kau bisa, Marie. Kalau itu kau, kau bisa melakukannya–!)
Persiapan pembongkaran dan pemasangan telah selesai. Sesaat kemudian, kepala Halter kembali ke tangan Marie.
–Masih tersisa 27,6 detik lagi.
Dengan teliti dan cepat, Marie menghubungkan kepala Halter dengan sistem kendali–masih ada 7,6 detik lagi setelah pekerjaan itu selesai. Dia menghabiskan 6,1 detik untuk menguji sistem syaraf, 4,9 detik untuk menyelaraskan sistem untuk membuat simulasi yang paling mirip dengan pikiran manusia, 3,3 detik untuk mengaktifkan kembali mesinnya dari luar, dan 4,1 detik lagi sampai Halter terbangun kembali.
Dia total menghabiskan 26 detik. Marie hanya punya dua detik untuk menangani masalah tidak terduga.
(–Apa? Aku lebih lambat 2 detik…!)
Di momen itu, Marie merasa seakan waktu telah berhenti.
Jantungnya berdebar kencang. Dia merasakan suara di sekelilingnya telah menghilang, temperatur tubuhnya pun menurun.
Ketegangan dan konsentrasinya meningkat sampai batasnya, dan orang akan merasa seakan kesadarannya telah naik ke tempat yang hanya bisa diraih oleh RyuZU di alam semesta ini.
Apa yang dia rasakan itu seperti ‘Mute Scream’, memperpanjang jarak antara nol dan satu detik menjadi tidak terbatas.
Satu-satunya perbedaan diantara keduanya adalah–
(Lambat sekali aku ini–! Cepatlah bergerak…!)
Tubuhnya tidak bisa bertahan dengan satu detik yang diperpanjang sampai batasnya tersebut.
Dia merasa seperti sedang tenggelam dalam lautan aspal, pergerakannya begitu lambat dan pelan, membuat Marie merasa frustasi.

–Tapi di mata Naoto dan penonton lainnya, apa yang Marie lakukan bisa dibilang sihir.
Semua suku cadang serta peralatan berterbangan, kembali ke tempat mereka semula berkat tarikan gravitasi–memang seperti itulah kelihatannya.
Jika pemandangan seperti itu saja bukanlah sebuah ‘keajaiban’, maka apa lagi yang pantas disebut begitu?
“…Aku tidak bisa percaya…hei, Naoto–apa wanita itu benar-benar manusia…?”
Vermouth mau tidak mau bergumam dan bertanya, tapi Naoto menjawab,
“Yep, itulah orang jenius. Kamu lihat, AnchoR?”
“…Lebih hebat, daripada, orang hebat…”
“AnchoR, kamu jangan salah mengira. Itu hanyalah–batas dari orang biasa.”
AnchoR menolehkan kepalanya sambil menangani serangan bombardir musuh yang datang, lalu RyuZU–
“….Untuk saat ini.
Menunjukkan ekspresi resah dalam nada bicaranya saat dia menjawab begitu–

Tetapi, Marie membuang jauh-jauh masalah eksternal itu dari kepalanya.
Kesadarannya dikunci begitu dalam, tajam, agung dan rumit.
Dia teringat kata-kata Vermouth,
“Apa kau meremehkan otaknya tentara veteran? Yang rambutnya sudah beruban sampai-sampai senjata adalah bagian dari darah dagingnya?”
Ya pikir Marie.
Aku memang meremehkannya. Saat ini, aku bisa paham karena aku telah menguasai seluruh mesin yang kusentuh. Pergerakan yang dibentuk oleh gir, silinder, kabel, sekrup, pegas, dan suku cadang lainnya–aku paham itu semua.
Jika aku punya hati, aku bisa menyebutkan tipe dan jumlah suku cadang yang terlibat dalam setiap bagian, bahkan keusangan mereka.
Tidak, bukan hanya ini, mesinini, pergerakan masif yang terlibat–
Dan bahkan kota ini–!!!
(–Uu.)
Kesadarannya yang membentang menyadari bahaya.
Ada sebuah meriam otomatis yang sedang menembak ke arah mereka dari jarak sekitar 3 km.
Naoto dan yang lainnya sedang disibukkan dengan musuh di sekitar mereka, dan tampaknya mereka tidak menyadari–
Marie hampir akan memperingatkan mereka, tapi napasnya terasa habis.
Dia tidak bisa bernapas, tercekik dalam lautan aspal. Tubuhnya, yang tadinya berada dalam keadaan aktivitas manusia super, teringat statusnya sebagai seorang manusia, dan kesadarannya yang tadinya jelas menjadi semakin buram.
(Be–lum!)
Pekerjaannya belum selesai. Dia memerlukan sedetik lagi untuk menyelaraskan sistem kendali–jika gagal. Sistemnya memerlukan dua detik lagi untuk pulih.
Masih ada sisa 8 detik. Marie memusatkan kesadarannya yang mulai terhanyuit dan terus bekerja–selesai!
–Penghidupan kembali mesin, dimulai.
1, 2, 3–sukses. 3 detik lagi.
(–Bergerak. Bergerak bergerak bergerak bergerak bergerak bergerak bergerak–bergeraklah–Halter!)
Tidak ada kesalahan dalam hasil kerjanya. Harusnya sih begitu.
Tapi mesin itu, setelah diberi momentum, tidak merespons.

–Yang hanya bisa Marie lakukan adalah menunggu Halter terbangun.

Meriam otomatisnya ditembakkan. Marie sekalipun bisa merasakan peluru yang melaju dalam larasnya.
Kenapa Naoto tidak menyadarinya–Marie memiliki keraguan seperti itu, tapi dia segera menjawab keraguannya sendiri.
Orang itu–‘tidak bisa mendengar apa saja yang lebih cepat daripada supersonik’–di momen itu, Marie menyadari hal tersebut.
Masih ada–1,2 detik lagi.
Meriam ini diarahkan dengan begitu akurat, sampai-sampai Marie hampir menertawakan situasi ini. Meriam ini ditembakkan lurus, dan dalam 1,2 detik, pelurunya akan mengoyak tubuh Marie dan meledakkan bagian dalam mesin tersebut sekaligus meledakkan otak Halter.
Marie melihat masa depan itu dengan jelas–tapi di momen tersebut–
Kakinya bergoyang.

Kesadaran Marie yang meluas kembali tertangkap dalam waktu aslinya, lalu dia kehilangan keseimbangan.
Ketika guncangan itu mendorongnya ke samping serta membuatnya jatuh, dia akhirnya mengerti, meskipun sedikit.
Mesin itu sedikit bergeser ke samping–itu saja membuat suatu tembakan meriam yang fatal meleset seperti sebuah mimpi.
Kemudian, ‘Kura-Kura Hitam’ yang dihubungkan dengan kepala Halter berputar-putar, seolah-olah bumi telah dipelintir, lalu dengan lengan kanannya, menangkap Marie tepat ketika Marie terjatuh dengan telaten.
Selain itu, mesin itu menembakkan meriam utama di bahunya, meriam thermobaric itu melenyapkan meriam otomatis yang berjarak 3 km, dengan ketelitian dan kecepatan menakjubkan bahkan untuk standar Naoto–atau standar RyuZU dan AnchoR.
‘Kura-Kura Hitam’ itu bahkan menyalakan api, tanpa berhenti sedikitpun, mesin itu memutar roda dalam di kedua kakinya lalu melaju–bukan, mesin itu berputar-putar dalam lingkaran besar sambil menembakkan senapan mesin 30 cm.
Hujan peluru itu seakurat tembakan sniper rifle, menyingkirkan musuh yang bahkan tidak bisa ditangkis RyuZU dan AnchoR.
“–M-mama!”
AnchoR buru-buru berlari ke arah Marie untuk menangkapnya sementara Marie terlempar oleh rekoil dari pergerakan intensif mesin tersebut.
Tapi di saat yang sama–‘Kura-Kura Hitam’ itu terus mengamuk.
Meriam kecil di kedua tangannya menyemburkan peluru–bukan, menembak dengan liar seraya berputar-putar, menggunakan armornya yang tebal serta kaki raksasanya untuk menendang automata lapis baja ringan di sekelilingnya.
Marie membelalakkan matanya dengan terkejut ketika dia melihat amukan iblis itu, lalu dia bergumam,
“…Halter…?”
Apa yang keluar dari ‘Kura-Kura Hitam’ yang terhubung dengan otak Halter hanyalah sebuah niat membunuh artifisial.
Dia menghancurkan apa saja yang bisa dia lihat, menginjak-injak semuanya, dan tidak ada sedikitpun emosi yang keluar dari dalam mesin itu.
“Apa aku …gagal–”
Sementara Marie bertanya dengan suara terkejut, Naoto hanya berujar tanpa emosi,
“Gagal? Eh? Kapan kau gagal, Marie? Itukan paman.”
‘–Eh?”
“Saya akan menjelaskan situasinya dengan cara dimana Master Marie, yang pemahamannya begitu menyedihkan, bisa mengerti–atau bahkan monyet saja pun bisa mengerti. Jika anda mengira kita sedang diserang, Master Marie, anda harus pergi ke dokter mata.”
Marie menoleh ke samping, dan dia melihat kalau RyuZU telah berhenti menyerang, RyuZU sedang tersenyum disana seraya berdiri diam.
–Setelah diingatkan begitu, dia sadar kalau mereka sama sekali tidak diserang oleh ‘Kura-Kura Hitam’.
Tapi kalau begitu, ini mengerikan, ketelitian tanpa emosi apa itu…?
Dan untuk membuktikan hal itu, ‘Kura-Kura Hitam’ menembakkan dua tembakan lagi dari meriam utamanya.
Automata bersenjata berat yang berjarak beberapa kilometer disana terkena tembakan tersebut dan hancur–kemudian…

“–Sial…bajingan mana yang menyerangku saat aku tidur?”

Setelah tidak ada musuh yang perlu dikhawatirkan,
‘Kura-Kura Hitam’–bukan, Halter akhirnya mengeluarkan suara berdengung dari speaker eksternal, dia melolong dengan kesal.
Ketika mendengar itu, Marie tanpa sadar berkedip dengan mata berair, tampaknya dia menyembunyikan air matanya seraya berseru,
“Halter! Halter, apa kau dengar!?”
“Ah? …oh Putri. Apa-apaan situasi ini…tunggu, apa-apaan penglihatan menjijikan ini–mata majemuk? Tunggu, apa kau menghubungkanku dengan automata? Lihat yang kau lakukan.”
Setelah Halter memahami situasinya, suaranya berubah dari marah menjadi suara memandang rendah, lalu Marie menyanggah sambil berlinang air mata dan tersenyum,
“Duh–lihat apa yang terpaksa kulakukan gara-gara kau! Apa yang kau lakukan sebelumnya!”
“Oh, maaf…aku tidur siang.”
Ketika mendengar kata-kata Halter, Marie mengulangi kata-katanya dengan tatapan kosong,
“–Tidur siang…kau tidak merespons saat aku menghubungkanmu ke instalasi suara karena–”
“Oh, benarkah? Yah, sensorku terputus, jadi entah kenapa aku merasa ingin tidur…maaf ya. Sungguh. Tampaknya aku belum pernah tidur siang selelap ini sejak waktu yang lama.”
“–”
Marie mengeluarkan aura berbahaya sambil menggigil.
Jadi cuma itu? Orang ini tidak peduli dengan rasa khawatirku, dan pergi tidur, itu saja?
–Kan kubunuh dia.
“Nona, sudah kubilang, kan? Si abang ini akan bangun–dengan mood terburuk yang pernah ada.”
Sementara Marie memikirkan pernyataan berbahaya itu, Vermouth menyela sambil tertawa.
“Tentara yang diserang ketika sedang tidur di medan tempur akan membuang semua ‘akal sehat’ dalam sekejap dan melawan balik. Tubuh dan pikirannya begitu tegang sampai batasnya–itulah waktu yang sempurna untuk membunuh. Jadi salah satu hal yang orang-orang patuhi di medan tempur adalah–melarang serangan malam.”
Marie tampak kebingungan, tapi dia tidak terkejut seraya mengela napas.
Di sisi lain, Halter, di dalam kepala ‘Kura-Kura Hitam’ yang menunjukkan keahlian tiada tara, tampak ragu ketika melihat wajah yang asing, lalu dia berkata,
“–Apa kau anak yang cuma sisa kepalanya saja? Apa ini, apa kau punya selera seperti itu?”
“Mustahil. Ini adalah tubuh hebat yang diberikan Nonamu padaku. Jangan menilainya dari penampilan saja. Ada burung besar di bawah sini. Kalau aku mau, aku bahkan akan menyodomi lacur cilik yang kucintai ini.”
“–Oh?”
RyuZU bicara dengan nada dingin,
“Orang ini, yang berniat menyentuh Master Naoto dengan cakar iblis mesumnya yang hebat ini adalah maho–atau saya koreksi, sebuah boneka maho?”
Sabit dewa kematian mulai mendekat, tapi Vermouth meneruskan kata-katanya dengan berani.
“Tenanglah, Nona boneka. Itu cuma kiasan. Aku hanyalah penggemar nomor satu yang berharap melihat tuanmu menjungkirbalikkan dunia ini.”
“…Benarkah? Saya akan menafsirkan itu sebagai analisis yang akurat tentang Master Naoto dan mengampunimu. Tetapi, jika kamu memandang Master Naotoku dengan mata mesum itu–”
“Sudah kubilang kalau aku bukan orang begitu, kan. Aku suka wanita seperti pria pada umumnya…tapi sayang sekali kau kehilangan kesempatan itu. Anak itu berpakaian seperti seorang gadis–gadis cilik Naoto juga lumayan, lho?”
RyuZU langsung membeku.
Seperti automata data yang tidak diberi pelumas, dia menoleh ke arah Naoto dengan suara berderit.
“—-Master Naoto, apakah fetish anda yang unik seperti itu telah terbangun selama hamba berhenti berfungsi.”
“Aku terbiasa menerima tatapan itu dari orang lain, tapi tatapan merendahkanmu itu benar-benar menyedihkan, RyuZU! Itu cuma samaran, samaran saja!”
“Papa…pakaianmu…benar-benar imut, lho?”
“—-Jadi, selain hamba, dan Mister amalgam yang ukurannya membesar itu, yang lainnya menyaksikan hal itu?”
Suara bertanya RyuZU terdengar gemetar.
Marie sekalipun bisa merasakan perasaan dalam kata-kata tersebut.
Sebuah kenyataan yang langka serta mencengangkan, tapi tampaknya RyuZU–benar-benar merasa hancur.”
Marie menghela napas, lalu memberitahu RyuZU,
“Jika kau tidak keberatan, orang yang mendandani Naoto mengambil fotonya. Yang lebih penting sekarang adalah–”
“Saya mengerti. Saya akan merampas foto tersebut meskipun saya harus membunuh.”
RyuZU memasang wajah dingin sambil menyela Marie.
Dan di hadapan tekanan dari pelototan RyuZU, , “Ah, dia ini” ketika Marie berpikir begitu, dan siap-siap mati–
AnchoR menarik-narik lengan baju RyuZU sambil berkata,
“Kakak…nih…”
AnchoR mengeluarkan beberapa foto dari sakunya, lalu menyerahkannya pada RyuZU.
Dengan tangan gemetar, RyuZU menerima foto-foto tersebut, melihat-lihatnya, dan setelah mengamati dengan hati-hati, mendekap foto tersebut di dadanya, seperti sedang mengagumi foto tersebut. RyuZU segera menyimpan foto-foto tersebut dan menunjukkan senyuman seperti seorang Saint.

“AnchoR–sebagai adik, kamu sudah melakukan sesuatu yang sangat luar biasa. Kamu tahu kan kalau kamu baru saja menyelamatkan nyawa seseorang?”
“…Apa nyawa itu nyawaku?”
Marie mengeluarkan suara gemetar.
AnchoR lalu tersenyum berseri-seri ke arah kakaknya, sebelum melapor,
“Lalu…lalu, saya pergi, berkencan, dengan papa…saya sangat, sangat senang!”
Senyuman tersebut menghilang dari wajah RyuZU.
“…Benarkah? Kamu senang?”
“Uh…erm, um…?”
AnchoR mengangguk dengan gugugp. RyuZU tersenyum sinis seraya melengkungkan bibirnya lalu berkata,
“Benarkah? Luar biasa sekali, AnchoR. Lain kali, jika kamu mengecualikan kakak, kakak akan menanganinya sesuai dengan yang diperlukan, jadi berhati-hatilah. Lebih tepatnya, kakak akan menanganinya secara paksa.”
“Woah, RyuZU!? Aku tidak akan membiarkan kalian bersaudari saling bertarung–”
“…Ma-maaf…tapi AnchoR tidak mau bertarung…AnchoR mungkin akan tidak sengaja menang.”
“Apa yang kamu katakan, AnchoR? Yang akan dihukum tentu saja adalah Master Naoto.”
“–Eh, aku!?”
Naoto memekik.
RyuZU menatap dingin ke arah tuannya dan berkata,
“Agak disayangkan, Master Naoto–tapi negosiasinya akan dibatasi paling-paling sampai ‘kombo bersaudari’ saja.”
“A-Aku benar-benar minta maaaaaaaf!! Aku gagal sebagai suami karena sudah meninggalkan istriku berkencan!”
Naoto langsung bersujud.
Halter menyaksikan semua itu dari atas, lalu menghela napasnya dan berkata,
“–Ngomong-ngomong, bukannya sudah waktunya bagi kalian menjawab pertanyaan pertamaku? Apa situasinya sekarang?”
Oh iya. Marie menggelengkan kepalanya. Karena Halter akhirnya kembali, dia hampir lupa keadaan sulit yang sedang mereka alami. Dia menggelengkan kepalanya, dan hampir memberi penjelasan singkat pada Halter, tapi Naoto berdiri untuk menyela Marie–lalu menjawab singkat,

“Situasi yang menarik”–

“Kita akan menghajar habis-habisan orang-orang idiot yang merusak RyuZU, paman Halter dan seluruh Akihabara sampai mereka memohon-moho, u kita rebus mereka hidup-hidup. Siapa saja yang menghalangi, kita babat, yang cerewet, kita bungkam mereka. Itu saja.”
–Tampaknya kata-kata itu saja sudah lebih dari cukup. Halter lalu berkata.
“Aku paham. Itu memang menarik. Aku ikut.”
“Itulah alasannya kau dihubungkan dengan mesin itu. Bagaimana keadaanmu?”
“Tidak ada masalah–makasih Putri. Kerjamu bagus seperti biasanya.”
Halter mengendalikan tangan ‘Kura-Kura Hitam’ dengan telaten, tangan itu mengacungkan jempolnya ke arah Marie.
Marie tampak sedikit acuh tak acuh tapi juga sedikit bahagia saat dia mendongak ke arah Halter sambil membusungkan dadanya dan menyombongkan dirinya,
“Tentuu saja. Kau pikir aku ini siapa?”
“Haha–kalau begitu, Naoto. Sepertinya kaulah komandannya sekarang. Apa perintahmu?”
Halter tertawa kecil dan bertanya.
RyuZU dan AnchoR menatap Naoto.
Vermouth juga melakukan hal yang sama, dan bahkan Marie pun memicingkan telinganya, berharap untuk tidak melewatkan apa yang akan Naoto katakan.

Naoto, RyuZU, AnchoR, Vermouth, dan–Halter.
Ketika dia pertama kali mendengar rencana Naoto, dia merasa kalau rencana itu rencana yang bodoh. Bahkan ketika dia melakukannya pun, dia masih merasa kalau rencana itu memang bodoh. Bahkan di titik ini, dia merasa kalau itu memang bodoh.
Tapi saat ini, entah kenapa, dia merasa kalau apapun yang bisa dia dengar dari mulut Naoto–dia bisa melakukan itu semua.
Semua tatapan disana terpusat kepada Naoto, yang sedang tersenyum menantang.
Dia melihat ke sekeliling militer yang mengelilingi mereka, lalu bergumam,
“…Benar, tampaknya pasukan yang tersisa telah berkumpul di sekitar kita sesuai rencana.”
Selama mereka meninggalkan Marie di belakang dan terus meladeni serangan, mereka dapat membiarkan Marie meninggalkan medan tempur, sehingga dia dapat bekerja dengan aman.
Itulah alasan kenapa Naoto dan yang lainnya menunda serangan mereka selama 30 detik.
“Pertama–dalam 38 detik yang tersisa, kita akan menyingkirkan seluruh 378 musuh tanpa membunuh siapapun♪.”
Ketika mendengar kata-kata tersebut, Halter tertawa kecil.
“Apa-apaan itu–easy peasy.”
Kata-kata itu membuat semua yang ada disana melempar senyum kecil–kemudian…

–22 detik.
Kelompok itu menghabiskan waktu sebanyak itu untuk menyingkirkan 378 senjata, mesin dan ancaman musuh yang tersisa–
Lalu mengacungkan jari tengah ke arah helikopter berita seraya menyerbu masuk istana.

Gerbang raksasa istana telah terbuka, dan Naoto serta yang lainnya memasuki istana tersebut.
Jalan masuknya begitu luas dan tingginya cukup tinggi bagi Halter, yang mengendalikan automata bersenjata berat, untuk berjalan dengan santai.
Mereka bergerak maju lurus sampai akhirnya sampai di aula besar di dalam atrium[4].
Sekelompok orang telah menunggu disana.
Lusinan tentara JSDF bersenjata menyaksikan mereka datang di balik barikade.
Tepat di belakang para tentara itu ada 2 tentara lapis baja yang sedikit kuno.
Tampaknya mereka tahu apa yang terjadi di luar istana, dan aura ketakutan keluar dari wajah mereka melihat Naoto dan yang lainnya, tapi jelas sekali kalau mereka punya keinginan untuk tidak menyerahkan nyawa mereka begitu saja.
Tepat ketika Marie memikirkan apa yang harus dilakukan–
Seorang gadis muda–berjalan dari belakang barikade tentara JSDF tersebut.
Dia menepis tangan para tentara yang menghalanginya, lalu berjalan menuju mereka.
Marie berseri-seri, “Sepertinya dia ingat aku” pikirnya.
“Tolong tunggu sebentar.” Marie bicara pada Naoto dan yang lain, sebelum berjalan maju.
Keduanya berdiri dengan jarak 2 meter diantara mereka, tidak bergerak maju lebih dekat lagi.
Marie membungkuk dengan anggun,
“–Senang bertemu dengan anda untuk pertama kalinya Putri Hoshinomiya.”
“Ya…senang bertemu denganmu, saya rasa. Untuk pertama kalinya, kita saling bertemu, Nona Teroris.”
Wanita yang sedang berhadapan dengannya–Houko juga menundukkan kepalanya dengan anggun.
Setelah salam tanpa kata-kata tersebut, Marie melanjutkan,
“Kalau begitu, saya akan memberitahu nama saya. Nama saya adalah Maribel–say dikendalikan oleh teroris terburuk dalam sejarah yang telah menimbulkan krisis ini di negara ini.”
Dia menunjuk ke belakang, mengindikasikan kalau orangnya adalah pemuda itu. Naoto, yang ditunjuk oleh Marie, membelalakkan matanya,
“–H-hei! Kau baru saja mencoba mengalihkan tanggungjawab, kan? Kau mencoba cuci tangan supaya kau bisa menyalahkanku jika situasinya memburuk sekarang, kan!?”
Lalu Marie memasang seulas senyum, mengabaikan pemuda yang terus berteriak di belakangnya.
Houko tampak sedikit bingung saat dia bertanya,
“Kalau begitu, Nona Maribel. Apakah kalian semua berada disini karena alasan yang saya bayangkan?”
“Barangkali alasan kami agak sedikit berbeda.”
Marie mengangkat bahunya.
“Kami mengunjungi tempat ini untuk tujuan kami sendiri.”
Houko cemberut, lalu bertanya lagi.
“…Apa itu tidak apa-apa?”
“Tentu saja. Itu adalah pilihan kami, metode kami…dan saya rasa anda salah akan suatu hal, jadi saya akan mengoreksi anda. Dalangnya kali ini–benar-benar si bodoh itu.”
Ketika mendengar kata-kata tersebut, Houko membelalakkan matanya karena terkejut.
Tampaknya dia telah menyadari semuanya, lalu menundukkan kepalanya untuk meminta maaf pada Naoto, yang berada di belakang marie.
Houko lalu mengangkat kepalanya, dan bicara dengan nada kasar yang berlawanan dengan kelakuannya,
“Kalau begitu–kepada para teroris yang baru kali ini kulihat, aku akan menunjukkan kemurkaanku. Kalian telah melakukan tindakah kejahatan berat untuk menghancurkan negaraku dengan cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya, serta mencoba menumbangkan negara ini, yang merupakan hal yang tidak akan pernah kumaafkan selama aku hidup. Kalian juga berniat untuk menyanderaku untuk tujuan kalian, dan aku percaya tindakan keji seperti itu akan dibalas dengan sepadan.”
Houko melotot ke arah Marie dan yang lainnya dengan anggun, dia menatap mereka satu per satu.
Kemudian, mata hitam itu menunjukkan tekad yang kuat saat berkata,
“Kalau begitu, katakan tujuan kalian. Dengan niat jahat seperti itu, apa yang kalian ingin lakukan padaku?”
Lalu, yang menjawab kata-kata teguh Houko–adalah RyuZU.
“Mengenai itu…ini keadaan darurat, jadi kami akan membereskan masalah ini seperti yang kami lakukan diluar. Benar begitu, Master Naoto?”
“Ya, sudah cukup publisitasnya. Untuk berjaga-jaga, kuserahkan bagian terakhir ini padamu.”
Setelah mendengar kata-kata Naoto, RyuZU membungkuk dengan sopan, lalu menyentuh jam di bagian depan dadanya.
Jika saja dia memilik metode itu dari awal, mereka akan membantai militer di luar dalam nol detik, bukan 7 menit–tapi mereka sengaja untuk tidak melakukannya.
Karena…’publisitas’ itu harus jelas dan mudah dimengerti.
Jika tidak ada yang bisa mengerti, maka ‘publisitas’ itu tidak ada artinya. Tetapi, setelah demonstrasi nyata yang ‘mustahil’ berupa membantai pasukan di luar istana dalam 7 menit, di titik ini–
‘Satu kalimat’ itu menjadi hal yang paling cocok sebagai penutup, ‘finale’ terbaik untuk menyempurnakan semuanya.
Gaun hitam RyuZU berubah menjadi gaun pengantin putih, lalu kata-kata aktivasinya–adalah–

“–‘Mute Scream’–”

Ketidakrasionalan ini tidak mengizinkan siapapun untuk memahaminya; ‘publisitas’nya dimulai dengan tiba-tiba–lalu berakhir.
6 menit dan 48 detik berlalu sejak pernyataan awal–dan seluruh angkatan militer di dalam maupun di luar Istana telah sepenuhnya dilumpuhkan.

“–Seperti yang dilaporkan sebelumnya, penjahat itu memanggil dirinya Naoto Miura–“
Laporan ini disiarkan langsung ke seluruh dunia.
Laporan itu adalah tayangan yang disaksikan dengan seksama oleh seluruh Ibukota, bukan, seluruh Jepang–seluruh dunia.
Orang-orang sipil di jalanan, para politisi yang menghabiskan hari mereka dengan rapat, polisi dan ‘militer’ yang terlibat dalam konflik sia-sia, dan bahkan perusahaan asing pun menonton laporan ini dengan mata terbelalak.
Diantara mereka semua, ‘militer’ dan Perusahaan-Perusahan tersebut–sedang menyaksikan siaran ini dengan serius.
Hal yang bisa diduga.
“Selain itu, berdasarkan pernyataan dari korban selamar, kami telah memastikan dua automata yang mengaku sebagai Initial-Y. Dikatakan bahwa sebagian besar kehancuran tersebut disebabkan oleh kedua unit itu–“
Itulah poin utamanya.
Tentu saja, pasukan yang mengepung Istana hanyalah gerombolan pemberontak. Pemimpinnya adalah kapten yang masih hijau dan impulsive, orang yang masih kurang pengalaman dalam memimpin pasukan.
Sementara perlengkapan yang mereka gunakan, sebagian besar merupakan perlengkapan cadangan atau model lama.
Tapi, biarpun dengan pertimbangan itu–
“Dan saya ulangi. Kelompok penjahat itu telah menduduki Istana selama satu jam. Sampai saat ini, tidak ada berita korban jiwa satupun–“
–7 menit.
Lebih tepatnya, 6 menit 48 detik.
Kelompok mereka beranggotakan kurang dari 10 orang, dan tanpa menimbulkan korban tewas–mereka menghabiskan waktu sebanyak itu untuk menyingkirkan dua pasukan besar ‘militer’.
Dilihat dari hasilnya–apakah ada orang di dunia ini yang bisa melakukan hal tersebut?
Hal itu mudah dilakukan jika orang mengabaikan korban jiwa, atau bisa dilakukan jika orang menhabiskan waktu untuk melakukannya.
–Tapi tidak ada yang bisa melakukannya dalam waktu sesingkat itu.
Semakin orang memahami masalah militer dan teknologi mesin jam, semakin orang tersebut dapat memahami jawaban ini.
Ditambah lagi, berapa kalipun helikopter berita tersebut memperlambat serta mengulanginya berulang-ulang kali–tidak ada yang bisa menentukan bagaimana caranya JSDF dilumpuhkan.
Hal itu mengindikasikan kalau kelompok penjahat tersebut ‘melakukan sesuatu’ dengan kecepatan yang tidak meninggalkan gambar apapun.
Orang yang memicu fenomena gila seperti itu adalah automata yang mengaku sebagai seri Initial-Y.
Automata legendaris yang diwariskan oleh ‘Y’ yang itu–orang yang membangun kembali planet ini.
Orang biasa manapun tahu–kalau seri Initial-Y adalah pusaka legendaris, legenda urban yang sebenarnya tidak pernah ada.
Mereka yang tahu teknologi merasa bahwa–jika seri Initial-Y ada, mereka adalah warisan dunia.
Mereka yang tahu politik tahu bahwa–seri Initial-Y sebenarnya ada, tapi tidak ada yang bisa diaktifkan.
Tapi kelima Perusahaan, serta beberapa politisi tertentu, yang tahu informasi yang lebih rahasia yang pastinya tidak akan dibocorkan ke publik, mereka paham hal itu.
Mereka tahu kalau seri Initial-Y itu ada–dan jika mereka diaktifkan, mereka akan menjadi senjata paling sukar untuk dihadapi.
Dengan begitu, seluruh pemahaman mereka telah ditulis ulang, atau dinyatakan salah.
Serangkaian gambar dalam laporan tersebut mebuat segala keraguan menjadi sirna. Teknologi apapun yang digunakan, hal itu tidak bisa ditiru–itulah bukti bahwa seri Initial-Y sebenarnya ada.
Di momen ini, siaran berita yang sedang ditonton seluruh dunia–tiba-tiba terputus.
Lalu di saat yang sama.
Dengan Multigrid Tokyo sebagai pusatnya, dentuman kuat menyebar ke sekelilingnya.
Seluruh fasilitas komunikasi berhenti berfungsi, dan ‘gir resonansi’ di dalamnya berputar dengan cara yang berbeda dari pengaturannya.
Gir-gir Menara Inti yang mengatur fungsi kota ini bergerak dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Itu bukan hanya malfungsi biasa, dan bukan pula karena gir-gir tersebut salah berputar karena usang setelah bertahun-tahun. Meskipun sistemnya berjalan normal, gir-gir tersebut tidak mengikuti instruksi Manajernya sama sekali.
Kemudian, penduduk Tokyo teringat sesuatu yang sangat mirip.
–2 hari yang lalu.
Sementara orang lain menyaksikan situasinya berkembang dengan tidak berdaya, seorang ‘penjahat’ membajak TV dan radio, lalu bicara dengan riang–

“Tuan-tuaaaaaaan—daaaaaaannn—nyonya-nyonyaaaaaa!! Dan kepada semua orang tidak penting, apa kalian ingat suaraaaaaaku!? Sudah agak lama, ya? Kalian merindukanku, kaaaannnnn–❤
maaf membuat kalian menunggu dan duduk diam di kursi kalian selama beberapa hari ini! Saksikanlah! Aku cinta kalian semua, baby baby baby–!!”

Teriakan seperti mimpi buruk, serta wajah anak laki-laki yang meneriakkannya.
Ditayangkan di layar TV yang disaksikan seluruh dunia.

“Orang-orang idiot dan dungu yang jatuh hati padaku saat kemarin dan berharap melihat wajahku, sekarang kalian dapat hadiah kalian! Atas permintaan banyak idiot, aku akan menunjukkan wajahku untuk kali pertama hari ini. Yippi uppps–! Apa kalian sudah jatuh hati pada pemuda ganteng ini!?”
Suara riang tapi maniak itu menggema dari speaker di koridor–
Lalu seorang pria sedang berada di pangkalan komunikasi, yang terletak di dalam markas besar partai penguasa di Grid Kasumigaseki.
“Sepertinya Profesor Marie dan yang lainnya sedang bersenang-senang.”
Yuu Karasawa, salah satu orang yang mengerti maksud pesan tersebut, tersenyum kecut.
…Profesor Marie pasti sedang mendidih sekarang. Pikirnya.
Berdasarkan preferensi Marie, ini lebih pantas masuk dalam genre hiburan. Pasti dia sedang menunjukkan wajah yang belum pernah dia tunjukkan di ‘Meister Guild’.
Kalau bisa, Karasawa ingin menyaksikan sendiri wajah Marie di TKP serta mengambil foto sebagai kenang-kenangan, tapi–
“Kerja kerja kerja–duh, ampun deh, kerja buruh memang berat ya.”
Dia menatap ke depan, di depannya ada pintu yang sederhana.
Tanda yang dilukis di pintu itu sendiri adalah ‘Ruang Komunikasi Pusat’.
Ruangan ini memiliki instalasi yang digunakan untuk melakukan komunikasi jarak jauh, sinyalnya bahkan sampai ke ujung lain dunia ini.”
“Tapi tidak ada gunanya mengeluh. Saatnya bekerja–sebagai konsultan.”
Biarpun ini melampaui cakupan tugasku–Karasawa sedikit menarik napas, lalu menghembuskannya.
–Kemudian, dengan sekuat tenaga, dia menendang pintu di depannya.
“–!”
Dengan suara gedebuk yang nyaring, pintu itu rusak.
Karasawa langsung menyerbu ke dalam ruangan, lalu seorang pria menolehkan kepalanya dengan terkejut.
Karawasa mengenali wajah itu–orang itu adalah pria yang menyelinap keluar dari rapat 2 hari yang lalu.
“S-siapa kau!? Apa yang kau lakukan disini?”
“Ya ampun, itulah yang ingin kutanyakan padamu.”
Wajah pria itu berubah menjadi buruk karena rasa waswas.
Sebaliknya, Karasawa tampak santai, senyum lembut tersungging di bibirnya.
“Boleh aku tanya siapa yang kau hubungi saat ini–sebagai seorang konsultan ♪”
“A-aku tidak punya kewajiban untuk menjawabmu.”
“Biarpun aku tidak memaksamu menjawab. Aku akan langsung tahu dengan memeriksa catatannya.”
“Kau tidak punya hak untuk melakukannya, kan!”
“–Tentu saja tidak. Tapi saat ini, siapa yang akan menyalahkanku?”
Di momen itu, wajah pria itu berubah, lalu dia menarik keluar pistol dari tangannya.
Dari pergerakan itu, Karasawa mengerti bahwa meskipun pria itu menyamar sebagai manusia yang terbuat dari darah dan daging, tubuh pria ini jelas adalah sebuah cyborg yang cocok untuk bertempur.
Dengan gerakan luwes, pria itu mengangkat pistolnya, dan pelatuknya di–

“Hei, tapi ngomong-ngomong, aku sedikit sedih–aku sungguh ingin menangis–kupikir kau ini lemah, tapi tidak selemah ini~ di samping itu, kau ini tidak berguna–atau aku yang terlalu kuat? Aku benar-benar minta maaf!”
Dengan suara nyaring, pistol itu terjatuh ke lantai.
“–Duh, seperti yang nak Naoto Miura katakan.”
Karasawa terus tersenyum seraya bicara ke pihak satunya.
“Kau melawan seorang Meister dengan tubuh cyborg–apa kau meremehkanku?”
Karasawa menyimpan peralatan yang dia pegang di kedua tangannya, lalu menatap ke lantai.
Sang pria, yang prostetiknya langsung dipotong dalam sekejap, sedang tergeletak di lantai sambil mengerang.
Karasawa mengangkat pistolnya seraya berkata,
“Kuberi 3 detik. Kalau kau tidak keberatan memberitahuku, mengingat kau ‘mencuri’ sistem komunikasi partai penguasa, siapa yang kau hubungi?”
“Se-seberapa banyak yang kau tahu–?”
“Oke, waktunya habis.”
Karasawa menembakkan pistolnya tanpa ragu sedikitpun. Pelurunya mengenai setiap prostetik pria tersebut.
“Kau harus berterimakasih, lho? Aku memang ingin menghabisimu, tapi karena permintaan serang gadis manis, aku cukup bermurah hati untuk mengampuni nyawamu. Kurasa seseorang akan menemukanmu dalam 43 jam sampai fungsi vitalmu menjadi tidak berfungsi. Kalau begitu–
Karasawa membuang pistol dengan peluru habis itu ke samping, lalu bergumam sendiri,
“Seseorang pastinya tidak di pihak pemerintah menggunakan komunikasi markas besar pemerintah untuk melakukan sesuatu kepada seseorang. Tolong izinkan aku memeriksa–ah, sepertinya diperlukan suatu tanda pengenal?”
Karasawa lalu menggenggam bahu pria yang ambruk itu.
Dia menunjukkan kartu identitasnya ke arah sensor visual yang telah berhenti berfungsi.
“Aku adalah konsultan yang disewa oleh Biro Teknis, Yuu Karasawa. Maukah kau menunjukkan catatannya?”
Karasawa mengguncang bahu pria itu dengan keras, memaksa si pria untuk mengangguk, lalu dengan seulas senyum, dia melempar wajah pria itu ke lantai.
“Terimakasih atas bantuannya ♪”
Karasawa bicara begitu pada pria pingsan tersebut, lalu dia membalikkan badannya.
Dia mengeluarkan sebuah terminal portabel dari sakunya, lalu menghubungkannya ke Pusat dengan luwes.
Ketika mengekstrak catatan komunikasi selama dua jam terakhir, dia berkata,
“Ah–sebagai catatan. Aku ini bukanlah anggota resmi Biro Teknis. Setelah kau dipastikan telah melakukan kontak dengan sesuatu, apa yang terjadi padamu tidak melibatkan gajiku…meskipun siapa saja menemukan kalau tempat ini telah dibuka dan itu telah ‘dicuri’, yang akan disalahkan adalah kau–maaf ya.”
Di saat yang sama, Karasawa mengetuk terminalnya dengan halus.
Setelah itu, sirkuit komunikasinya menunjukkan pemberitahuan yang berkaitan dengan 18 tempat.
“Sekarang–apakah ini bisa dianggap melakukan pekerjaan yang sesuai dengan gajiku?”
Setelah berkata begitu dengan berani, Karasawi bersenandung seraya memeriksa catatannya.

Sementara itu, di saat yang sama–

“Sejujurnya, kalian begitu rapuh sampai membuatku kecewa. Aku sudah berusaha begitu keras di Akihabara untuk memperingatkan semuanya tentang serangan teroris untuk ‘memancing’ musuh, tapi malah ini yang kudapatkan! Duh, semua orang tidak menampakkan wajahnya sama sekali, payaaah–!?”

Ketika Kepala Komandan markas besar komando ‘militer’ Tokyo di Grid Ichidaya mendengar siaran gila seperti itu,wajahnya memerah dan kepalan tangannya bergetar.
Para perwira di sekelilingnya menghantam meja sambil berseru–tapi sang kepala komandan memendam murka, takut serta keprihatinan yang lebih besar, dia pun menggigit bibirnya.
–Dia tidak bisa membantah.
Senjata raksasa itu masih menduduki Akihabara, dan seperti yang dikesankan kata-katanya, ‘dalam sekejap’ mengendalikan Istana–
Bagaimana dia harus membantah ketika musuh malah membuktikan kata-kata beraninya…?

“Ya, begitulah! Kalau haru kubilang, kalian terlalu lemah, kena satu serangan saja tidak bisa. Sekarang, aku terlalu malas untuk melanjutkan rencana asliku!”

Lalu siaran ini–ketika memikirkan situasi yang akan terjadi dengan siaran ini, Kepala Komandan tanpa sadar gemetar.
–Masalah senjata elektromagnetik telah bocor ke seluruh dunia.
Dan bersamaan dengan tayangan ini, seluruh dunia akan tahu kalau suatu insiden telah terjadi di Tokyo.
Ancaman yang berat seperti itu–meskipun dengan pertimbangan negara-negara Asia tetangga, para anggota SSI akan segera memiliki untuk menggunakan ‘Tall Wand’ paling cepat malam ini.
Proposal ini akan memerlukan izin pemerintah Jepang–tapi permintaan egois Perdana Menteri masih belum dicabut. Tidak, meskipun tanpa itu, Jepang tidak bisa mengendalikan ‘militer’nya sendiri, dan gagal bertindak dalam krisis ini, jadi bisa diasumsikan kalau Jepang sedang mengalami keksosongan pemerintahan.
Tetapi , pemikiran Kepala Komandan itu–

“Oleh karena itu, mari kita bumbui situasi ini, baby! Ayo! Semuanya, goyangkan pinggul kalian dan berteriak denganku, yeah——oh yeah! Terimakasih! Terima~kasih semuanya! Untuk membalas harapan kalian–! Aku menyatakan kalau dalam 3 jam–“

Pemikirannya itu disela oleh sang penjahat.

“Kami akan membiarkan Multi Grid Tokyo ambruk dengan suara boom–! Yeah yeah!!”

Mendengar hal itu–markas besar ‘militer’–tidak, seluruh Jepang membeku.
–3 jam?
Kepala Komandan berdiri dengan mata terbelalak.
3 jam, katanya? Dalam waktu sesingkat itu, anggota SSI sekalipun tidak akan bisa memilih untuk menggunakan ‘Tall Wand’. Tidak, mereka tidak bisa menyiapkan penembakan–
Tapi sementara dia berpikir begitu, dia kembali disela,

“Ohh—maaf!! Aku ceroboh mengabaikan VIP. Aku terlalu terbawa suasana! Hei, ayolah, VIP–masuk kesini!!”

Dan bersama dengan gerakan berlebihan si pemuda, kameranya bergoyang.
Apa yang ditayangkan disana–adalah seorang wanita yang sedang diikat dengan tali.
Kepala Komandan sangat familiar dengan wanita itu.
Tidak, setiap orang Jepang yang menyaksikan tayangan ini pasti pernah melihat si wanita itu sebelumnya.

“–Semua orang di negara in, tolong tenanglah dan dengarkan aku.

Tuan Putri Pertama Kerajaan, Putri Houko Hoshinomiya.
Barangkali wanita paling mulia dari seluruh wanita di negara ini, dan sekarang dia adalah tawanan yang menyedihkan.
Wajahnya pucat seakan-akan darah telah meninggalkan wajahnya.
Tapi dia dengan teguh mengangkat wajahnya, lalu melalui kamera, dia bicara kepada para penduduk.

“Mereka telah ‘benar-benar’ mengendalikan sistem kendali kota Multi Grid Tokyo–‘Pilar Surga’. Tayangan ini kemungkinan besar adalah bukti paling kuat.
Ketika mendengar kata-kata Putri tersebut–Jepang, dan bahkan seluruh dunia, tidak bisa berkata-kata.

–‘Pilar Surga’ suatu kota besar di dunia telah ‘dikendalikan’…?
Orang yang sedang diikat itu adalah Tuan Putri, yang masih memancarkan kenaggunannya, tapi apa yang beliau katakan membuat para penduduk, ‘militer’, semua orang penting–bahkan anggota SSI yang dipanggil ke markas besar di Swiss dilanda rasa kaget.
Bahkan orang sipil biasa pun bisa mengerti makna di balik kata-kata itu.
Kebenaran yang mengerikan, bahwa takdir Jepang–bahkan seluruh Asia Timur, berada di tangan orang-orang kejam itu.
–Ini bukan lagi masalah yang hanya menyinggung Jepang saja.
Masalah ini mencakup keselamatan dunia. Tetapi, Sang Tuan Putri, yang masih dalam keadaan bahaya, melanjutkan kata-katanya denga teguh,

“Saya meminta ‘militer’ untuk tidak mempedulikan keselamatan saya pribadi serta segera merebut ‘Pilar Surga’–mereka ini serius. Kepada seluruh penduduk, tolong patuhi instruksi polisi lokal di tempat anda dengan tenang, serta tinggalkan Wilayah Ibukota–!”
Dengan jeritan singkat, Sang Tuan Putri ditarik ke samping, menghilang dari layar kaca.
Lalu yang muncul di layar selanjutnya adalah seorang pemuda–Naoto Miura, yang memasang wajah bengis.

“Hei hei hei–!? Apa ini, Tuan Putri!? Kenapa kau bicara sendiri!? Kalau kau nakal, aku akan mengikatmu dengan gaya bondage dan menayangkan keadaanmu saat kau dijejali ‘burung’ besar ke seluruh penjuru negara–tunggu pak tua! Kenapa kau memberiku kartu petunjuk aneh seperti itu! Aku ini punya istri dan anak tahu! Kau bisa membuat keluargaku hancur! Ah, ya. Tentang 2 seri Initial-Y yang baru saja dilaporkan! Bagaimana? Mereka manis, kan? Tapi kalian tidak boleh memperbanyak mereka buat barang dagangan. Nanti aku malah membelinya! Berundinglah tentang itu melalui perusahaan! Pelanggaran hak citra manusia tidak boleh dilanggar disini!”

–Rangkaian iklan mendadak ini membuat siapapun tidak bisa berpikir apa-apa.
Wanita yang muncul di layar kaca adalah Ibu Negara Jepang–meskipun beliau tidak punya kekuatan politik apapun, beliau adalah simbol negara, dan salah satu orang berpengaruh dalam hal budaya di dunia.
Beliau menggantikan ayahnya yang sakit, Sang Kaisar, beliau sama pentingnya dengan Ratu Inggris serta presiden Amerika Serikat.
–Benar, beliau itu VIP.
Siapapun itu, baik orang sipil  maupun bukan, mereka semua memiliki pikiran yang sama.
Tuan Putri muda dan cantik itu telah ditangkap oleh para teroris, tapi tekad beliau masih tetap kokoh, bahkan orang sipil serta orang asing manapun merasa perasaan serupa di hati mereka.
Kemudian, mereka berhenti berpikir–menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa.

“Ah tunggu! Sudah cukup! Kubilang jangan bergerak. Argh, sial, sekarang prosesnya jadi berantakan! Tuan Putri ini membuatku kecewa! Hei, kalau kau tidak patuh begini, akan kubunuh kau!”

Si pemuda berkata begitu dengan riang.
Seluruh orang yang menyaksikan hal itu memiliki pikiran yang sama–bahwa si pemuda telah menyinggung sesuatu yang harusnya tidak dia singgung, seorang penjahat yang tidak bisa dimaafkan–‘angkara murka’ yang dipancarkan pada satu orang itu saja telah menyebar luas.

“…Begitu ya. Cukup mengesankan.”
Di dalam senjata raksasa Yatsukahagi’–
Gennai Hirayama bergumam lirih saat dia menyaksikan tayangan di layar raksasa di dalam ruang kendali.
–Niat mereka sudah jelas.
Mereka bisa saja membungkam Tuan Putri jika mereka ingin semua orang tahu kalau mereka telah menyanderanya. Tidak perlu memaksanya bicara.
Tetapi, mereka membiarkan Tuan Putri bicara semaunya–karena mereka tidak perlu itu.
–Paling tidak, itu menjadi alasan yang cukup untuk mengizinkan ‘militer’ ikut campur dalam konflik internal ini.
Orang-orang sipil, yang harusnya dilanda kepanikan, setidaknya akan mematuhi instruksi polisi.
Dan seperti yang siapa saja bisa duga, Tuan Putri akan menjadi sandera.
Paling tidak, tidak ada komandan yang akan mengabaikan keamanan Tuan Putri dan menyerbu ‘Pilar Surga’.
Biarpun mereka mau melakukannya, membombardir benteng itu adalah taruhan terakhir–paling tidak mereka akan menunggu sampai 3 jam, sesuai batas waktu yang telah dinyatakan.
Selama 3 jam itu, mereka…bukan, ‘Y’ akan…
Mulai bekerja dengan santai, dia akan memperoleh kendali penuh ‘Pilar Surga’ tanpa gangguan siapapun.
–Lalu menghancurkan ‘Yatsukahagi’ tanpa terkecuali.
Setelah itu, ‘militer’ yang meluncurkan coup d’etat pada pemerintah akan menghilang.
Meninggalkan kebenaran yang menguntungkan orang-orang tertentu–
“Ahh, hebat…sekarang kita tidak bisa melakukan apa-apa.”
“T-Tuan! Paling tidak kita harus menyatakan tujuan kita sekarang!”
Letnan yang berdiri di sampingnya, berseru dengan terkejut.
Gennai memasang wajah tenang pada sang letnan, lalu bertanya,
“Oh…lalu apa? Kita tidak punya hubungan dengan orang-orang itu. Tujuan kita adalah coup d’etat, itu saja. Kau pikir orang-orang akan percaya omong kosong seperti itu?”
“I-itu–”
Sang letnan tidak bisa berkata apa-apa, tapi dia menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Ta-tapi jika terus begini, ibukota akan ambruk dalam 3 jam. Kalau begitu–!”
“Tenanglah, letnan.”
Kata Gennai.
“Orang-orang itu tidak berniat membiarkan ibukota ambruk. Ini–semua ‘masih dalam perkiraan’.

–Ya, mereka tidak punya niatan begitu.
Sederhananya, apa yang mereka lakukan dilandasi niat untuk menanggung semua kesalahan dan dosa.
Termasuk dosa ‘militer’ Shiga–mereka akan menanggung dosa ‘militer’, pemerintah, perusahan, dan seluruh mimpi buruk serta kejahatan yang mengguncang negara ini, menyatukan hati orang-orang, lalu menghapus dosa mereka.
Tujuan mereka adalah–menyelamatkan negara ini.
Tidak ada korban jiwa ketika mereka melumpuhkan ‘militer’. Apa orang-orang seperti itu akan membuat Tokyo ambruk?
Tentu saja itu cuma gertakan.
–Tiba-tiba saja, Gennai memikirkan sesuatu.
Dalam mitologi kuno–ada seorang pria yang menanggung seluruh dosa umat manusia, lalu pria itu dieksekusi.
Dia megeluarkan suara seperti erangan dari bibir rapatnya.
“–Pertama dia mengambil bentuk seorang Dewa, lalu sekarang sebagai Messiah[5]?”
“T-tuan…?”
Gennai mengabaikan suara si letnan, lalu dia bertanya,
“Laporkan–berapa tingkat pengisian kembalinya sekarang?”
Ketika mendengar suara tenang sang komandan, seorang opsir komunikasi membalas dengan kalut,
“B-baik, saat ini pengisian sudah mencapai 72%! T-tuan, bagaimana kita menangani situasi ini…?”
“Hentikan seluruh daya mobilitas. Isi kembali sampai 82% dalam 12 menit.”
Seluruh orang yang hadir di ruang komandan memasang wajah ragu.
–Apa ada artinya mengisi kembali di titik ini?
–Harusnya kita keluar dari Akihabara sekarang, kan?

Gennai membungkam anak buahnya dengan pelototan, lalu dia bergumam,
“Ayo–tunjukkan seberapa jauh prediksimu. Apakah kau sudah tahu kalau aku masih punya beberapa trik lagi…’Y’?”



[1] Meriam yang memanfaatkan oksigen untuk menciptakan ledakan.
[2] Artificial Intelligence (Kecerdasan Buatan).
[3] Tau guling kan? Temennya bantal. Vermouth menggunakan tubuh automata lacur, praktis gulingnya para penyewa automata lacur.
[4] Semacam aula terbuka di zaman Romawi kuno.
[5] Penyelamat